Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Pejabat-Pejabat Negara

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Rabu (23/5/18) sore, berpidato dalam pertemuan dengan para ketua tiga badan tinggi negara dan para pejabat serta pegawai lainnya sebagai berikut:

بسم الله الرّحمن الرّحيم
و الحمدلله ربّ العالمين و الصّلاة و السّلام علي سيدنا و نبينا ابي‌القاسم المصطفيٰ محمّد و علي آله الطّيبين الطّاهرين المعصومين و صحبه المنتجبين و من تبعهم باحسان الي يوم الدّين

(Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Segala puja dan puji kehadirat Allah Tuhan Alam Semesta. Shalawat serta salam –semoga senantiasa tercurahkan- kepada junjungan dan nabi kita Abul Qasim Al Musthafa Muhammad dan keluarganya yang bagus, suci, dan maksum, sahabatnya yang terpilih, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari pembalasan.)

Selamat datang saudara-saudari yang tercinta, pejabat-pejabat yang terhormat di berbagai sektor negara, dan elite-elite politik serta manajerial di keseluruhan Republik Islam Iran. Ini pertemuan yang sangat penting. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Presiden [Hasan Rouhani] telah menyampaikan keterangan yang baik dan kuat mengenai berbagai bidang.

Bulan Ramadan adalah kesempatan istimewa untuk menyegarkan ruh iman, kejernihan, dan kemaknawiyan di dalam diri kita. Puasa, tilawatul Qur’an, doa, munajat, dengar petuah, semua itu menciptakan sebuah suasana dimana hati-hati kita mendapatkan keuntungan dari lingkungan maknawi dan rohani ini sesuai kadar dan kapasitasnya masing-masing. Mungkin bisa dikatakan bahwa di keseluruhan dua belas bulan selama setahun, satu bulan ini seperti dua atau tiga jam sebelum fajar dari keseluruhan siang dan malam. Sebagaimana satu, dua atau tiga jam sebelum azan subuh mempunyai keistimewaan tersendiri, dan kemaknawiyan manusia serta kejernihan hatinya lebih daripada pada waktu yang lain. Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an juga telah disinggung dan dianjurkan untuk bergadang pada saat-saat itu. Di dalam hadis juga banyak sekali yang menjelaskan bahwa di antara 24 jam, saat-saat itu punya keistimewaan tersendiri dibandingkan saat-saat yang lain. Bulan Ramadan di antara dua belas bulan mempunyai keistimewaan seperti saat-saat itu dibandingkan bulan-bulan yang lain.

Baik. Kesempatan ini tersedia bagi semua orang. Hanya saja, bagi kalangan elite dan pengelola negara, keistimewaan ini punya poin yang berlipat ganda. Karena ada tanggungjawab yang berat di pundak saya dan kalian. Rakyat biasa sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan hidup mereka sendiri dan tidak punya beban berat itu, dasar maknawi mereka mampu menggerakkan mereka. Sedangkan kita yang punya tanggungjawab ini, sekiranya kita tidak meningkatkan dasar maknawi kita niscaya kita tidak akan mampu menjalankan pekerjaan yang semestinya kita kerjakan dan mengantarkan tanggungjawab berat itu sampai kepada tujuan. Kalian perhatikan bahwa Allah Swt kepada sosok seperti Nabi Saw, kepada insan mulia seperti Rasulullah Saw, di dalam Surat Muzzammil berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ١ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ٢ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا ٣ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا

(Artinya: Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Wahai orang berselimut! Bangunlah malam kecuali sedikit. Separuhnya, atau kurangilah darinya sedikit. Atau tambahkan kepadanya dan tunaikanlah Al-Qur’an setartil-tartilnya. (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4).

Separuh malam – lebih atau kurang – bergadang dan beribadahlah, berdoalah, bermunajatlah, bacalah Al-Qur’an, sibuklah pada saat-saat itu. kenapa?

إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا

(Artinya: Sesungguhnya Kami akan ajukan kepadamu perkataan berat.). (QS. Al-Muzzammil [73]: 5).

Pekerjaanmu itu susah. Ada pekerjaan berat di pundakmu. Kami akan ajukan perkataan berat kepadamu. Kamu harus bisa memikulnya. Apabila bergadang tengah malam, munajat, dan doa itu ada, maka kamu akan mampu memikulnya dan membawanya sampai ke tujuan. Apabila itu tidak ada, maka kamu pun tidak akan mampu. Demikianlah keadaan kita.

Saudara-saudariku yang tercinta! Jika kita tidak menguatkan dasar maknawiyah diri kita, maka kita tidak akan mampu. Di mana pun kita berada – mulai dari saya yang tanggungjawabnya paling berat dibandingkan semua yang lain, sampai dengan pejabat-pejabat di berbagai tingkatan, seluruhnya menjadi audien ayat ini (إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا). Kita harus mempersiapkan diri.

Baik. Mengenai isu-isu kontemporer, Bapak Presiden [Hasan Rouhani] telah menyampaikan keterangan yang bagus. Saya juga akan mengutarakan beberapa hal mengenai persoalan-persoalan ini. Kita sekarang berada di sebuah fase. Berbagai fase telah dilalui oleh Republik Islam sejak hari pertama sampai sekarang. Di setiap fase, muncul satu pengalaman, satu percobaan, dan satu ujian penting. Republik Islam pun dengan kuat dan teguh menghadapi setiap peristiwa di fase-fase itu dan terus maju. Sekarang ini pun satu fase yang insyaallah Republik Islam juga akan menghadapinya dengan kuat, hebat, dan tadbir. Dan akan terus maju. Kita punya pengalaman-pengalaman yang harus kita gunakan dan manfaatkan.

Masalah utama dalam persoalan khas ini adalah kita menyaksikan satu musuh di hadapan kita sejak awal revolusi sampai sekarang. Sejak saat-saat pertama Revolusi [Islam], musuh ini muncul, hadir, dan memulai penentangan. Musuh ini adalah pemerintah Amerika Serikat (AS). Sejak awal – tentunya sejak kebingungan mereka tersingkir dan masa-masa dimana mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi telah berlalu –, mereka memulai penentangan dan permusuhan. AS sampai saat ini dimana kita sedang berbicara, telah melakukan berbagai permusuhan, trik, dan penipuan demi menghantam Republik Islam. Artinya, betul-betul tidak ada satu bentuk permusuhan pun yang kalian ketahui kecuali mereka telah melakukannya terhadap Republik Islam. Mereka organisir kudeta militer, mereka provokasi etnis-etnis, mereka giring Saddam untuk memerangi Iran, lalu pada masa perang mereka dukung dan lindungi dia dengan segala cara; mereka jatuhkan sanksi; mereka gunakan kekuatan infiltrasi mereka di PBB terhadap kita; mereka propaganda siang dan malam; mereka gunakan seni; meraka pakai Holywood untuk membuat film anti kita, bukan satu, bukan dua; di berbagai kesempatan mereka lakukan gerakan militer; mereka jatuhkan pesawat kita; mereka lakukan serangan militer ke sebagian markas kita di Teluk Persia; segala macam perbuatan telah mereka lakukan terhadap Republik Islam; penentangan keamanan, politik, ekonomi, propaganda, dan kebudayaan; segala macam. Target semua itu tiada lain adalah penggulingan. Sekarang, bahwa kata “penggulingan” hari-hari ini sering diucapkan oleh pejabat-pejabat AS bukanlah hal yang baru. Sejak hari pertama tujuan mereka memang itu (penggulingan). Bahkan presiden [1], yang berulang-ulang bersikeras untuk menyatakan bahwa tujuan kami bukanlah penggulingan, juga bertujuan untuk menggulingkan. Dan itu jelas sekali.

Baik. Yang penting dan menarik di semua peristiwa ini adalah semua pukulan, serangan, skenario, konspirasi, dan lain sebagainya telah dilakukan terhadap Republik Islam, tapi semuanya kalah. Kalian sekarang menyaksikan, kalian melihat Republik Islam, setelah sekitar empat puluh tahun berlalu, tetap bergerak maju dengan kuat, dengan teguh, dengan berbagai kekuatan – yang mungkin sekarang akan saya sampaikan sebagiannya, dan sebagiannya lagi telah disinggung oleh Bapak Dr. Rouhani -. Itu artinya, segala hal mereka telah lakukan, semua kekuatan telah mereka kerahkan, setiap cara telah mereka gunakan, dan semua itu mengalami kekalahan. Seperti kucing terkenal dalam cerita Tom and Jerry. Di semua tadbir yang mereka lakukan dengan kadar yang luar biasa, pada akhirnya mereka tetap gagal.

Baik. Sekarang pun satu fase lain. Dan mereka juga akan mengalami kekalahan. Dalam kasus ini juga pasti dan yakinlah kalian bahwa AS akan kalah. Republik Islam akan melewati peristiwa ini dengan bangga, kepala tegak dan dada terbusung.

Kita tidak ragu akan kekalahan musuh. Saya sama sekali tidak ragu. Siapa pun yang mengenal ajaran Islam pasti tahu bahwa (اِن تَنصُرُوا اللهَ ينصُرکُم); “Apabila kalian menolong Allah niscaya Dia menolong kalian.”, (وَ لَينصُرَنَّ‌ اللهُ مَن ينصُرُه‌); “Dan sungguh pasti Allah menolong siapa pun yang menolong-Nya.”. Atau ayat yang tadi ditilawahkan, (وَ مَا النَّصَرُ اِلّا مِن عِندِ الله); “Dan tiadalah pertolongan / kemenangan kecuali dari sisi Allah.”. Ini semua pasti, dan tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Kita tahu bahwa mereka akan kalah. Kita tahu bahwa nasib presiden yang sekarang juga tidak akan lebih baik dari para pendahulunya – Bush dan para Neokon, [2] orang-orang di sekeliling Reagan dan yang lain-lain-. Orang ini juga akan hilang dalam sejarah sebagaimana mereka. Sedangkan Republik Islam akan tetap mulia dan bangga. Mengenai hal ini sama sekali kami tidak ragu. Akan tetapi, sesuai sunnatullah, ada tugas-tugas di pundak kita; hasil pasti akan kemajuan dan pertolongan Ilahi terhadap Republik Islam jangan pernah melalaikan kita dari tugas-tugas. Ada tugas-tugas di pundak kita yang apabila kita tidak melaksanakannya niscaya kita tidak akan tenang akan hasil-hasil itu. Kita harus menjalankan tugas-tugas kita.

Baik. Sekarang kita ingin sedikit membahas di sini mengenai tugas-tugas kita sekarang. Dan pembahasan ini membantu kita melahirkan kesepikiran di berbagai sektor dan di berbagai lapisan – yang Alhamdulillah semua pejabat hadir di sini – dalam persoalan-persoalan ini. Kita akan membahas persoalan ini dalam dua bagian: yang pertama adalah perilaku yang harus kita miliki terhadap AS, Kesepakatan Nuklir (JCPOA), dan para pengklaim di hadapan kita. Ini satu pembahasan. Pembahasan berikutnya adalah di dalam negeri, bagaimana mestinya kita bergerak dan berbuat sehingga kita mampu mengambil langkah-langkah yang kuat serta mencapai hasil yang kita inginkan. Inilah dua bagian dari pembahasan itu. Dengan menggunakan kesempatan dan waktu yang ada, saya coba untuk menjelaskan sedikit tentang dua bagian ini.

Mengenai bagian pertama pembahasan, pengantar lazim setiap keputusan adalah merujuk kepada pengalaman-pengalaman kita yang lalu. (من جرّب المجرّب حلّت به النّدامة); Apabila kita tidak mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman itu, maka sudah pasti kita rugi. Kita harus meletakkan pengalaman-pengalaman di depan mata kita, kita perhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Ada berapa pengalaman di hadapan kita; Saya akan menyebutkan empat atau lima pengalaman nyata. Kalian semua pasti akan mengakui kebenarannya. Semua ini ada di hadapan kita. Semua ini juga penting untuk pengambilan keputusan kita sekarang. Penting, baik untuk orang-orang masa depan, maupun untuk orang-orang yang di masa depan akan menghadapi berbagai persoalan dan insyaallah membawa maju Republik Islam dengan kuat.

Pengalaman pertama adalah pemerintah Republik Islam tidak mungkin bermuamalah dengan AS. Kenapa? Karena AS tidak komitmen terhadap janji-janjinya. Jangan katakan bahwa ini kan perbuatan pemerintah ini dan ulah Trump. Tidak! Pemerintah sebelumnya juga duduk dengan kita, berbicara dengan kita, menteri luar negerinya sepuluh hari, lima belas hari, duduk rapat di Eropa, mereka juga kurang-lebih seperti ini. Iya, mereka berbuat dengan cara lain, tapi mereka juga melanggarnya. Mereka juga sudah mencobanya, dan mereka bertindak sebalik dari janji-janji mereka. Pemerintah AS berbuat bertentangan dengan janji-janji mereka sendiri. Ini juga bukan pertama kalinya. Aneka ragam peristiwa yang sebelumnya juga membenarkan hal ini. Segenap sikap mereka sejak awal Kesepakatan Nuklir (JCPOA), meminjam ungkapan para yang mulia diplomat-diplomat kita, adalah pelanggaran terhadap ruh sekaligus tubuh JCPOA. Diplomat-diplomat terhormat kita, yang mana mereka sendiri telah berjerih payah dan betul-betul berusaha siang-malam untuk masalah JCPOA, berulang kali pada periode pemerintah sekarang maupun pada periode pemerintah AS yang sebelumnya menyatakan bahwa Kesepakatan Nuklir (JCPOA) telah dilanggar; terkadang mereka melanggar jiwa JCPOA, dan terkadang melanggar raga JCPOA.

Baik. Pemeritnah dengan ciri-ciri khas seperti ini yang mana dengan mudahnya melanggar perjanjian-perjanjian internasional, itu pun semudah minum air mereka menginjak-injak tanda tangan mereka sendiri dan mengatakan saya keluar dari perjanjian – ditambah dengan aksi-aksi pertunjukan televisi; mempertontonkan tanda tangannya seolah-olah ingin menegaskan bahwa kami betul-betul keluar dari perjanjian ini -, jelas sekali bahwa minimal Republik Islam tidak mungkin bermuamalah dengan pemerintahan seperti ini. Ini merupakan jawaban bagi orang-orang yang berulang kali dan berulang kali selama ini mengatakan kepada kita, “Kenapa Anda tidak bernegosiasi dengan AS? Kenapa Anda tidak bermuamalah dengan AS?”. Ini jawabannya. Tentunya AS juga bersikap demikian terhadap kebanyakan negara-negara lain, terhadap pemerintah-pemerintah yang lain juga demikian. Tapi itu tidak menjadi pembahasan kita. Minimal, Republik Islam tidak mungkin bermumalah dengan AS, tidak mungkin bekerja dengan AS. Ini pengalaman pertama.

Iran komitmen dan setia terhadap perjanjian ini. Artinya, mereka tidak punya satu alasan pun. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang-kali telah membenarkan. Yang lain juga sudah membenarkan bahwa Iran komitmen. Karena itu, mereka sama sekali tidak punya alasan. Pun demikian, kalian melihat dengan enaknya mereka menginjak-injak perjanjian internasional, menginjak-injak tanda tangan mereka sendiri, menarik kata-kata mereka sendiri, dan mengatakan “Tidak! Kami tidak terima!”.

Baik. Dengan pemerintah yang seperti ini, tidak mungkin duduk dan bernegosiasi. Tidak mungkin percaya kepadanya. Tidak mungkin menandatangani kontrak dengannya. Tidak mungkin kerja dengannya. Ini kesimpulannya. Tentu, manakala kita katakan bahwa “Mereka tidak bisa dipercaya bagi kita” adalah kadar yang pasti dari kesimpulan. Saya ketika melihat kasus-kasus di kawasan, kasus-kasus di negeri kita sendiri, dan lain sebagainya, ternyata mereka juga berperlakuan sama terhadap yang lain. Muhammad Reza Pahlevi sejak tahun 1332 Hs sampai tahun 1357 Hs, yakni selama 25 tahun, adalah orang yang taat total kepada mereka. Berkali-kali mereka memperlakukannya yang mana kalian tahu kenangan-kenangan Alam, kalian menyaksikan Syah dalam pertemuan dengan rekan dekatnya; Alam – tentu saja dia tidak akan berani mengatakan hal ini di luar dan secara terbuka atau mengutarakannya kepada pihak-pihak AS –, dia mengeluhkan pihak-pihak AS yang telah melakukan hal ini dan itu. Namun pada akhirnya dia tetap tunduk kepada mereka. Setelah nasib orang sial dan berwajah hitam itu demikian, dia melarikan diri dari Iran dan pergi, ternyata dia tidak diberi jalan ke AS. Artinya, mula-mula dia pergi dan tinggal sejenak di AS, lalu mereka mengusirnya. Artinya, terhadap budak yang setia selama dua puluh lima tahun pun mereka tetap berbuat demikian. Hal serupa juga terjadi pada Husni Mubarak. Pada saat-saat sensitif dimana revolusi baru mulai di Mesir dan sedang berada pada puncaknya, dan kapan pun sebuah peristiwa bisa terjadi, satu jam mereka mendukung Husni Mubarak, berapa jam kemudian mereka menolaknya, berapa jam setelah itu mereka bicara lain, lalu mereka membiarkannya pergi. Selesai. Husni Mubarak yang selama tiga puluh tahun sepenuhnya berada di tangan mereka dan melakukan apa saja yang mereka katakan mengenai Palestina maupun masalah selain Palestina. Ya, demikianlah mereka. AS itu memang demikian. Pemerintah AS, rezim AS memang demikian. Ini pengalaman pertama.

Pengalaman kedua adalah kedalaman permusuhan AS terhadap Iran dan Republik Islam. Permusuhannya, permusuhan yang sangat dalam. Bukan permusuhan yang dangkal atau permukaan. Penentangannya bukan berdasarkan dan berporos pada sebuah masalah seperti masalah atom. Ini semua orang mengerti. Persoalannya lebih dari itu semua. Persoalannya adalah mereka menentang sistem yang berdiri di kawasan sensitif ini, teguh, tegak, tumbuh, melawan kezaliman-kezaliman AS, terhadap AS tidak punya pertimbangan lagi, mengembangkan mental Muqawama di kawasan, memegang dan mengibarkan panji Islam. Betul-betul mereka menentang. Masalah mereka adalah, Sistem Islami dan Republik Islam ini tidak boleh ada. Bukan hanya sistem ini, bahkan rakyat yang melindungi sistem ini; yakni Bangsa Iran juga dibenci oleh para petinggi pemerintah-pemerintah AS. Salah satu deputi Presiden AS – bukan presiden yang ini, salah satu dari presiden mereka yang sebelumnya – secara terang-terangan mengatakan bahwa kita harus mencabut habis akar Bangsa Iran – bukan mencabut akar Republik Islam -.

Baik. Berarti, masalah AS dengan Republik Islam bukan masalah perselisihan – sebagai contoh – mengenai kasus nuklir, atau mengenai kasus rudal, dan lain sebagainya. Tidak! Kasus nuklir, rudal, dan lain sebagainya juga punya cerita tersendiri. Artinya, penekanan terhadap hal-hal itu – ini mungkin akan saya singgung di sela-sela pembicaraan saya – adalah karena mereka ingin menghancurkan unsur-unsur kekuatan Republik Islam. Hal-hal itu merupakan anasir kekuatan Republik Islam dan Bangsa Iran. Karena itu mereka menitikberatkannya. Ini juga sebuah pengalaman. Dan pelajaran ini juga tidak boleh diabaikan. Kita harus selalu ingat bahwa AS adalah musuh Bangsa Iran dan musuh Sistem Republik Islam. Itu pun permusuhan yang mendalam. Persoalannya bukan nuklir, atom, atau sebagainya. Persoalannya adalah pokok Sistem Republik Islam.

Pengalaman ketiga adalah kelunakan terhadap musuh ini – demi pertimbangan maslahat musiman yang kita miliki dalam beberapa kasus – bukan hanya tidak membuat mata permusuhan mereka menjadi tumpul, bahkan membuat mereka semakin lancang. Ini juga sebuah pengalaman. Kita jangan lupa bahwa setiap kali kita agak melunak, mereka malah bertambah kencang. Presiden jahat, yang dia sendiri merupakan simbol kejahatan – Bush kedua [3] –, terhadap kelunakan-kelunakan yang ditunjukkan oleh pemerintah saat itu malah menyebut Iran sebagai poros kejahatan dan dengan bangganya berdiri serta menyematkan nama poros kejahatan kepada Iran. Hal itu karena dia dihadapkan pada kelunakan-kelunakan. Sekarang pun kalian memperhatikan; Kita telah melakukan protes terhadap kebanyakan dari sanksi yang mereka buat-buat, ulah yang mereka perbuat, dan kekhilafan-kekhilafan yang mereka lakukan. Akan tetapi kita tidak melakukan gerakan praktis yang kuat. Ini pada faktanya merupakan satu bentuk pembayaran biaya. Terhadap pembayaran biaya-biaya ini, kalian sekarang menyaksikan bahwa Presiden AS [4] dan Menlunya [5] dengan lancang, menuntut, dan kurang ajar datang dan berbicara seenaknya serta menuntut. Mundur di hadapan mereka, lentur di hadapan mereka, sama sekali tidak akan berpengaruh dalam mengurangi permusuhan mereka. Apabila kita asumsikan ada orang yang merasakan bahwa, “Baiklah, musuh yang seperti ini harus ktia cegah sejak dini, jangan kita biarkan dia untuk memusuhi.”, maka cara untuk mencegah permusuhannya bukanlah kelunakan dan mengalah. Jika kalian ingin berbuat sesuatu agar dia tidak memusuhi, baiklah, temukan caranya. Yang pasti ini bukan jalannya bahwa kita mengalah dan mundur di hadapan mereka. Ini tentunya bukan untuk AS saja. Barat pada umumnya demikian. Kita jangan lupa – yakni ini termasuk hal-hal yang di dalam sejarah kita tidak bisa dilupakan – bahwa dalam satu periode, presiden kita dulu [6] yang termasuk pendukung kelenturan terhadap Barat dan lain sebagainya, oleh salah satu pemerintah Barat – yakni Jerman dalam kasus Mykonos- dipanggil ke pengadilan terkait sesuatu yang tidak ada hubungannya dan tidak logis. Itu berarti sebegitu putihnya mata mereka, sebegitu lancang dan kurang ajarnya mereka. Hal-hal seperti itu juga terjadi lagi. Ini juga sebuah pengalaman. Kita harus selalu ingat bahwa cara untuk mencegah permusuhan musuh-musuh ini bukanlah mundur, kendur, atau cara-cara yang serupa dengannya.

Pengalaman berikutnya adalah kebalikan dari ini. Yaitu bahwa perlawanan terhadap mereka mempunyai kemungkinan yang sangat besar untuk membuat mereka mundur. Di dalam kasus nuklir hal ini terjadi. Pada tahun 1383 dan 1384 Hs, bukankah seluruh fasilitas [nuklir] kita tutup?! Kalian tahu bahwa pabrik pengolahan uranium (UCF) Isfahan sudah kita segel demi negosiasi dan agar kasus Republik Islam menjadi normal, kasus nuklir Iran menjadi normal. Semakin kita mundur, mereka semakin maju. Semakin kita lunak, mereka malah semakin kencang. Sampai pada akhirnya mereka mengatakan kepada delegasi Iran, “Pak! Jaminan yang Anda berikan hanya akan menghasilkan apabila Anda menggulung seluruh fasilitas nuklir Anda! Seluruhnya harus digulung! Persis apa yang dilakukan Libya. Inilah jaminan yang sesungguhnya. Jaminan kedamaian aktivitas nuklir Anda tidak bisa diperoleh dengan cara lain. Hanya dengan cara seperti ini. Yaitu dengan memusnahkan seluruh fasilitas Anda.” Artinya, seperti ini mereka turun ke medan. Pabrik Isfahan – yang masih terbilang pabrik dasar – itu tutup, pengayaan pun belum sungguh-sungguh terjadi, bahkan untuk punya satu, dua atau tiga sentrifugal pun masih harus berdebat dulu dan mereka mengatakan tidak bisa! Mereka tidak setuju kita punya satu, dua atau tiga sentrifugal. Lalu, kita lihat mereka bicara sudah sangat keterlaluan, sangat lancang, dan betul-betul kurang ajar, maka kita sudahi permainan ini. Kita pecahkan segel-segel. Kita aktifkan pabrik UCF, kita mulai pengayaan di Natanz dan tempat-tempat lain, sehingga kita sampai pada pengayaan dua puluh persen. Artinya, kita berangkat dari tiga setengah persen yang mereka larang dan pemuda-pemuda mukmin kita berhasil melakukannya sampai dua puluh persen, banyak sekali pekerjaan yang kalian sendiri mengikutinya dan tahu. Begitu sampai pada titik ini, mereka datang, dengan bersikukuh alias memelas kepada kita, “Baiklah! Sekarang kalian harus menerima untuk tidak melakukan pengayaan dua puluh persen. Sebagai contoh, kalian punya lima atau enam ribu sentrifugal saja.” Mereka adalah orang-orang yang dulunya tidak melarang kita untuk punya tiga atau dua sentrifugal. Sekarang mereka mengatakan, “Baiklah. Tidak apa-apa kalian melakukan pengayaan, katakan kalian punya enam ribu sentrifugal atau sekedar tiga setengah persen pengayaan saja.” Orang-orang ini ya orang-orang itu tadi. Sekarang Bapak Dr. Rouhani mengatakan bahwa mereka – PBB dan lembaga-lembaga politik dunia lainnya – menurut khayalan mereka sendiri telah mengakui pengayaan Iran secara resmi. Iya, mereka mengakui secara resmi. Tapi faktornya bukan negosiasi. Kita jangan keliru. Faktornya adalah kemajuan kita. Karena kita maju, karena kita bergerak, karena kita telah sampai pada dua puluh persen, maka mereka rela demam. Seandainya bukan karena itu, seandainya kita berniat untuk negosiasi dan ingin memperolehnya melalui negosiasi, sampai sekarang pun bahkan sampai kapan pun kita tidak akan memperolehnya. Ini juga sebuah pengalaman, yang mana di hadapan sikap berlebihan lawan dan front lawan, seseorang terus mengejar kepentingan-kepentingannya dan bergerak maju dengan gagah berani.

Pengalaman berikutnya yang juga merupakan pengalaman penting adalah pengalaman kebersamaan Eropa dengan AS pada kasus-kasus yang paling penting. Kita tidak ingin bertengkar dengan pihak-pihak Eropa. Kita tidak ingin berseteru, bertentangan dan cekcok dengan tiga negara Eropa ini. Tapi, kita harus mengetahui fakta-fakta. Tiga negara ini telah menunjukkan bahwa pada kasus-kasus yang paling sensitif, mereka senantiasa menyertai AS dan bergerak di belakangnya. Gerak-gerik buruk Menlu Perancis dalam perjalanan negosiasi, semua orang tahu; dalam permainan “Polisi Baik & Polisi Jahat” mereka mengatakan bahwa dia memainkan peran sebagai “Polisi Jahat”. Ya tentunya itu dengan koordinasi AS. Atau sikap Inggris terhadap hak beli kue kuning yang sudah pasti, tak teringkari dan telah diprediksi di dalam Kesepakatan Nuklir bahwa kita dapat memperoleh, membeli dan mendatangkan kue kuning dari sabuah pusat. Tapi, Inggris menghalang-halangi. Artinya, mereka bekerjasama dengan AS, sejalan dengan AS. Selama ini demikian faktanya. Ini juga sebuah pengalaman. Kita jangan melupakan hal ini. Mereka ketika bicara mengatakan berbagai hal, tapi ketika bertindak maka sampai saat ini kita belum melihat apa-apa. Artinya, menurut saya sampai saat ini kita tidak menyaksikan apa-apa. Tidak teringat apa-apa pada saya bahwa mereka betul-betul berdiri dan membela hak atau kebenaran di hadapan AS.

Pengalaman penting lain dalam isu Kesepakatan Nuklir (JCPOA) ini adalah bahwa menggantungkan berbagai persoalan negara kepada JCPOA dan hal-hal yang sepertinya, atau kepada hal-hal luar negeri, adalah kesalahan yang besar. Kita tidak boleh menggantungkan persoalan-persoalan negara, persoalan-persoalan ekonomi dan berbagai persoalan lainnya dengan sesuatu yang di luar kendali kita, sesuatu yang diatur di luar negeri dan diputuskan di sana. Manakala kita menggantungkan persoalan ekonomi negara, persoalan kerja dan pendapatan negara, dengan masalah JCPOA, maka hasilnya adalah para tuan kerja dan pemodal akan menunggu dan melihat apa keputusan yang akan diambil oleh pihak-pihak asing terkait JCPOA. Berapa bulan mereka memikirkan, menahan, dan menanti untuk melihat apakah pihak-pihak itu akan tetap di dalam Kesepakatan atau akan keluar; akan menandatangani atau tidak; pasca penandatanganan pun, apakah mereka akan komitmen terhadap tanda tangan mereka atau tidak! Terus menerus badan aktif ekonomi kerakyatan negara harus berada dalam penantian terhadap perilaku pihak-pihak asing. Tidak bisa kita menangguh-nangguhkan kapasitas negara karena JCPOA. Untuk waktu tertentu ditangguhkan karena pelaksanaan JCPOA, untuk waktu tertentu lagi ditangguhkan karena keluar atau tidak keluar dari JCPOA; itu pun di hadapan musuh seperti AS. Ini adalah sebagian dari pengalaman kita. Pengalaman-pengalaman ini harus kita perhatikan agar jangan sampai terulang dan dua kali kita tersengat dari satu lubang yang sama. Kita harus sepenuhnya menggunakan pengalaman-pengalaman ini dalam kasus-kasus yang akan datang.

Baik. Apabila kita tetap tidak menggunakan pengalaman-pengalaman ini, dan kita menghibur hati dengan hal-hal sepele, maka kita pasti rugi. Sebagaimana telah dikatakan oleh Bapak Presiden, betul-betul AS dalam kasus ini mengalami kekalahan di dunia dari sisi moral, hukum, dan kehormatan politik. Baik. Iya, AS jadi tidak terhormat. Ini memang fakta. Dan sama sekali tidak diragukan. Tapi, saya ingin paparkan bahwa apakah kita yang memulai negosiasi untuk membuat AS jadi dipermalukan? Apakah ini tujuan negosiasi kita dulu? Kita memulai negosiasi agar sanksi-sanksi tercabut – dan kalian sendiri menyaksikan bahwa mayoritas sanksi-sanksi itu belum tercabut, sekarang pun mereka terus mengancam untuk memaksakan sanksi-sanksi ini dan itu kepada Iran; mereka ingin mengembalikan lagi sanksi-sanksi sekunder yang telah dicabut berdasarkan ketetapan JCPOA dan dan resolusi Dewan Keamanan PBB -. Apa ini tujuannya? Ataukah dikatakan sebagai contoh bahwa terjadi gap antara Eropa dan AS. Baik. Iya, mungkin saja terjadi gap yang sepele dan hanya secara lahiriah di antara mereka. Yang pasti bahwa kita tidak bernegosiasi dengan tujuan itu. Memangnya kita bernegosiasi agar keharmonisan antara AS dan Eropa jadi luntur? [Tidak!] Kita bernegosiasi agar sanski tersingkirkan. Ini dulu permulaan negosiasi. Kelanjutan negosiasi juga untuk ini. Dan ini harus dijamin. Kalau ini tidak terjamin, sisa-sisa hal yang tercapai tidak begitu berharga. Dan telah saya terangkan bahwa pihak-pihak Eropa juga tidak melakukan penentangan; mereka bergerak mengekor pada AS, mereka saling membantu satu sama yang lain.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ

(Artinya: “Dan demikianlah Kami tetapkan untuk setiap nabi musuh –berupa- setan-setan manusia dan jin, membisikkan sebagian mereka ke sebagian – yang lain – keindahan kata-kata sebagai tipuan.” (QS. Al-An’am [6]: 112).

Mereka saling membantu, mengirimkan pesan satu sama yang lain, sama-sama mendukung, menguatkan mental satu sama yang lain. Baiklah. Ini merupakan hal-hal yang harus kita perhatikan sebagai pengalaman JCPOA.

Saya ingin menyebutkan sebuah poin penting di sini. Di dalam persoalan JCPOA, dalam menghadapi JCPOA, mau tidak mau elemen-elemen politik, unsur-unsur manajerial, dan elemen-elemen media serta kebudayaan harus menghindari cercaan satu terhadap yang lain. Jangan kalian melakukan perbuatan ini. Kritik yang benar, adil, dan akil tidak apa-apa. Para pejabat pun harus mendengarkan kritikan. Tapi bahwa satu sama yang lain saling mencerca, menghina, mematahkan kehormatan, menuduh, semua ini harus dihindari. Jangan sampai muncul perpecahan dan dua kubu berdasarkan JCPOA. Sekarang ada gerakan-gerakan yang harus kita lakukan, ada aktivitas yang mesti kita kerjakan, di mana saya telah dan sedang isyaratkan. Ini pada tempatnya tetap harus dijaga. Namun, persatuan, kesatuan, kesehatian, kesebahasaan, dalam kasus ini jangan sampai kita langgar. Ini juga poin yang asasi.

Baik. Sekarang, berdasarkan apa yang telah saya paparkan, mulai sekarang harus seperti apakah pola menghadapi JCPOA? Saya sebutkan berapa poin di sini:

Poin pertama adalah: Di dalam menghadapi kasus ini, kita harus menakar segala persoalan secara realistis. Kita jangan menghibur hati dengan kemungkinan-kemungkinan dan hal-hal yang diucapkan, disebutkan dan tidak jelas apakah ada realitas di balik itu atau tidak ada kepastian. Kita harus mengukur secara realistis. Kita juga harus menyampaikannya secara realistis kepada rakyat. Bahwa pada awal-awal kasus negosiasi, di benak kita dan di dalam diri kita, kita membayangkan dan juga mengatakan kepada yang lain bahwa “Iya, apabila kita bernegosiasi maka uang seratus miliar dolar akan masuk ke dalam negeri.” Tentu ini punya makna tersendiri. Buat negara kita, seratus miliar adalah jumlah yang berarti, angka yang penting, pada prinsipnya banyak persoalan negara yang akan tertanggulangi secara menyeluruh. Ini tidak ada kenyataannya. Sekarang, presiden kacau AS masih juga mengatakan bahwa kami telah memberikan uang 100 miliar, kadang mengatakan 150 miliar, kepada Iran; konyol apa kamu memberi! Memangnya kapan kamu memberi uang kepada Iran?! Satu dolar pun kalian tidak pernah memberi uang ke Iran. Kita sendiri pun pada faktanya secara tertentu percaya 100 miliar ini; Baik. Ini dugaan, ini bayangan, ini ilusi, tidak ada faktanya. Kita harus berhati-hati apa yang kita tentukan untuk masa depan kita, kepentingan-kepentingan kita, dan sebagai ganti dari biaya-biaya yang kita bayar, harus nyata, dan kenyataan itu harus kita mengerti, dan kenyataan itu hendaknya kita beberkan kepada rakyat secara tegas.

Saya katakan kepada kalian bahwa sekarang, ekonomi negara tidak bisa dibetulkan melalui JCPOA versi Eropa. Ekonomi negara tidak mungkin dibereskan melalui jalan ini. Ada banyak tanda-tanda yang sekarang pun kalian saksikan: sebagian perusahaan-persusahan besar Barat mengumumkan akan hengkang, malah sudah hengkang, sebagian lagi mengatakan belum jelas apa yang akan dilakukan; pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat pemerintah Barat juga berkata demikian; Jerman satu gaya, Perancis gaya lain, yang satu itu juga beda lagi. Soal pembenahan kerja ekonomi negara tidak bisa dilakukan melalui JCPOA. JCPOA Eropa memang sebuah kategori. Tapi, jangan sampai mengikat hati kepadanya untuk ekonomi. Ekonomi punya jalan-jalan lain yang akan saya isyaratkan. Ini satu poin.

Poin kedua adalah tiga negara Eropa ini dalam tiga belas atau empat belas tahun yang lalu telah melakukan pelanggaran janji dan pengkhianatan besar terhadap kita mengenai persoalan nuklir. Pada tahun 1383 dan 1384 Hs, mereka telah melakukan pengkhianatan besar kepada kita. Mereka menjanjikan sesuatu, tapi mereka tidak melakukannya, mereka bertindak sebaliknya. Mereka harus membuktikan bahwa mereka tidak lagi seperti itu. Ini tanggungjawab mereka. Pemerintah-pemerintah Eropa harus membuktikan diri kepada Republik Islam bahwa sekarang mereka tidak akan melakukan pengkhianatan dan pelanggaran janji seperti waktu itu lagi. Mereka harus menutupi hal itu. Ini juga poin lanjutan.

Poin berikutnya adalah selama dua tahun yang lalu, AS telah mengulang perilaku sebagai pelanggar JCPOA; berbagai tingkah dilakukannya; sebagaimana telah saya paparkan, menurut pernyataan para yang mulia diplomat-diplomat kita, ia (AS) telah melanggar jiwa dan raga JCPOA. Sedangkan pihak-pihak Eropa diam saja. Semestinya mereka berdiri melawan AS, seharusnya mereka proters terhadap AS; seandainya mereka melakukan protes mungkin persoalannya tidak akan sampai pada titik bahwa AS menyingkirkan tanda tangannya sendiri seperti minum air dan [seenaknya saja] mengatakan saya keluar. Mereka harus membayar keteledoran yang telah mereka lakukan selama dua tahun ini.

Poin berikutnya adalah AS telah melanggar Resolusi 2231. [7] Mereka yang merupakan anggota Dewan Keamanan harus menghadapi tingkah AS ini dengan membawa resolusi anti AS kepada Dewan Keamanan. Sebuah resolusi anti AS bahwa negara ini merupakan pelanggar Resolusi 2231. Ini salah satu hal yang mesti mereka lakukan.

Eropa harus berjanji bahwa ia tidak akan mengutarakan masalah rudal dan kehadiran Republik Islam di kawasan. Mereka harus berjanji untuk hal ini. Bahwa kapan saja mereka mengatakan sesuatu dan mengutarakan masalah rudal dengan cara yang bermacam-macam, adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diterima. Para pemimpin tiga negara ini harus berjanji dan menerima bahwa sama sekali mereka tidak akan mengutarakan masalah rudal.

Mereka juga harus melawan segala bentuk sanksi terhadap Republik Islam. Artinya, bahwa sekarang dia (presiden AS) mengatakan saya sanksi Iran, maka mereka harus secara tegas berdiri melawan sanksi AS tersebut. Kalau memang rencananya ingin ada perjanjian antara kita dan pihak-pihak Eropa, maka ini termasuk syarat-syaratnya.

Tentunya hal ini juga harus diketahui oleh semua bahwa sekarang kita tegaskan mereka jangan melontarkan masalah rudal. Sudah barang tentu Republik Islam tidak akan menarik diri dari unsur-unsur kekuatannya. Dimana salah satu dari unsur kekuatan itu adalah kekuatan pertahanan; pertahanan dari jarak jauh. Salah satu unsur kekuatan adalah kekuatan pertahanan. Salah satu dari unsur kekuatan adalah kedalaman strategi kita. Kehadiran di negara-negara kawasan dan keberpihakan bangsa-bangsa di kawasan terhadap Republik Islam merupakan kedalaman strategis Republik Islam. Republik Islam tidak mungkin berpaling dari hal ini. Tidak ada satu pemerintah berakal pun yang berpaling – dari hal seperti ini-. Atau modal sosial rakyat; persatuan rakyat dan perkumpulan masyarakat di bawah bendera Islam ini; gerakan Republik Islam dengan syiar dan bangga terhadap keislaman serta kemusliman; semua ini merupakan hal-hal yang merupakan asas, rangka, dan faktor keberdirian Republik Islam. Semua harus tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang akan berpaling dari hal-hal ini.

Satu hal lagi bahwa Eropa harus menjamin penjualan minyak Iran secara keseluruhan. Artinya, sekarang seandainya AS mampu mencederai penjualan minyak Republik Islam, maka mereka (Eropa) harus membeli sesuai kadar yang diinginkan oleh Republik Islam. Boleh jadi kita sendiri menyambut pengurangan jual minyak – ini tergantung pada kebijakan-kebijakan pemerintah; boleh jadi pemerintah sampai pada kesimpulan bahwa semakin kita kurang menjual minyak dan menjauhkan ekonomi kita dari minyak maka kita semakin beruntung. Boleh jadi kita sampai kesimpulan ini.- akan tetapi, jika tidak demikian jadinya, dan diputuskan untuk kita menjual minyak sebagaimana sekarang kita jual, maka seandainya gerak-gerik AS dalam hal ini berhasil merusak maka pihak-pihak Eropa harus menutupi kerusakan itu dan membelinya dengan cara yang terjamin.

Poin selanjutnya, bank-bank Eropa harus memberi jaminan atas penerimaan, pembayaran, dan pemindahan dana terkait perdagangan pemerintah dan bisnis swasta dengan Republik Islam. Bahwa kita katakan mereka harus memberi jaminan, jaminan berarti melakukan hal-hal ini. Hal-hal inilah yang harus mereka jamin. Saya sudah jelaskan bahwa kita tidak punya perseteruan dengan tiga negara ini, tapi kita tidak percaya. Masalah kita bukan masalah perseteruan dan membuat perselisihan. Masalahnya adalah ketidakpercayaan. Kita tidak percaya dengan negara-negara ini. Dan hal ini didasari oleh sebuah masa lalu. Karena itu, jaminan-jaminan ini harus dilakukan secara nyata.

Poin berikutnya adalah apabila Eropa mengulur-ulur waktu dalam menjawab tuntutan-tuntutan ini, maka hak kita terjaga untuk memulai aktivitas-aktivitas nuklir yang telah ditutup. Pejabat-pejabat Organisasi Nuklir kita harus siap-siap. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa hendaknya sekarang juga kalian memulai pengayaan dua puluh persen, tapi saya katakan hendaknya kalian bersiap-siap. Ketika Republik Islam memandang maslahat dan perlu, maka aktivitas-aktivitas yang telah ditutup – karena JCPOA; biaya-biaya yang telah kita bayarkan untuk JCPOA -, [akan kita mulai kembali]. Apabila kita melihat bahwa JCPOA tidak ada gunanya lagi, dan kita tidak sudi lagi untuk membayar biaya-biaya [lain], maka sudah barang tentu salah satu caranya adalah kita memulai mendaur ulang hal-hal dan aktivitas-aktivitas yang telah ditutup itu. Ini mengenai hal-hal yang berhubungan dengan JCPOA.

Bagian kedua dari pembicaraan kami berkenaan dengan hal-hal dalam negeri kita dan tugas-tugas kita sendiri di dalam negeri. Yaitu masalah-masalah ekonomi. Masalah pertama negara sekarang adalah masalah ekonomi. Pekerjaan-pekerjaan dan aktivitas-aktivitas yang sedang sibuk dikerjakan pemerintah, insyaallah harus dilanjutkan dengan kuat. Pengembangan jasa layanan dan pekerjaan-pekerjaan yang sedang dilakukan pemerintah ini harus dikerjakan dengan baik. Tentu, faktanya adalah kondisi ekonomi negara tidak layak untuk diperkenalkan. Walau pun segenap upaya telah dilakukan, kondisi ekonomi tidaklah sesuai yang diinginkan. Banyak sekali orang yang secara ekonomi berada di bawah tekanan. Masalah kenaikan harga dan hal-hal serupa sedikit banyak kalian tahu semua, dan mayoritas masyarakat merasakannya dengan seluruh keberadaan mereka. Ini merupakan kendala asasi negara.

Baik. Kita untuk dapat menyingkirkan kendala-kendala ini, pada tahap pertama, dari dalam hati kita harus menerima berapa hal. Pertama-tama kita mesti tahu bahwa masalah ekonomi negara bisa ditanggulangi dengan bersandar pada kapasitas-kapasitas yang berlimpah di dalam negeri. Kita harus percaya ini. Ini fakta bahwa sebagian orang tidak mempercayai kenyataan ini, dan sebagian orang lagi tidak mengetahui kenyataan ini. Kita punya kapasitas yang sangat berlimpah di negeri ini dan sampai saat ini belum digunakan. Dan nanti saya akan menukil pendapat para ahli dari selain Iran mengenai hal ini.

Hal kedua yang mesti kita yakini adalah bahwa resep-resep Barat untuk kita tidaklah bisa dipercaya. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menolaknya secara total. Tidak! Kita harus menimbang-nimbang. Jangan sampai tunduk pasrah pada resep-resep Barat. Baik itu di bidang ekonomi, maupun di bidang-bidang lain seperti masalah populasi. Soal populasi juga salah satu resep Barat. Akhir-akhir ini, badan propaganda pemerintah busuk Inggris mengeluarkan resep bahwa Iran negara yang sangat bagus untuk tiga puluh juta populasi! Mata kalian empat! Insyaallah populasi ini akan segera mencapai 150 juta orang. Kebijakan-kebijakan tentang populasi negara – yang sebelumnya kita ikuti – adalah kebijakan yang salah kaprah. Sebelumnya saya telah mengatakan hal ini. [8] Memang pada mulanya betul. Memulainya ketika itu betul. Tapi kelanjutannya tidak. Keliru. Dan kita sempat lalai soal ini. Kita harus menutupi kelalaian ini. Masalah ekonomi negara juga demikian; tidak mungkin ditanggulangi dengan resep-resep Barat. Selama ini dan dalam bertahun-tahun lamanya, setiap kali kita menggunakan resep Barat maka kita tidak beruntung, dari beberapa tempat kita pasti rugi. Dalam kasus penyesuaian waktu yang terjadi pada tahun tujuh puluhan, masalah keadilan sosial di negeri kita betul-betul mengalami kerugian; kesenjangan kelas terjadi. Boleh jadi ada keuntungan-keuntungan tertentu, tapi kerugian-kerugian yang utama ini juga kita harus tanggung.

Hal ketiga yang harus kita sadari dan yakini adalah penyerahan kerja kepada pihak-pihak asing, mengingat kenakalan-kenakalan mereka yang kita saksikan sampai saat ini dalam berjanji, harus sebatas terpaksa. Artinya, setelah sepenuhnya kita putus asa dari fasilitas dalam negeri, ketika itulah kita pergi ke pihak-pihak lain. Fasilitas dalam negeri – yang menurut saya sangat berlimpah – harus kita dahulukan.

Hal salanjutnya adalah kapasitas-kapasitas dalam negeri yang saya singgung tadi. Kapasitas dalam negeri ini sangat berlimpah. Sebuah penelitian mendalam telah dilakukan di Bank Dunia – ini bukan dari kita; ini penelitian mendalam yang dilakukan oleh Bank Dunia -, mereka mengatakan bahwa Iran adalah khazanah potensi manusia dan teritorial yang belum digunakan. Perhatikan! Mereka mengatakan bahwa Iran dari sisi tidak mendayagunakan potensi-potensi manusia dan teritorial berada pada peringkat pertama dunia. Itu artinya, terdapat banyak sekali potensi di hadapan kita yang belum kita dayagunakan. Kita teledor dan lalai.

Kapasitas-kapasitas manusia dan limpahan sumber daya yang siap kerja, terutama anak-anak muda dan berpendidikan: kita punya sepuluh juta alumni universitas dan lebih dari empat juta mahasiswa yang sedang belajar. Sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang tahu dan ahli dari kalangan teman-teman pemerintah kita sendiri, dari sisi jumlah insinyur, negara ini merupakan salah satu negara peringkat tinggi di dunia. Dibandingkan dengan kebanyakan negara besar dan terkenal, jumlah insinyur kita relatif lebih banyak. Inilah kapasitas-kapasitas itu.

Kapasitas-kapasitas teritorial: luasnya tanah air, akses ke perairan-perairan internasional, jumlah tetangga, pasar regional, jalur lalu lintas asing; ini semua hal-hal yang dikatakan oleh para peneliti di Bank Dunia. Inilah fasilitas teritorial yang belum kita gunakan secara tepat.

Bakat-bakat manusia: jumlah populasi yang berada pada usia kerja, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya. Para peneliti itu mengatakan bahwa apabila Iran menggunakan bakat-bakat ini secara tepat, maka akan menjadi salah satu ekonomi maju dunia. Inilah kapasitas kita. Kita punya kekayaan yang luar biasa besar.

Tentunya di dalam penghitungan penelitian ini tidak disebutkan apa saja kekayaan-kekayaan alamnya, hanya kekayaan-kekayaan manusia dan kekayaan-kekayaan teritorial yang disebutkan. Soal kapasitas alam dan kekayaan ini juga merupakan hal yang luar biasa. Pernah dalam sebuah kesempatan, di salah satu pertemuan berapa tahun lalu [9], saya katakan bahwa kita yang punya seperseratus populasi dunia, apabila kita punya seperseratus logam-logam penting, urgen, dan asasi untuk industri saja maka itu cukup, namun kita punya lebih dari satu persen. Sebagiannya kita punya tiga persen, sebagian lagi kita punya empat persen, sebagian yang lain kita punya lima persen. Angka minyak dan gas tentu sangat tinggi; di dunia, kita peringkat pertama. Dalam minyak, kita peringkat empat. Dalam gas, kita peringkat pertama. Dalam keseluruhan minyak dan gas juga kita peringkat pertama di dunia.

Ini semua fasilitas kita. Ini semua kapasitas kita. Kapasitas-kapasitas ini harus didayagunakan. Dan bisa didayagunakan. Bisa duduk rapat memikirkan, mentadbir, dan merencanakan. Iya, tentunya semua ini bukan hal yang bisa didapatkan secara tunai; sudah barang pasti butuh waktu. Tapi, kapan pun kita memulainya, pada akhirnya pasti membuahkan. Kita di sini, dua atau tiga pekan yang lalu mengadakan rapat tentang masalah-masalah ekonomi negara. Para ketua tiga kekuatan hadir, pejabat-pejabat aktif ekonomi di berbagai sektor pemerintah, parlemen, dan dewan pengadilan turut hadir; berlangsung pembahasan yang relatif bagus, pandangan-pandangan terlontarkan. Memang saya bukan ahli ekonomi; saya menyampaikan hal-hal berdasarkan pandangan para ahli. Rencananya akan dilakukan pengaturan-pengaturan formal, rekan-rekan harus menindaklanjutinya. Sekarang saya wasiatkan – ketua tiga kekuatan negara hadir sekarang, orang-orang yang hadir dalam rapat itu juga seluruhnya ada di sini sekarang -, apabila hal-hal yang pada malam itu telah dibicarakan, diputuskan, dan ditekankan, kalian tindaklanjuti secara serius, pasti persoalan-persoalan ekonomi kita akan maju. Kami tidak ragu sedikit pun. Saya setelah itu tahu bahwa rekan-rekan ekonomi pemerintah juga membenarkan apa yang malam itu diutarakan di sini, dibincangkan, dan diumumkan sebagai keputusan dalam rapat.

Saya sampaikan bahwa musuh kita telah membawa Kamar Perang ke Departemen Keuangan; [Kamar] Perang melawan kita sebagai ganti dari Departemen Pertahanan, adalah Departemen Keuangan mereka. Dan aktif sekali bekerja. Sebelumnya pun demikian; pada tahun 1390-1391 Hs juga ketika mereka memulai sanksi – yang menurut khayalan mereka adalah sanksi-sanksi yang melumpuhkan, tapi demi mata buta mereka, mereka tidak mampu melumpuhkan Republik Islam -, mereka aktif sekali. Bahkan menteri AS pergi menghubungi satu persatu kepala bank di berbagai negara. Artinya, sedemikian aktifnya mereka. Siang dan malam mereka sibuk bekerja. Saya katakan bahwa di sini pun harus dibentuk markas perlawanan terhadap kejahatan-kejahatan musuh ini di dalam kerangka ekonomi. Departemen Luar Negeri harus mendukung, harus membantunya sebagai pendamping, namun di pusat ekonomi pemerintah harus dibentuk markas khusus guna menindaklanjuti pekerjaan ini. Sudah barang tentu, Ekonomi Muqawama adalah solusi semua ini, dan harus ditindaklanjuti secara serius. Namun sekarang, mengingat pekerjaan-pekerjaan yang sedang dilakukan oleh musuh, boleh jadi ada bagian-bagian tertentu dari Ekonomi Muqawama yang prioritas dibanding yang lain dan harus lebih dulu ditindaklanjuti.

Satu hal lagi di bidang ekonomi bahwa perekonomian pemerintah tidak mampu menjawab tantangan. Rakyat harus diajak terlibat. Kebijakan-kebijakan asas 44 harus diseriusi. Kepada pemerintah sebelumnya juga saya telah mengatakan hal ini. Kepada pemerintah Bapak Rouhani juga berulang kali saya telah katakan. Dan sekarang saya katakan lagi. Kebijakan-kebijakan asas 44 harus diseriusi. Sektor swasta harus dilibatkan dalam medan. Kalian harus membantu sektor swasta. Dana Pembangunan Nasional itu untuk ini. Hal yang sekarang diisyaratkan oleh Bapak Dr. Rouhani bahwa sebagian uang dan pemasukan mata uang asing tidak diberikan kepada pemerintah, itu artinya masuk ke kas Dana Pembangunan Nasional. Dana Pembangunan Nasional ini berada di tangan pemerintah, tidak ada satu pun dari Dana ini yang berada di luar kewenangan pemerintah; Dana itu sendiri berada di tangan pemerintah, pejabat-pejabat Dana itu juga dilantik oleh pemerintah, kebijakan-kebijakan Dana, pengambilan dari Dana, segala sesuatunya berada di tangan pemerintah. Hanya saja, dalam beberapa kasus, karena darurat pengambilan ilegal untuk pemerintah dan tidak ada kesempatan bagi mereka untuk pergi minta izin dari parlemen, maka mereka datang kepada saya dan meminta izin kepada saya untuk mengambil uang sekian untuk perkejaan tertentu, kalau bukan karena itu (pengambilan ilegal) sebetulnya Dana ini sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Dana ini penting. Dan pesan kuat kami adalah Dana ini jangan sampai digunakan untuk biaya dan pengeluaran yang sedang berlaku bagi negara. Ini semestinya hanya diserahkan kepada para aktivis ekonomi sektor swasta agar mereka bisa bekerja. Persoalannya harus dipandang demikian.

Hal berikutnya mengenai ekonomi adalah bahwa perekonomian minyak – yakni ekonomi yang sandaran utamanya penjualan minyak mentah – merupakan salah satu aib utama ekonomi kita. Perkataan yang saya utarakan dua puluh tahun lalu, dan sebagian pejabat pemerintah-pemerintah ketika itu melihat saya sedemikian rupa! – sambil tersenyum melengos – bahwa kita harus sampai pada titik di mana kapan pun kita meinginkan maka kita bisa menutup sumur-sumur minyak kita, kita katakan bahwa pak! Tiga bulan ini kita tidak ingin ekspor minyak. Dan ini berada di tangan kita. Oh seandainya kita bisa melakukannya. Dan ini bisa. Hal ini jangan dipandang tidak mungkin. Ini sesuatu yang mungkin. Sekarang, orang mengatakan bahwa pembeli akan pergi atau mengatakan hal-hal serupa; tidak! Ada berbagai jalan untuk semua ini. Kita jangan sampai tertawan oleh minyak. Sekarang kita tertawan oleh minyak. Kita berada di genggaman minyak. Minyak pun tidak di tangan kita. Produksinya di tangan kita, tapi penentuan harganya di tangan orang lain, kemungkinan jualnya di tangan orang lain, sanksinya di tangan orang lain. Kita sebetulnya merupakan tawanan minyak, padahal minyak harus menjadi tawanan kita, minyak harus berada di tangan kita. Ini sebuah kebijakan yang pasti. Minyak adalah modal nasional. Memang butuh sekian tahun lama berlalu untuk modal ini habis. Tapi pada akhirnya akan habis. Kita sudah terbiasa untuk mengeksplorasi minyak; yakni cadangan nasional ini, dari dalam bumi dan menjualnya tanpa sedikit pun nilai tambah. Baik. Minimalnya kita harus membuat nilai tambah untuknya. Baik minyak maupun gas – sekarang untuk gas sedikit telah dibuatkan nilai tambah di petrokimia dan sebagainya, tapi minyak masih pergi begitu saja -. Ini kendala-kendala utama kita. Kita semakin hari harus mengurangi ketergantungan kita kepada minyak. Ini juga satu poin tersendiri.

Hal selanjutnya adalah kita harus mementingkan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Pertumbuhan pesat ekonomi akan dapat dilakukan melalui ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Sekarang kita juga punya kemungkinan itu. banyak sekali anak muda yang siap, terpelajar, dan berpendidikan yang mampu berbuat sesuatu. Kadang kalian mendengar, atau ditayangkan di televisi, seorang pengusaha muda, dimana orang menikmati sekali saat mengetahuinya. Orang itu memasuki sebuah kategori – pertanian, peternakan, industri, industri-industri kecil, jasa layanan, dan atau lain sebagainya – dan memulai pekerjaan dengan modal yang sedikit, lalu dengan kegigihan kerja dia sampai pada titik tertentu. Produksi kekayaan melalui pikiran, melalui pekerjaan-pekerjaan ilmu pengetahuan, adalah sebuah persoalan tersendiri.

Hal selanjutnya adalah produksi dalam negeri dan komoditas Iran harus kita kuatkan. Betul-betul kita harus mementingkan masalah dukungan terhadap barang Iran. Ini sebuah pekerjaan yang wajib, pekerjaan yang darurat dan pasti. Pejabat-pejabat pemerintah, pejabat-pejabat di berbagai departemen, dan angkatan-angkatan bersenjata – di mana pembelian-pembelian besar adalah milik mereka, biaya-biaya utama seperti ini ada di tangan mereka – harus berusaha untuk secara mutlak tidak menggunakan produk-produk selain Iran apabila ada produk Irannya.

Selain itu juga, masalah ekonomi – sebagaimana sebelumnya telah saya paparkan – jangan dikaitkan kepada Kesepakatan Nuklir (JCPOA) atau hal-hal yang serupa dengannya. Bahwa kita katakan “Apabila terjadi Kesepakatan Nuklir (JCPOA), maka ekonomi rakyat akan membaik, sedangkan apabila tidak terjadi JCPOA maka ekonomi akan rusak”, itu tidak benar. JCPOA adalah satu kategori tersendiri. Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, kategori ini harus dihadapi dengan cara tertentu; dengan kekuatan, dengan akal, dan dengan tadbir. Hal ini jangan dicampuradukkan dengan ekonomi. Jangan katakan bahwa apabila [kesepakatan] ini tidak jadi maka ekonomi kita akan hancur; apabila ini jadi maka ekonomi kita akan jadi baik. Baik, kesepakatan ini sudah terjadi, kalian saksikan sendiri JCPOA telah dibuat, tapi ekonomi tetap tidak jadi baik. Ekonomi butuh faktor-faktor lain, butuh unsur-unsur lain. Tidak bisa diselesaikan dengan hal-hal ini.

Satu poin yang sangat penting di sini adalah siasat menciptakan keputusasaan dan membuat ilusi jalan buntu di negeri ini harus ditentang secara keras. Adalah siasat permusuhan AS dan Barat untuk memunculkan perasaan jalan buntu dan menciptakan keputusasaan. Berbagai cara dan kerja mereka lakukan untuk hal ini. Siasat ini harus dilawan secara serius. Penyuntikan rasa tidak mampu, putus asa, dan celaka adalah siasat pasti musuh. Target musuh adalah merebut perasaan bangga yang dimiliki oleh Bangsa Iran; dengan isu, dusta, membesar-besarkan kelemahan, meremehkan kesuksesan dan kemenangan. Bangsa Iran sekarang punya perasaan bangga; mereka bangga mandiri, berdiri, berharga, terhormat di dunia, berpengaruh di kawasan, telah dan sedang serta akan melakukan hal-hal yang pentinng. Bangsa merasa bangga. Mereka (musuh) ingin merebut rasa bangga ini dari bangsa, ingin menghilangkannya. Mereka menampilkan kemenangan-kemenangan sebagai kekalahan. Bangsa dan pejabat-pejabat kita, berkat Revolusi [Islam] dan berkat kepercayaan diri yang muncul karena Revolusi, betul-betul telah menunjukkan kejeniusan diri. Selama bertahun-tahun ini mereka telah melakukan hal-hal yang penting. Sekian banyak penderitaan yang kita punya, perang, sanksi; sekian banyak penderitaan melanda, namun pada saat yang sama kalian menyaksikan bagaimana di bidang pertanian, di bidang ilmu pengetahuan, di bidang teknologi, di bidang kesehatan dan pengobatan, dalam hal peningkatan taraf kesadaran publik, di bidang kehormatan internasional, dalam hal kerakyatan yang sejati, benar dan terpercaya, dalam hal layanan luas publik di seluruh penjuru negeri. Betapa banyak pekerjaan yang telah dilakukan di negeri ini. Sungguh apa yang telah dilakukan, betul-betul penting sekali dan sangat patut dihargai. Kemenangan-kemenangan ini juga musuh ingin menampilkannya sebagai kekalahan. Hal itu karena mereka ingin merebut dan menghancurkan gerakan serta semangat penuh harapan – yang merupakan solusi berbagai kendala negara – dari bangsa.

Negara Alhamdulillah kuat. Republik Islam Alhamdulillah kuat. Kita seandainya lemah maka musuh tidak perlu susah payah. Kalian melihat bahwa musuh membuat sebuah front dan memasukinya dengan gegap gempita. Baik. Untuk apa itu semua? Seandainya kita lemah maka tidak perlu sekian banyak pembunuh diri, dimana musuh membunuh diri mereka sendiri untuk dapat memasukkan segala macam senjata ke medan [perang]; senjata militer, senjata propaganda, senjata ekonomi, dan lain sebagainya. Berarti jelas kita ini kuat. Iya. Kita kuat. Mereka berusaha, tapi sudah pasti tidak bisa; sebagaimana telah kami contohkan, dan sebelumnya juga pernah kami paparkan. Setiap kali, mereka kalah. Kali ini juga Alhamdulillah dan dengan izin Allah Swt mereka akan kalah.

Ringkasan paparan kami mengenai persoalan-persoalan ekonomi negara adalah negara ini berkat kapasitas-kapasitasnya punya kemampuan untuk menanggulangi kendala-kendala ekonomi secara sempurna. Kita harus mengidentifikasi kapasitas-kapasitas, menghitung kemampuan-kemampuan, memperhatikan pengalaman-pengalaman, dan yang lebih penting dari itu semua tidak melupakan pertolongan Ilahi. Kita sedang berusaha untuk meninggikan kalimat Allah Swt. Kita tidak sedang mengejar kekuatan material dan hal-hal semacamnya. Kita ingin Islam terhormat. Kita ingin Syariat Islam terealisasi di tengah masyarakat. Di dunia yang diselimuti materialisme, kerusakan, dan berbagai penyimpangan insting manusia, kita ingin membuat sebuah pemerintahan, sebuah masyarakat, sebuah negara yang dikelola dengan hukum-hukum agama. Kita mengejar ini. Sampai batas tertentu kita telah berhasil. Dalam hal-hal tertentu juga kita belum berhasil, tapi kita terus berusaha untuk berhasil insyaallah di bagian-bagian yang kita belum berhasil. Inilah tujuan kita. Dengan tujuan ini, pertolongan Ilahi itu pasti. Allah Swt telah berjanji, dan janji Ilahi tidak mungkin meleset.

Poin terakhir yang saya paparkan adalah berkenaan dengan PBB. PBB selama berapa tahun ini betul-betul tidak bekerja dengan baik. Ia berbicara, bertindak, dan bekerja di bawah pengaruh AS. Kalian sendiri menyaksikan hal itu. Seorang sekjen mengecam gerakan Saudi di Yaman, lalu esok harinya dia mencabut dan mengecam kecamannya sendiri! Ketika ditanya dia menjawab, maklumlah, ada tekanan, ada si fulan. Tekanan pun ada dua: tekanan uang dan tekanan kekuatan. Uang dijamin oleh para Karun Teluk Persia dengan kekayaan minyak mereka, sedangkan kekuatan dijamin oleh AS. PBB sayangnya berada di bawah pengaruh AS. Terhadap Republik Islam juga PBB betul-betul telah melakukan banyak kesalahan yang harus ia bayar. Apa yang saya paparkan sekarang adalah ada beberapa masalah HAM di AS yang harus secara serius ditindaklanjuti oleh PBB. Kasus-kasus ini belum diselesaikan, belum tuntas, dan ditinggalkan setengah jalan. Bahkan sebagian kasus itu sejak awal sama sekali tidak ditindaklanjuti.

Salah satunya adalah kasus pembakaran markas kelompok Dawudi pada zaman Klinton. Kenapa kasus ini tidak diusut? Ada sekelompok orang, yang berafiliasi pada salah satu aliran dari aliran-aliran Kristen, berkumpul di sebuah rumah; orang-orang pemerintah karena alasan tertentu menentang mereka, alasan itu bisa benar dan juga bisa salah; anggap saja alasan itu benar. Baiklah. Dalam kasus ini apa yang mereka lakukan? Biasanya mereka menangkap, menciduk, dan membawa. Tapi mereka tidak melakukan hal itu. mereka bakar rumah tersebut. Puluhan orang laki dan perempuan serta anak-anak mereka panggang hidup-hidup dalam pembakaran itu. Korban-korban itu terbunuh dan pergi! Kenapa kasus ini tidak diusut? Apakah AS yang punya latar belakang seperti ini punya kelayakan untuk mengingatkan ini dan itu dari sisi HAM? PBB harus mengusut. Ini satu persoalan dan satu kasus pasti serta asasi yang harus ditindaklanjuti.

Masalah berikutnya adalah penjara Guantanamo. Penjara Guantanamo ini berada di depan mata dunia. Kenapa AS tanpa proses pengadilan menciduk orang-orang tertentu lalu memenjarakannya sekian tahun di sana dalam keadaan yang paling berat? Salah satu faktor kemenangan Obama ketika itu adalah di dalam pidato kampanye pemilunya dia berjanji akan menutup penjara Guantanamo, tapi dia tidak melakukannya! Delapan tahun dia berada di pucuk kekuasaan, dan penjara ini tetap ada. Sekarang pun masih ada. Seandainya sekarang pun – anggap saja – penjara ini sudah tutup, masa lalu penjara ini dan kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan di penjara ini harus diusut. PBB harus mengusut kasus ini. Orang-orang yang – pada umumnya dari Afganistan dan beberapa tempat yang lain – mereka tangkap, lalu mereka bawa ke sana dan mereka tahan dalam keadaan yang paling berat, dengan ikat tangan, ikat kaki, tutup mata, dengan pola makanan yang sangat buruk dan lingkungan hidup yang sangat jelek. Bertahun-tahun mereka memenjarakannya dalam keadaan seperti itu. Memangnya ini senda gurau? Kasus ini harus diusut oleh PBB.

Masalah lainnya adalah penjara Abu Ghuraib di Irak. Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan di penjara Abu Ghuraib Irak adalah penyiksaan-penyiksaan yang hampir tidak ada duanya di badan-badan penyiksaan dunia seperti rezim zionis dan lain sebagainya – yang merupakan unggulan di bidang penyiksaan -; begitu pula di badan-badan penyiksaan pada zaman Rezim Pahlevi yang mana dedengkot mereka juga israelis. Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan di penjara Abu Ghuraib ini lebih buruk dan lebih berat dari itu semua. Baik. Sekarang AS terusir dari sana. Penjara Abu Ghuraib jatuh ke tangan orang-orang Irak. Tapi, kasus tetap kasus. Harus diusut. Ini masalah yang sangat penting. Di Afganistan pun demikian, ada penjara yang serupa dengan penjara Abu Ghuraib, penjara milik AS yang tinggal di Afganistan, di luar kewenangan pemeritnah Afganistan, sepenuhnya berada di tangan AS. Orang-orang Afganistan mengadukannya, pejabat-pejabat Afganistan kesal, mereka juga menyampaikannya kepada saya, semua orang juga tahu hal ini. Apa yang dilakukan di penjara Guantanamo dan Abu Ghuraib juga dilakukan di penjara Afganistan ini. Di Eropa juga mereka pernah punya penjara-penjara yang sementara kita belum begitu tahu.

Salah satu kasus yang betul-betul harus diusut oleh PBB adalah mengenai kebebasan jual-beli senjata di AS, di mana dengan senjata itu sekian banyak kejahatan telah dilakukan. Kalian sendiri telah mendengarnya, kalian sendiri juga telah menyaksikannya. Setiap hari, di sekolah, di universitas, di pasar, di jalan, satu anak remaja, satu anak muda, seorang lelaki, seorang perempuan, akibat komplikasi – entah karena sarafnya rusak, atau gila, atau karena masalah pribadi – dia tembaki sekelompok orang; sepuluh orang, delapan orang, dua puluh orang, kurang atau lebih dari itu, dan membuat sekian keluarga berduka. Kenapa mereka tidak mencegahnya? Sebabnya adalah perusahaan-perusahaan jual-beli senjata menghalangi mereka, dan pemerintah-pemerintah AS berada di bawah pengaruh perusahaan-perusahaan ini. Ini masalah yang sangat penting, dan PBB harus turun tangan dalam masalah ini serta mengusutnya. Ini juga satu persoalan.

Masalah lainnya adalah tindak kejahatan pemerintah AS dan polisi AS terhadap orang-orang kulit hitam. Orang tertuduh yang berkulit hitam, orang tersangka yang berkulit hitap, dihukumi dengan berbagai kesulitan, bahkan kematian; tidak apa-apa! Setelah itu pun mereka datang ke sebuah pengadilan, menyusun satu dua hal lalu membebaskan si penjahat dan pembunuh. Si korban itu pun nyawanya melayang sia-sia. Kasus ini juga perlu diusut.

Masalah lainnya adalah pembuatan ISIS yang telah dinyatakan secara jelas oleh presiden AS sekarang dalam pidato-pidato kampanye pemilunya. Iya, memang sebelumnya kita juga sudah tahu. Mereka mengatakan bahwa AS punya peran dalam membuat ISIS, dan merekalah penggerak masalah ini. Dalam beberapa hal mereka melakukannya melalui perantara, dalam beberapa hal yang lain mereka melakukannya tanpa perantara. Kita sudah tahu bahwa dalam berbagai kasus di Irak mereka membantu ISIS; mereka membantunya di dalam penjualan minyak, di dalam melarikan diri para tokoh ISIS dari kepuangan yang terkadang terjadi. Dalam kasus-kasus itu, AS membantu mereka. Begitu pula bantuan mereka kepada rezim zionis dalam berbagai pembantaian, yang terakhir adalah pembantaian di Gaza.

Satu lagi adalah masalah bantuan kepada pemerintah Saudi dalam pembantaian di Yaman dan bantuan kepada pemerintah Bahrain dalam melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat. Ini hal-hal yang harus dimasuki oleh PBB. PBB apabila betul perserikatan “Bangsa-Bangsa”, apabila bukan organisasi yang tergantung kepara rezim AS, maka harus mengusut kasus-kasus ini. Ini semua pekerjaan yang harus dilakukan oleh PBB. Apakah ini ekspektasi yang banyak?

Kata-kata Republik Islam itu kuat, argumentatif, dan dapat dibuktikan. Dalam kasus-kasus yang kami sebutkan tadi, apabila kita jadikan AS sebagai tersangka, kita punya bukti kuat untuk itu; apabila kita tidak percaya kepada Eropa, kita punya bukti kuat untuk itu; apabila megnenai persoalan-persoalan ekonomi dalam negeri kita yakin bahwa harus bertumpu dan bersandar kepada kapasitas dalam negeri, kita punya bukti kuat di balik itu. Hal-hal yang kita minta dari PBB ini pun, seluruhnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat. Kekuatan ini, argumentasi yang benar dan teliti ini, merupakan sesuatu yang dengan karunia Ilahi, menjaga Republik Islam dengan kuat dan kokoh sampai hari ini. Dan kekokohan Republik Islam telah bertambah, dan sekarang tidak bisa dibandingkan dengan dua puluh tahun atau tiga puluh tahun yang lalu, berapa kali lipat lebih kuat. Dan insyallah setelah ini pun gerakan menuju kekuatan Republik Islam akan semakin bertambah; disertai dengan kekokohan konstruksi interior, kebenaran perilaku para pejabat terhadap rakyat di berbagai bidang ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan Allah Swt membantu kita untuk dapat bergerak di arah yang telah kami katakan dan inginkan.

Ya Allah ya Tuhan kami! Demi Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, muliakanlah Republik Islam dan Bangsa Iran semakin hari lebih dari sebelumnya.

Ya Allah ya Tuhan kami! Dukung dan kuatkanlah para pejabat yang welas asih, sayang, dan berkhidmat.

Ya Allah ya Tuhan kami! Demi Nabi Muhammad dan Keluarga Nabi Muhammad, kumpulkanlah ruh Imam Mulia kami (Imam Khumaini ra) dengan para wali-Mu! Kumpulkanlah syuhada tercinta di jalan ini dengan syuhada awal Islam! Jadikanlah akibat kami Husnul Khatimah! Jadikanlah Bulan Ramadan bagi kami bulan kenaikan maknawi, kejernihan rohani dan spiritual.

Ya Allah ya Tuhan Kami! Jadikanlah segala yang kami ucapkan dan dengar untuk-Mu dan di jalan-Mu, serta terimalah semua itu dengan kedermawanan-Mu!

Wassalamualaikum Wr. Wb.

[1] Obama
[2] Neokonservatif, sebuah kecenderungan politik di AS
[3] George W. Bush
[4] Donald Trump
[5] Mike Pompeo
[6] Hujjatul Islam Akbar Hasyemi Rafsanjani
[7] Resolusi yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB dengan suara setuju tentang pencabutan sanksi-sanksi terkait program nuklir Republik Islam Iran.
[8] Pidato beliau dalam pertemuan dengan para pejabat dan pegawai sistem, Selasa (24/7/2012).
[9] Pidato beliau dalam pertemuan dengan para pejabat dan pegawai sistem, Selasa (14/6/2016).

(WF)