Kunjungan Imam Khamenei ke Pameran Buku Internasional Tehran Ke-31

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Jumat (11/5/18) pagi, mengunjunhi Pameran Buku Internasional Tehran Ke-31 selama satu jam setengah.

Dalam kunjungan ini, beliau juga didampingi juga oleh Salehi Menteri Kebudayaan dan Panduan Islam. Beliau mengunjungi 50 stan dan berbincang-bincang langsung dengan para penerbit mendengarkan poin-poin dan keluh kesah mereka serta mendapatkan informasi tentang perkembangan terakhir buku terbitan mereka.

Usai kunjungan, Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei dalam sambutan singkatnya menekankan urgensi buku dan baca buku dalam kehidupan setiap orang, terutama anak-anak muda. Beliau mengatakan, “Peran buku adalah peran yang tak tergantikan. Tentunya, sebaik-baik buku adalah buku yang menuntun manusia kepada Allah Swt dan nilai-nilai mulia serta revolusioner. Mudah-mudahan buku menemukan posisi sejatinya di tengah masyarakat.”

Berikut sebagian kecil laporan dari kunjungan beliau ke pameran buku tersebut:

Kenangan Menarik Imam Khamenei dari Buku Keluarga Tibau

Imam Khamenei sampai ke stan buku Penerbit Nilufar. Seperti biasa, beliau menyapa penjaga stan dan menanyakan buku-buku paling baru. Ada satu buku yang menarik perhatian beliau seraya bertanya, “Apakah ini empat jilid buku yang lama itu?”. Mereka menjawab, “Iya”. Beliau bertanya, “Siapa penerjemahnya ya?”. Mereka mengatakan, “Abul Hasan Najafi.” Beliau lalu mengucapkan, “O iya, Abul Hasan Najafi … perkenankan saya untuk menyampaikan sebuah pengalaman. Berapa tahun lalu, Abul Hasan Najafi bersama Almarhum Habibi dan berapa orang lagi dari tokoh-tokoh sastra datang kepada saya. Saya tanya kepada dia, “Bukankah Anda adalah penerjemah buku “Keluarga Tibau”?. Bapak Najafi heran saya tahu nama buku novel ini. Setelah kita duduk-duduk, saya perkenalkan novel ini dan sedikit menyampaikan kritik atas terjemahannya. Bapak Najafi semakin heran lalu bertanya, “Apa Anda betul-betul membaca empat jilid buku novel ini? Saya sama sekali pernah membayangkan Anda bahkan mendengar namanya!”.

Imam Khamenei dengan tersenyum melanjutkan ceritanya, “Saya katakan kepada dia, “Iya baca lah … “, “Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni Bapak Abul Hajas Najafi. “Keluarga Tibau” adalah buku novel yang sangat bagus. Tapi sayang tidak terkenal sebagaimana kadarnya.”

“Keluarga Tibau” (Les Thibault dalam Bahasa Prancis) adalah novel panjang yang ditulis oleh Roger Martin du Gard, penulis Prancis pemenang hadiah nobel dalam sastra. Novel ini dari satu sisi mengupas peristiwa-peristiwa di Eropa pada tahun-tahun pertama abad dedua puluh dan tahun-tahun perang dunia pertama. Dari sisi lain dan bersamaan dengan itu ia juga mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh keluarga kaya dan terhormat Prancis bernama Keluarga Tibau.

Saya Sudah Baca Buku Ini Lima Puluh Tahun Yang Lalu!

Di stan buku penerbit Negah, Imam Khamenei seperti biasa menyapa dan menyalami penjaga stan serta berbincang-bincang dengan mereka. Penjaga stan ingin memberikan sebuah buku kepada beliau. Beliau tersenyum dan mengatakan, “Saya sudah baca buku ini lima puluh tahun yang lalu.”

Buku itu novel berjudul “Mata-Matanya” (Chasmhoyasy dalam Bahasa Persia) karya Buzurg Alawi yang untuk pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1331 Hs (1952-1953 M).

Buku-Buku Baru Yang Belum Saya Lihat

Imam Khamenei memasuki stan buku penerbit Nei. Sebelum masuk, beliau mengangkat kepala dan melihat papan nama penerbit yang terpampang di atas stan seraya berbisik, “Besynuw az nei … ” (Dengarlah dari bambu … penggalan puisi Persia.)

Setelah salam dan sapa, beliau bertanya kepada penjaga stan, “Kalian punya apa?”. Seperti para pembeli yang lain, beliau kritis dan tidak menunggu jawaban dari penjaga stan, beliau sendiri sibuk menemukan jawaban dengan melihat satu persatu buku yang dipamerkan. Sedangkan Menteri Salehi terus memperhatikan beliau sedang membuka halaman-halaman buku.

Beliau menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata, “Saya ketinggalan dari buku! Ada hal-hal baru yang belum saya lihat.”

Salehi menanggapi, “Tidak ada orang yang lebih depan dari Anda.”

Beliau dan Penjaga Stan

Di salah satu stan, sebelum Imam Khamenei sampai ke sana, salah satu direktur pemerintah masuk ke dalam stan dan duduk di sebelah penjaga stan.

Begitu beliau sampai ke sana, direktur pemerintah itu mulai memberikan laporan tentang kondisi penerbit. Selesai orang itu bicara, Imam Khamenei menyapa dan bertanya –tapi- kepada penjaga stan, “Apa hanya buku-buku terjemahan yang kalian punya?”. Si penjaga stan menjawab, “Empat puluh persen buku-buku kami karya asli.”

Direktur pemerintah itu menyelah pembicaraan lalu berkata, “Perlu saya sampaikan bahwa penerbit ini berapa kali menjadi publisher sample … “. Tapi Imam Khamenei tetap perhatian kepada penjaga stan yang asli lalu bertanya, “Apa buku baru kalian?”. Si penjaga stan pun menjawab, dan beliau terus berbincang dengan dia, bukan dengan direktur pemerintah tersebut.

Canda Pemimpin Revolusi dengan Penjaga Stan: “Buku Ini Tidak Ada Gunanya Buat Kita”

Di stan buku penerbit Nur Zahra as, Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei mengambil sebuah buku lalu bertanya, “Buku “Kemangi Surgawi” (Reihonehye Behesyti dalam Bahasa Persia) ini tentang apa?”. Penjaga stan menjawab buku ditulis berdasarkan hadis mengenai perawatan dan pendidikan anak dari sebelum hamil sampai lahir. Lalu beliau bercanda dan mengatakan, “Kalau gitu, ga ada gunanya buat kita!”.

Mereka semua tertawa mendengarnya. (WF)

Hits: 15

Berita, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat