Pidato Lengkap Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Panitia Kongres Ruhaniawan Syahid Shaduq Gulpaigani dan 372 Syahid Kota Gulpaigan

Berikut pidato lengkap Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khemenei dalam pertemuan dengan panitia Kongres Ruhaniawan Syahid Shaduq Gulpaigani dan 372 Syahid Kota Gulpaigan yang berlangsung pada hari Rabu (5/2/18):

Bismillahirrohmanirrohim

Sebagaimana telah disampaikan oleh bapak-bapak tadi, kota Gulpaigan dan kawasan Gulpaigan adalah kawasan yang subur ulama. Banyak ulama besar yang bermunculan selama 150 tahun terakhir dari kota ini, dan sampai sekarang pun Alhamdulillah sebagian dari mereka berada di hauzah-hauzah ilmiah.

Namun, warna kesyahidan dan perhiasan syahadah merupakan sesuatu di atas kata-kata ini. Dan Alhamdulillah, sebagaimana bisa ditangkap dari keterangan bapak-bapak, kota Gulpaigan punya syuhada yang menonjol. Antara lain Syahid Marhum Shaduq. Saya pribadi di benak tidak punya pengalaman dengan dia. Tapi, dari keistimewaan-keistimewaan yang kalian sebutkan tentang dia adalah keistimewaan-keistimewaan yang besar. Pertama, keisitmewaan khidmat kepada rakyat. Kedua, kesitimewaan berjuang melawan pemerintah tagut. Dan keistimewaan yang lebih tinggi dari semuanya adalah kesyahidan di jalan Allah Swt. Dia mempersembahkan nyawanya di jalan ini dan sampai kepada syahadah. Ini sangat berharga dan agung. Mudah-mudahan Allah Swt meninggikan derajatnya dan mengumpulkannya bersama para walinya, bersama syuhada awal Islam, bersama syuhada Karbala insyaallah.

Syuhada lain juga yang syahid di medan perang melawan musuh –baik itu pada waktu Perang Pertahanan Suci maupun pada waktu yang lain-, seluruhnya mempunyai martabat syahadah yang tinggi. Dalam hal kesyahidan, apa yang penting adalah seseorang punya kesiapan untuk meletakkan nyawanya di atas telapak tangan dan mempersembahkannya di jalan Allah Swt.

Pejuang-pejuang kita, orang-orang yang meletakkan nyawa mereka di telapak tangan dan meninggal, mereka semua memiliki keutamaan ini. Hanya saja, terkadang Allah Swt memberikan keutamaan khas kepada sebagian orang dan memberikan pahala mereka berupa kesyahidan secara kontan. Karena itu, nilai dan harga mereka jadi berlipat ganda. Sebab mereka telah menerima pahala perjuangan ini secara tunai dari Allah Swt.

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ

(“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan sesungguhnya bagi mereka surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. Janji atas-Nya secara benar di dalam Taurat dan Injil serta Al-Qur’an.” (QS. At-Taubah [9]: 111).

Itu artinya, Allah Swt menerima nyawa mereka, harta benda mereka, dan sebaliknya memberikan surga kepada mereka. Ini transaksi paling tinggi. Ini keuntungan yang paling tinggi. Nyawa kita adalah modal yang mau tidak mau akan pergi. Tidak ada satu orang pun yang bisa menahan nyawa dan umur yang merupakan modal kemanusiaan paling berharga baginya. Semasa, setelah itu akan diambil dari kita. Pola pengambilannya pun macam-macam. Satu orang, sebagai contoh, mati tabrakan di jalan atau di tempat lain. Satu orang lagi mati karena sakit. Namun ada satu yang meniagakan nyawanya dengan Allah Swt; meniagakan nyawa yang pasti pergi ini.

Saya berulang kali dalam pidato sebelum Revolusi [Islam] mengatakan bahwa kesyahidan adalah kematian ala perniagaan, kematian penuh perhitungan. Orang yang mati syahid di jalan Allah Swt, sejatinya telah melakukan penghitungan yang paling hebat. Sebab, nyawa ini kan tidak mungkin tinggal selamanya. Seperti ujaran yang populer di tengah masyarakat, “Rughan rikhteh, nazre Emomzodeh”; minyak yang –tentu- tumpah –dan habis- dinazarkan untuk anak keturunan Imam –sehingga menjadi lestari-.

Ini kan minyak yang tumpah dan tidak mungkin tinggal selamanya. Apabila seseorang menazarkannya untuk anak keturunan Imam Suci as maka itu sangatlah berharga. Sangat membutuhkan kecerdasan. Kecerdasan ini dimiliki oleh syuhada kita, dimana mereka mampu meniagakan nyawa yang pasti pergi ini dengan Allah Swt, dan Allah Swt berbicara kepada mereka dengan nada seperti ini:

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم

Ya Allah! Kami yang ada ini, sudikah Engkau membeli nyawa kami ini? Nyawa ini milik-Mu, berhubungan dengan-Mu, bahkan pada prinsipnya kami tidak punya ikhtiar untuk itu. Perhatikan betapa Allah Swt menghargai mujahid di jalan Allah Swt ini.

مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ

Demikianlah kenyataannya. Allah Swt menetapkan hal ini untuk syuhada kita. Nilai ini harus betul-betul kita peringati. Kalian pun yang sekarang sedang membela, mendukung, memuliakan, dan mengagungkan ruhaniawan syahid yang mulia ini (Syahid Shaduq) dan syuhada kota kalian yang lain, pada kenyataan sedang melakukan pekerjaan yang sangat baik. Mudah-mudahan Allah Swt menganugerahkan pahala kepada kalian semua. Dan insyaallah masa depan kota Gulpaigan juga seperti masa lalunya; penuh dengan ilmu, spiritualitas dan pengorbanan.

Wassalamualaikum Wr. Wb. (WF)

Hits: 16

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat