Wilayatul Faqih – Imam Khumaini (9)

Urgensi Pemerintahan Menurut Hadis

Berdasarkan darurat akal, keniscayaan hukum Islam, sunnah praktik Nabi Muhammad Saw dan Amirul Mukminin Ali as serta kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, pendirian pemerintahan adalah keharusan.

Sebagai contoh, saya akan menukil hadis yang diriwayatkan dari Imam Ali Ridha as:

عبد الْواحد بنُ محمد بنِ عَبدوسِ النيسابوري العطّار، قالَ حدَّثني أبو الحسن علي بنُ محمدِ بنِ قُتَيْبَةَ النيسابوري، قالَ قال أبو مُحمد الفضل بن شاذان النيسابوري: إنْ سَألَ سائِلٌ فَقالَ: اخْبِرْني هَلْ يَجُوزُ أَنْ يُكلِّفَ الْحَكيمُ … فَإِنْ قالَ قائِلٌ: وَ لِمَ جَعَلَ أُولِي الأَمْرِ وَ أَمَرَ بِطاعَتِهِمْ؟ قيلَ لِعِلَلٍ كَثيرَةٍ. مِنْها، أَنَّ الْخَلْقَ لَمّا وُقِفُوا عَلي حَدٍّ مَحْدُودٍ وَ أُمِروُا أنْ لا يَتَعدُّوا تِلْكَ الْحُدوُدَ- لِما فِيهِ مِنْ فَسادِهِمْ- لَمْ يَكُنْ يَثْبُتُ ذلك و لا يَقُومُ إِلّا بِأنْ يَجْعَلَ عَلَيْهِم فِيها أميناً يَأْخُذُهُمْ بالْوَقْفِ عِنْدَ ما أُبيحَ لَهُم وَ يَمْنَعُهُمْ مِنَ التَّعدي عَلي ما حَظَرَ عَلَيْهِم؛ لأَنَّهُ لو لَمْ يَكُنْ ذلِك لَكانَ أَحَدٌ لا يَتْرُكُ لَذَّتَهُ و مَنْفَعَتَهُ لِفَسادِ غَيرِه. فَجُعِلَ عَلَيْهم قَيِّمٌ يَمْنَعُهُمْ مِن الفَسادِ و يُقيمُ فيهِم الحُدودَ و الأحكامَ. وَ مِنها أنّا لا نَجِدُ فِرْقَةً مِنَ الْفِرَقِ و لا مِلَّةً مِنَ الْمِلَلِ بَقَوْا و عاشُوا الّا بِقَيِّمٍ وَ رئيسٍ لِما لا بُدَّ لَهُمْ مِنْهُ في أَمْرِ الدّينِ وَ الدُّنْيا. فَلَمْ يَجُزْ فِي حِكمةِ الْحَكيم أَنْ يَتْرُكَ الْخَلْقَ مِمّا يَعْلَمُ أَنَّهُ لا بُدَّ لَهُمْ مِنْهُ وَ لا قِوامَ لَهُمْ إِلّا بِهِ فَيُقاتِلُونَ بِه عَدُوَّهُم وَ يَقْسِمونَ بِهِ فَيْئَهُمْ وَ يُقيمُون بِهِ جَمْعَهُم وَ جَماعَتَهُمْ وَ يُمْنَعُ ظالِمُهُمْ مِنْ مَظْلُومِهِمْ. و مِنْها أنَّهُ لَوْ لَمْ يَجْعَلْ لَهُمْ إِماماً قَيِّماً أَميناً حافِظاً مُسْتَوْدَعاً، لَدَرَسَتِ الْمِلَّةُ وَ ذَهَبَ الدينُ وَ غُيِّرَتِ السُّنَنُ وَ الأحْكامُ، وَ لَزادَ فيهِ الْمُبْتَدِعُونَ و نَقَصَ مِنْهُ الْمُلحِدُونَ و شَبَّهُوا ذلِكَ عَلي الْمُسْلِمينَ. اذْ قَدْ وَجَدْنَا الْخَلْقَ مَنْقُوصينَ مُحْتاجينَ غَيْرَ كامِلينَ، مَعَ اخْتِلافِهِم وَ اخْتِلافِ أَهْوائِهِمْ وَ تَشَتُّتِ حالاتِهِمْ، فَلَوْ لَمْ يَجْعَلْ قَيِّماً حافِظاً لما جاءَ بِهِ الرَّسُولُ الأوَّلُ، لَفَسَدوُا عَلي نَحْوِ ما بَيَّنَّاه و غُيّرَتِ الشَّرائِعُ وَ السُّنَنُ وَ الأحْكامُ و الأيمانُ. وَ كانَ في ذلِكَ فَسادُ الْخَلْقِ أجْمَعينَ.‏ [1]

Bagian pertama dari hadis ini tentang kenabian dan bukan topik pembahasan kita sekarang. Karena itu, kami tidak mengutipnya di sini.

Topik pembahasan kita adalah bagian yang berikutnya. Dimana Imam Ridha as bersabda: “Apabila seseorang bertanya kenapa Tuhan Yang Maha Bijaksana menetapkan Ulil Amri dan memerintahkan kepatuhan kepada mereka? Maka akan dijawab bahwa Dia melakukannya karena alasan yang banyak.

Antara lain bahwa ketika masyarakat dijaga pada batas-batas tertentu dan diperintahkan untuk tidak melampaui batas-batas tersebut –karena di dalamnya terdapat kerusakan mereka-, maka hal itu tidak akan terealisasi dan mereka tidak akan menegakkan undang-undang Ilahi kecuali apabila ditetapkan seseorang (atau kekuasaan) yang beramanat untuk menjaga mereka dalam kerangka hak-hak mereka dan mencegah mereka dari melampaui batas hak-hak yang lain. Sebab, seandainya tidak demikian dan tidak ada orang atau kekuasaan yang diutus untuk itu maka tidak ada seorang pun yang meninggalkan kenikmatan dan keuntungannya karena akan berdampak kerusakan pada yang lain. Karena itu, ditetapkanlah atas mereka penanggungjawab yang mencegah mereka dari kerusakan dan menegakkan had-had serta hukum-hukum Ilahi di tengah mereka.

Alasan lainnya adalah kita tidak menemukan satu kelompok, bangsa atau pengikut aliran apa pun yang bisa bertahan hidup kecuali dengan adanya penanggungjawab dan pemimpin, makanya itu merupakan keniscayaan bagi mereka baik untuk urusan agama maupun dunia.

Karena itu, tidak seyogianya bagi kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk meninggalkan masyarakat (makhluk-makhluk-Nya) tanpa pemimpin dan penanggungjawab, padahal Dia tahu bahwa keberadaan pemimpin itu sangat dibutuhkan, dan keberadaan mereka tidak akan kokoh tanpa itu, dengan kepemimpinannyalah mereka memerangi musuh, membagi pendapatan umum, menegakkan perkumpulan shalat jumat dan jamaah, serta mencegah orang yang zalim di antara mereka dari orang yang terzalimi.

Alasan lainnya adalah apabila tidak ditetapkan pemimpin yang bertanggungjawab, beramanat, berjaga, dan terpercaya untuk mereka niscaya aliran akan usang, agama akan hilang, sunnah-sunnah dan hukum-hukum akan terubah, para pembuat bidah akan menambahkan sesuatu kepadanya, orang-orang ateis akan mengurangi sesuatu darinya, dan mereka mengaburkan hal itu terhadap Muslimin serta menampilkannya secara berbeda. Hal itu karena kita menyaksikan masyarakat adalah orang-orang yang berkekurangan, berkebutuhan, dan tidak sempurna. Di samping itu, mereka berselisih, bersilang keinginan, dan berbeda-beda keadaan. Karena itu, seandainya tidak ditetapkan bagi mereka penegak keteraturan dan undang-undang serta penjaga misi yang dibawakan oleh Rasulullah Saw niscaya mereka akan rusak, dan aturan, undang-undang, sunnah, hukum, sumpah serta perjanjian akan berubah. Dan di dalam perubahan ini terdapat kerusakan bagi seluruh umat manusia.”

Sebagaimana dapat dimengerti dari sabda Imam Ridha as di atas, ada berbagai alasan yang mengharuskan dibentuknya pemerintahan dan tegaknya Wali Amri. Alasan-alasan dan sisi-sisi itu tidak bersifat temporal serta tidak terbatas pada zaman tertentu. Dengan demikian, urgensi pendirian pemerintahan adalah selama-lamanya ada. Sebagai contoh, pelanggaran terhadap had-had Islam, penindasan terhadap hak-hak orang lain, dan prihal melampaui batas hak-hak orang lain demi menjamin kenikmatan dan keuntungan pribadi adalah sesuatu yang selalu ada di tengah masyarakat. Tidak bisa dikatakan bahwa hal itu hanya ada pada zaman Amirul Mukminin as, sedangkan masyarakat setelah itu semuanya jadi malaikat! Hikmah Tuhan Yang Maha Pencipta menuntut masyarakat untuk hidup dengan cara yang adil dan melangkah dalam koridor hukum Ilahi. Kebijaksanaan ini bersifat selama-lamanya dan termasuk sunnah Allah Swt yang tidak mungkin berubah. Karena itu, sekarang dan selama-lamanya keberadaan Wali Amri; yakni penguasa yang bertanggungjawab menegakkan keteraturan dan undang-undang Islam, adalah keharusan. Yaitu pemimpin yang mencegah pelanggaran, kezaliman, dan penindasan terhadap hak-hak orang lain. Yaitu pemimpin yang amin, terpercaya dan menjaga makhluk-makhluk Allah Swt. Yaitu pemimpin yang menghidayahi masyarakat kepada ajaran, keyakinan, hukum, dan aturan Islam, serta mencegah bidah-bidah yang hendak dimasukkan oleh musuh dan ateis ke dalam agama, undang-undang, serta aturan. Bukankah kekhalifahan Amirul Mukminin Ali as adalah demikian?

Alasan-alasan dan keniscayaan-keniscayaan yang membuat beliau jadi pemimpin, sekarang pun ada. Bedanya adalah sekarang tidak ada orang yang tertentu [seperti Amirul Mukminin Ali as]. Melainkan telah ditetapkan gelar tertentu [Wali Amri] agar senantiasa terjaga.

Dengan demikian, apabila hukum Islam harus tetap ada, dan pelanggaran badan pemerintah zalim terhadap hak-hak rakyat lemah harus dicegah, dan minoritas penguasa jangan sampai bisa merampok dan merusak rakyat demi kenikmatan dan keuntungan material mereka; apabila keteraturan Islam harus ditegakkan dan semua orang harus bertindak sesuai cara keadilan Islam serta tidak keluar batas darinya; apabila pembuatan bidah dan pengesahan undang-undang anti Islam oleh majelis-majelis palsu harus dicegah; apabila penyusupan asing di dalam negara-negara Islam harus disingkirkan, maka pemerintahan adalah keniscayaan. Semua itu tidak mungkin dilakukan tanpa pemerintahan dan organisasi negara. Tentu saja maksudnya adalah pemerintahan saleh yang merupakan keniscayaan; yaitu pemimpin yang bertanggungjawab, beramanat, dan saleh. Karena kalau bukan demikian, pemerintah-pemerintah yang ada tidaklah berguna, sebab mereka diktator, bejat, dan tidak punya kelayakan.

Karena pada masa lalu kita tidak bangkit secara kolektif dan serempak untuk mendirikan pemerintahan dan menggulingkan hegemoni para penguasa yang pengkhianat dan bejat, dan sebagian orang malah bermalas-malasan, bahkan sebagian orang keberatan atas pembahasan dan tablig tentang teori-teori serta aturan-aturan Islami; lebih dari itu sebaliknya, mereka memanjatkan doa untuk penguasa-penguasa zalim!, maka muncullah situasi dan kondisi ini; pengaruh dan kedaultan Islam di tengah masyarakat jadi berkurang, umat Islam jadi terpecah-belah dan lemah, hukum-hukum Islam jadi menganggur dan tidak dilaksanakan, terjadi distorsi dan perubahan di dalamnya, dan para penjajah menyebarkan undang-undang luar dan budaya asing di antara Muslimin serta membuatnya jadi kebarat-baratan melalui agen-agen politik mereka dan demi kepentingan-kepentingan jahat mereka. Semua ini karena kita tidak punya penanggungjawab, pemimpin, dan organisasi kepemimpinan. Kita ingin organisasi pemerintahan yang saleh. Ini merupakan hal yang sangat gamblang. (WF)

[1] Ilal al-Syaroi’, jld. 1, hal. 251, bab 182, hadis 9.

Hits: 31

Headline, Imam Khumaini, Teori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat