Wilayatul Faqih – Imam Khumaini 8

Urgensi Persatuan Islam

Di satu sisi, watan Islam dipecah-belah oleh penjajah dan penguasa zalim yang serakah kekuasaan. Mereka pecah Umat Islam menjadi berapa bangsa yang terpisah satu sama yang lain. Ketika Daulat Usmani muncul pun mereka memecah-belahnya. Rusia, Inggris, Austria dan pemerintah-pemerintah kolonial bersatu memeranginya, masing-masing dari mereka menjajah dan menguasai sebagian dari teritorialnya. [1] Walaupun kebanyakan penguasa Daulat Usmani tidak punya kelayakan, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang bejat, dan rezim mereka adalah kerajaan, tetap saja bagi para penjajah ada bahaya jangan-jangan nanti muncul orang-orang saleh di antara rakyat yang akan menduduki posisi tertinggi daulat ini dengan bantuan rakyat dan menggulung tikar penjajah dengan kekuatan serta persatuan nasional. Karena itu, setelah sekian peperangan, di Perang Internasional Pertama mereka langsung membaginya, sehingga dari wilayah itu muncul sepuluh sampai lima belas negara sejengkal! Setiap jengkalnya mereka serahkan kepada satu atau sekelompok pejabat suruhan. Berapa waktu setelah itu, sebagian dari mereka keluar dari pejabat dan petugas kolonial.

Demi menciptakan persatuan Umat Islam, demi membebaskan watan Islam dari cengkraman penjajah dan pemerintah-pemerintah boneka mereka, kita tidak punya jalan lain kecuali mendirikan pemerintahan. Karena, demi merealisasikan persatuan dan kebebasan bangsa-bangsa muslim, kita harus menggulingkan pemeritnahan-pemerintahan zalim dan boneka. Setelah itu, membangun pemerintahan Islam yang adil dan berbakti kepada rakyat. Pembentukan pemerintahan adalah untuk menjaga sistem dan persatuan Muslimin. Hal itu sebagaimana disabdakan oleh Sayidah Zahra as di dalam pidatonya bahwa imamah adalah untuk menjaga sistem dan mengubah perpecahan Muslimin menjadi persatuan. [2]

Urgensi Penyelamatan Rakyat Yang Tertindas

Di samping itu, para penjajah memaksakan sistem ekonomi yang zalim melalui agen-agen politiknya yang berkuasa atas rakyat. Akibatnya, rakyat terbagi menjadi dua kelompok: penindas dan tertindas. Di satu sisi, ratusan juta orang Muslim kelaparan dan terhalang dari kesehatan serta kebudayaan. Di sisi lain, minoritas-minoritas orang kaya dan pemegang kekuasaan politik berfoya-foya dan bejat. Rakyat yang kelaparan dan tertindas berusaha untuk menyelamatkan diri dari kezaliman para penguasa perampok dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Usaha ini berlanjut. Tapi minoritas-minoritas penguasa dan badan-badan pemerintahan yang zalim menghalangi mereka. Kita berkewajiban untuk menyelamatkan rakyat yang terzalimi dan tertindas. Kita berkewajiban untuk mendukung orang-orang yang tertindas dan memusuhi orang-orang yang menindas. Inilah tugas yang diingatkan oleh Amirul Mukminin Ali as di dalam wasiat kepada dua putra mulianya. Beliau bersabda:

وَ كُونا لِلظّالِمِ خَصْماً، وَ لِلْمَظْلُومِ عَوْناً

(Artinya: “Jadilah kalian berdua bagi penindas, musuh. Dan bagi tertindas, penolong.”) [3]

Ulama Islam berkewajiban untuk berjuang melawan monopoli orang-orang zalim dan penggunaan-penggunaan mereka yang tidak sah, jangan biarkan ada sekelompok besar orang kelaparan dan tertindas, sementara di sebelah mereka ada orang-orang zalim, perampok, dan pemakan haram yang berpesta pora dan berfoya-foya. Amirul Mukminin Ali as bersabda saya menerima pemerintahan ini karena Allah Swt telah mengambil janji dari para ulama Islam dan mengharuskan mereka untuk tidak berdiam diri di hadapan keserakahan dan perampokan orang-orang zalim serta kelaparan dan ketertindasan orang-orang yang terzalimi:

أما وَ الَّذي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَ بَرَأَ النَّسَمَةَ، لَوْ لا حُضُورُ الْحاضِرِ وَ قِيامُ الْحُجَّةِ بِوُجُودِ النّاصِرِ وَ ما أَخَذَ اللَّهُ عَلَي الْعُلَماءِ أَنْ لا يُقارُّوا عَلي كِظَّةِ ظالِمٍ وَ لا سَغَبِ مَظْلُومٍ، لأَلْقَيْتُ حَبْلَها عَلي غارِبِها وَ لَسَقَيْتُ آخِرَها بِكَأْسِ أَوَّلِها؛ وَ لَأَلْفَيْتُمْ دُنْياكُمْ هذِهِ أَزْهَدَ عِنْدي مِنْ عَفْطَةِ عَنْزٍ

(Artinya: “Sumpah demi –Allah- Yang Membelah Biji dan Menciptakan Nyawa! Seandainya bukan karena kehadiran haidirin, dan tegaknya hujjah dengan adanya penolong, serta –janji- yang telah diambil oleh Allah Swt atas ulama untuk tidak berdiam diri atas keserakahan orang zalim dan kelaparan orang yang terzalimi, niscaya kulepaskan kendali kekuasaan ini dan kutuangkan akhirnya dengan cawan awalnya. Dan kalian telah menyaksikan sendiri bahwa dunia kalian dan kedudukan duniawi kalian di mataku lebih hina daripada ingus kambing.”) [4]

Sekarang, bagaimana mungkin kita berdiam diri dan menganggur sementara kita melihat sebagian orang pengkhianat, pemakan haram, dan agen asing membantu pihak-pihak luar, dengan kekerasan dan paksa menjarah kekayaan serta hasil keringat ratusan juta orang Muslim sehingga mereka tidak bisa mendapatkan menimum kenikmatan sekali pun? Kewajiban ulama Islam dan seluruh orang Muslim adalah menghentikan kondisi penindasan ini. Di jalan ini, yang mana merupakan jalan kebahagaan bagi ratusan juta orang, hendaknya mereka menggulingkan pemerintahan-pemerintahan yang zalim dan mendirikan pemerintahan Islam.

[1] Kemerosotan Kekaisaran Usmani bermula sejak awal abad kesembilan belas. Di dalam perang Aliansi Balkan yang berujung pada Perjanjian London (1913 M), daulat ini kurang-lebih kehilangan seluruh daerah kekuasaan Eropa dan Laut Aegeanya. Di tengah Perang Dunia Pertama dan dengan Kontrak Lausanne (1932 M), tanah-tanah Arab termasuk Irak, Suriah, Saudi Arabia, Jordania, dan Palsetina keluar dari kekuasaannya dan jatuh ke tangan penguasa-penguasa Eropa. Setelah itu, daerah-daerah yang berpenduduk Turki merdeka dan terbatas pada negara Turki yang ada sekarang.

[2] Wa tho’atuna nidzoman lil millati wa imamatuna lamman lil furqoh. (Kasyf al-Guhmmah, jld. 1, hal. 483).

[3] Nahj Al-Balaghoh, surat 47.

[4] Nahj Al-Balaghoh, khutbah ke-3 (Syiqsyiqiyah)

(WF)

Hits: 103

Headline, Imam Khumaini, Teori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat