Fitnah Perang 30 Tahun Yang Gagal Karena Wali Faqih

Rencananya, serial baru 30 tahun perang antar mazhab dimulai dengan terciptanya ISIS. Itulah fitnah besar Arogansi Global Amerika dan sekutunya yang keluar dari mulut Richard Haass Ketua Dewan Hubungan Internasional Amerika Serikat ketika ISIS  dari kota Deirazor Suriah sampai ke dekat ibukota Baghdad Irak. Dan perlu digarisbawahi bahwa Dewan Hubungan Internasional ini merupakan dewan persatuan kubu Demokrat dan Republik di Amerika yang menggariskan politik jangka panjang untuk dunia.

Berdasarkan pernyataan itu, semestinya di kawasan negara-negara Islam terjadi perang besar antar mazhab selama 30 tahun yang diharapkan dapat menghancurkan Islam itu sendiri. Demikian kata Dr. Abbasi Ketua Pusat Pemikiran Yakin dalam acara haul kedua Jenderal Syahid Pembela Haram, Syakban Nasiri.

Menurutnya, sampai saat ini kita masih harus menjelaskan kepada masyarakat umum bahkan akademisi apa perlunya kita berjuang di Suriah dan Irak? Apa urgensinya orang-orang tercinta seperti Syahid Nasiri mengorbankan jiwanya di kota Mosul Irak? Kenapa kita masih bertempur melawan musuh di kota Idlib dan Parmira? Pertanyaan-pertanyaan serupa pernah disebarkan oleh kelompok liberal ketika Republik Islam berhasil membebaskan kota Khuramsyahr dari pendudukan Saddam. Sekarang juga mereka rajin menabur garam di atas luka keluarga Syuhada Pembela Haram dengan mengatakan mereka pergi demi diktator Bashar Assad atau demi uang.

Sampai hari ini pun masalah yang dihadapi belum selesai dan sedang ditransfer dari Suriah dan Irak ke Asia Tengah dan Afganistan. Masyarakat umum perlu memahami dengan baik apakah tujuan para Pembela Haram berjuang di sana. Arogansi Global telah merencanakan perang 30 tahun antar mazhab dengan tujuan menghancurkan Islam dan Muslimin.

Ketika ISIS sampai ke dekat ibukota Baghdad, Haidar al-Abadi langsung memerintahkan agar 120 komandan militer Irak dipensiunkan. Hal itu karena mereka punya latar belakang di partai Ba’ath dan masih terpengaruh oleh jaringan Saddam. Gubernur Mosul dan komandan-komandan Ba’ath inilah yang membukakan pintu untuk ISIS. Amerika sejak awal membiarkan Ibrahim al-Douri komandan militer dan mantan wakil Presiden Irak Saddam tetap hidup dan menjadikannya sebagai wakil Abu Bakar Baghdadi di bidang militer di Irak. Dialah yang memerintahkan para komandan militer Irak untuk membukakan pintu kepada ISIS.

Haidar al-Abadi menghubungi Iran dan minta pertolongan. Jenderal Sulaimani pergi ke sana bersama para ahli yang fasih berbahasa Arab dan mengenal medan. Bersama orang-orang seperti Syahid Taqawi dan Syahid Nasiri yang tahu betul seluk beluk Partai Ba’ath. Mereka hadang ISIS dari belakang kota Samera, Kadzimain, dan Baghdad. Dan dalam waktu tiga tahun mereka dengan komando Wali Faqih dan dukungan fatwa Jihad Ayatullah Sistani berhasil menyapu kelompok takfiri ini dari Irak.

Kalau kita menengok kembali sejarah, perang 30 tahun antar mazhab sebelumnya terjadi pada 400 tahun silam di Eropa antara Katolik dan Protestan. Perang ini berlangsung selama tiga puluh tahun sampai menghancurkan agama Kristen itu sendiri. Di Paris empat ratus tahun lalu, sekitar delapan ribu orang Protestan dibantai oleh kaum Katolik. Berita ini menyebar ke seluruh Eropa, sehingga masyarakat terprovokasi dan membakar Paris. Akibat perang yang berkepanjangan itu, penduduk Eropa praktis berkurang menjadi setengah. Dan setelah tiga puluh tahun pembantaian, lahirlah generasi baru yang mengatakan ‘bukan kami dan bukan kalian’, ‘tidak pada Katolik dan tidak pada Protestan’; seluruh gereja, dan seluruh Injil, bahkan seluruh agama Kristen harus disingkirkan. Periode sekularisme dimulai dengan perjanjian Perdamaian Westfalen, dan sejak itu untuk selamanya agama disingkirkan dari Eropa.

Dalam agenda Arogansi Global yang disinggung oleh Richard Haass, orang-orang Muslim Ahlussunnah dan Syiah harus berperang dan bunuh-bunuhan selama 30 tahun agar Islam musnah dari permukaan. Mereka tidak mengira Haidar al-Abadi langsung minta bantuan kepada Iran. Dia mengatakan, seandainya Iran telat 24 atau 48 jam saja maka Baghdad sudah runtuh.

Dalam skenario Richard Haass dan sekutunya, setelah ISIS menduduki Baghdad maka mereka akan menghancurkan Karbala dan Najaf. Otomatis darah orang Syiah akan mendidih, sehingga terjadilah perang besar. ISIS akan membunuh orang Syiah di mana pun mereka berada, dan dengan demikian perang akan melebar sampai ke Iran, Afganistan, Pakistan, bahkan Indonesia.

Pembantaian antara Ahlussunnah dan Syiah ini rencananya berlangsung selama tiga puluh tahun seperti pembantaian antara Katolik dan Protestan empat ratus tahun yang silam di Eropa. Setelah pertempuran sengit dan pembantaian antara Hizbullah sebagai perwakilan arus utama Syiah dan ISIS sebagai perwakilan arus utama Ahlussunnah, akan lahir generasi baru yang mengatakan ‘tidak’ kepada Syiah dan ‘tidak’ kepada Sunni, ‘bahkan Islam, masjid, dan Al-Qur’an seluruhnya harus disingkirkan’. Inilah tujuan Arogansi Global sebagaimana disinggung oleh ketua Dewan Hubungan Internasional Amerika Serikat. Setelah dia, setidaknya ada sebelas pejabat Amerika yang menyatakan bahwa peperangan antar mazhab ini akan berlangsung selama tiga puluh tahun. Sebagai contoh, Brzezinski menulis buku tentang ini. Kissinger menulis dua makalah. Setelah itu, John Kerry memberikan pernyataan bahwa perang di Suriah dan Irak akan berlanjut sampai tiga puluh tahun.

Jadi apabila sebagian orang seperti kelompok liberal dan reformis rutin menyuarakan kenapa kalian pergi berjuang di sana? Jawabnya adalah karena tuan-tuan Amerika kalian sedang menjalankan rencana-rencana jangka panjang mereka di sana untuk menghancurkan Islam.

Musim panas tahun 2014 ketika api fitnah perang 30 tahun mulai dinyalakan, Wali Faqih Zaman Imam Khamenei sedang terbaring sakit di rumah sakit. Ketika itu juga beliau panggil Ayatullah Araki ketua Majmak Taqrib Madzahib dan memerintahkannya untuk segera mengumpulkan ulama Syiah dan Ahlussunnah dari seluruh dunia di Teheran. Mereka berkumpul di hotel Olympic. Kelompok demi kelompok dari mereka bergantian naik mobil untuk pergi bertemu beliau. Beliau pun mengatakan kepada mereka bahwa ketahuilah! yang sedang diperangi sekarang adalah Islam dan Al-Qur’an itu sendiri, perang ini bukan perang Sunni-Syii, kalian harus bergerak untuk menggagalkan fitnah ini dan menyingkirkan perbedaan-perbedaan.

Setahun kemudian, konferensi internasional anti takfiri digelar di kota Qom dengan pengawasan Ayatullah Makarim Syirazi. Pada konferensi yang berlangsung tiga hari dan dihadiri oleh ulama-ulama Ahlussunnah itu telah dinyatakan kecaman terhadap siapa saja yang menistakan hal-hal yang sakral menurut Ahlussunnah. Para penista itu kemudian dikenal dengan sebutan Syiah Inggris.

Setelah konferensi, Imam Khamenei di dalam dua pidatonya secara resmi menyebutkan istilah Syiah Inggris dan memasukkannya ke dalam literatur politik. Beliau menyatakan bahwa siapa pun yang menistakan Ahlussunnah atas nama Syiah atau pembelaan terhadap Syiah berarti sedang membantu musuh. Itulah kenapa dapat disaksikan betapa sensitifnya pemerintah terhadap sesuatu yang berbau penistaan terhadap hal-hal yang sakral menurut Ahlussunnah; ketika di sebuah acara televisi ada seorang pelantun kasidah menyinggung sesuatu yang sakral bagi Ahlussunnah maka seluruh jajaran kanal televisi yang menayangkan acara itu dipecat. Tiada lain pemecatan tersebut karena berhubungan dengan keamanan nasional dan global yang rencananya, Syiah dan Ahlussunnah harus saling membantai selama tiga puluh tahun. Semua orang harus waspada bahwa sebelas pejabat Amerika Serikat telah menyatakan Syiah dan Ahlussunnah harus saling membantai sampai tiga puluh tahun yang akan datang. Makanya, orang-orang yang terlibat dalam penistaan seperti itu sadar atau tidak sadar sedang menjalankan agenda busuk Amerika.

Pada tahun berikutnya, ketika para ulama Ahlussunnah menyaksikan kegigihan Syiah dalam memadamkan api fitnah ini maka mereka menggelar konferensi internasional di Chechnya pada bulan Agustus 2016. Chechnya sengaja dipilih karena banyak pemimpin dan komandan ISIS yang berasal darinya. Konferensi itu menghasilkan bahwa aliran Wahabi yang mengkafir-kafirkan Syiah tidak termasuk Ahlussunnah. Para ulama Ahlussunnah mengeluarkan Wahabi dari Ahlussunnah. Setelah itu, Wahabi dan kelompok yang mengkafir-kafirkan Syiah itu dikenal dengan sebutan Islam Amerika. Ini hasil yang sangat berharga. Ini kemenangan besar melawan fitnah di samping perjuangan Muqawama di medan pertempuran. Tapi sayang sekali media kurang memberitakan.

Setelah itu, dengan komando Wali Faqih, Jenderal Sulaimani bersama Pasukan Quds dan Front Muqawama yang terdiri dari pejuang Syiah dan Ahlussunnah berhasil menggulung tikar ISIS di Suriah. Fitnah perang tiga puluh tahun itu berhasil digulung dalam waktu tiga tahun. Sungguh besar jasa mereka yang berjuang dan mengorbankan jiwa, raga, harta, dan segala-galanya demi memadamkan api fitnah besar Arogansi Global ini.

Hits: 28

Berita, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat