Menjawab 30 Ribu Persoalan dalam Sekali Pertemuan

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Muhammad bin Ali bin Musa Al-Jawad as menjawab 30 ribu persoalan dalam sekali pertemuan.

Bagi sebagian orang, muncul pertanyaan bahkan kritik dan protes bagaimana mungkin itu terjadi?! Jangankan menjawab 30 ribu persoalan, mengutarakannya saja tidak mungkin di dalam sekali pertemuan. Anggap saja satu soal-jawab itu satu baris, maka 30 ribu soal-jawab sama dengan tiga kali khataman Al-Qur’an. Bagaimana mungkin itu dilakukan dalam sekali pertemuan?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita bersama-sama membaca sejarah dan hadis Imam Jawad as:

Ketika Makmun hendak mengawinkan Abu Jakfar Imam Muhammad bin Ali bin Musa as dengan putrinya Umul Fadhl, keluarga terdekatnya berkumpul dan berkata kepadanya, “Kami menyumpahmu demi Allah! jangan sampai engkau mengeluarkan kekuasaan yang telah kita pegang ini dari kita dan mencabut kehormatan yang telah kita kenakan ini. Engkau sendiri tahu apa yang terjadi antara kita dan keluarga Ali. Dari dulu sampai sekarang.”

Makmun berkata kepada mereka, “Diam kalian. Demi Allah! Aku tidak akan menerima apa pun dari kalian dalam urusan ini.”

Maka mereka mengatakan, “Apakah engkau akan menikahkan cahaya matamu dengan anak kecil yang tidak mengerti agama Allah, tidak tahu mana yang wajib dan sunnah, tidak membedakan antara yang haq dan batil? –Ketika itu itu Imam Jawad as berusia dua puluh atau dua puluh satu tahun-. Sekiranya engkau bersabar sejenak sampai dia belajar dan membaca Al-Qur’an serta mengetahui mana yang wajib dan sunnah.”

Maka Makmun berkata kepada mereka, “Demi Allah! Sungguh dia lebih fakih dan alim daripada kalian tentang Allah, rasul-Nya, sunnah-sunnah-Nya, fardu-fardu-Nya, halal dan haram-Nya serta lebih qari daripada kalian terhadap Kitab Allah, lebih alim daripada kalian tentang ayat-ayat muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, zahir, batin, khas, am, takwil dan tanzilnya. Coba saja tanyalah dia! Kalau memang kenyataannya seperti yang kalian katakan, maka baiklah, aku akan menerima pandangan kalian tentang dia. Walau pun kenyataannya adalah seperti yang telah kukatakan. Dia lebih baik dari kalian semua.”

Maka mereka mengutus Yahya bin Aktsam. Dia adalah jaksa agung. Mereka menyampaikan hajat mereka kepadanya dan merayunya dengan hadiah-hadiah agar sudi memperdaya Abu Jakfar Imam Jawad as di hadapan Makmun dan di hadapan umum saat mereka berkumpul untuk acara pernikahan dengan pertanyaan yang tidak mampu beliau jawab.

Ketika mereka semua hadir, mereka berkata kepada Makmun, “Ini Yahya bin Aktsam. Sekiranya engkau perkenankan dia untuk menanyakan sesuatu kepada Abu Jakfar.”

Makmun berkata kepada Yahya, “Tanyakanlah persoalan fikih kepada Abu Jakfar supaya kita sama-sama tahu bagaikaman penguasaan fikihnya.”

Maka Yahya berkata, “Wahai Abu Jakfar! Semoga Allah memberimu yang terbaik! Apa hukumnya menurutmu tentang seorang muhrim yang membunuh buruan?”

Maka Abu Jakfar Imam Jawad as bersabda, ”

“Apakah orang muhrim itu membunuhnya di dalam wilayah Haram atau di luar?

Apakah dia tahu ataukah tidak tahu?

Apakah dia sengaja atau tidak sengaja?

Apakah dia seorang budak atau merdeka?

Apakah dia anak kecil atau dewasa?

Apakah perbuatannya itu baru pertama kali atau untuk yang kesekian kali?

Apakah buruan itu termasuk unggas atau yang lain?

Apakah buruan itu kecil atau besar?

Apakah dia bersikeras untuk perbuatan itu atau menyesalinya?

Apakah itu dilakukannya pada waktu malam atau siang bolong?

Apakah dia dalam keadaan ihram umrah atau ihram haji?”

Yahya bin Aktsam tak berdaya dan itu disaksikan oleh hadirin di majelis. Mereka semua tercengang menyaksikan jawaban Imam Jawad as.

Makmun bertambah semangat seraya ingin memulai khitbah pernikahan yang diiyakan oleh Abu Jakfar Imam Jawad as … .

Setelah itu, Makmun berkata kepada beliau, “Wahai Abu Jakfar! Sekiranya engkau jelaskan kepada ktia apa yang wajib bagi setiap kelompok dari kelompok-kelompok yang engkatu sebutkan tadi dalam persoalan membunuh buruan.”

Maka Imam Jawad as bersabda:

“Baiklah. Muhrim apabila membunuh buruan di luar wilayah Haram, sementara buruan itu termasuk unggas besar maka wajib baginya –kafarah- kambing.

Apabila dia melakukannya di wilayah Haram, maka wajib baginya –kafarah- dua kali lipat.

Apabila dia membunuh anak unggas di luar wilayah Haram, maka wajib baginya –kafarah- domba yang telah dipisahkan dari susu, dan tidak wajib baginya –kafarah- harga anak unggas tersebut, karena itu tidak terjadi di dalam wilayah Haram.

Adapun jika dia membunuhnya di dalam wilayah Haram, maka wajib baginya –kafarah- domba tersebut sekaligus harga anak unggas. Karena itu terjadi di dalam wilayah Haram.

Apabila buruan itu termasuk binatang liar, jika itu berupa keledai liar maka wajib baginya –kafarah- unta. Begitu pula jika itu berupa burung unta. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- memberi makan enam puluh orang miskin. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- puasa delapan belas hari.

Adapun apabila buruan itu berupa sapi, maka wajib baginya –kafarah- sapi. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- memberi makan tiga puluh orang miskin. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- puasa sembilan hari.

Adapun apabila buruan itu berupa rusa, maka wajib baginya –kafarah- kambing. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- memberi makan sepuluh orang miskin. Apabila dia tidak mampu, maka wajib baginya –kafarah- puasa tiga hari.

Apabila itu terjadi di dalam wilayah Haram, maka wajib baginya –kafarah- dua kali lipat.

Hadyan balighol ka’bati (sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah).

Hak yang wajib untuk dia sembelih di Mina apabila dia dalam keadaan haji, dimana semua orang menyembelih kurban di sana.

Adapun apabila dia dalam keadaan umrah, maka menyembelihnya di Mekkah dan menyedekahkan padanan harganya sehingga menjadi berlipat ganda.

Begitu pula halnya apabila dia memburu kelinci, maka wajib baginya –kafarah- kambing.

Apabila dia membunuh merpati, maka wajib baginya –kafarah- satu dirham, atau dengan uang itu dibelikan makanan untuk merpati-merpati Haram.

Apabila merpati masih berupa itik, maka wajib baginya –kafarah- setengah dirham. Adapun apabila masih berupa telur, maka wajib baginya –kafarah- seperempat dirham.

Segala sesuatu yang apabila dilakukan oleh Muhrim dalam keadaan bodoh atau tidak sengaja, maka tidak ada tanggungan apa-apa baginya kecuali pemburuan. Dia wajib membayar fidyah apabila melakukannya, baik secara bodoh mau pun atas dasar pengetahuan, baik secara keliru (tidak sengaja) maupun secara sengaja.

Apabila itu dilakukan oleh seorang budak, maka wajib bagi tuannya –kafarah- seperti halnya yang wajib bagi tuannya (orang merdeka).

Apabila itu dilakukan oleh anak kecil yang bukan balig, maka tidak wajib apa-apa baginya.

Apabila pelakunya termasuk “orang yang kembali mengerjakannya niscaya Allah akan menuntut balas darinya” (QS. Al-Maidah [5]: 96), maka tidak wajib baginya kafarah, sedangkan balasan siksanya adalah di akhirat.

Apabila pelaku –hanya- menunjukkan kepada buruan sementara dia dalam keadaan ihram, maka wajib baginya fidyah.

Apabila dia orang yang bersikeras untuk itu (dan tidak menyesali perbuatannya), maka setelah membayar fidyah pun dia akan dikenakan siksa di Akhirat.

Apabila dia orang yang menyesali perbuatannya, maka setelah membayar fidyah dia tidak akan dikenakan apa-apa di Akhirat.

Apabila dia menyasar burung di malam hari dan di sarangnya secara keliru (tidak sengaja), maka tidak wajib baginya apa-apa kecuali apabila dia sengaja. Apabila dia berburu –secara sengaja- baik malam maupun siang, maka wajib baginya fidyah. Di Mina, di mana orang-orang menyembelih kurban di sana. Adapun orang yang Ihram untuk umrah, maka menyembelihnya di Mekkah.”

Maka Makmun memerintahkan agar jawaban ini ditulis. Lalu dia memanggil sanak familinya dan membacakan jawaban itu kepada mereka seraya berkata, “Adakah seseorang di antara kalian yang menjawab seperti ini?” mereka mengatakan, “Tidak! Demi Allah! tidak pula jaksa agung.” Lalu mereka mengatakan, “Engkau benar. Engkau lebih tahu tentang dia daripada kita.” Kemudian Makmun berkata, “Celakalah kalian! Sesungguhnya Ahli Bait ini terpisah dari khalayak. Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah Saw membaiat Hasan dan Husain as padahal mereka masih anak-anak belum balig, sementara beliau tidak membaiat anak kecil selain mereka berdua? Tidakkan kalian tahu bahwa Ali beriman kepada Nabi di saat dia masih anak-anak umur sepuluh tahunan, lalu Allah dan rasul-Nya menerima imannya dan tidak menerima dari anak kecil yang lain, tidak pula Nabi Saw mengajak anak kecil selain dia untuk mengimani? Tidakkah kalian tahu bahwa ini adalah keturunan sebagiannya dari sebagian yang lain, mengalir bagi yang terakhir dari mereka apa yang mengalir bagi yang pertama dari mereka?”

(Syaikh Muhammad bin Muhammad Mufid, Al-Ikhtishosh, Cetakan Pertama, Al-Muktamar Al-Alami Li Alfiyat Asy-Syaikh Al-Mufid, 1413 H, Qom, Iran).

Berdasarkan rincian hadis di atas, maka persoalannya adalah 2 kali 2 sampai 15 kali, sehingga totalnya adalah 32.762 persoalan yang seluruhnya dijawab oleh Abu Jakfar Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad as dalam sekali pertemuan. (WF)

Hits: 66

Headline, Wahyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat