Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Para Petugas Haji 2019

Wali Faqih Zaman Ayatullah Udzma Imam Sayid Ali Khamenei, Rabu (3/7/19) pagi, bertemu dengan para petugas haji tahun ini dan berpidato di hadapan mereka.

Berikut ini adalah pidato lengkap beliau:

بسم الله الرّحمن الرّحیم
و الحمدلله ربّ العالمین و الصّلاة و السّلام علی سیّدنا و نبیّنا ابی القاسم المصطفی محمّد و علی آله الطّیّبین الطّاهرین المنتجبین سیّما بقیّةالله فی الارضین.

(Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Segala puja dan puji kehadirat Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam atas junjungan dan nabi kita Abul Qasim Al-Musthafa Muhammad serta keluarga bagus, suci, dan pilihan beliau, terutama Baqiyatullah di muka bumi.)

Kita bersyukur kepada Allah Swt dengan segenap keberadaan ini, atas taufik dan karunia-Nya yang memperkenankan tahun ini juga seperti tahun-tahun sebelumnya kepada bangsa tercinta kita untuk mengirimkan sebagian orang guna menunaikan fardu ibadah haji dan berpartisipasi dalam perkumpulan agung Umat Islam.

Kalian, para petugas haji, dan dengan istilah lebih tepat yang digunakan oleh sebagian bapak-bapak, yaitu para pelayan tamu-tamu Allah Swt, hendaknya menghargai pekerjaan kalian ini. Ini pekerjaan yang sangat penting. Sebab, haji adalah kewajiban yang luar biasa. Di dalam haji terkumpul nilai-nilai Islam yang tidak terdapat di dalam kewajiban lainnya. Tidak ada satu pun fardu lain yang di dalamnya terdapat segenap ciri yang diagungkan dan diisyaratkan oleh Islam. Sejatinya, haji merupakan gambaran kecil dari masyarakat Islam yang unggul, dan pada kenyataannya merupakan sebuah contoh dari apa yang kami titikberatkan dalam Peradaban Islam. Peradaban Islam sesuatu yang seyogianya kita hadiahkan kepada umat manusia. Di dalam Peradaban Baru Islam, ada spiritualitas di samping materialtias, ada mikraj moral spiritual ruh dan kekhusyukan di samping kemajuan hidup materi. Haji adalah manifestasi peradaban seperti ini.

Sebagaimana kalian saksikan secara jelas, di dalam haji terdapat tayangan penghambaan dan kekhusyukan sejak awal sampai akhir manasik. Pada saat yang sama, di samping faktor yang seratus persen spiritual ini terdapat faktor sosial, yaitu persatuan, persaudaraan, dan kesewarnaan; orang fakir dan kaya, kaum yang berbeda-beda, bangsa yang beraneka ragam, ras yang bermacam-macam, semuanya menunaikan satu amalan secara berdampingan dan dengan satu motivasi serta satu tujuan. Di mana lagi kita dapat menemukan hal seperti ini? Tidak bisa ditemukan, baik di dalam fardu-fardu Islami yang lain, maupun di dalam apa yang kita ketahui dari agama-agama yang lain. Pada saat yang sama, haji itu sendiri mengusung unsur gerak. Memang itu ibadah, tapi di dalam ibadah itu orang menyaksikan sebuah gerakan, tawaf, sa’i, dan pulang pergi. Pada saat yang sama juga terdapat tayangan perkumpulan. Perkumpulan-perkumpulan massa yang menakjubkan satu di samping yang lain dan terlaksana di Arafah serta Masy’arul Haram atau pada hari-hari Min ini juga merupakan salah satu manifestasi kehidupan sosial Islam. Semua ini terdapat di dalam haji. Haji adalah pertunjukan akhlak:

فَلا رَفَثَ وَ لا فُسوقَ وَ لا جِدالَ فِی الحَجّ (البقرة/197

Di sana tempatnya persaudaraan, tempatnya akhlak, tempatnya maaf-maafan. Bukan tempat bertengkar satu dengan yang lain, bukan tempat perdebatan. Kalian melihat bagaimana seluruh unsur yang menakjubkan, membangun, dan memberi pelajaran ini terkumpul di dalam haji. Haji adalah fardu yang semacam ini.

Salah satu kekeliruan besar yang selalu kita dengar, dan sekarang pun kekeliruan itu masih muncul dari sebagian mulut yang tidak peduli terhadap hakikat-hakikat Islam, adalah “Jangan politisasi haji!”. Apa maksudnya jangan politisisi? Hal-hal politis dalam haji yang kita miliki ini adalah substansi ajaran Islam itu sendiri; menciptakan persatuan adalah suatu hal yang politis, ini hal Islam, ini ibadah:

وَاعتَصِموا بِحَبلِ اللهِ جَمیعًا وَلا تَفَرَّقوا (آل عمران/103

Kita apabila di waktu haji memberikan dukungan dan pembelaan terhadap bangsa Palestina atau kaum-kaum tertindas lainnya di Dunia Islam, seperti rakyat Yaman yang teraniaya, maka tentu saja itu perbuatan politis, tapi politik yang merupakan ajaran Islam itu sendiri. Pembelaan terhadap pihak yang tertindas itu sendiri merupakan fardu dan kewajiban. Kewajiban itu nyata.

Begitu pula halnya dengan pernyataan pemutusan hubungan diri dari Musyrikin. Apabila kita menekankan masalah pemutusan hubungan tersebut dan bersikeras untuk itu serta menjalankannya — yang mana setiap tahun insyaallah akan terus dijalankan dengan sebaik mungkin –, maka hal itu karena pemutusan hubungan tersebut merupakan fardu Islami:

أَنَّ اللَّهَ بَریءٌ مِنَ المُشرِکینَ وَ رَسولُه (التوبة/3

[Bukan hanya Allah Swt dan Rasul-Nya yang memutus hubungan dari Musyrikin, tapi] Mukminin juga memutus hubungan dari Musyrikin:

إنَّا بُرَآؤُا مِنْکُمْ وَ مِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ کَفَرْنا بِکُمْ وَ بَدا بَیْنَنا وَ بَیْنَکُمُ الْعَداوَةُ وَ الْبَغْضاءُ أَبَداً حَتَّی تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ (الممتحنة/4)

Semua ini milik agama. Iya memang politik, di dalam manasik haji terdapat kegiatan politik, tapi kegiatan politik ini merupakan tugas keagamaan itu sendiri, merupakan ibadah itu sendiri. Lihatlah bahwa semua ini termasuk poin-poin yang penting.

Iya, bahwa mereka datang untuk melarang gerakan-gerakan politik seperti ini juga merupakan tindakan politik, tapi politik yang tidak agamis, melainkan politik anti agama. Bahwa mereka mengatakan di dalam haji kalian tidak berhak untuk mengatakan kepada Amerika ‘Di atas matamu ada alis’ juga merupakan tindakan politik, tapi gerakan politik setan, gerakan politik non-Islami. Tapi ketika kalian di sana menyatakan pemutusan hubungan diri dari setiap orang Musyrik, dari setiap pihak yang anti Islam, maka itu juga merupakan gerakan politik, tapi politik yang merupakan agama itu sendiri. Ini politik yang agamis. Inilah hal-hal yang harus kita sadari mengenai haji.

Salah satu hal yang sangat penting di dalam haji adalah keharmonisan dan persaudaraan. Di dalam hadis yang diriwayatkan dari para imam pemberi hidayah as telah dianjurkan dan ditekankan bahwa shalatlah di Masjidul Haram atau Masjidun Nabi bersama orang-orang yang bukan Syiah, ikutlah dalam shalat mereka, shalat berjamaahlah dengan mereka. [Ini semua ada] di dalam hadis-hadis kita. Inilah keharmonisan. Ini menciptakan keharmonisan di antara saudara-saudara Muslim. Saya dengar sebagian orang ada yang bersikeras untuk menyelenggarakan shalat jamaah di tempat rombongan, hotel, dan sebagainya. Ini keputusan yang tidak benar. Ini bukan cara yang benar. Seyogianya mereka bergabung di tengah masyarakat, bersama orang-orang Muslim yang lain di Masjidul haram, hadir di saf-saf teratur shalat dalam Masjidun Nabi. Mendirikan Umat Islam di dalam perkumpulan-perkumpulan besar Muslimin adalah termasuk hal yang ada di dalam haji.

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh jamaah haji Republik Islam Iran adalah hendaknya mereka memberikan kehormatan kepada bangsa dan negara:

کونوا لَنا زَینا (الأمالی للشيخ الصدوق/ 400)

Perilaku jamaah haji Iran — baik perilaku terhadap rekan-rekannya, perilaku alami hidupnya, harus bermartabat, tenang, logis, dan bijaksana; maupun perilaku dengan kelompok dan bangsa lain atau semacamnya, harus dengan cinta kasih, logika, argumentasi, dan hormat; di semua itu dia — harus menunjukkan keunggulan budi pekerti sosial bangsa Republik Islam Iran. Ini sungguh poin yang sangat penting. Di dalam berbagai hadis para imam suci kita as juga seringkali ditekankan kepada orang-orang Syiah agar tingkah-laku, tutur kata, sikap, dan tenggang rasa mereka terhadap sesama Muslim direalisasikan sekiranya menjadi faktor kehormatan dan kemuliaan.

Pihak-pihak yang bertanggungjawab atas segenap urusan di tempat-tempat haji, Mekkah, Madinah, dan sebagainya — yakni pemerintah Saudi — adalah punya tugas-tugas yang berat; termasuk tugas menjamin keamanan para jamaah haji, dan menanggung kehormatan serta kemuliaan para jamaah haji. Kehormatan jamaah haji sangatlah penting; mereka adalah Dhuyufur Rohman, mereka adalah tamu-tamu Allah Swt; kehormatan mereka harus dijaga, perilaku-perilaku yang mencederai kehormatan mereka dan tergolong penistaan kepada mereka harus betul-betul dihindari. Tentunya, jangan membuat lingkungan jadi lingkungan keamanan; memang mereka harus menjaga keamanan para jamaah haji, tapi mereka jangan membuat lingkungan [haji] menjadi lingkungan keamanan; [yang diperlukan adalah] lingkungan yang tenang, lingkungan hidup yang bagus. Selama jamaah haji berada di Mekkah, Madinah, tempat-tempat dan pusat-pusat lainnya — entah itu sebulan, labih atau kurang –, hendaknya perilaku para panggungjawab itu terhadap mereka adalah perilaku yang pantas.

Hendaknya kalian sungguh-sungguh memperhatikan masalah doa, shalat, kekhusyukan, dan tawasul. Kehadiran di Masjidul Haram dan Masjidun Nabi betul-betul kesempatan yang sangat berharga dan tidak mudah didapatkan oleh orang biasa. Sekarang kalian dan para jamaah haji yang terhormat mendapatkan taufik itu dan sampai ke tempat itu. Maka jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk berdoa dan shalat di dua masjid itu, tawaf di Masjidul Haram, bermunajat dengan khusyuk, dan berkonsentrasi [kepada Allah Swt]. Tidak pantas bagi seorang Mukmin yang mengetahui betapa berharganya haji Ibrahimi untuk sibuk pergi ke pasar, ke sana dan kemari, belanja ini dan itu, dan lain sebagainya.

Intinya bahwa haji adalah fardu yang luar biasa dan istimewa. Ayat-ayat dan hadis-hadis tentang haji seluruhnya menunjukkan bahwa seyogianya fardu ini memberikan berbagai pelajaran individual dan sosial kepada orang yang mendapat taufik untuk menunaikannya. Apabila kita ingin mematuhi dan menunaikan perintah serta fardu ini dengan sesungguhnya, maka kita harus memperhatikan dan menjaga hal-hal tersebut.

Pemutusan hubungan diri dari orang-orang Musyrik merupakan salah satu pekerjaan yang penting dan harus dilakukan. Hal itu harus dilakukan sebagaimana shalat-shalat jamaah dan doa di dua masjid yang mulia — seperti telah saya sampaikan –. Biasanya jamaah haji Republik Islam Iran menyelenggarakan acara Doa Nudbah dan Doa Kumail dengan baik. Itu bagus sekali. Sebisa mungkin itu diselenggarakan insyaallah. [Sebab] ini merupakan doa khusyuk bersama dan perhatian kepada Allah Swt di tempat-tempat yang paling utama. Mohonlah kepada Allah Swt untuk menyingkirkan kendala dan kesulitan-kesulitan Umat Islam dan meminimalisir kejahatan musuh terhadap Dunia Islam.

Sekarang, ajaran-ajaran dan hakikat-hakikat Islami ini sendiri dimusuhi secara keras oleh musuh-musuh Islam. Permusuhan sejati para arogan seperti Amerika adalah terhadap ajaran dan hakikat ini. Kalian menyaksikan bagaimana brutalnya mereka menyerang ruang lingkup dan lingkungan Islami serta orang-orang Muslim di berbagai sektor kebudayaan, ekonomi, politik, keamanan, dan lain sebagainya. Itu semua karena hakikat-hakikat Islami ini. Seandainya Muslimin menyingkirkan hakikat-hakikat Islami ini dan berwarna seperti mereka serta hidup segaya dengan mereka, niscaya permusuhan ini akan hilang. Mereka memusuhi hakikat-hakikat ini. Sebab, hakikat-hakikat Islami ini bertentangan dengan perangai zalim mereka. Ketika kalian menunaikan shalat dengan doa dan khusyuk, kalian mengungkapkan “اِیّاکَ نَعبُدُ وَ اِیّاکَ نَستَعین” (Hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu kami mohon bantuan.), kalian tunduk di hadapan Allah Swt, dan itu artinya adalah kalian tidak khusyuk dan tidak tunduk di hadapan selain Allah Swt atau di hadapan kekuasaan-kekuasaan material. Kalian tidak menyerah terhadap mereka. Inilah yang membuat mereka jadi benci dan memusuhi, inilah pula yang menjadi faktor kemenangan, kemajuan, kemaslahatan, dan keselamatan Umat Islam. Komitmen kepada prinsip-prinsip Islam, komitmen kapda Syariat Islam, adalah sesuatu yang akan menyelamatkan bangsa Islam.

Apa yang terasa dan nyata di dalam masyarakat kita adalah di mana pun kita semakin banyak menunjukkan komitmen terhadap prinsip-prinsip dan batasan-batasan Islami, maka Allah Swt semakin banyak membantu kita, sehingga kita bisa menanggulangi berbagai masalah. Adapun setiap kali kita lalai, maka kita akan tercambuk oleh kelalaian kita sendiri. Apa yang saya lihat dan rasakan tentang masa depan negeri ini, bahkan masa depan Umat Islam adalah, musuh-musuh brutal dan buas serta zalim Dunia Islam, bangsa Republik Islam Iran, bahkan seluruh Umat Islam pada akhirnya akan terpaksa bertekuk lutut di hadapan Islam; Apa yang dengan taufik Ilahi akan terjadi di masa mendatang adalah kemuliaan Islam dan Muslimin serta kemajuan masyarakat-masyarakat Islam. Ini masa depan yang pasti. Hanya saja perlu kerja keras. Tidak ada target dan hasil yang akan tercapai tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, tanpa pengampunan (kebesaran hati) dan tanpa kerjasama.

Kami berdoa semoga Allah Swt memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita semua, kepada seluruh bangsa Republik Islam Iran, dan kepada seluruh Umat Islam agar kita semua memasuki jalan ini dengan segenap keberadaan kita, sehingga kita mendapatkan taufik-taufik Ilahi yang berikutnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb. (WF).[]

Hits: 34

Berita, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat