Wawancara dengan Ayatullah Ibrahim Amini tentang Imam Khumaini ra

Dalam rangka memperingati haul wafatnya arsitek besar Revolusi Islam, Imam Ruhullah Musawi Khumaini ra, mari kita sama-sama mengaji kembali pikiran dan perilaku teladan beliau melalui wawancara dengan salah satu murid beliau, Ayatullah Ibrahim Amini:

Sosok Imam Khumaini ra dapat dikaji dari berbagai dimensi dan sisi. Ciri-ciri apakah yang lebih Anda kenang dari beliau?

Bismillahirrohmanirrohim. Imam Khumaini ra, setelah para manusia suci as, merupakan sosok yang langka. Menurut saya, ciri-ciri beliau yang paling menonjol adalah ruh dan jiwa tenteram serta keteguhan beliau yang luar biasa. Selalunya, orang-orang yang punya nafs muthmainnah memiliki ketenangan batin. Karena itu, apabila mereka berbicara tentang Tuhan, Kiamat, Hari Kepulangan, surga, neraka, dan lain sebagainya, mengingat bahwa tutur kata itu bersumber dari keyakinan mereka yang dalam, maka pasti berpengaruh dalam hati hamba-hamba Allah Swt.

Imam Khumaini ra tidak memandang kemandirian wujud pada diri sendiri maupun keberadaan-keberadaan yang lain. Beliau sungguh memandang dirinya sebagai hamba Allah Swt.

Pokok-pokok pemikiran dan keterangan Imam pada umumnya ada berapa kunci yang seringkali dikutip. Salah satunya adalah komitmen untuk menjalankan taklif. Apa analisis Anda mengenai ungkapan ini?

Imam Khumaini ra, karena iman beliau yang dalam kepada Allah Swt, telah sampai pada kedudukan seperti para wali dan nabi. Karena itu, di dalam menjalankan taklif dan mengerjakan tugas, beliau sama sekali tidak punya rasa takut di dalam hati. Semua orang yang walau pun hanya sekali pernah melihat Imam pasti tahu bahwa beliau mempunya jiwa yang tenteram. Karena itu, dalam kondisi apa pun beliau tidak pernah cemas, beliau tidak pernah kehilangan ketenangan diri. Badai-badai dan kesulitan-kesulitan Revolusi membuat semua orang kuatir dan gelisah, tapi Imam selalu tenang. Dan ketenangan ini beliau salurkan kepada setiap orang yang ada di sekitar beliau. Saya bahkan di dalam kondisi yang paling sulit sekali pun tidak pernah melihat Imam kuatir dan cemas. Ketenangan inilah faktor kekuatan hati orang-orang lain.

Sebagai contoh konkrit, apakah Anda masing ingat kenangan tertentu mengenai pola perilaku Imam ini?

Iya. Ketika itu hari kesyahidan Imam Shadiq as. Saya bersama sebagian ulama ketika itu berada di rumah Imam ra. Tiba-tiba ada sekelompok santri masuk ke rumah Imam dengan kepala dan wajah berlumur darah, mata menangis, tanpa aba dan sorban, serta dengan kekhawatiran yang teramat. Salah satu orang yang ada berada di sekitar Imam berkata dengan cemas, “Tuan! Kondisinya sangat berbahaya, izinkan kami untuk menutup pintu rumah.” Imam dengan nada pasti berkata, “Jangan!”. Orang ini pergi ke salah satu ulama teman dekat Imam dan beliau sangat menyukainya. Orang itu memohon kepada dia untuk menutup pintu rumah, karena mungkin sekali orang-orang Savak (Badan Intelijen dan Keamanan Negara) menyerbu ke dalam rumah dan berbuat brutal seperti sebelumnya. Tapi Imam tetap menolak dan berkata, “Kalau kalian terus bersikeras maka saya akan pergi ke jalan menuju Haram. Kayu yang mereka pukulkan ke kepala santri-santri ini mestinya mereka pukulkan ke kepala saya. Lalu kalian mengatakan kepada saya untuk menutup pintu rumah saya? Kalau saya tutup intu rumah, bagaimana santri-santri bisa masuk?” Kemudian beliau menuju halaman rumah dan berwudu serta shalat dengan setenang-tenangnya. Setelah itu, beliau berpidato untuk para santri seraya berkata, “Percayalah bahwa Syah dengan ulahnya ini telah menggali kuburnya sendiri! Menyerang ke Faidhiyah (Pusat Pondok Pesantren atau Hauzah Ilmiah Qom) sama dengan menyerang Islam, dan menyerang Islam sama dengan memukul akar diri sendiri dengan kapak.”

Setelah wafatnya Ayatullah Brujurdi, sebagian ulama berusaha untuk mengukuhkan kemarjikan mereka, sedangkan Imam selalu menghindari hal ini. Apa analisis Anda mengenai sikap Imam ini?

Imam selalu menaklukkan dirinya. Beliau sangat serius dalam berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan menghindari noda-noda duniawi serta mencapai keikhlasan. Sebagaimana Anda isyaratkan, ketika itu banyak gerak-gerik baik di dalam maupun di luar Hauzah Ilmiah untuk mencapai posisi sebagai marjik taklid, tapi Imam sama sekali tidak mengambil satu langkah pun untuk itu, bahkan beliau tidak mengizinkan murid-murid dan pendukungnya untuk beraktivitas di bidang ini. Pertemuan istifta merupakan salah satu kelaziman posisi marjik, dan Imam selalu menolaknya dengan tegas. Saya karena sangat mencintai beliau, ingin sekali menyelenggarakan acara istifta. Karena itu, saya berusaha untuk mengutarakan masalah ini dalam bentuk lain dengan harapan beliau menerimanya. Suatu hari, saya katakan kepada beliau, “Anda tahu bahwa di antara murid-murid Almarhum Ayatullah Brujurdi ada santri-santri senior yang pasca beliau wafat tidak sudi untuk ikut pelajaran orang lain. Mereka sekiranya aktif melakukan penelitian dan kajian fikih, di masa mendatang akan menjadi orang-orang yang sangat berguna. Apakah Anda tidak ingin membantu mereka?” Beliau menjawab, “Saya ingin, tapi apa yang mesti dilakukan?” Saya katakan kepada beliau, “Izinkan mereka berapa kali dalam seminggu untuk datang kepada Anda dan menanyakan persoalan-persoalan fikih yang sukar serta membahas di hadapan Anda, sehingga mereka terbina dan Anda pun dapat mendengar pandangan-pandangan mereka.”

Imam yang biasanya melihat ke bawah selama orang lain bicara, mengangkat kepala seraya berkata, “Pak Amini! Harapan saya tadi adalah kamu katakan kepada saya hai fulan! Hendaknya kamu memikirkan akhiratmu dan jangan sia-siakan sisa umurmu. Lalu, bukan itu yang Anda katakan, malah Anda menawarkan pertemuan istifta keapda saya? Saya kan bukan marjik taklid sehingga perlu mengadakan pertemuan istifta, kalau pun ada orang yang menanyakan sesuatu kepada saya maka saya akan menjawabnya. Mukalid saya juga tidak begitu banyak sehingga saya tidak bisa menjawab mereka. Karena itu, tidak perlu acara pertemuan istifta.”

Ala kulli hal, Imam sedikit pun tidak pernah mengambil langkah untuk hal ini. Bahkan di dalam acara tasyyik jenasah Almarhum Ayatullah Brujurdi pun beliau ikut sebagai orang biasa. Di dalam acara Majelis Tarhim yang diselenggarakan pun beliau pergi sendirian dan duduk di pojokan. Dalam beberapa pertemuan itu pun beliau bahkan tidak ikut. Mula-mula mereka ingin tidak menggelar Majelis Tarhim, tapi pada akhirnya karena desakan orang-orang lain dan mengingat maslahat-maslahat tertentu, setelah majelis-majelis yang diselenggarakan orang lain, beliau pun menggelar majelis.

Mengenai pengelolaan Hauzah Ilmiah dan pembayaran bulanan kepada para santri, beliau berkata, “Alhamdulillah ada yang lain, dan kita teruskan saja pembahasan-pembahasan santri kita.” Saya pribadi dan salah satu rekan saya bahkan bersikeras, tapi beliau tetap tidak terima, sampai kemudian kebangkitan Imam dimulai. Saya dan Ayatullah Muntazeri serta salah satu dari ulama Tehran mendesak beliau untuk hal ini, sehingga pada akhirnya beliau pun menerima.

Menurut Anda, apa faktor paling utama dari kemenangan Imam Khumaini dan prestasi beliau dalam mencapai tujuan-tujuannya?

Ikhlas, iman, kecerdasan dan kecerdikan yang luar biasa. Imam sangat cerdas, beliau mengenal tujuannya dengan sangat baik dan mengejarkan dengan sangat tegas. Semua orang yang mengenal beliau dari dekat pasti tahu bahwa di samping kecerdasan, kebijakan dan kebijaksanaan, beliau punya ketegasan yang luar biasa. Ketegasan ini juga muncul dari keyakinan dan keimanan sempurna beliau terhadap janji-janji Ilahi. Keikhlasan luar biasa Imam membuat tutur kata beliau muncul dari dalam jiwa dan sudah barang tentu bersemayamg di dalam hati audiennya. Beliau mengidentifikasi tugas dengan sangat teliti dan menjalankannya dengan pasti. Kunci kesuksesan beliau terletak pada keikhlasan, keteguhan, ketidakpedulian pada kedudukan dan hal-hal materi serta duniawi, kecerdasan dan kecerdikan politik serta sosial, kesederhanaan hidup, ketenangan, kefakihan, kemarjiktaklidan, dan paras menarik serta nada bicara beliau yang menyentuh. Iman dan keyakinan Imam melahirkan keberanian, keteguhan, dan ketegasan yang luar biasa, membuat beliau punya wibawa, haibah, dan keagungan yang sangat jarang dimiliki orang lain.

Anda termasuk murid pertama Imam. Bagaimana perilaku beliau terhadap para santri?

Terhadap semua santri, beliau punya perilaku yang sama. Beliau tidak menunjukkan kesukaan yang lebih kepada sebagian santri daripada yang lain, begitu pula beliau tidak menunjukkan perhatian yang lebih kepada orang-orang yang punya masa lalu khidmat lebih banyak dariapda yang lain. Saya selama belajar di Isfahan dan Qom mendapatkan banyak hal dari para guru, tapi ada tiga guru yang lebih berpengaruh di dalam kehidupan saya, yaitu Almarhum Bapak Haji Syaikh Muhammad Hasan Salim Najaf Abadi, Ustad Allamah Thabathabai, dan Imam Khumaini. Saya sejak lama murid dan promotor beliau, tapi bahkan perilaku beliau terhadap saya tidak beda dengan perilaku beliau terhadap yang lain.

Anda katakan tadi bahwa Anda promotor beliau. Dalam hal ini, apa cara-cara yang anda gunakan?

Saya ingin sekali merekrut para santri dan ulama kepada beliau. Karena itu, hati saya ingin sekali untuk mempertemukan beliau dengan para ulama dalam acara-acara kunjungan. Tapi beliau menolak. Secara khusus, saya ingin sekali beliau bertemu dengan salah satu ulama, tapi selalu beliau menyampaikan uzur. Beliau tidak berkunjung kecuali kepada orang-orang yang kenal. Pada prinsipnya beliau bukan tipe orang yang suka berkunjung. Sesekali saya pernah berkata kepada beliau, “Memangnya kunjungan itu bukan termasuk akhlak mulia Islam dan tidak seyogianya untuk dilakukan?”. Beliau menjawab, “Tentu termasuk.” Saya lanjutkan, “Lalu kenapa Anda menghindarinya?”. Beliau menjawab, “Memang hal ini seyogianya dilakukan, tapi apa yang harus saya lakukan terhadap Nafsu Ammarah?”.

Imam walau pun termasuk ahli majelis raudhah dan menyukainya, tapi lebih sering beliau mengikuti majelis biasa. Dan ketika ulama dan marjik datang dari kota lain ke Qom, beliau hanya bertemu dengan orang-orang yang beliau kenal.

Apakah perilaku ini kemudian tidak diungkapkan sebagai isolasi diri dan kesombongan?

Iya, demikian. Tapi faktanya bahwa Imam tidak ingin melakukan sesuatu selain apa yang beliau pikirkan. Mengenai tawadhu dan kerendahan hati beliau, kiranya cukup saya ceritakan bahwa ketika saya masih merupakan santri biasa yang tak dikenal, dan selama satu bulan saya sakit dirawat di ruang inap, beliau bersama salah satu rekan ulamanya selalu menjenguk saya pada hari-hari Rabu. Imam sangat-sangat jarang bicara dan sangat menghindari untuk mengorbitkan diri. Beliau sangat menjauhi perdebatan, dialog dan unjuk diri. Padahal, umumnya para santri dan ulama menyukai pembahasan dan dialog. Dalam pembahasan ilmiah yang serius, beliau mengutarakan pandangan-pandangannya secara teliti dan menjawab berbagai kritikan. Tapi ketika muncul semacam unjuk diri dan perdebatan, maka beliau diam secara mutlak. Beliau hanya menjawab ketika ditanya. Saya ingat salah satu rekan beliau ingin pergi ziarah ke Atabat Aliyat. Saya ikut beliau menemui orang itu. Beliau berkata kepadanya, “Anda sedang pergi untuk ziarah Atabat, Hauzah-Hauzah Ilmiah Najaf adalah tempat pembahasan-pembahasan santri, hati-hati jangan sampai Anda terjebak dalam pembahasan-pembahasan ini sehingga tertinggal dari pekerjaan asli Anda, yaitu ziarah.”

Anda ikut pelajaran Imam yang mana dan apa kenangan Anda dari masa itu?

Saya belajar fikih dan ushul dari Imam, sedangkan filsafat saya belajar dari Allamah Thabathabai. Saya sayang mencintai kedua-duanya. Di dalam hati, saya pernah ingin tahu siapa di antara mereka berdua yang lebih kuat dalam kajian filsafat. Akhirnya, suatu hari saya undang mereka makan siang di kamar saya di Madrasah Hujjatiyah. Untungnya mereka sama-sama menerima. Saya sangat menanti-nanti kesempatan ini.

Saya pun mengutarakan sebuah persoalan filsafat. Mereka berdua menyimak dengan teliti. Lalu, mereka saling tersenyum. Dan Imam dengan senyumannya mempersilahkan Allamah untuk menjawab. Selama Allamah memberikan jawaban, Imam menyimaknya dengan teliti. Setelah itu, saya menanyakan sesuatu kepada Imam. Dan selama beliau memberikan jawaban, Allamah menyimak dengan khidmat. Ala kulli hal, saya tidak mampu mempertentangkan mereka dalam pembahasan santri. Tampaknya mereka berdua mengerti maksud saya. Hari itu, hari yang sangat menyenangkan.

Terimakasih atas kesempatan yang telah Anda berikan kepada kami. (WF)

Sumber Persia: emam.com