Tujuan Gerakan Manusia 250 Tahun (2)

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, sebagaimana dimuat di dalam buku kumpulan pidato beliau tentang kehidupan politik dan perjuangan para Imam Suci as yang berjudul Ensone 250 Soleh (Manusia 250 Tahun), memberikan ulasan singkat mengenai Imam Mahdi af sebagai berikut:

Sekarang kita menanti faraj. Artinya, kita menanti tangan kuat penyebar keadilan datang dan memecahkan dominasi kezaliman yang menundukkan hampir semua orang, mengubah suasana tiran, dan menghembuskan angin sepoi keadilan pada kehidupan manusia, sehingga mereka merasakan keadilan. Ini kebutuhan abadi manusia yang hidup dan manusia yang sadar; manusia yang tidak membenamkan kepala di dalam kepompongnya, tidak keenakan dengan hidupnya. Manusia yang melihat kehidupan publik manusia dengan pandangan makro, sudah barang tentu berada dalam keadaan penantian. Inilah makna penantian. Penantian yakni ketidakpuasan, ketidakterimaan terhadap kondisi hidup manusia yang ada dan upaya untuk sampai kepada kondisi ideal; dan kondisi ideal ini sudah pasti akan terealisasi di tangan kuat Wali Allah Swt, Hadirat Hujjat bin Hasan, Mahdi Shahib Zaman –shalawatulloh ‘alaihi wa ajjalallohu farojahu wa arwahuna fidahu-.

Kita harus mempersiapkan diri sebagai prajurit, sebagai orang yang siaga juang dalam kondisi itu. Penantian faraj bukan berarti orang mesti duduk, tidak berbuat apa-apa, tidak menunjukkan wajah perbaikan apa-apa pada dirinya, hanya menghibur diri dengan pengakuan bahwa kami adalah penanti Imam Zaman –‘alaihis sholatu was salam-. Ini bukan penantian. Apakah penantian? Penantian, tangan perkasa dan kuat Ilahi malakuti yang pasti datang dan dengan bantuan orang-orang ini menghancurkan hegemoni kezaliman, memenangkan haq, mendominasikan keadilan dalam kehidupan masyarakat, dan meninggikan panji Tauhid; menjadikan para manusia sebagai hamba-hamba Allah Swt yang sesungguhnya. Harus siap untuk pekerjaan ini. Penegakan Sistem Republik Islam merupakan salah satu pengantar gerakan agung bersejarah ini. Segala langkah dalam rangka menegakkan keadilan, merupakan langkah ke arah tujuan mulia itu. Penantian, inilah maknanya. Penantian, adalah gerakan; penantian, bukan stagnasi. Penantian, bukan pembiaran dan duduk diam karena pekerjaan akan terjadi dengan sendirinya. Penantian, adalah gerakan. Penantian, adalah persiapan. Persiapan ini harus kita jaga di dalam diri kita sendiri, dan di lingkungan sekitar kita. Allah Swt telah mengaruniakan nikmat kepada rakyat tercinta kita, kepada Bangsa Iran, untuk dapat mengambil langkah besar ini dan mempersiapkan suasana penantian. Inilah makna penantian faraj. (17/8/2008).

Masyarakat Mahdawi artinya dunia yang Imam Zaman af datang membangunnya. Yaitu masyarakat yang mana semua nabi muncul untuk menjamin keberadaannya di dunia. Yakni, semua nabi terdahulu adalah pengantar agar masyarakat ideal manusia itu, yang pada akhirnya akan muncul dan terbangun dengan perantara Wali Ashr dan Mahdi Maw’ud af di dunia ini, menjadi ada. Seperti sebuah bangunan tinggi yang mana seseorang datang meratakan tanahnya dan menyingkirkan duri-durinya, orang lain datang setelah dia menggali dan melubangi tanah untuk pemasangan fondasinya, orang lain datang setelah dia untuk membangun dan menegakkan fondasinya, orang lain datang setelah dia untuk menyusun temboknya, silih berganti para pejabat dan penanggungjawab datang untuk membangun dan mengembangkan istana menjulang ini, bangunan tinggi ini, secara bertahap dan sepanjang sejarah. Para nabi Ilahi sejak awal sejarah manusia satu persatu datang untuk mendekatkan masyarakat dan umat manusia selangkah demi selangkah kepada masyarakat ideal dan tujuan final itu. Para nabi seluruhnya sukses, bahkan satu orang pun dari utusan-utusan Ilahi tidak ada yang gagal di jalan dan jalur ini, ini merupakan tanggungjawab di atas pundak para pejabat tinggi tersebut, masing-masing selangkah mendekatkan tanggungjawab itu kepada tujuan, mereka telah berusaha, segala daya yang mereka punya telah mereka kerahkan. Ketika umur mereka berakhir, yang lain meraih tanggungjawab itu dari mereka dan senantiasa lebih mendekatkannya selangkah dan sejarak kepada tujuan. Wali Ashr –sholawatulloh ‘alaih– adalah pewaris semua nabi Ilahi yang datang dan mengambil langkah terakhir dalam merealisasikan masyarakat Ilahi itu.

Sekilas saya akan berbicara tentang sifat-sifat masyarakat Ilahi tersebut. Tentunya apabila kalian meneliti buku-buku Islami, di dalam literatur asli Islami, maka seluruh ciri-ciri masyarakat itu akan teroleh. Di dalam Doa Nudbah yang insyaallah pada hari-hari Jumat kalian mendapat taufik untuk membacanya dan memang membacanya ini, ciri-ciri itu disebutkan. Sebagai contoh, di sana disebutkan (أَينَ مُعِزُّ الأَولِيَاء وَ مُذِلُّ الأَعدَاء); masyarakat Ilahi itu adalah masyarakat yang di sana para wali Allah Swt terhormat dan musuh-musuh Allah Swt terhina. Itu artinya demikianlah nilai-nilai dan standar-standar di masyarakat tersebut. (أَينَ المُعَدُّ لِإِقَامَةِ الحُدُودِ); masyarakat itu adalah masyarakat yang di sana had-had Ilahi ditegakkan. Itu artinya seluruh had dan batas yang ditentukan oleh Allah Swt, yang ditentukan oleh Islam, diperhatikan di dalam masyarakat zaman Imam Zaman af. Imam Zaman af, ketika muncul beliau akan membangun masyarakat yang singkat kata mempunyai ciri-ciri yang saya utarakan, dan kalian saudara-saudari yang tercinta hendaknya meneliti hal itu di dalam ayat-ayat dan doa-doa yang diriwayatkan. Ketika kalian membacanya, bukalah dan bukalah lebih lebar lagi benak kalian untuk hal ini. Hanya membaca Doa Nudbah tidak cukup. Harus belajar dan memahaminya.

Imam Zaman –sholawatulloh ‘alaih– membangun masyarakat berdasarkan fondasi-fondasi ini; Yang pertama adalah memorakporandakan akar-akar kezaliman dan tagut. Artinya, di dalam masyarakat yang dibangun pada zaman Wali Ashr –sholawatulloh ‘alaih-, tidak boleh ada kezaliman, bukan hanya di Iran, atau di antara masyarakat-masyarakat muslim, melainkan di seluruh dunia tidak boleh ada kezaliman. Tidak kezaliman ekonomi, tidak kezaliman politik, tidak kezaliman budaya, dan tidak pula segala macam kezaliman, tidak boleh ada lagi di masyarakat itu. Eksploitasi, perbedaan kelas, diskriminasi, ketidaksetaraan, penindasan, dan arogansi harus dibasmi dari dunia. Ini ciri pertama.

Ciri kedua masyarakat ideal yang dibangun oleh Imam Zaman –sholawatulloh ‘alaih– adalah ketinggian tingkat pemikiran manusia; baik itu pemikiran ilmiah manusia, maupun pemikiran Islami manusia. Artinya, pada zaman Wali Ashr af kalian tidak bisa menemukan tanda-tanda kebodohan, kebutahurufan, dan kefakiran intelektual serta kultural di dunia. Di sana masyarakat bisa mengenal agama dengan benar, dan ini –sebagaimana kalian semua tahu- merupakan salah satu tujuan besar para nabi sebagaimana diterangkan oleh Amirul Mukminin –sholawatulloh wa salamuhu ‘alaih– di dalam khutbah Nahjul Balaghah yang mulia; (وَ يُثِيرُوا لَهُم دَفَائِنُ العُقُولِ); “Dan mereka bangkitkan untuk kalian timbunan-timbunan akal.” [1].

Di dalam hadis-hadis kita disebutkan bahwa ketika Wali Ashr af muncul, orang perempuan duduk di dalam rumah dan membuka Al-Qur’an serta menyimpulkan dan memahami hakikat-hakikat agama dari teks Al-Qur’an. Ini apa artinya? Artinya, begitu tingginya tingkat kebudayaan Islami dan keagamaan sehingga semua orang, seluruh anggota masyarakat, dan perempuan-perempuan yang seandainya tidak ikut serta di kancah sosial dan tinggal di dalam rumah, mereka juga bisa menjadi fakih, menjadi ahli agama. Mereka bisa membuka Al-Qur’an dan mereka sendiri memahami hakikat-hakikat agama dari Al-Qur’an. Kalian perhatikan di masyarakat yang semua –orang laki dan perempuan- di seluruh tingkatan, mempunyai daya paham agama dan penyimpulan dari kitab Ilahi, betapa bercahayanya masyarakat ini, dan tidak ada lagi titik kegelapan apa pun di masyarakat ini.

Ciri ketiga yang dimiliki masyarakat Imam Zaman af –Masyarakat Mahdawi- adalah ketika itu, semua kekuataan alam dan seluruh daya manusia akan tereskplorasi. Tidak ada sesuatu yang tersisa di perut bumi yang tidak digunakan oleh manusia. Semua kekuatan natural yang terliburkan ini, semua bumi yang bisa memberi pakan manusia ini, semua daya yang tak terungkap ini, seperti kekuatan-kekuatan yang sudah ada sejak berabad-abad dalam sejarah. Contohnya kekuatan atom, keuatan listrik; berabad-abad umur dunia berlalu, kekuatan-kekuatan ini sejak awal ada di dalam perut alam, tapi manusia dulu belum mengenalnya, baru kemudian secara bertahap kekuatan-kekuatan itu tereksplorasi. Semua kekuatan tak terhingga seperti ini yang ada di perut alam akan terkesplorasi di masa Imam Zaman af.

Ciri berikutnya, poros di periode Imam Zaman af adalah keutamaan dan akhlak. Barangsiapa yang mempunyai keutamaan akhlak lebih maka dia terdahulukan dan terdepan. (27/6/1980).

[1] Nahj al-Balaghoh, pidato no. 1. “Akal-akal yang tertimbun di bawah debu kekafiran dan tertutupi oleh gelapnya kesesatan akan dibangkitkan dan diaktifkan.”

(WF)

Hits: 34

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat