Tujuan Gerakan Manusia 250 Tahun (3)

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, sebagaimana dimuat di dalam buku kumpulan pidato beliau tentang kehidupan politik dan perjuangan para Imam Suci as yang berjudul Ensone 250 Soleh (Manusia 250 Tahun), memberikan ulasan singkat mengenai Imam Mahdi af sebagai berikut:

Di hadis lain disebutkan:

القَائِمُ مِنَّا مَنصُورٌ بِالرُّعبِ مُؤَيَّدٌ بِالنَّصرِ تُطوَي لَهُ الأَرضُ وَ تَظهَرُ لَهُ الكُنُوزُ يَبلُغُ سُلطَانُهُ المَشرِقَ وَ المَغرِبَ [1]

Artinya Al Qaim dari kami didukung dengan ketakutan, pemerintah-pemerintah zalim dan badan-badan tiran menjadi ketakutan pada beliau. Ini sesuatu yang kita sekarang menyaksikan contoh kecilnya di masyarakat kita sendiri. Sekarang, pemerintahan kita, masyarakat kita, dan Sistem Islam kita yang merupakan satu tetes dari Pemerintahan Islam, satu tetes dari samudera keagungan Ilahi dan kerajaan Ilahi itu, begitu menakutkannya bagi para penguasa dunia dan tiran, dimana ketakutan ini sendiri menjadi perantara kemenangan kita. Sekarang, para arogan dunia takut kepada Republik Islam, dan Revolusi [Islam] kita, bangsa kita, serta Sistem [Pemerintahan Islam] kita. Karena ketakutan itu maka mereka berusaha melenyapkan penganggu kekuasaan zalim mereka. Namun sebaliknya, usaha mereka –sebagaimana kalian saksikan- dalam kancah politik dunia lebih berujung pada kemenangan Islam dan Muslimin. Lantas, situasi yang seperti ini pada zaman Wali Ashr –arwahuna fidah- begitu menyeluruh dan luasnya sehingga mampu merealisasikan pemerintahan global tersebut. (مُؤَيَّدٌ بِالنَّصرِ) Kemenangan Ilahi mendukung beliau. Bumi digulung di hadapan beliau; yakni, bumi berada di tangan beliau, berada di genggaman kekuasaan beliau. Harta-harta simpanan menjadi tampak bagi beliau. Dan kekuasaan beliau meluas sampai ke timur dan barat dunia.

Setelah itu disebutkan:

فَلَا يَبقَي فِي الأَرضِ خَرَابٌ إلَّا قَد عُمِرَ [2]

Maksudnya, kekuasaan ini akan digunakan untuk memakmurkan dunia, bukan untuk mendominasi kepentingan umat manusia dan menindas mereka. Di seluruh dunia tidak akan ada lagi titik kerusakan kecuali dimakmurkan; baik itu kerusakan yang disebabkan oleh manusia, maupun kerusakan yang dipaksakan terhadap mereka karena kebodohan manusia. Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Imam Baqir as bersabda:

حَتَّي إِذَا قَامَ القَائِمُ جَاءَتِ المُزَايَلَةُ وَ أَتَي الرَّجُلُ إِلَي كِيسِ أَخِيهِ فَيَأخُذَ حَاجَتَهُ فَلَا يَمنَعُهُ [3]

Ini isyarat pada akhlak kesetaraan dan keberbagian sesama manusia, pengorbanan di antara mereka. Keselamatan hati umat manusia dari dominasi kikir dan serakah, yang merupakan faktor terbesar bagi kesengsaraan manusia, memberitagembirakan situasi yang seperti ini. Seorang saudara mendatangi saku saudara yang lain dan mengambil sesuatu sekedar yang dia butuhkan, dan saudaranya tidak menghalangi dia untuk itu. ini pada hakikatnya menunjukkan Sistem Islami akhlak, ekonomi, dan sosial yang selamat pada zaman itu. Artinya, tidak ada kekerasan dan paksaan dalam hal ini. Orang-orang itu sendiri yang selamat dari kikir dan serakah kemanusiaan, dan terciptalah surga kemanusiaan seperti ini.

Di hadis lain disebutkan:

إِذَا قَامَ قَائِمُنَا اِضمَحَلَّتِ القَطَائِعُ فَلَا قَطَائِعَ [4]

Pemberian-pemberian yang biasa dilakukan oleh pemerintah-pemerintah arogan dunia terhadap kawan-kawan dan mitra-mitra mereka; kedemawanan-kedermawanan yang diambil dari kantong bangsa-bangsa untuk ini dan itu, semuanya akan digulung dari dunia. Petakan yang dulu berpola tertentu, sekarang berpola lain. Dulu, polanya adalah seorang khalifah, seorang sultan, memberikan sepetak tanah, sebidang padang, sebuah desa, suatu kota, kadang satu provinsi, kepada seseorang dan mengatakan kepadanya pergilah lakukan semaumu di sana; tariklah pajak dari penduduknya, pakailah tanaman-tanaman mereka, segala bentuk keuntungan material adalah milikmu. Dia juga harus menyerahkan hak tertentu kepada sultan. Adapun sekarang berpola macam-macam monopoli minyak, komersial, industri, dan teknis. Industri-industri besar dan monopoli-monopoli yang menyengsarakan bangsa-bangsa ini, pada hakikatnya semua itu seperti petakan [tanah, ladang, desa, kota atau provinsi] tersebut. Monopoli-monopoli zaman sekarang sama dengan petakan-petakan zaman dulu. Karena, hal ini juga diperoleh melalui main mata dan suap menyuap dengan pemerintah-pemerintah. Hamparan-hamparan pembunuh manusia dan pembasmi keutamaan ini akan sirna, dan sarana keuntungan manusia akan berada di tangan mereka semua.

Di hadis lain juga dijelaskan mengenai kondisi ekonomi saat itu:

وَ يُسَوَّي بَينَ النَّاسِ حَتَّي لَا تَرَي مُحتَاجًا إِلَي الزَّكَاةِ [5]

Di antara masyarakat, begitu tegaknya persamaan di bidang keuangan dan ekonomi sehingga kalian tidak akan menemukan satu orang pun fakir yang bisa kalian beri zakat mal. Di sini tentu zakat akan digunakan untuk kepentingan-kepentingan umum dan tidak lagi diberikan kepada fukara, sebab ketika itu tidak ada lagi orang fakir di dunia. Begitu pula hadis-hadis serupa yang menggambarkan sebuah surga Islami dan dunia yang nyata. Bukan khayalan dan angan-angan seperti madinah fadhilah-madinah fadhilah lain yang dibuat-buat oleh sebagian orang. Tidak. Itu adalah syiar-syiar Islam yang seluruhnya praktis, dan kami di Republik Islam merasakan bahwa sungguh tangan yang kuat, hati dan pikiran yang bersambung kepada wahyu serta dukungan Ilahi, dan seorang yang suci pasti bisa menciptakan kondisi yang seperti ini di dunia, dan umat manusia juga akan menyambutnya. Inilah kondisi dunia itu. (10/4/87).

[1] Kamal ad-Din wa Tamam an-Ni’mah, jld. 1, hal. 331. (Al Qaim dari kami –yakni Imam Mahdi af- ditolong dengan ketakutan, didukung dengan kemenangan, bumi dilipat untuknya, harta-harta simpanan tampak baginya, kekuasaannya sampai timur dan barat.).

[2] Ibid. (Dan di bumi tidak ada lagi bidang yang rusak kecuali akan dimakmurkan.).

[3] Wasa’il al-Syi’ah, jld. 5, hal. 121. (Sampai ketika Al Qaim bangkit, tiba saat perpisahan dan seseorang mendatangi kantong saudaranya lalu mengambil kebutuhannya, dan saudaranya itu tidak menghalanginya.)

[4] Jami’ Ahadits al-Syi’ah karyar Ayatullah Uzma Brujurdi, jld. 23, hal. 1012. (Ketika Al Qaim kami bangkit, berakhirlah petakan-petakan, maka tiada lagi petakan-petakan itu.).

[5] Bihar al-Anwar, jld. 52, hal. 390.

(WF)

Hits: 53

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat