Magnet Wali Faqih Khumaini dan Khamenei

Kemungkinan, banyak orang yang belum tahu dan kalau pun tahu belum mengerti apa maksudnya ketika Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Kamis (2/6/16) dalam pertemuan para pujangga dan budayawan, mengatakan ‘Man syamsyir ro kesyideh-am. Syamsyir ro mo kesyidim. Masyghulim mo. Mo az cap u rost dorim mizanim.’ Artinya, ‘Saya sudah menghunuskan pedang. Kami sudah menghunuskan pedang. Kami sedang sibuk. Kami sedang menyabet dari kanan dan kiri.’

Boleh jadi sebagian orang mengira dengan kinerja lemah kabinet pemerintah saat ini Amerika akan mudah sekali mengalahkan Republik Islam Iran. Tapi faktanya berkata lain. Republik Islam malah sudah menyiapkan rantai pukulan di Irak, Suriah, Libanon, Palestina, dan Yaman kepada Amerika dan sekutu-sekutunya. Upaya itu sedang menunjukkan hasil dan meruntuhkan martabat kedigdayaan Amerika. Demikianlah tulis Muhammad Imani penganlisa politik di kanal telegramnya.

Pada hari Kamis (13/6/19), Imam Khamenei mengatakan kepada Shinzo Abe Perdana Menteri Jepang bahwa, “Saya tidak melihat Trump layak untuk tukar-menukar pesan apa pun … memangnya mana orang berakal sehat yang mengulang perundingan dengan negara yang melanggar seluruh perjanjiannya sendiri?! … Negosiasi yang jujur tidak mungkin muncul dari orang seperti Trump.”

Sehari sebelum pertemuan itu, beliau pergi ke Masjid Jamkaran dan berkhalwat dengan Allah Swt. Sebuah khalwat yang tampak erat hubungannya dengan kata-kata hikmah dan berani Imam Khamenei yang meledak viral di dunia. Begitu hebat dan berpengaruhnya sikap serta kata-kata beliau sehingga warga jepang dengan penuh hasrat menuliskan, “Saya menaruh hormat kepada pemimpin Iran. Iran punya kebanggaan yang kita kehilangannya di Jepang. Pemimpin kuat Iran sungguh membuat hasrat.”

Faisal al-Duwaisan mantan anggota parlemen Kuwait menyatakan, “Dulu, Ubaidillah menulis surat untuk Imam Husain as di Karbala dan menyerahkannya kepada Umar bin Saad agar disampaikan kepada beliau, tapi beliau berkata, ‘Aku tidak akan menjawabnya.’ Sekarang sejarah itu terulang. Khamenei berkata, ‘Aku tidak akan menjawabnya.'”

Persoalannya tidak terbatas pada suatu kawasan. David Ignatius menulis di Washinton Post bahwa setelah dua kapal tanker meledak di Laut Oman, Trump menuduh Iran tanpa bukti. Ketika itu, Shinzo Abe sedang berada di Iran untuk menyampaikan pesan Trump kepada pemimpin Iran. Tapi Ayatullah Khamenei menolak permohonan Trump.

Dia melanjutkan bahwa suara pemimpin agung Iran tidak bisa kita dengar lebih jelas daripada itu. Di dalam suaranya terdapat refleksi pernyataan Ayatullah Khumaini yang mengatakan bahwa Amerika tidak bisa berbuat galat apa pun. Iran punya kepercayaan diri yang besar.

Belum seminggu berlalu dari tamparan kuat terhadap kedigdayaan Amerika tersebut, kali ini garda keamanan negeri ber-Wali Faqih ini menjatuhkan drone terhebat Amerika yang melanggar perbatasan dengan sistem canggih Sewume Khurdad. Gelombang baru ini membuat Dr. Yahya Zakaria pemikir Aljazair tidak tahan untuk menulis komentar. Dia menuliskan, “Di saat kebanyakan penguasa Arab bertakdzim menundukkan kepala di hadapan setan Amerika Trump, seorang muslim dari bumi Persia bernama Sayid Ali Khamenei berdiri di hadapannya dan menghinakannya. Memang itulah faktanya. Biarkan saja katak-katak ribut semaunya.”

Tren perubahan yang terjadi pada berapa tahun terakhir juga mendorong majalah Newsweek berapa bulan lalu untuk memilih gambar dan judul berita utama di jilid depannya yang menunjukkan Trump berada dalam kepungan tiga kekuatan besar dunia; yaitu Rusia, Cina, dan Iran. Tapi perlu digarisbawahi dan teliti lebih dalam bahwa hanya Republik Islam Iranlah yang mampu berkata kepada utusan Amerika sesungguhnya ‘Saya tidak melihat Trump layak untuk tukar-menukar pesan apa pun.’, dan hanya Republik Islam Iranlah yang menembak jatuh drone tercanggih Amerika.

 

Perlu diketahui bahwa Wali Faqih Zaman Imam Khamenei adalah penerus Imam Khumaini dan murid teladan aliran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as yang bersabda, “Faqumtu bil amri hina fasyilu, wa tatholla’tu hina taqobba’u, wa nathoqtu hina ta’ta’u, wa madhoitu binurillahi hina waqofu.” (Nahj al-Balaghoh; pidato 27). Artinya, “Aku bangkit menjalankan tugas Ilahi di saat orang-orang lain gagal tak berdaya, aku melihat dari cakrawala tinggi di saat orang-orang lain membenamkan kepala dalam cangkangnya, aku berkata tegas di saat mereka terbata-bata gagap, dan aku berjalan dengan cahaya Allah di saat mereka berhenti keruh.”

Para pengikut Amirul Mukminin Ali as Washi Nabi Muhammad Saw sekarang sedang mempersiapkan sebuah peradaban. Ayatullah Sayid Yasin Musawi Imam Jumat Baghdad mengatakan, “Imam Khumaini ra pernah ditanya apakah Revolusi Islam merupakan tanda-tanda kemunculan Imam Zaman af? Beliau menjawab, ‘Tidak, revolusi ini bukan tanda kemunculan, melainkan awal kemunculan.’ Kita memohon kepada Allah Swt semoga Imam Khamenei merupakan Sayid Khurasani yang tertera di dalam hadis.” (WF)

Hits: 8

Berita, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat