Pesan Praktis untuk Bulan Rajab dan Syakban

“Bulan Rajab dan Bulan Syakban adalah saat-saat seseorang bersiap diri untuk memasuki Bulan Ramadan yang merupakan Bulan Jamuan Ilahi. Bagaimana bersiap diri?

Mula-mula persiapan dengan konsentrasi dan kehadiran hati. Dengan itu orang sadar bahwa dirinya berada di hadirat Allah Swt. Artinya, dia sadar bahwa seluruh keadaan dirinya, gerak-geriknya, niat dan tujuannya, serta lintasan hatinya di hadirat Allah Swt. Ini yang paling penting dalam persiapan.” (25/2/1392 Hs)

Dengan mengamalkan panduan yang ada tentang dua bulan ini, dia juga dapat menambah persiapan diri untuk meraih keuntungan lebih besar dari Bulan Suci Ramadan.

Berikut ini sebagian pesan praktis Imam Ali Khamenei untuk dua bulan penuh keutamaan ini:

Pesan Praktis Bulan Rajab dan Bulan Syakban

dari Keterangan Imam Ali Khamenei

Bulan Rajab Di Bulan Rajab, perhatikanlah zikir, doa, dan tawasul.
Pelajarilah makrifat Ilahi dari doa-doa Bulan Rajab.
Gunakan semaksimal mungkin saat-saat Bulan Rajab untuk menarik perhatian Allah Swt.
Perbanyaklah semaksimal mungkin tawasul — kepada Maksumin as –.
Di Bulan Rajab, beristighfarlah selalu.
Anak-anak muda hendaknya lebih banyak mengamalkan sunnah hasanah Itikaf di Bulan Rajab.
Bulan Rajab lebih banyak bulan shalat.
Manfaatkan Bulan Rajab untuk menguatkan dimensi spiritual.
Bulan Syakban Kuatkan hubungan kalian dengan Allah Swt melalui doa dan zikir.
Bermunajatlah kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh dari hati yang paling dalam.
Akrabkan diri kalian dengan Doa Kumail dan Munajat Syakbaniah.

 

 

Pesan Bulan Rajab

Di Bulan Rajab, perhatikanlah zikir, doa, dan tawasul

Sekarang kita di Bulan Rajab; bulan yang hari-harinya diberkati. Tugas kita pada bulan ini antara lain mengambil manfaat dari hari-harinya, menguatkan spiritualitas, menjalin hubungan dengan Allah Swt, zikir, doa dan tawasul.

Menguatkan hubungan diri dengan Allah Swt; gigih berusaha dalam persoalan-persoalan di dunia — meliputi pencarian ilmu dan giat pembangunan –, menguasai masalah-masalah politik dan ekonomi, dan yang lebih penting dari semua menjaga optimisme merupakan faktor dan ciri yang insyaallah di masa depan — masa depan yang tidak begitu jauh – menerangi seluruh muka bumi dengan cahaya Republik Islam, mempersembahkan berkah Islam kepada kemanusiaan, dan akan memperlihatkan kepada Bangsa Iran — sebagaimana janji Allah Swt terhadap Muslimin – persatuan Umat Manusia di muka bumi. (Pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan masyarakat Qom, tanggal 19/10/1371 Hs).

 

Pelajarilah makrifat Ilahi dari doa-doa Bulan Rajab

Sekarang, masyarakat revolusioner kita, orang-orang mukmin kita, perlu meningkatkan ketenangan, sakinah, ketenteraman, dan ketegaran diri mereka lebih dari sebelumnya. Allah Swt berfirman, “Sadarlah! Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28).

Ingat Allah-lah yang menjaga hati kita dalam peristiwa-peristewa besar dunia dan kehidupan. Hargailah sebenar-benarnya ingat Allah Swt. Hari-hari Bulan Rajab semakin dekat. Doa-doa Bulan Rajab adalah samudera makrifat.

Di dalam doa, seseorang bukan hanya mendekatkan hati kepada Allah Swt. Memang ini ada dalam doa. Tapi pelajaran juga ada. Di dalam doa, ada pelajaran, ada pula pembinaan diri. Doa-doa — yang diriwayatkan dari Maksumin as — ini menerangi benak manusia dan mengajarkan hakikat serta makrifat yang dia perlukan dalam hidupnya. Selain juga tentunya mengarahkan hati kepada Allah Swt.

Betul-betul hargailah zikir kepada Allah Swat; ingat kepada Allah Swt. (Pidato Shalat Jum’at Teheran, tanggal 29/03/1388 Hs)

Gunakan semaksimal mungkin saat-saat Bulan Rajab untuk menarik perhatian Allah Swt

Bulan Rajab bulan penuh berkah. Bulan tawasul, zikir, konsentrasi, permohonan, istigosah, dan pengukuhan tali hubungan hati fakir kita dengan kelembutan dan karunia Allah Swt. Hargailah hari-hari ini. Setiap hari dari Bulan Rajab adalah nikmat Allah Swt. Di setiap saat dari bulan ini, orang sekiranya tahu, pandai dan waspada niscaya dia bisa memperoleh sesuatu sangat berharga yang di hadapannya, seluruh nikmat dunia lainnya tidaklah berharga. Artinya, dia bisa meraih keridoan, kelembutan, inayah, dan perhatian Allah Swt.

Setelah Bulan Rajab, Bulan Syakban. Dan setelah Bulan Syakban, Bulan Ramadan. Saudara-saudari Muslim! Wahai pemilik hati yang terjaga dan khususnya kawula muda! Hargailah tiga bulan ini. Di tiga bulan ini, kesempatan untuk menyambungkan hati dan meneranginya dengan kelembutan dan cahaya Ilahi lebih daripada saat-saat yang lain. (Pidato Shalat Jum’at Teheran, tanggal 19/11/1369 Hs).

 

Perbanyaklah semaksimal mungkin tawasul — kepada Maksumin as —

Seyogianya semua orang saling mengucapkan selamat atas taufiq Ilahi sehingga kita dapat kembali memasuki Bulan Rajab.

Bulan Rajab merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai Ilahi dan mendekatkan diri kepada Dzat Suci Allah Swt. Kesempatan untuk membina diri. Hari-hari yang di dalam riwayat hadis kita diperkenalkan sebagai hari-hari besar adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah kenikmatan. Dan setiap kenikmatan perlu syukur dan terimakasih. Syukur dan terimakasih atas nikmat adalah hendaknya seseorang menyadari nikmat itu, bertindak sesuai tuntutan nikmat tersebut, menggunakannya secara maksimal, meyakini bahwa nikmat itu dari Allah Swt dan akan membelanjakannya di jalan Allah Swt. Bulan Rajab termasuk nikmat ini. Setelah itu juga Bulan Syakban. Ini nikmat lain lagi. Dan menurut para insan kamil, ahli tauhid, serta ahli makna, dua bulan ini merupakan pengantar untuk Bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan pendakian ruhani, bulan perjalanan menuju mi’raj, bulan pembinaan diri, dan bulan pemurnian diri. Kita semua membutuhkannya.

Hargailah Bulan Rajab. Di bulan ini, perbanyaklah tawasul kalian kepada Allah Swt Tuhan Semesta Alam. Ingatlah Allah Swt dan bertindaklah untuk Dia. Usaha kalian, jerih payah kalian, lakukan semuanya demi Allah Swt. (Pidato dalam pertemuan dengan para komandan polisi Republik Islam, tanggal 06/02/1394 Hs).

 

Di Bulan Rajab, beristighfarlah selalu

Bulan Rajab adalah kesempatan yang sangat berharga; bulan doa, bulan tawasul, bulan konsentrasi — kepada Allah Swt –, dan bulan istighfar. Kita harus senantiasa beristighfar. Siapa pun jangan ada yang berkhayal dirinya tidak butuh kepada istighfar.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

انّه ليغان على قلبى و انّى لأستغفر اللَّه فى کلّ يوم سبعين مرّة

Yang pasti bahwa Nabi Muhammad Saw beristigfar minimal tujuh puluh kali dalam sehari. Istighfar diperlukan oleh semua orang. Apalagi kita-kita yang tenggelam dan ternodai dalam dunia materi. Istighfar akan menyucikan diri dari sebagian noda itu.

Bulan Rajab adalah bulan istighfar. Insyaallah kita semua menghargai kesempatan ini. (Pidato dalam pertemuan dengan para anggota Majelis Permusyaratan Islam, tanggal 03/04/1388 Hs).

 

Anak-anak muda hendaknya lebih banyak mengamalkan sunnah hasanah Itikaf di Bulan Rajab

Di pertengahan bulan ini, para pemuda-pemudi kita sudah bertahun-tahun membudayakan Sunnah Hasanah di dalam negeri; sunnah Itikaf, sunnah pergi ke masjid-masjid, dan sunnah puasa.

Sungguh betapa indahnya pemandangan ini dan betapa harum aromanya. Perkumpulan besar kawula muda, tidak seperti kebiasaan pemuda-pemudi dunia yang — lebih banyak — hanyut dalam syahwat dan hawa nafsu. Hari-hari mereka isi dengan puasa sampai malam. Pergi ke masjid dan tinggal beritikaf di sana. Siang-malam mereka isi dengan zikir, pikir, pelajaran makrifat Ilahi, pelajaran hukum, dan diskusi tentang ilmu hakiki — yaitu Ilmu Tauhid –.

Ini fenomena yang penting sekali. Dan semua ini berkat Revolusi Islam. Pra revolusi, di hari-hari pertengahan Bulan Rajab, kita tidak menyaksikan atau setidaknya sangat jarang kita melihat orang pergi itikaf. Pada umumnya kita, masyarakat ketika itu lalai terhadap gerbang Rahmat Ilahi ini. Saya pribadi di kota Masyhad sama sekali tidak

pernah menyaksikan hal ini sebelumnya. Di kota Qom, ada segelintir orang, segelintir santri pergi ke Masjid Imam dan beritikaf di sana pada hari-hari pertengahan Bulan Rajab.

Adapun sekarang, coba kalian perhatikan; bukan hanya masjid-masjid jamik, bukan hanya masjid-masjid besar, bukan hanya di satu atau dua kota, bahkan di seluruh penjuru negeri, di semua kota, di semua masjid, orang laki dan perempuan, anak-anak muda kita, putra dan putri, sama-sama pergi berbaris giliran mendaftarkan diri untuk dapat kesempatan tinggal di masjid ini atau itu, puasa tiga hari dan beritikaf di sana. Ini sangat berharga bagi sebuah bangsa. Ini penting sekali. Dan ini terjadi di Bulan Rajab.

Manfaatkanlah kesempatan-kesempatan ini. Anak-anak muda! Kalian harus lebih banyak menggunakan kesempatan ini. Hati suci kalian, jiwa jernih dan bercahaya kalian, siap untuk menerima kilauan dan pancaran Rahmat Ilahi serta Perhatian Allah Swt. Hargailah semua ini. (Pidato dalam pertemuan dengan berbagai lapisan masyarakat pada tanggal 25/02/1392 Hs).

 

Bulan Rajab lebih banyak bulan shalat

Agar seseorang dapat memasuki Balai (Bulan Ramadan) ini dengan mata terbuka, tidak lalai, tidak bingung, tidak bodoh, tidak tertipu, sehingga terpaksa masuk pintu ini dengan menundukkan kepala dan keluar dari pintu sana, dia harur melihat sekitarnya dan memanfaatkan kesempatan.

Supaya kita punya kesiapan untuk memasuki Bulan Ramadan, ditetapkanlah Bulan Rajab dan Bulan Syakban. Rajab satu model, dan Syakban satu model lain. Rajab lebih banyak bulan shalat, Syakban lebih banyak bulan doa dan puasa. (Pidato dalam pertemuan dengan menteri dan para direktur departemen informasi, tanggal 13/07/1383 Hs).

 

Manfaatkan Bulan Rajab untuk menguatkan dimensi spiritual

Saya ingin menyampaikan satu hal tentang Bulan Rajab. Ada dimensi lembut dan maknawi (spiritual) dalam diri setiap orang.

Iya benar. Manusia adalah himpunan berbagai dimensi. Ada instink, ada kecenderungan, dan ada kebutuhan. Ada juga dimensi spiritual yang terdapat dalam diri semua orang. Dimensi ini sangat lembut. Dan pada usia muda, kelembutan dan kejernihan dimensi ini lebih berkualitas. Sekiranya masing-masing daripada kita, Umat Manusia, dapat mengukuhkan dimensi ini dalam diri, niscaya ia akan membimbing dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri kita.

Hal itu bukan berarti dimensi spiritual akan menghalangi instink, kebutuhan, dan keberakalan. Bukan itu maksudnya. Semua itu tetap pada posisi masing-masing. Dan dimensi spiritual dalam diri manusia akan memberi petunjuk kepada dimensi-dimensi yang lain. Tentunya jika dimensi spiritual itu masih tersisa dalam diri kita. Jika dimensi terkuatkan.

Orang-orang jahat yang kalian saksikan di dunia adakalanya tiran, penumpah darah, penyembah harta, penyembah syahwat, atau penyembah perut. Dimensi-dimensi materialis mendominasi keberadaan mereka. Mereka adalah orang yang tidak mengembangkan dimensi spiritual dalam diri, sehingga lambat-laut dimensi itu melemah dan hilang.

Sekali lagi saya ingin sampaikan kepada kalian anak-anak muda, manfaatkanlah Bulan Rajab, maksimalkanlah bulan ini untuk menguatkan dimensi spiritual.

Ingat Allah Swt, zikir kepada Allah Swt, doa-doa yang diriwayatkan dari Maksumin as dan sampai kepada kita, konsentrasi terhadap kandungan makna doa-doa itu, tilawatul Qur’an, shalat awal waktu, menghindari dosa, dan budi pekerti di bulan ini merupakan kesempatan yang besar di hadapan kita semua. Tapi, kalian anak-anak muda bisa menggunakan kesempatan ini lebih optimal daripada yang lain. Sama halnya dengan kesempatan material. (Pidato dalam pertemuan dengan anggota Lembaga-lembaga Islam Pelajar, tanggal 1/2/1395 Hs).

 

Pesan Bulan Syakban 

Kuatkan hubungan kalian dengan Allah Swt melalui doa dan zikir

Bertawakallah kepada Allah Swt. Mohonlah taufik dari-Nya. Kuatkanlah hubunganmu dengan spiritualitas dan Allah Swt dari hari ke hari. Jangan sampai kesibukan kerja menghalangi kalian dari zikir, perhatian, dan kesibukan pada hal-hal spiritual! Artinya, salah satu bahaya yang mengancam kita adalah hanyut dalam kesibukan kerja sehingga lalai akan hubungan kalbu kita.

Apa yang merupakan penopang keceriahan, semangat, rindu, gerak dan taufik kita adalah pertolongan Ilahi. Pertolongan Ilahi harus sungguh-sungguh kita mohonkan kepada Allah Swt. Kita semua harus mensyukuri nikmat Ilahi — berupa nikmat tanggungjawab dan taufik khidmat yang diberikan –. Kita juga harus memohon kepada Allah Swt agar nikmat itu ditambahkan dan dilestarikan.

Karena itu, semua ini memerlukan perhatian. Hargailah hari-hari Bulan Syakban ini. Dalam shalawat mulia saat zuhur kalian baca:

الّذي کان رسول‌اللَّه – صلّي اللَّه عليه و اله – يدأب في صيامه و قيامه في لياليه و ايامه بخوعا لک في اکرامه و اعظامه الي محلّ حمامه

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw sampai akhir hayat beliau selalu memuliakan Bulan Syakban dan hari-hari serta malam-malamnya. Setiap Bulan Syakban selam hidup beliau beliau perlakukan demikian. Kemudian, dalam shalawat itu kalian baca:

اللّهم فأعنّا علي الاستنان بسنّته فيه و نيل الشّفاعة لديه

Insyaallah kalian akan melanjutkan sunnah Nabi Muhammad Saw di bulan ini; konsentrasi kepada Allah Swt, doa, zikir, dan persiapan untuk masuk Bulan Suci Ramadan. (Pidato dalam pertemuan dengan presiden beserta kabinetnya, tanggal 4/6/1386 Hs).

 

Bermunajatlah kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh dari hati yang paling dalam

Mungkin di Bulan Syakban, dengan bekal yang kita peroleh dari bulan ini kita dapat membaca munajat yang sangat menyentuh dan melembutkan hati serta penuh makna ini dengan jiwa yang hakiki, bukan hanya membaca kata-katanya, melainkan betul-betul dari hati yang paling dalam kita berbicara kepada Allah Swt melalui munajat-munajat itu.  Dan Insyaallah apabila semua ini tersedia, di Bulan Ramadan kita siap memasuki Jamuan Ilahi dan di puncak bulan itu, kita layak untuk memasuki Lailatul Qadar.

Kalian, saudara-suadara yang saya muliakan, termasuk sebaik-baik orang yang dapat mengambil manfaat dari hidangan An’am Ilahi yang terbentang luas di Bulan Rajab, Syakban dan Ramadan. Hal itu karena di medan ini, orang yang lebih banyak berusaha, orang yang lebih banyak menabung kesucian dan kejujuran dalam dirinya, dan orang yang amal-perbuatannya lebih banyak daripada pendapatannya, adalah orang yang yang lebih dekat kepada Allah Swt dan lebih sukses di sisi-Nya. Orang itulah yang akan lebih banyak menjadi tempat kilauan Cahaya Ilahi. (Pidato dalam pertemuan dengan Badan Yudikatif, tanggal 23/10/1371 Hs).

 

Akrabkan diri kalian dengan Doa Kumail dan Munajat Syakbaniah

Coba perhatikan Munajat Syakbaniah ini. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada Imam Khumaini ra mengenai doa-doa yang diriwayatkan dan sampai kepada kita, ‘Doa mana yang lebih engkau sukai?’ Beliau menjawab, ‘Doa Kumail dan Munajat Syakbaniah.’

Kebetulan kedua-duanya termasuk doa Bulan Syakban. Doa Kumail yang kalian tahu itu pada mulanya disampaikan untuk malam pertengahan Bulan Syakban. Munajat Syakbaniah yang diriwayatkan dari Maksumin as juga berhubungan dengan Bulan Syakban. Nada kedua doa ini juga sangat dekat. Dua-duanya bernada cinta.

Di dalam Munajat Syakbaniah disebutkan:

و ان ادخلتني النّار اعملت اهلها انّي احبّک

Sekiranya Engkau jebloskan aku ke neraka, akan aku umumkan kepada penduduk neraka sesungguhnya aku mencintai-Mu.

Di dalam Doa Kumail disebutkan:

لان ترکتني ناطقا لاضجّن اليک بين اهلها ضجيج الاملين و لاصرخنّ اليک صراخ المستصرخين و لابکينّ بکاء الفاقدين

Sekiranya Engkau biarkan aku bicara, niscaya aku akan membising seperti kebisingan orang-orang yang optimis, aku akan menjerit kepadamu seperti jeritan orang yang memohon pertolongan, dan aku akan menangis seperti tangisan orang-orang yang kehilangan.

Kita semua harus akrab dengan semua ini. Kita perlu melunakkan hati. Hati ini sesuatu yang sangat aneh dan menakjubkan. Kadang berubah menjadi sarana yang membawa manusia ke puncak langi dan puncak spiritualitas. Kadang sebaliknya, berubah menjadi batu berat yang mengikat kaki manusia dan membawanya ke kedalaman air dan jurang yang paling dalam seraya menenggalamkannya. Ia binasakan manusia. Jika kalian serahkan hati ini kepada harta, birahi, tahta, dan semacamnya, maka inilah batu yang berat itu. Bukan lagi hati. (Pidato dalam pertemuan dengan menteri dan para direktur departemen informasi, tanggal 13/7/1383 Hs). (WF)

Hits: 36

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat