Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Kafilah Tapak Tilas Cahaya

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Sabtu (10/3/18) pagi, berpidato dalam pertemuan dengan para pelajar dan mahasiswa yang ikut Kafilah Tapak Tilas Cahaya.

Berikut pidato lengkap beliau:

بسم الله الرّحمن الرّحيم
الحمدلله ربّ العالمين و الصّلاة و السّلام علي سيدنا و نبينا ابي‌القاسم المصطفيٰ محمّد و علي آله الاطيبين الاطهرين المنتجبين سيما بقيةالله في الارضين

(Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Segala puja dan puji kehadirat Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam atas tuan dan nabi kita Abul Qasim Al-Musthafa Muhammad serta keluarganya yang paling bagus, paling suci, dan terpilih, terutama Baqiyatullah di muka bumi.)

Pemuda-pemudi tercinta, putra-putriku tercinta, orang-orang yang masa depan negara di tangan kalian! Selamat datang! Kalian betul-betul pemilik, pengatur, dan direktur masa depan negeri ini. Setiap pemahaman kalian, setiap keputusan kalian, setiap langkah kalian yang sekarang berpengaruh dalam membentuk kepribadian kalian berarti pengaruh terhadap masa depan negara. Ini poin yang sangat penting.

Mengenai “Tapak Tilas Cahaya”, Alhamdulillah gerakan sukses ini –yang berapa tahun telah berjalan di negeri ini dan semakin hari Alhamdulillah semakin berkembang- merupakan salah satu manifestasi peringatan atas masa Perang Pertahanan Suci. Masa Perang Pertahanan Suci sejatinya harus diperingati, dimuliakan, dan dijaga. Sebab, delapan tahun itu (Delapan tahun Perang Pertahanan Suci) menjamin kehormatan negara, identitas bangsa, keamanan yang ada, dan kemuliaan Bangsa Iran.

Sebisa mungkin telaahlah hal ini, telitilah, dan tindaklanjutilah. Pasti kalian akan sampai pada kesimpulan bahwa seandainya tidak ada 8 tahun Perang Pertahanan Suci dengan segenap ciri-cirinya di penggalan sejarah negara ini, maka sekarang negara kita dan bangsa ktia pasti tidak punya kemuliaan, keamanan, keselamatan, kemerdekaan dan kebebasan. Delapan tahun itu kelihatannya perang, tekanan, takut, dan kendala yang berlimpah, tapi batinnya adalah kenikmatan Ilahi; salah satu karunia tersembunyi Ilahi terhadap negeri dan bangsa ini.

Ini hal-hal yang kalian sendiri harus mencarinya, menelitinya, dan siapa pun yang melakukan penelitian secara benar dan sempurna mengenai hal ini pasti akan sampai pada kesimpulan itu. Baik. Masa ini harus senantiasa dijaga, diperingati, dan dimuliakan. Kekuatan yang dimiliki oleh bangsa dan negara kita sekarang adalah hasil dari Pertahanan Suci dan 8 Tahun Keemasan yang terjadi pada penggalan istimewa dari sejarah negara kita. Kita harus selalu menjaga lembaran bercahaya ini.

Sekarang ada berbagai motivasi dari pihak musuh bangsa ini untuk melupakan masa Pertahanan Suci. Mereka berusaha untuk ini. Entah itu untuk melupakannya, mempertanyakannya, atau mencitrakannya secara buruk. Sekarang, penguasa-penguasa musuh Iran mengeluarkan dana untuk ini, untuk melupakan masa itu. Apa yang sedang kalian lakukan merupakan sebuah perjuangan massa yang agung di hadapan pekerjaan yang sedang dilakukan musuh. Sejarah dan masa Pertahanan Suci adalah tabungan yang harus digunakan untuk kemajuan negara, untuk perkembangan nasional, untuk persiapan di banyak medan yang dihadapi oleh setiap bangsa.

Baik. Banyak sekali pembicaraan tentang Pertahanan Suci. Ini perlu saya paparkan kepada kalian. Sampai saat ini, buku telah ditulis, kenangan telah dicatat, film telah dibuat, kebanyakannya juga bagus sekali dan sangat berharga. Namun, ada berbagai dimensi dalam Pertahanan Suci yang sampai saat ini belum terungkapkan. Sampai saat ini belum terealisasi. Sampai saat ini belum dikerjakan. Masih baru dan belum tersentuh. Saya sekarang akan mengisyaratkan secara singkat kepada kalian pemuda-pemudi tercinta dua bagian dari dimensi yang bermacam-macam itu:

Bagian pertama tentang faktor peperangan ini dan penyebab yang membuat Iran diserang. Bagian kedua adalah kualitas pertahanan Republik Islam dan bangsa Iran dalam peperangan yang dipaksakan kepadanya ini.

Saya telah katakan bahwa apabila kalian melihatnya secara keseluruhan, perang yang dipaksakan itu, pertahanan itu, kejatahan dan kebusukan dari pihak musuh itu, keberanian dan ketertindasan dari pihak Bangsa Iran itu, semuanya secara keseluruhan adalah karunia Ilahi. Namun demikian, pada akhirnya semua itu harus dianalisis, harus dikenali. Dua poin ini akan saya paparkan secara singkat untuk kalian pemuda-pemudi tercinta.

Poin pertama adalah apkah faktor yang menyebabkan terjadinya perang ini? Apa gerangan Bangsa Iran yang sama sekali tidak berurusan dengan tetangga-tetangga baratnya, dan tidak melampaui batasnya, tiba-tiba diserang dan serangan ini berlanjut sampai delapan tahun; apa sebabnya? Sebabnya adalah keagungan Revolusi [Islam], wibawa Revolusi [Islam].

Ketika Revolusi Islam terjadi, keagungan dan wibawa revolusi ini membuat musuh-musuh yang berkuasa di dunia jadi ketakutan. Ini fakta. Orang-orang yang menduduki tahta kekuasaan atas seluruh dunia, mengancam seluruh dunia, dan tidak takut kepada siapa pun; yakni para penguasa kapitalis Barat, pucuknya AS dan setelah itu Eropa –negara-negara Eropa betul-betul memandang diri mereka berada di puncak kekuasaan-, dan tentunya di sebelah sana juga Uni Soviet –yang nanti akan saya paparkan-; penguasa-penguasa yang melihat diri mereka berada di puncak kekuasaan ini, begitu terjadi Revolusi Islam di negeri ini, tahta kekuasaan mereka berguncang, dunia bagi mereka serasa gempa. Betul-betul mereka ketakutan. Mereka tidak bisa menganalisis secara benar apa sebenarnya fenomena yang terjadi di Iran ini.

Di dunia materialis, di dunia ateis, di dunia ketidakpedulian terhadap keutamaan, di dunia ketidakpedulian terhadap Islam secara khusus, di sebuah negara yang mana seluruh keinginan Barat diterapkan secara teliti oleh penguasa-penguasa negara itu, tiba-tiba muncul revolusi yang bertolak belakang dengan keinginan mereka dan bertentangan dengan tujuan-tujuan material, syahwat, dan keserakahan duniawi mereka. Revolusi berasaskan Islam, berasaskan agama, berasaskan keutamaan. Bagi mereka sama sekali tidak bisa dicerna kenyataan bahwa anak-anak muda turun ke medan tanpa senjata dan menghadapi senjata; baik mahasiswa turun, maupun anak-anak sekolah. Kalian tahu bahwa salah satu kancah penting perjuangan berdarah negeri ini adalah kehadiran anak-anak sekolah pada peristiwa 13 Aban; bukan mahasiswa, bukan pula orang dewasa atau sebagainya, melainkan anak-anak sekolah SMA bahkan sebagian dari mereka lebih kecil dari itu. Mulai dari anak sekolah sampai dengan orang-orang tua, berbagai lapisan masyarakat, di semua kota, di semua desa, seluruhnya turun ke medan. Ini sungguh mengherankan mereka; fenomena apakah ini yang sedang terjadi. Karena itu mereka ketakutan.

Baik. Semakin waktu berlalu, kebingunan mereka berubah menjadi ketakutan yang lebih besar. Artinya, semakin waktu berlalu, bukannya perasaan mereka jadi tenang melainkan kendala mereka, kekhawatiran mereka, dan kegelisahan mereka semakin bertambah. Kenapa? Karena mereka menyaksikan bahwa Revolusi [Islam] ini disambut oleh bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia, di negara-negara yang penguasanya bergantung kepada AS. Bangsa-bangsa di negara-negara itu berselogan pro Revolusi Islam.

Pada tahun 1358 dan 1359 Hs, awal Revolusi [Islam], hampir semua negara Islam berbicara dan bersyiar pro Revolusi Islam, untuk itu mereka berpidato dan menulis artikel. Fenomena ini membuat para penguasa itu sangat ketakutan. Mereka kehilangan Iran –yang sebelumnya berkuasa secara penuh di sana-. Mereka takut jangan-jangan pengaruh budaya Revolusi [Islam] terhadap bangsa-bangsa, penyebarannya di antara bangsa-bangsa Muslim, akan membuat mereka kehilangan negara-negara dan pemerintah-pemerintah Islam itu. Karenanya, berapa pun biayanya mereka ingin membinasakan Revolusi [Islam] ini. Dari sinilah perang rezim Baats Shaddam terhadap Iran bermula.

Shaddam adalah sosok yang mereka ketahui. Mereka kenal betul siapa dia. Mereka kenal tokoh-tokoh politik. Mereka melihat pada orang ini terdapat peluang untuk gerakan semena-mena, angkuh, dan zalim. Secara natural memang dia orang yang melanggar dan melampaui batas. Ketika Revolusi [Islam] terjadi, Shaddam belum jadi presiden Irak. Ketika itu presidennya orang lain bernama Ahmad Hasan Albakr. Namun, mereka atur sedemikian rupa sehingga Shaddam jadi presiden agar bisa mereka desak, rayu, dan provokasi untuk melakukan serangan militer ke Iran. Serangan militer ke Iran itu mula-mula mereka sebut dan gembar-gemborkan adalah karena mereka ingin memisahkan daerah-daerah kaya minyak dari Iran dan menyambungkannya ke Irak. Ini semua sekedar kata-kata. Persoalannya bukan daerah-daerah kaya minyak. Persoalan utamanya adalah pokok pemerintahan. Pokok Revolusi [Islam]. Mereka ingin menghancurkan Revolusi [Islam]. AS dan Eropa yang kuat –bukan negara-negara kelas dua dan tiga Eropa yang tidak penting, melainkan negara-negara utama Eropa; yaitu Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Negara-negara yang punya posisi dan kekuasaan di Eropa- serempak bahu membahu mendukung Shaddam dan sebisa mungkin membantunya, apa pun yang mereka bisa bantu mereka bantu!

Laskar-laskar rezim Shaddam di awal perang jumlahnya tidak banyak, fasilitas mereka juga biasa. Tapi dengan berlalunya waktu –semakin ke depan, enam bulan berlalu, setahun berlalu, dua tahun berlalu- semakin hari fasilitasnya bertambah. Baik. Perang membuat fasilitas perang berkurang. Kita contohnya, pada awal perang punya berapa tank, tapi kemudian sebagiannya hancur. Anggap saja kita dulu punya beberapa artileri, tapi kemudian sebagiannya rusak; mulanya kita punya amunisi, tapi kemudian habis. Tentu saja itu akan terpakai dalam perang. Perang membuat fasilitas jadi berkurang. Tapi, semakin perang ini berlanjut, fasilitas rezim Baats malah berlipat ganda. Siapa yang memberikan kepadanya? Prancis, Inggris, Jerman, AS. Uni Soviet yang anti AS pun dalam kasus ini bersama dengan AS. Itu pun karena alasan tertentu; karena Uni Soviet punya relatif banyak republik Muslim. Gerakan Islam, Revolusi Islam di Iran membuat republik-republik itu berpikir tentang identitas keislaman mereka. Pemerintah Uni Soviet tidak menerima hal itu. Maka dari itu dalam kasus ini –kasus perang melawan kita- mereka berada di sisi AS padahal musuh bebuyutan. Dengan demikian, AS, Uni Soviet, Nato –dimana anggotanya adalah Eropa, AS dan sebagainya- seluruh kekuatan yang berkuasa di dunia bahu membahu mendukung Shaddam melawan Republik Islam. Sama-sama ingin menghancurkan Republik Islam. Ini tujuannya. Tujuannya bukan menaklukkan Khuramsyahr, Qashre Syirin, atau lain sebagainya. Tujuan mereka adalah datang kemari. Sebagaimana sejak awal Shaddam mengatakan bahwa kita sekarang wawancara di sini, seminggu lagi kita akan wawancara di Tehran. Demikianlah mereka merencanakannya. Inilah faktor peperangan yang sebenarnya. Artinya, perang paksaan ini merupakan konspirasi besar internasional kekuasaan-kekuasaan dunia yang paling kuat terhadap Republik Islam yang baru saja muncul. Ini seperti halnya seluruh binatang buas ingin menyerang orang sendirian yang tidak bersenjata dan tidak punya pertahanan. Ini fakta yang sebenarnya terjadi.

Republik Islam ketika itu belum punya angkatan bersenjata yang teratur, belum punya badan intelijen yang disiplin dan teratur. Masih awal revolusi, segala sesuatunya masih berantakan. Satu-satunya yang dimiliki oleh Republik Islam ketika itu adalah bangsa yang beriman dan pemimpin yang hebat seperti Imam [Khumaini]. Ini satu-satunya yang dimiliki oleh bangsa. Negara Prancis ini, di tengah gejolak peperangan memberikan pesawat dan helikopternya yang paling canggih kepada Irak. Negara Jerman ini menyumbangkan bahan kimia dan beracunnya kepada rezim Shaddam agar dia bisa menggunakannya di medan perang.

Mereka yang sekarang menyerang kelompok tertentu, negara tertentu, dengan tuduhan menggunakan bahan kimia, secara resmi dan terang-terangan memberikan bahan kimia kepada Shaddam agar dia bisa membuat bom kimia, membuat senjata kimia, dan menggunakannya di medan perang. Dan kita sampai sekarang, setelah 30 tahun berlalu dari akhir perang itu –kira-kira 29 tahun dari akhir peperangan itu- masih punya orang dari kalangan para pejuang dan jumlahnya tidak sedikit yang menderita polusi kimia tersebut. Banyak sekali korban yang syahid di jalan ini.

Inggris membantu. AS juga membantu. Peta-peta perang dan satelit-satelit mereka membantu. Seluruh badan setanik dunia membantu setan celaka, sombong, angkuh, dan semena-mena ini –yakni Shaddam- untuk melawan Republik Islam, untuk mengobarkan peperangan, untuk melanjutkan pertempuran, dan memenangkan perang. Namun, semua jerih payah ini ibarat anak panah yang membentur batu, menabrak tanah. Meskipun semua ini mereka lakukan, delapan tahun mereka mati-matian untuk merampas sejengkal tanah dari Republik Islam, tapi mereka gagal. Selama delapan tahun, Bangsa Iran menang melawang seluruh kekuatan dunia ini.

Ini tentang poin pertama. Inilah faktor terjadinya perang.

Adapun kualitas perang dan bentuk pertahanan yang dilakukan oleh para pejuang kita di medan perang. Tidak ada satu pun dari kalian yang ingat masa perang –tentu saja kalian mengenal beberapa sosok, kalian baca buku-buku tentang mereka; dan saya wasiatkan kepada kalian untuk membaca buku-buku tentang sosok-sosok mulia, agung, abadi dan betul-betul luar biasa ini-. Bentuk pertahanan kita adalah bentuk pertahanan yang luar biasa. Disertai dengan tekad dan kehendak yang kuat. Di medan-medan perang, tekad dan kehendak kuat kita sangat terlihat. Disertai dengan iman. Yakni kepercayaan terhadap kebenaran diri dan kebatilan musuh. Ini sangat penting. Di sebuah medan, orang yang sedang berjuang apabila beriman; yakni meyakini kebenaran dirinya, meyakini kebenaran jalannya, maka itu akan sangat membantu dia untuk maju. Sekiranya iman ini adalah iman kepada Allah Swt, iman kepada gaib, maka tentu sungguh luar biasa. Inilah faktor yang membuat Muslimin meraih kemenangan demi kemenangan pada awal sejarah Islam. Pada zaman kita pun hal serupa terjadi. Ada tekad, ada iman, ada pengorbanan. Hasil keimanan itu adalah pengorbanan. Artinya, bagi mereka mempersembahkan nyawa bukan persoalan utama. Artinya, mereka betul-betul siap untuk mempersembahkan nyawa di jalan Allah Swt dan di jalan jihad fi sabilillah; pengorbanan. Kenangan-kenangan yang ditulis ini penuh dengan peristiwa pengorbanan yang sungguh merupakan pelajaran bagi kita semua. Saya pribadi setiap kali membaca salah satu dari buku itu –banyak buku yang sudah saya baca- betul-betul merasa kecil dalam diri saya di hadapan keagungan yang ada pada perbuatan dan pengorbanan ini.

Lalu inovasi. Salah satu ciri khas masa Perang Pertahanan Suci adalah mental inovasi dan pekerjaan-pekerjaan baru. Apabila kalian perhatikan niscaya kalian akan melihat fakta melewati tradisi yang biasa ada pada mayoritas tentara dunia, padahal mereka telah menjalani pengalaman dan latihan. Kalian akan melihat fakta penciptaan cara-cara baru dan penemuan jalan-jalan baru. Sejatinya memang demikian. Salah satu ciri khas penting pejuang-pejuang kita adalah inovasi. Di samping itu tawasul-tawasul maknawi. Medan-medan perang saat itu adalah tempat dimana ketika orang-orang biasa pergi ke sana maka betul-betul sedang memasuki wadi ketulusan dan cahaya irfan. Itu pun secara tidak mau tidak!

Inilah ciri-ciri para pejuang kita. Karena itu, peperangan ini sendiri pencetak manusia. Dengan kata lain, Perang Pertahanan Suci ini menyebabkan masing-masing dari anak muda biasa kita –entah itu anak sekolah, mahasiswa, pekerja, anak desa, buruh, petani, berpendidikan, atau buta huruf- yang memasuki medan ujian ini bergerak lebih maju dan berkembang, begitu pula naik lebih tinggi lagi di dalam kedudukan-kedudukan mulia kemanusiaan.

Sosok-sosok besar dan penting ini, orang-orang besar seperti Himmat dan Kharazi ini, kalian pikir seperti apa mereka? Syahid Himmat yang merupakan legenda sejati, atau Syahid Kharazi yang merupakan legenda ini, bukan pemuda-pemuda biasa. Peranglah yang mengubah mereka jadi sosok menonjol, besar, dan betul-betul lestari. Begitu pula [orang-orang besar] seperti Bakiri dan Burunsi. Awesta Abdulhusain tukang bangunan yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, di medan perang ketika berdiri dan berbicara di hadapan para pejuang lain –orang-orang yang pernah mendengar dia bicara pasti tahu- maka dia laksana seorang bijak, seperti orang alim dan bijaksana yang sedang berbicara dan memuaskan lawan bicaranya. Perang adalah pencetak manusia.

Perang Pertahanan Suci dengan ciri-ciri yang saya sebutkan tadi adalah mendidik orang-orang seperti ini. Citsaziyan adalah pemuda tujuh belas atau delapan belasan tahun yang ikut perang, dia berubah menjadi sosok abadi, bintang gemilang yang kata-katanya patut digunakan oleh saya, orang-orang seperti saya, kalian, dan semua orang. Dan kita menggunakannya. Ribuan pemuda seperti ini yang terbangun di medan perang.

Mereka punya kebijaksanaan dan tadbir. Keliru apabila kita mengira bahwa mereka datang dengan kepala menunduk dan menyerang musuh secara sembarangan. Sama sekali tidak demikian. Melainkan dengan tadbir, dengan akal dan bijaksana. Gerakan pemuda-pemuda kita di medan perang adalah gerakan sadar bijaksana dan disertai tadbir. Mereka betul-betul bijaksana dan bertadbir. Mereka berani. Mereka berkorban. Dan mereka beribadah. Di siang hari, mereka betul-betul singa yang meraung di medan perang. Dan di malam hari mereka sungguh-sungguh orang yang zuhud, beribadah, dan tunduk di hadapan Allah Swt. Mereka adalah singa siang dan abid malam. Demikianlah mereka.

Karena itu, Imam [Khumaini ra], di dalam salah satu keterangannya yang sangat dalam pasca kemenangan-kemenangan pertama, menyampaikan pesan [1] –pada tahun 1360 Hs, ketika terjadi kemenangan, kemenangan di Bustan yang sangat penting. Setelah berapa waktu mundur dan kalah silih berganti, penaklukan Bustan merupakan kemenangan yang besar. –Tentunya- ini makna kata-kata beliau, redaksi detilnya ada di dalam kitab-. Beliau mengatakan bahwa kemenangan dari semua kemenangan bukanlah penaklukan si fulan kota, kemenangan dari semua kemenangan adalah pendidikan dan penciptaan anak-anak muda seperti ini. Inilah kemenangan dari semua kemenangan. Faktanya memang demikian. Kemenangan dari semua kemenangan bagi sebuah negara adalah ketika pemuda-pemudinya bijaksana, bertadbir, beriman, bertakwa, ahli bermunajat dan menangis serta beribadah, ahli Muqawama di hadapan musuh, dan mempunyai bashirah sehingga dengan segala propaganda musuh serta kaki-tangan musuh di semua zaman dan sekarang mereka tetap tidak tertipu. Pemuda-pemuda seperti ini apabila terdapat di sebuah negara, maka negara itu akan terjaga.

Sebagaimana yang telah saya katakan, esok negara ini adalah kalian, masa depan negara ini adalah kalian. Apabila kalian membina dan mendidik diri dengan ciri-ciri ini, maka negara akan segera –bukan di masa depan yang masih jauh, melainkan di masa depan yang dekat- mencapai puncak kesempurnaan dari semua sisi. Baik dari sisi keilmuan, maupun dari sisi material, baik dari sisi politik, maupun dari sisi ekonomi. Beginilah anak muda.

Inilah identitas Perang Pertahanan Suci: Kedengkian musuh-musuh yang berkuasa di dunia membuat peperangan ini, sedangkan keagungan dan pengorbanan pemuda-pemudi kita menyelesaikan peperangan ini dengan keuntungan di pihak kita. Mereka itu(musuh) memulai peperangan ini dengan niat menghancurkan Revolusi Islam secara total, sedangkan mereka ini (pemuda-pemudi kita) terjun ke medan perang dengan semangat yang membuat Revolusi Islam semakin hari menjadi semakin kuat dan semakin mengakar. Sistem Republik Islam jadi lebih kuat. Inilah identitas Perang Pertahanan Suci. Identitas ini harus dijaga. Identitas ini harus dikawal. Pekerjaan kalian, gerakan para penapak tilas cahaya dari seluruh negeri, sekian juta orang yang terdiri dari orang tua dan anak muda setiap tahun bergerak dan pergi ke arah ini, sesungguhnya merupakan salah satu dari efek pengawalan terhadap masa cemerlang tersebut dan hakikat yang bercahaya ini. Yakni, hakikat Pertahanan Suci.

Baik. Empat puluh tahun berlalu dari kemenangan Revolusi [Islam]. Kalian berusia tidak lebih dari delapan belas, dua puluh, dan dua puluh lima tahun atau sekitar itu. Mereka (musuh) berharap dan ingin sekali ketika generasi ini –yakni generasi kalian- datang dan giliran kalian tiba, maka tidak ada lagi cerita tentang Islam dan Revolusi di negeri ini, sehingga AS, para penguasa dunia, dan para kapitalis zionis berkuasa atas politik negeri ini, atas identitas bangsa ini, dan atas segala sesuatu di negeri ini. Ini harapan mereka. Dengan niat inilah mereka menentang. Dengan niat inilah mereka menyulut peperangan. Dengan niat inilah mereka melanjutkan berbagai serangan lunak dan keras pasca peperangan sampai sekarang.

[Tapi] Apa hasilnya sekarang? Hasilnya sekarang adalah di antara generasi ini terdapat orang-orang yang potensi pertumbuhan dan perkembangannya lebih besar daripada generasi pertama, kekuatannya terhadap musuh keji dan musuh agresor yang melampaui batas adalah lebih besar. Dan tidak diragukan lagi bahwa apabila ketika itu pemuda-pemuda kita bisa menghantam mundur musuh, sekarang pemuda-pemuda kita berapa kali lipat lebih siap untuk memukul mundur musuh. Mereka membuat makar, mereka membuat skenario, tapi Islam dan Republik Islam serta kehendak Ilahi telah membatalkan skenario-skenario mereka, dan insyaallah semakin hari akan semakin banyak yang dibatalkan.

Pemuda-pemudi yang bagus! Siapkan diri kalian!

Saya wasiatkan berapa hal tentang Penapak Tilas Cahaya: Pertama-tama, hendaknya semua badan pemerintahan membantu gerakan ini dalam kapasitasnya masing-masing, seluruh instansi negara yang bisa membantu gerakan ini harus membantu. Tentunya, sebagaimana telah disampaikan dalam laporan ini, memang sebagian badan pemerintahan membantu dengan baik sekali. Tapi menurut saya, pekerjaan ini harus diperhatikan oleh semua instansi negara.

Pesan berikutnya adalah hendaknya mereka sebisa mungkin menguatkan dimensi-dimensi kultural dan sosial Penapak Tilas Cahaya; hendaknya mereka melihat dengan sungguh-sungguh bagaimana caranya menjamin kedalaman kultural di dalam gerakan agung massa ini lalu menindaklanjutinya.

Pesan selanjutnya adalah berkenaan dengan para perawi; hendaknya orang-orang yang meriwayatkan peristiwa di daerah-daerah Penapak Tilas Cahaya untuk para musafir dan orang-orang yang datang ke sana sepenuhnya menjaga amanat dalam periwayatan. Saya menentang hal melebih-lebihkan dan semacamnya. Sama sekali tidak perlu kita untuk melebih-lebihkan. Apa yang telah terjadi sudah cukup mulia, penuh motivasi, dan sangat menarik. Tidak perlu kita menambah-nambahkan hal lain kepadanya. Kadang-kadang terdengar mereka melebih-lebihkan peran bantuan gaib dalam bentuknya yang awam. Tentu saja ada bantuan gaib. Kita menyaksikan hal itu. Kita tahu bahwa ada bantuan gaib. Namun, bukan bantuan gaib dalam bentuk awam yang terkadang digambarkan oleh sebagian orang. Allah Swt sudah pasti membantu. Allah Swt di Perang Badar memerintahkan para malaikat-Nya untuk pergi mendukung para pejihad di jalan Allah Swt, bantulah mereka! Allah Swt di mana saja melakukan hal ini terhadap orang-orang yang ikhlas. Pun demikian, di dalam menjelaskan hal-hal seperti ini, jangan sampai kita terjerumus pada sikap yang melebih-lebihkan.

Peristiwa-peristiwa menonjol masa Pertahanan Suci harus dimuat di dalam buku-buku pelajaran. Peristiwa-peristiwa menonjol yang pasti terjadi hendaknya dimuat di dalam buku-buku pelajaran agar anak-anak muda kita mengetahuinya. Iya, banyak buku yang ditulis, sebagian dari buku-buku itu tebal, terperinci, dan mungkin banyak yang tidak membacanya. Bisa diambil penggalan-penggalan dari buku itu dan secara proporsional dipindahkan ke buku pelajaran.

Keamanan para musafir tercinta ini juga merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan. Saudara-suadara yang bertanggungjawab hendaknya memperhatikan hal ini.

Ketahuilah bahwa dengan gerakan Tapak Tilas Cahaya ini, dengan motivasi-motivasi yang disaksikan orang di berbagai medan dari pemuda-pemudi negeri ini, musuh di hadapan Bangsa Iran sebagaimana selama empat puluh tahun ini tidak bisa berbuat apa-apa, setelah ini juga dengan taufik Ilahi mereka tidak akan bisa berbuat galat apa-apa. Iya, mereka mengganggu, mereka merongrong, masalah embargo, masalah ekonomi, dan macam-macam propaganda. Hal-hal seperti ini memang ada. Hal-hal seperti ini memang mengganggu bangsa, tapi tidak menghentikannya. Ketika ada kehendak yang kuat, ketika ada tekad yang serius untuk bergerak, untuk maju dan berkembang, ketika anak-anak muda mempunya bashirah yang diperlukan dan mengenal musuh di hadapan mereka, tidak keliru dalam mengenal musuh, dan tidak melemahkan tekad di dalam dirinya untuk melawan musuh, maka musuh tidak akan bisa bergerak apa-apa, musuh tidak akan bisa mencederai apa-apa, musuh tidak akan bisa menghentikan gerakan agung ini.

Mudah-mudahan dan insyaallah kalian, pemuda-pemudi tercinta di masa-masa akan datang yang mana kunci-kunci negeri ini berada di tangan kalian, dapat mengantarkan negeri ini ke puncak kemuliaan dan kekuatan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

[1] Shahifehye Emom, jld. 15, hal. 395.

(WF)

Hits: 40

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat