Tujuan Gerakan Manusia 250 Tahun (5 Terakhir)

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, sebagaimana dimuat di dalam buku kumpulan pidato beliau tentang kehidupan politik dan perjuangan para Imam Suci as yang berjudul Ensone 250 Soleh (Manusia 250 Tahun), memberikan ulasan singkat mengenai Imam Mahdi af sebagai berikut:

Sekarang, dengan Revolusi Islam kita yang berada di garis realisasi keadilan pada tingkat global maka revolusi Imam Mahdi – ‘alaihis sholatu was salam – satu langkah besar lebih dekat kepada tujuan. Lahirnya Pemerintahan Islam bukan hanya tidak menunda kesudahan (faraj) yang telah dijanjikan itu, bahkan menyegerakannya. Dan inilah makna penantian. Penantian faraj berarti penantian terhadap kedaulatan Al-Qur’an dan Islam. Kalian tidak puas dengan apa yang sekarang ada di dunia, bahkan terhadap kemajuan yang diperoleh dari Revolusi Islam ini pun kalian tidak puas, kalian tetap ingin lebih dekat lagi dengan kedaulatan Al-Qur’an dan Islam. Inilah penantian faraj. Penantian faraj artinya penantian terhadap kelapangan pada urusan kemanusiaan.

Sekarang, urusan kemanusiaan sedang terikat dalam simpul-simpul yang keras. Sekarang, budaya materi telah dipaksakan pada umat manusia. Ini satu simpul. Sekarang pada taraf global, diskriminasi sedang menyiksa umat manusia. Ini simpul besar. Sekarang, masalah mental keliru masyarakat telah membawa dunia sampai titik di mana seruan keadilan sebuah bangsa revolusioner menjadi hilang di tengah lolongan mabuk para penguasa dan pecinta kekuasaan. Ini satu simpul. Sekarang, orang-orang tertindas di Afrika, Amerika Latin, dan jutaan orang kelaparan di Asia serta Asia jauh, serta jutaan orang berwarna [kelam] yang menderita kezaliman diskriminasi rasis, semuanya menanti kedatangan penolong dan penyelamat, sementara kekuatan-kekuatan besar tidak membiarkan seruan penyelamat ini sampai ke telinga mereka. Ini satu simpul. Faraj berarti keteruraian simpul-simpul tersebut. Perluaslah pandangan kalian. Jangan sampai kita terbatas pada isi rumah dan kehidupan biasa kita sendiri. Di tingkat dunia, kemanusian sedang memohon faraj. Tapi mereka tidak tahu jalan faraj.

Kalian bangsa revolusioner muslim harus mendekat kepada faraj global kemanusian dengan gerak teratur dalam kelangsungan Revolusi Islam, kalian harus mendekatkan diri dan kemanusian selangkah demi selangkah kepada kemunculan Imam Mahdi Maw’ud dan Revolusi Final Islam Kemanusiaan yang akan meliputi seluruh dunia dan mengurai semua simpul itu. Inilah penantian faraj. Di jalan ini, karunia Ilahi dan doa mustajab Wali Ahsr – ‘ajjalallohu ta’ala farojahus syarif – mendukung kita. Kita harus lebih memperkenalkan diri kepada beliau dan dengan mengingat beliau. Jangan sampai kita melupakan Imam Zaman af. Negara kita adalah negara Imam Zaman af. Revolusi kita adalah revolusi Imam Zaman af. Karena, revolusi kita adalah Revolusi Islam. Selalulah kalian mengingat Wali Allah Yang Paling Agung di hati. Bacalah doa (اَللَهُمَّ إِنَّا نَرغَبُ إِلَيکَ فِي دَولَةٍ کَرِيمَةٍ) dengan sepenuh hati dan kebutuhan yang sempurna. [1] Baik jiwa kalian hendaknya dalam penantian Imam Mahdi af, maupun raga kalian hendaknya bergerak di jalan ini. Setiap kali kalian mengambil langkah dalam rangka mengukuhkan Revolusi Islam ini maka kalian selangkah lebih dekat dengan kemunculan Imam Mahdi af. (19/6/1981).

Pemerintahan yang sekarang ada di tangan kalian rakyat adalah cita-cita ribuan tahun orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. Para imam suci as seluruhnya bergerak di jalur ini, yaitu memerintahkan kedaulatan Allah Swt atas masyrakat, kedaulatan undang-undang Ilahi atas masyarakat. Upaya-upaya telah dilakukan, perjuangan-pejuangan telah dilaksanakan, penderitaan-penderitaan telah ditahan. Penjara, pengasingan, dan kesyahidan yang sangat berisi dan berbobot telah ditanggung di jalan ini. Sekarang, kalian mendapatkan kesempatan ini; sebagaimana Bani Israel setelah berabad-abad mendapatkan kesempatan ini pada zaman Nabi Sulaiman as dan Nabi Dawud as. Hargailah apa yang kalian punya wahai Umat Islam, wahai bangsa jawara dan pejuang Iran, jagalah diri kalian sampai insyaallah pemerintahan ini berujung pada pemerintahan Yang Mulia Wali Ashr Mahdi Maw’ud Shahib Zaman – ‘ajjallallohu ta’ala farojah -. (8/5/1981).

Ini adalah jalan kedepan yang kalian pilih wahai bangsa Iran tercinta, kalian ikuti, dan kalian dengan taufik Ilahi untuk melanjutkannya. Inilah jalan yang Alhamdulillah sekarang kita menyaksikan bangsa-bangsa Muslim di berbagai penjuru dunia Islam secara bertahap dan perlahan-lahan sedang bergerak ke arah ini. Allah Swt berfirman ( [2] و العَاقِبَةُ لِلمُتَّقِين). Sekiranya ketakwaan ini kita jadikan sebagai pola tindak diri kita, sudah pasti akibat dan kesudahan segalanya akan menjadi milik Umat Islam. Dan dengan harapan kepada Allah Swt, masa depan ini tidaklah begitu jauh. (21/2/2011).

Satu hal lagi ingin saya sampaikan di akhir ulasan adalah pentingnya jalinan emosional, maknawi, dan rohani dengan Imam Yang Mulia dan Wali Suci Ilahi bagi masing-masing dari kita. Jangan kurung persoalan sebatas analisis intelektual dan pemikiran. Imam Suci pilihan Allah Swt itu sekarang sedang hidup di tengah kita umat manusia, di sebuah tempat di dunia ini yang kita tidak tahu di mana. Beliau ada, beliau berdoa, beliau membaca Al-Qur’an, beliau menjelaskan sikap-sikap Ilahi, beliau ruku dan sujud, beliau beribadah, beliau bermunajat, beliau tampak di perkumpulan-perkumpulan, beliau membantu orang-orang. Beliau punya keberadaan di luar, wujud nyata, hanya saja bagi kita tak dikenal. Manusia pilihan Allah Swt ini sekarang ada, dan kita harus menguatkan hubungan kita secara pribadi, secara kalbu, dan secara rohani di samping bentuk sosial dan politiknya – yang Alhamdulillah sistem kita searah dengan keinginan beliau insyaallah -. Dengan kata lain, masing-masing dari masyarakat kita hendaknya menjadikan tawasul kepada Wali Ashr af, pengenalan dengan beliau, munajat dengan beliau, salam kepada beliau, dan konsentrasi kepada beliau sebagai tugas dan kewajiban diri seraya berdoa untuk beliau sebagaimana terdapat di dalam hadis, dimana doa ( [1] اَللَّهُمَّ کُن لِوَلِيِّکَ) merupakan salah satu dari sekian banyak doa yang ada. Begitu pula ziarah-ziarah yang banyak terdapat di dalam kitab. Dimana selain mempunyai dimensi pemikiran, kesadaran, dan makrifat bagi kita untuk kita pelajari, seluruh ziarah itu juga mempunyai dimensi rohani, kalbu, emosi, dan perasaan yang kita butuhkan. Anak-anak kita, pemuda-pemuda kita, dan pejuang-pejuang kita di medan perang, dengan konsentrasi dan tawasul kepada Imam Zaman af mereka menambah semangat, menjadi ceriah, dan menemukan harapan. Dengan tangisan rindu yang mereka alami, dengan air mata rindu yang mereka tebarkan, mereka mendekatkan diri kepada beliau, mereka meletakkan diri pada posisi perhatian dan inayah Allah Swt serta beliau. Dan ini harus selalu ada. (10/4/1987).

Wahai Imam Zaman! Wahai Mahdi Maw’ud kekasih umat ini! Wahai keturunan suci para nabi! Wahai pewaris seluruh revolusi tawhidi dan universal! Bangsa kami ini sejak awal telah terbiasa dengan ingatan dan namamu. Anugerahmu telah mereka rasakan dalam kehidupan dan keberadaan. Wahai Hamba Saleh Allah Swt! Kami sekarang membutuhkan doa yang engkau panjatkan dari hati suci Ilahi Rabbani dan ruh qudsi untuk kemenangan bangsa ini dan kemenangan revolusi ini. Kami membutuhkan kekuasaan yang ditetapkan oleh Allah Swt pada lenganmu untuk membantu bangsa ini dan jalan umat ini. ([4] عَزيزً عَلَيَّ أَن أَرَی الخَلقَ وَ لَا تُرَی) Wahai Imam Zaman! Di dunia ini, di alam tak berujung yang merupakan milik orang-orang saleh ini, milik hamba-hamba Allah Swt ini, sangat berat bagi kami melihat musuh-musuh Allah Swt, merasakan pengaruh keberadaan musuh-musuh Allah Swt, tapi tidak melihatmu dan tidak merasakan curah karunia kehadiranmu.

Ya Allah! Kami sumpah Engkau demi Nabi Muhammad dan keluarga beliau, jagalah hati kami senantiasa segar dengan ingatan Imam Zaman af.

Ya Allah! Sinarilah mata kami dengan keindahan Wali Ashr af.

Ya Allah! Junudullah ini, orang-orang yang berjuang di jalan-Mu ini, jadikanlah mereka sebagai bala tentara dan veteran Imam Zaman af. (27/6/1980).

Ya Allah! Demi Nabi Muhammad Saw dan keluarga beliau as, relakanlah hati suci Wali Makshum-Mu atas kami. Jadikanlah kami termasuk orang yang berkonsentrasi dan bertawasul kepada beliau.

Ya Allah! Demi kehormatan Nabi Muhammad Saw dan keluarga beliau as, dekatkanlah faraj beliau dan tegakknya pemerintahan Ilahi itu sedekat-dekatnya.

Ya Allah! Karunialilah kami taufik keserupaan dengan zaman itu dan dengan sistem itu dalam mengorganisir dan membangun masyarakat Islami yang baru lahir ini.

Ya Allah! Demi Nabi Muhammad Saw dan keluarga beliau as, jadikanlah kami termasuk penolong beliau, syiah beliau, di semua keadaan dan di seluruh urusan. (10/04/1987).

[1] Al-Kafi, Doa Iftitah, jld. 3, hal. 424. Artinya, “Ya Allah! Sungguh kami memohon kepada-Mu kehidupan di daulat yang mulia.”

[2] QS. Al-A’raf [7]: 28. Artinya, “Dan kesudahan adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

[3] Al-Kafi, jld. 4, hal. 162:

اَلَّلهُمَّ کُن لِوَلِيِّکَ الحُجَّةِ بنِ الحَسَنِ صَلَوَاتُکَ عَلَيهِ وَ عَلَی آبَائِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ وَ فِي کُلُّ سَاعَةٍ وَلِيًّا وَ حَافِظًا وَ قَائِدًا وَ نَاصِرًا وَ دَلِيلًا وَ عَينًا حَتَّی تُسکِنَهُ أَرضَکَ طَوعًا وَ تُمَتُّعَهُ فِيهَا طَوِيلًا

“Ya Allah! Jadilah untuk wali-Mu Al-Hujjah bin Hasan –shalawat-Mu atas beliau dan atas bapak-bapak beliau – di saat ini dan di semua saat, sebagai wali, penjaga, penuntun, penolong, petunjuk, dan mata, sampai Engkau tempat-tinggalkan beliau di bumi-Mu secara terpatuhi, dan menikmatkan beliau di sana secara lama.”

[4] Bihar Al-Anwar, penggalan Doa Nudbah, jld. 99, hal. 108. Artinya, “Berat sekali bagiku melihat semua orang tapi tidak melihatmu.”

(WF)

Hits: 38

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat