Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Para Peserta Perlombaan Internasional Al-Qur’an

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Kamis (27/4/18) pagi, dalam pertemuan dengan para peserta Perlombaan Internasional Al-Qur’an di Husainiah Imam Khumaini ra, mengingatkan bahwa jalan benar kehidupan masyarakat-masyarakat Islam dan Umat Islam adalah amal sesuai Al-Qur’an.

Berikut pidato lengkap beliau:

بسم الله الرّحمن الرّحیم
و الحمدلله‌ ربّ العالمین و الصّلاة و السّلام على سیّدنا و نبیّنا ابى‌‌القاسم المصطفى محمّد و علی آله الطّیّبین الطّاهرین المعصومین و علی صحبه المنتجبین و من تبعهم باحسان الی یوم الدّین

(Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Segala puja dan puji kehadirat Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan salam atas tuan kita, nabi kita Abul Qasim Al-Musthafa Muhammad dan keluarga beliau yang bagus, suci, dan maksum, serta kepada shabat beliau yang terpilih dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik sampai Hari Pembalasan.)

Kami sangat bergembira, dan puji-syukur kehadirat Allah Swt atas taufik-Nya satu tahun lagi, sekali lagi acara yang luar biasa, berbobot, dan berfaedah ini terselenggara. Kami sampaikan terimakasih kepada saudara-saudara kami di Organisasi Wakaf dan orang-orang yang bekerjasama dengannya dalam menyelenggarakan acara ini. Saya ucapkan selamat datang kepada para tamu yang ikut serta dan bekerjasama dalam peristiwa Qur’ani ini, di dalam perkumpulan dan sesungguhnya pesta Qur’ani ini. Insyaallah dan mudah-mudahan kalian semua mendapat pahala.

Masalah Al-Qur’an adalah masalah kita yang sangat penting. Masalah abadi Dunia Islam dan Umat Islam. Kita harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an. Umat Islam apabila tidak menggunakan Al-Qur’an dan berpaling –sebagaimana sayang sekali hal ini terjadi di berbagai periode sejarah kita – niscaya mereka akan terkena pukul, terkena tampar; sebagaimana sudah kena.

Sekarang kita butuh kepada Al-Qur’an. Jalan benar kehidupan masyarakat-masyarakat Islam dan Umat Islam adalah amal sesuai Al-Qur’an. Di dalam sebuah hadis disabdakan bahwa (إنَّ هَذَا القُرآنَ حَبلُ اللهِ); sesungguhnya Al-Qur’an ini tali Allah. Bahwa di dalam Al-Qur’an difirmankan (وَ اعتَصِمُوا بِحَبلِ اللهِ وَ لَا تَفَرَّقُوا); “Dan berpegang-teguhlah dengan tali Allah, semua, dan jangan berpecah.” (QS. Ali Imran [3]: 103), tali Allah Swt ini adalah Al-Qur’an. (وَ هُوَ النُّورُ المُبيين); ia cahaya yang menerangi. Apakah khasiat cahaya? Cahaya menerangi ruang, menunjukkan jalan kepada manusia, orang jadi mampu melihat, memperoleh bashirah. Ketika cahaya tidak ada, mata pun tidak berfungsi dan tidak berguna. Karena tidak bisa melihat apa-apa. Kita punya akal, punya kemampuan yang bermacam-macam, punya kemampuan berpikir, tapi apabila tidak ada cahaya, semua itu tidak bisa membantu kita. Perlu cahaya. Cahaya ini adalah Al-Qur’an. (وَ الشّفَاءُ النَّافِعُ); Dan kesembuhan yang bermanfaat. [1] Kita sakit, kita berpenyakit. Lihatlah keterbelakangan negara-negara Islam; perhatikanlah hegemoni Kuffar atas kebanyakan negara-negara Islam; bahwa Presiden AS dengan lancangnya berdiri di sana dan mengatakan seandainya tidak ada kita (AS) maka sebagian negara-negara Arab ini tidak mungkin bisa menjaga diri mereka sendiri walau hanya sepekan. Ini penistaan terhadap Muslimin; ini karena ada penyakit, tidak ada penyakit yang lebih tinggi dan lebih buruk daripada kenistaan.

Ini kenistaan. Ini karena tidak berpegang-teguh kepada Al-Qur’an. Karena kita kehilangan kesembuhan ini, kehilangan pengobatan ini.

(عِصمَةٌ لِمَن تَمَسَّکَ بِهِ وَ نَجَاةُ لِمَن تَبِعَهُ); keterpeliharaan bagi siapa saja yang berpegang-teguh kepadanya, dan keselamatan bagi siapa pun yang mengikutinya. [2] Ini fakta. Inilah Al-Qur’an. Kita sekarang butuh kepada Al-Qur’an. Baik di dalam kehidupan pribadi kita butuh Al-Qur’an, maupun di dalam kehidupan sosial, di dalam politik, di dalam perilaku pemerintahan kita. Al-Qur’an memberikan pelajaran kepada kita. [Seperti] ayat-ayat yang dibacakan tadi di sini:

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

(Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, pengasih-sayang di antara mereka, kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia dari Allah dan keridaan, tanda mereka –tampak- di wajah mereka berupa bekas sujud.(QS. Al-Fath [48]: 29)

Inilah ciri-ciri orang mukmin. Al-Qur’an mengatakan kalian harus seperti ini. Yang pertama adalah (أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ); keras terhadap orang-orang kafir. Tidak seperti tumpukan tanah yang lunak dan bisa disusupi, [melainkan] seperti bendungan kokoh berdiri melawan orang-orang kafir. Muslimin harus berdiri melawan arogansi; Muslimin harus berdiri melawan tirani AS dan zalim-zalim dunia yang lain; apabila mereka menjaga hal ini, apabila mereka memperhatikan batas-batas ini, niscaya mereka tidak akan nista, tidak akan menderita kerusakan, tidak akan mengalami keterbelakangan yang mana sekarang sayang sekali hal itu terjadi.

Di ayat-ayat terakhir Surat Berkah Al-Anfal, di dalam pembahasan tentang wilayah orang-orang mukmin satu dengan yang lain, Allah Swt berfirman:

أُوْلَٰٓئِكَ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ

(Mereka itulah sebagiannya wali sebagian –yang lain-. (QS. Al-Anfal [8]: 72). Ini berkenaan dengan orang-orang mukmin. Mengenai orang-orang kafir pun di ayat selanjutnya Allah Swt berfirman mereka (بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ); baik orang-orang kafir adalah wali satu sama yang lain dan di antara mereka terdapat ikatan wilayah, maupun orang-orang kafir satu sama yang lain punya ikatan wilayah. Karena itu, ini merupakan taklif (kewajiban) –yang disampaikan- dengan bahasa pemberitaan, pada faktanya merupakan perintah. Artinya, orang mukmin dengan orang mukmin yang lain harus punya ikatan wilayah, di dunia Islam mana pun dia berada. Inilah persatuan yang kami katakan. Sebaliknya, di kubu lawan, ketika dia melihat orang-orang kafir maka jangan sampai punya ikatan dengan mereka, jangan sampai berwilayah dengan mereka. Keberwilayahan dengan orang-orang kafir membuat celaka orang-orang muslim. Seperti keberwilayahan yang sekarang kalian saksikan dan sebagian negara sedang berprinsip untuk saling tukar menukar kata-kata indah dan menjalin berbagai hubungan politik, ekonomi dan lain-lain dengan rezim zionis.

Setelah itu, Allah Swt berfirman:

إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٞ كَبِيرٞ

(Artinya: “Jika tidak kalian lakukan itu, niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 73).

Sekiranya wilayah di antara orang-orang mukmin dan pemutusan wilayah antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir tidak dijaga di muka bumi, sudah pasti akan terjadi fitnah dan kerusakan besar. Sekarang hal ini terjadi. Sekarang di kawasan Islam kita terjadi perang, terjadi pertumpahan darah, terjadi banyak tekanan; pemerintah-pemerintah yang tak berakal dan terbelakang beberapa negara memerangi negara-negara yang lain, mereka terjerumus dalam kejahatan. Lihatlah, sekarang rakyat Yaman sedang mengalami bencana apa! Pengantin mereka berduka; mereka membombardirnya, mereka membinasakan orang-orang di gang, pasar, masjid, dan lain sebagainya. Di Afganistan dengan cara lain, di Pakistan dengan cara lain, di Suriah dengan cara lain. Hal ini karena kita Muslimin telah melupakan wilayah di antara orang-orang beriman! Dengan kata lain, kita tidak mengamalkan Al-Qur’an. Ini tindakan tidak sesuai Al-Qur’an. Seandainya kita mengamalkan Al-Qur’an, pasti kita terhormat. Inilah jalan yang membahagiakan orang-orang Islam.

Kita di Republik Islam hampir empat puluh tahun berhasil bertahan melawan tirani arogansi dan kita tetap maju. Dengan kebutaan mata mereka yang ingin menghancurkan Republik Islam, kita malah lebih mengakar, kemampuan kita semakin bertambah, kekuasaan kita terus berlimpah, dan kita terus maju. Dengan kebutaan mata musuh! Pembacaan Al-Qur’an, tilawat Al-Qur’an, lantunan Al-Qur’an, tajwid Al-Qur’an dan lain sebagainya ini, semuanya adalah pengantar. Hafalan Al-Qur’an adalah pengantar. Pembacaan Al-Qur’an di acara-acara adalah pengantar; pengantar pemahaman. Dan pemahaman adalah pengantar pengamalan. Kalian pemuda-pemudi –kalian mayoritas muda-, hadapilah Al-Qur’an dengan mata ini, dengan perasaan ini, bahwa kalian harus mempelajari makrifat-makrifat Al-Qur’an untuk hidup kalian –baik kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial dan kehidupan pemerintahan kalian- dan merealisasikannya pada kancah amal. Kalian seyogianya berkomitmen untuk ini.

Sekiranya kalian menghadapi Al-Qur’an dengan pandangan ini, dengan perasaan ini, maka esok (masa depan) Dunia Islam berapa kali lipat akan lebih baik daripada hari ini. AS tidak akan lagi berani berlagak mengatur dan mengancam negara-negara Islam serta umat Islam. Sekiranya kita bersandar kepada Al-Qur’an, belajar dari Al-Qur’an, dan berpegang-teguh kepada Al-Qur’an, maka ini merupakan pegang-teguh kepada tali Allah Swt, dan pegang-teguh kepada tali Allah membuat manusia mampu bertahan secara kokoh. Ketika kalian melintasi sebuah jalur, dan ada pegangan yang kalian paut erat, maka tidak akan ada lagi bahaya jatuh. Inilah tali Allah Swt. Apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka hilanglah bahaya jatuh.

Mudah-mudahan insyaallah semakin hari Dunia Islam semakin dekat dengan ini.

Saya sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada panitia penyelenggara perkumpulan ini dan para hadirin serta para tamu undangan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

[1] Wasail Al-Syi’ah, jld. 6, hal. 191.
[2] Tafsir Mansub beh Emom Hasan Askari as, hal. 13.

(WF)

Hits: 22

Berita, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat