Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Panitia Konferensi Nasional Hakim Tehran

Berita dan pidato Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan anggota dewan pendiri dan dewan direksi Majelis Tinggi Hikmah Islami serta panitia penyelenggaraan Konferensi Nasional Hakim Tehran Bapak Ali Mudarris Zanuzi yang berlangsung pada hari Minggu (22/4/18) baru pagi ini dirilis di tempat penyelenggaraan konferensi.

Pidato lengkap beliau sebagai berikut:

بسم الله الرّحمن الرّحيم
و الحمدلله‌ ربّ العالمين و الصّلاة و السّلام علىٰ سيدنا محمّد و آله الطّاهرين سيما بقيةالله فى الارضين

Selamat datang bapak-bapak yang terhormat, tokoh-tokoh, dan ulama tercinta bidang ilmu-ilmu rasional. Terimakasih kepada Bapak Fayadhi yang betul-betul diberkati dan berhasil membentuk himpunan ini di kota Qom sebagaimana rincian yang telah disampaikan bapak-bapak. Ini sangat berharga. Untung sekali di era Republik Islam, ilmu-ilmu rasional berkembang. baik. Sebelum Revolusi [Islam], tidak ada cerita tentang hal ini. Zaman kita dulu, sebagai contoh anggap saja pelajaran Bapak Thaba’thabai hanya hadiri oleh sekelompok orang yang terbatas sekali, sekitar empat puluh sampai lima puluh orang. Tapi sekarang, contohnya ada Bapak Jawadi yang bertahun-tahun aktif di bidang ini, Bapak Misbah, Bapak Subhani dan organisasinya di bidang isu-isu teologi, serta kuliah-kuliah filsafat di Qom yang saya dengar, semua ini memberikan berita gembira akan adanya latar penyebaran dan peningkatan ilmu-ilmu rasional.

Hal yang dilakukan oleh Bapak Fayadhi sendiri dan disampaikan oleh bapak-bapak bahwa ada pandangan baru, keterangan baru, atau burhan baru untuk sebuah hal yang terbukti sebelumnya –sebagai contoh-, atau penolakan baru terhadap pandangan yang keliru, dipaparkan dan dibahas, ini sangat berharga. Sangat bagus. Semua ini memajukan ilmu-ilmu rasional. Di antara ciri khas Almarhum Bapak Ali Mudarris adalah beliau kritikus Mulla Shadra, artinya sampai batas itu, beliau telah membawa maju filsafat sampai punya pandangan-pandangan dalam mengkritisi Mulla Shadra. Hal ini harus dilakukan. Maksud saya bukan kritik terhadap Mulla Shadra. Maksud saya adalah kajian kritis dan pembahasan tentang pandangan baru atau yang biasa diistilahkan dengan inovasi dalam ilmu-ilmu rasional adalah persoalan yang sangat penting. Adakalanya sebuah aliran atau sebuah pikiran punya beragam penafsiran. Sebagaimana sekarang orang-orang Barat aktif dalam hal ini. – Karena Barat betul-betul tidak bisa dibandingkan dengan kita dalam hal media dan hubungan masyarakat, mereka sangat lebih kuat dan lebih maju daripada kita dari sisi ini. Ambil sebuah contoh tentang Hegel, ada banyak penafsiran tentang kata-kata dia, buku-buku dan teks-teks tulisan dia- artinya, mereka menjelaskan interpretasi yang berbeda-beda; hal ini sendiri membantu kemajuan pemikiran, logika, dan rasionalitas di bidang ilmu-ilmu akliyah. Karena itu, ini hal yang bagus, dan saya berharap insyaallah himpunan yang dipimpin oleh Bapak Fayadhi, Bapak Jawadi, Bapak Mishbah, dan Bapak Subhani juga –sebagaimana dilaporkan tadi- melakukan pengawasan dan pengarahan, hendaknya mereka memajukannya sekuat mungkin. Ini pekerjaan yang penting dan harus dilakukan.

Adapun mengenai peringatan-peringatan, ini juga pekerjaan yang penting. Peringatan sosok seperti Bapak Ali Mudarris jangan kita pandang sebagai pengenalan terhadap orang besar; tidak, ini pengenalan terhadap sebuah arus pemikiran, pemaparan sebuah pemikiran dan pemikir besar. Bapak-bapak menulis [judul konferensi] dengan Mudarris Tehran, Hakim Tehran; iya memang, beliau di Tehran, dan beliau memang hakim Tehran. Namun, hakim Tehran bukan hanya Almarhum Bapak Ali Mudarris. Saya sekarang, sebagaimana kalian tadi sampaikan, tertingat dengan nama para hakim di Tehran pada seratus tahun terakhir; mulai dari Mirza Abul Hasan Jelweh, sampai dengan Bapak Muhammad Reza Qomsyehi di bidang irfan, sampai dengan Almarhum Heidaji, sampai dengan Almarhum Mirza Abdullah Zanuzi. Mirza Abdullah Zanuzi bapaknya, dan Bapak Ali Mudarris adalah murid bapak beliau. Kedua murid Mulla Ali di Isfahan. Almarhum Mulla Ali Nuri juga salah satu tokoh –istilahnya- midhmar (kancah) dan medan ini. Artinya, mereka adalah orang-orang yang menghidupkan filsafat Mulla Shadra. Filsafat Mulla Shadra setelah berapa waktu diserang habis-habisan dan sempat redup; kemudian muncul orang-orang di Isfahan [yang menghidupkannya kembali], dan mereka semua di Isfahan. Tapi mayoritas mereka bukan orang asli Isfahan. Seperti beliau kan bukan orang Isfahan. Seperti kebanyakan bapak-bapak dan tokoh-tokoh yang namanya tersebut. Mereka juga bukan orang asli Isfahan. Tapi, pusatnya adalah Isfahan. Ini menunjukkan bahwa Isfahan adalah pusat ilmu-ilmu rasional. Lalu, bapak dan anak ini –Almarhum Mirza Abdullah Zanuzi dan Almarhum Bapak Ali Hakim- berpindah ke Tehran dan sejak itu, Tehran menjadi pusat ilmu-ilmu akliyah. Ala kulli hal, mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat besar; sampai dengan akhir-akhir ini seperti Almarhum Amirza Mahdi Asytiyani, Amirza Ahmad Asytiyani, dan Almarhum Syahabadi. Amirza Mahdi sangat terkenal. Tapi Amirza Ahmad Asytiyani tidak terkenal sebagai seorang hakim. Padahal, beliau adalah seorang filsuf besar betul-betul seorang hakim. Begitu pula Almarhum Asyaikh Muhammad Taqi Amuli yang punya buku keterangan atas kitab Mandzumah. Sebagaimana kalian lihat, beliau adalah seorang hakim. Tentunya beliau seorang fakih. Seorang fakih besar. Setingkat marjik taklid. Tapi, beliau seorang hakim. Yakni punya spesialisasi di bidang ilmu-ilmu rasional. Menurut saya, mereka ini satu persatu harus dikeluarkan dari pojok isolasi dan kesendirian tak bernama serta memunculkannya. Mereka punya pandangan. Mereka punya keterangan.

Baik, sekarang –contohnya- kalian mencetak buku Bada’i’ al-Hikam karya Almarhum Bapak Ali Hakim. Baik. Harus ada orang yang duduk membaca buku ini secara terperinci sampai mengerti apa yang dikatakan oleh Bapak Ali. Berapa orang yang siap membaca buku ini? Berapa orang kalian punya yang mampu melakukan hal ini? Ini butuh pekerjaan yang telah saya katakan tetnang Almarhum Mulla Shadra. Dan bukan pekerjaan yang kecil. Tidak ada salahnya sekelompok orang duduk bersama satu tim untuk menggali intisari filsafat Bapak Ali Hakim dan pada dasarnya menyampaikan apa yang beliau katakan, apa pandangan beliau, apa hal yang beliau titik beratkan. Sewaktu saat, Yang Terhormat Bapak Jawadi membawakan sebuah buku karya Bapak Ali –seingat saya sebuah buku atau salah satu dari risalah (tesis) beliau- dan menunjukkannya kepada saya bahwa “beliau di sini menjawab persoalan ini demikian”; sekarang, saya tidak ingat persis, tapi saya tahu bahwa itu pendapat yang penting. Baik. Hal-hal ini harus digali, dieksplorasi dari dalam buku-buku atau risalah-risalah beliau. Beliau sepertinya punya risalah tentang “wujud hubungan”; Bapak Ali Hakim punya berbagai risalah. Perlu ada orang-orang yang duduk menyusun risalah-risalah ini, sehingga tiba-tiba Tehran –yang kalian sebut sebagai pusat hikmah pada sebuah periode terdahulu- merasakan bahwa beliau punya pandangan filosofi yang dalam dan kuat pada waktu –contohnya- seratus sekian tahun yang lalu sebelum beliau wafat –sepertinya sekitar tahun 1307 beliau wafat-, ketika itu beliau sudah mengutarakan pikiran ini di Tehran. Artinya, karya-karya beliau perlu diringkas, aliran dan pendapat serta dasar pemikiran beliau dijelaskan. Begitu pula halnya dengan tokoh-tokoh lain seperti Almarhum Amirza Abul Hasan Jelweh –ridhwanulloh alaih-; beliau punya banyak catatan pinggi tentang Asfar. Tulisan tangannya juga sangat indah. Dilaporkan bahwa berbagai naskah Asfar yang beliau ajarkan, masing-masing dari naskah yang ada di tangan beliau, di semua bagiannya beliau menuliskan catatan pinggir. Salah satu dari naskah Asfar –dengan catatan-catatan pinggir tulisan tangan Almarhum Mirza Abul Hasan Jelwe atau Haji Mirza Abul Hasan Jelweh; saya tidak tahu apakah beliau pernah berangkat haji ke Mekkah atau belum- jatuh ke tangan saya dan saya hadiahkan ke perpustakaan yayasan Bapak Misbah yang tentunya sekarang ada di sana. Baik. Beliau punya pandangan. Kalian tahu bahwa Mirza Abul Hasan Jelweh termasuk pengkritik Mulla Shadra. Yakni termasuk orang-orang yang punya pandangan tentang dasar-dasar pemikiran Mulla Shadra, punya argumentasi, seperti Bapak Ali sendiri; beliau juga demikian. Baik, kita perlu tahu apa pandangan-pandangan beliau; perlu ada orang yang menggali pandangan-pandangan itu, mengeksplorasinya, dan mengutarakannya. Menurut saya, semua ini pekerjaan sangat penting yang masih belum digarap. Kita lambat terpikir hal ini, dan semua ini harus kita lakukan.

Ala kulli hal, mengajak anak-anak muda kita kepada ilmu-ilmu akliyah adalah pekerjaan yang sangat penting. Konsentrasi hauzah-hauzah ilmiah terhadap ilmu-ilmu rasional dan khususnya filsafat, adalah sesuatu yang sangat penting. Sebagian bapak-bapak mulia dan terhormat yang memang patut kita muliakan dan hormati mengkritik bahwa pelajaran-pelajaran filsafat, irfan dan pandangan-pandangan semacamnya jadi banyak di Qom. Saya katakan kepada mereka bahwa apabila kalian cabut filsafat dari Qom, maka orang-orang lain di tempat lain akan memegang kendali penjelasan dan pengajaran filsafat padahal mereka tidak punya kelayakan untuk itu. Sebagaimana kita saksikan sekarang, sebagian orang di luar Qom dikenal dan mengorbit sebagai filsuf padahal pengetahuan dia tentang filsafat dangkal; bukan berarti mereka tidak punya pengetahuan, tapi pengetahuan mereka tidak dalam, dangkal. Belajar sedikit dan mengucapkan istilah tertentu. Ini tidak bagus. Bagusnya adalah ada orang-orang di Qom itu sendiri, di hauzah ilmiah. Tehran juga demikian; hauzah ilmiah Tehran pun yang dulu pernah menjadi pusat ilmu-ilmu rasional, sekarang apabila pelajaran filsafat dan ilmu-ilmu akliyah populer di sana, menurut saya ini sesuatu yang sangat bagus dan akan sangat berguna insyaallah.

Saya di sini tidak menyebut nama Mirza Hasyim Asykuwari, atau Almarhum Asayid Kadzim Ashar; tentunya, mereka yang sebagiannya mengajar di universitas, sebagian lagi mengajar di luar negeri, mereka mutakhir dan tergolong sebagai murid-murid mereka. Sedangkan orang-orang yang namanya saya sebutkan adalah sebelum generasi ini. Di mana saja aliran Tehran disebut, orang-orang itulah yang dimaksud, yakni tokoh-tokoh bapak dan anak. Pun demikian, kalian sama sekali tidak menyebut nama Almarhum Mirza Abdullah Zanuzi dan tidak perhatian; beliau sudah barang tentu punya karya-karya, dan karya-karya beliau juga perlu dipaparkan. Karena Bapak Ali termasuk murid beliau. Bapak-bapak inilah yang terkenal dalam aliran Tehran.

Ala kulli hal, saya ucapkan terimakasih kepada bapak-bapak, atas jerih payah kalian dan pekerjaan yang kalian mulai ini. Ini merupakan pengenalan terhadap tokoh-tokoh filsafat. Insyaallah Allah Swt memberkati keberadaan kalian, dan bapak-bapak guru besar filsafat di Qom –yang Alhamdulillah ketika orang melihat betapa banyak berkah keberadaan mereka- insyaallah Allah Swt memberi taufik kepada mereka, menjaga mereka, dan melestarikan berkah mereka. Begitu pula dengan kalian, bapak-bapak yang memikul tanggungjawab atas pekerjaan-pekerjaan ini, insyaallah kaliai diliputi taufik Ilahi, dukungan Ilahi, dan hidayah Ilahi. Insyallah kalian sukses.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

(WF)

Hits: 30

Berita, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat