Imam Ali as Menurut Sayid Ali (6)

4) Imam Ali saat Mentari Gaib

Saat-Saat Paling Sulit

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Jumat (28/4/1989), di dalam Khutbah Jumatnya mengatakan:

“Hari-hari pahit sepeninggal Rasulullah Saw dimulai, dari waktu ke waktu penggalan-penggalan fitnah membuat cakrawala pandangan menjadi gelap sehingga orang-orang tidak bisa mengambil langkah demi langkah.

Dalam kondisi seperti ini, Amirul Mukminin Ali as memberikan ujian itsar (pengorbanan) yang paling besar.

Pada waktu Rasulullah Saw meninggal, Amirul Mukminin Ali as sedang menjalankan tugas. Beliau bukan tidak tahu bahwa ada perkumpulan yang sedang menentukan nasib kekuasaan dan pemerintahan dalam Dunia Islam. Namun, hal yang tidak mengemuka bagi beliau adalah diri beliau!”

Tugas Sensitif

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Jumat (23/5/1986), dalam Khutbah Jumatnya mengatakan:

“Pada waktu Nabi Muhammad Saw wafat, Amirul Mukminin Ali as tidak ikut rapat pengambilan keputusan yang sensitif. Seandainya beliau hadir di Saqifah Bani Saidah, mungkin nasib Dunia Islam dan nasib kekhalifahan akan berbeda.

Di saat semua orang berpikir pemerintahan akan jatuh ke tangan siapa, Amirul Mukminin Ali as menarik dari dari kerumunan. Di saat semua orang hadir untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan dan pengaruh apa yang bisa mereka berikan dalam menentukan pemerintahan masa depan, Amirul Mukminin Ali as absen. Beliau sibuk dengan tugas yang lebih mulia dan lebih tercinta, yaitu penyiapan, pemandian, dan pemakaman jenazah Nabi Muhammad Saw, serta pada akhirnya mengamalkan wasiat Nabi Saw; yaitu mengumpulkan Al-Qur’an.”

Penyingkiran Diri Secara Damai

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Jumat (28/4/1989), di dalam Khutbah Jumatnya mengatakan:

“Amirul Mukminin Ali as pada masa berdirinya Khilafah bersabda, “Laqod alimtum anni ahaqqunnasi biha min ghoiri”; kalian sendiri tahu bahwa aku lebih pantas menjadi khalifah daripada semua orang yang lain. Kenyataan ini kalian sendiri tahu persis. Aku akan meletakkan tangan di atas tangan dan pasrah “ma salimat umurul muslimin”; yakni, selama aku merasakan bahwa urusan Muslimin berjalan dengan selamat, selama aku melihat tidak ada orang yang dizalimi, dan “lam yakun fiha jawrun illa ala khosshotin”; yakni selama masyarakat tidak dizalimi, selama tidak terjadi kezaliman di tengah masyarakat dan hanya aku yang terzalimi. Selama demikian, aku tidak akan berurusan dengan siapa pun. Aku tidak akan mengganggu dan protes.”

Menjaga Maslahat Yang Lebih Besar

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Jumat (23/5/1986), di dalam Khutbah Jumatnya mengatakan:

“Namun, begitu Amirul Mukminin Ali as melihat bahwa bertahan tidak lagi berguna, dan kelanjutan kontroversi serta perdebatan ini bisa jadi berujung pada bahaya bagi Dunia Islam, maka saat itulah beliau berbaiat dan tinggal di sebelah tiga khalifah sampai 25 tahun penuh.” (WF)

Hits: 51

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat