Tujuan Gerakan Manusia 250 Tahun (1)

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, sebagaimana dimuat di dalam buku kumpulan pidato beliau tentang kehidupan politik dan perjuangan para Imam Suci as yang berjudul Ensone 250 Soleh (Manusia 250 Tahun), memberi ulasan singkat mengenai Imam Mahdi af sebagai berikut:

Pasal Ketujuh Belas

Tujuan Gerakan Manusia 250 Tahun

Asas Kemahdian adalah sesuatu yang diterima oleh seluruh Muslimin. Agama-agama lain pun, di dalam kepercayaan mereka, menanti penyelamat di akhir zaman. Mereka pun, pada sebagian persoalan, memahaminya secara benar. Namun, pada bagian utama persoalan, yaitu makrifat tentang pribadi penyelamat, mereka menderita cacat makrifat. Syiah, dengan riwayat yang pasti dan tak tertolakkan, mengenal penyelamat dengan nama, tanda, ciri, dan tanggal lahirnya. (20/9/2005).

Keistimewaan akidah kita orang-orang Syiah adalah mengubah hakikat di dalam mazhab Syiah ini dari bentuk sebuah harapan, dari bentuk sebuah pikiran murni, menjadi sebuah kenyataan yang ada. Pada hakikatnya, orang-orang Syiah ketika menanti Mahdi Yang Dijanjikan, mereka sedang menanti tangan penyelamat itu dan tidak hanyut di alam pikiran; mereka mencari sebuah kenyataan yang betul-betul ada. Hujjat Allah Swt hidup di tengah masyarakat; beliau ada; beliau hidup bersama masyarakat; beliau melihat masyarakat; bersama mereka; merasakan derita dan kepedihan mereka. Orang-orang pun, yang beruntung, yang berkapasitas, pada kondisi-kondisi tertentu mengunjungi beliau secara tak dikenal. Beliau ada. Seorang manusia yang nyata, personal, dengan nama tertentu, dengan bapak dan ibu yang jelas, dan berada di tengah masyarakat serta hidup bersama mereka. Ini keistimewaan akidah kita orang-orang Syiah.

Mereka dari mazhab-mazhab lain yang menerima akidah ini pun tidak pernah mampu mengajukan bukti yang dapat diterima akal untuk menolak pikiran dan kenyataan ini. Seluruh bukti gamblang dan kokoh, yang diakui juga oleh kebanyakan Ahlussunnah, secara pasti dan yakin mensinyalir keberadaan manusia yang mulia ini, Hujjat Allah Swt ini, hakikat terang dan benderang ini –dengan ciri-ciri yang saya dan Anda mengenalnya-, dan kalian juga menyaksikan hal ini di berbagai referensi selain Syiah.

Putra diberkati dan suci Imam Hasan Askari as, tanggal lahirnya jelas, penghubung-penghubungnya jelas, mukjizat-mukjizatnya jelas, dan Allah Swt telah dan sedang memanjangkan umur beliau. Inilah ejawantah dari harapan besar seluruh bangsa dunia, seluruh suku, seluruh agama, seluruh ras, di semua periode. Inilah keistimewaan Mazhab Syiah tentang persoalan yang penting ini. (17/8/2008).

Ada berapa hal mengenai keyakinan Kemahdian yang akan saya paparkan secara global. Hal pertama bahwa keberadaan suci Hadirat Baqiyatullah –arwahuna fidahu- adalah kesinambungan gerakan kenabian dan dakwah Ilahi dari awal sejarah sampai sekarang. Artinya, sebagaimana kalian baca di dalam Doa Nudbah, mulai dari (فَبَعضٌ اَسکَنتَهُ جَنَّتَکَ) yang maksudnya adalah Nabi Adam as, sampai dengan (اِلَی اَن اِنتَهَيتَ بِالأَمرِ) yaitu sampai kepada Khatamul Anbiya Muhammad Saw; dan setelah itu masalah Kewasian serta Ahli Bait beliau, sampai dengan Imam Zaman af, semuanya, merupakan silsilah yang bersambung dan berhubungan satu dengan yang lain di dalam sejarah manusia. Ini berarti, gerakan agung kenabian tersebut, dakwah Ilahi oleh para nabi itu, tidak pernah berhenti pada titik tertentu. Manusia selalu butuh kepada nabi dan dakwah Ilahi serta para dai Ilahi, dan kebutuhan ini sampai sekarang tetap ada, zaman semakin berlalu maka manusia semakin dekat dengan ajaran para nabi.

Sekarang umat manusia dengan kemajuan pikiran dan peradaban serta makrifat, telah memahami banyak sekali dari ajaran para nabi –yang puluhan abad lalu belum bisa dicerna oleh mereka-. Masalah keadilan, masalah kebebasan, masalah kemuliaan manusia, dan kata-kata yang sekarang populer di dunia ini, adalah kata-kata para nabi. Dulu kala, masyarakat pada umumnya dan opini publik mereka tidak memahami konsep-konsep ini. Kedatangan para nabi yang berturut-turut dan penyebaran dakwah mereka, telah menanamkan pikiran-pikiran ini di benak masyarakat, di fitrah mereka, di hati mereka, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Para dai Ilahi itu, sampai sekarang silsilahnya tidak terputus, dan keberadaan suci Baqiyatullah Al-A’dzam –arwahuna fidahu- adalah kelanjutan silsilah para dai Ilahi, sebagaimana kalian baca di dalam Ziarah Alu Yasin: (اَلسَّلَامُ عَلَيکَ يَا دَاعِيَ اللهِ وَ رَبَّانِيَّ آيَاتِهِ) (Salam atasmu wahai dai Allah dan pengetahu agung ayat-ayat-Nya). Artinya kalian sekarang juga melihat dakwah Nabi Ibrahim as, dakwah Nabi Musa as, dakwah Nabi Isa as, dakwah seluruh nabi dan muslih Ilahi, serta dakwah Khatamul Anbiya Muhammad Saw itu sendiri termanifestasi di dalam keberadaan Hadirat Baqiyatullah af. Manusia mulia ini pewaris mereka semua, memegang dakwah dan panji mereka semua, serta mengajak kepada ajaran-ajaran yang sepanjang zaman dibawakan oleh para nabi dan dipaparkan kepada umat manusia. Ini poin penting.

Hal berikutnya tentang Kemahdian adalah penantian faraj (kelapangan). Penantian faraj adalah pengertian yang sangat luas. Satu penantian, penantian faraj final; artinya bahwa umat manusia melihat para tagut dunia sedang menjarah, merampok, dan melanggar hak-hak manusia tanpa kendali jangan dikira memang demikian nasib dunia. Jangan dikira bahwa pada akhirnya tidak akan ada jalan keluar dan mau tidak mau harus tunduk terhadap kondisi ini; tidak, manusia harus sadar bahwa kondisi ini adalah kondisi sementara – (لّلبَاطِلِ جَولَةٌ)*; kebatilan ada gilirannya yang akan segera berlalu.-, adapun sesuatu yang berhubungan dengan alam dan merupakan tabiat alam ini adalah tegaknya pemerintahan keadilan; dan beliau akan segera datang. Penantian faraj dan kelapangan, di penghujung periode kita berada dan umat manusia sedang mengalami berbagai kezaliman serta gangguan, adalah salah satu dari makna penantian faraj. Namun, penantian faraj juga punya makna-makna yang lain.

Ketika dikatakan kepada kita jadilah penanti faraj, maksudnya bukan hanya jadilah penanti faraj final, melainkan artinya adalah setiap jalan buntu pasti bisa dibuka. Inilah arti faraj. Faraj yakni kelapangan. Orang muslim, dengan pelajaran penantian faraj, belajar bahwa di dalam kehidupan manusia sama sekali tidak ada jalan buntu yang tidak bisa dibuka dan merupakan keniscayaan bagi dia untuk putus asa meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain seraya duduk mengatakan “tidak bisa diapa-apakan lagi”; Tidak, ketika di akhir kehidupan manusia, mentari faraj akan muncul menghadapi seluruh gerakan tirani dan kezaliman, berarti di dalam jalan buntu-jalan buntu yang berlaku pada kehidupan juga faraj masih merupakan ekspektasi dan dinantikan. Ini, pelajaran harapan bagi seluruh manusia. Ini, pelajaran penantian yang sejati bagi semua orang.

Karena itulah penantian faraj dipandang sebagai amalan paling utama. Dari sini juga dapat diketahui bahwa penantian adalah sebuah keberamalan, bukan ketidakberamalan. Jangan keliru, dikira bahwa penantian berarti kita letakkan satu tangan di atas tangan yang lain sambil menanti terjadi sesuatu. Penantian adalah sebuah aksi, sebuah persiapan, sebuah peningkatan motivasi di dalam hati, sebuah kegiatan dan gerakan serta dinamika di semua bidang. Ini, sejatinya merupakan tafsir ayat-ayat mulia Al-Qur’an sebagai berikut:

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَنَجۡعَلَهُمۡ أَئِمَّةٗ وَنَجۡعَلَهُمُ ٱلۡوَٰرِثِينَ

(Artinya: “Dan Kami hendak mengaruniai atas orang-orang yang tertindas di bumi dan menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka pewaris.” (QS. Al-Qashash [28]: 5).

إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ

(Artinya: “Sesungguhnya bumi milik Allah, [Dia] mewariskannya kepada siapa saja yang [Dia] kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan [adalah] bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf [7]: 128).

Itu berarti, bangsa-bangsa dan umat-umat jangan pernah putus asa dari kelapangan.

Ketika bangsa [contoh] Iran bangkit, mereka menemukan harapan sehingga mereka bangkit. Sekarang dimana harapan itu tercapai, dari kebangkitan itu, mereka mendapatkan hasil besar dan sekarang juga mereka berharap akan masa depan serta bergerak dengan harapan dan semangat. Cahaya harapan inilah yang mendorong anak-anak muda pada semangat, gerak, dan giat, mencegah mereka dari kematian hati dan depresi, serta menghidupkan ruh dinamis di tengah masyarakat. Ini hasil penantian faraj.

Karena itu, harus jadi penanti faraj final, sekaligus menjadi penanti faraj di seluruh tahap kehidupan individual dan sosial. Jangan biarkan putus asa mendominasi hati kalian, punyalah penantian faraj dan percayalah bahwa faraj ini pasti akan terjadi; dengan syarat penantian kalian adalah penantian sejati, aksi, usaha, motivasi, dan gerak. (20/9/2005). (WF)

* Tashnif Ghuror al-Hikam wa Duror al-Kalim, hal. 71.

Hits: 91

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat