Istiftaat Bulan Ini

Berikut adalah istiftaat terbaru bulan ini dari Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei mengenai akikah, binatang yang tidak disembelih secara syari, tanaman laut, kondisi jari pada waktu sujud, shalat jamaah, waswas, salam shalat, shalat ganti, sepertiga harta, syarat terkandung dalam nikah, kafarah dan fidyah, serta izin ahli waris:

Binatang Akikah

Soal:

Apakah setiap binatang yang berdaging halal bisa dikurbankan sebagai Akikah?

Jawab:

Akikah harus berupa kambing (kibas atau kacang), sapi, atau unta. Sedangkan binatang seperti ayam dan sebagainya tidaklah cukup.

Perbedaan Akikah Anak Laki dan Perempuan

Soal:

Apakah Akikah anak perempuan berbeda dengan Akikah anak laki?

Jawab:

Tidak ada bedanya. Memang, sunnah hukumnya berakikah dengan binatang jantan untuk anak laki dan dengan binatang betina untuk anak perempuan.

Jual Bangkai kepada Non Muslim

Soal:

Apabila ada binatang bangkai atau binatang yang tidak disembelih sesuai tuntunan syariat, apakah boleh daging dan produk-produk makanan darinya dijual kepada orang non-muslim?

Jawab:

Tidak boleh menjualnya untuk makan kepada siapa pun; baik muslim maupun non-muslim.

Tanaman Laut

Soal:

Bolehkah menggunakan tanaman laut dalam membuat makanan?

Jawab:

Tidak apa-apa.

Kondisi Jari pada Waktu Sujud

Soal:

Apakah pada waktu sujud, jari-jari juga merupakan bagian dari telapak tangan dan harus diletakkan di atas lantai?

Jawab:

Jari-jari merupakan bagian dari telapak tangan. Dan pada waktu sujud, berdasarkan ihtiyath wajib telapak tangan harus diletakkan di atas lantai sekiranya menurut masyarakat umum betul bahwa telapak tangan itu –diletakkan- di atas lantai.

Niat Ikut Shalat Jumat kepada Imam Jumat Yang Sedang Shalat Ashar

Soal:

Seseorang mengira bahwa Imam Jumat sedang menunaikan Shalat Jumat, lalu dia mengikutinya dengan niat Shalat Jumat. Tapi kemudian terungkap bahwa imam tersebut sedang melakukan Shalat Ashar. Apa tugas orang itu?

Jawab:

Shalatnya batal. Setelah membatalkan shalat, dia bisa mengikuti imam jamaah dengan niat Shalat Dzuhur.

Hirau Waswas dalam Ibadah

Soal:

Apakah penghirauan terhadap waswas dalam amal ibadah, selain haram juga menyebabkan batalnya amal?

Jawab:

Di dalam shalat, tidak boleh mengulang amal atas dasar waswas. Hal itu membuat shalat jadi batal. Begitu pula, tidak boleh mengulang zikir dan qiraah atas dasar waswas. Dan itu, berdasarkan ihtiyath wajib, membuat shalat jadi batal.

Adapun dalam wudhu dan mandi, walau pun haram hukumnya mengulang amal atas dasar waswas, akan tetapi hal itu tidak membuat amal (wudhu atau mandi) jadi batal. Kecuali apabila salah satu syarat kesahannya tidak diperhatikan. (Seperti membasuh tangan kiri dalam wudhu lebih dari dua kali, atau mengusap dengan air di luar wudhu).

Pengulangan Salam-Salam Shalat

Soal:

Dalam shalat, apabila seseorang ragu akan sahnya salah satu dari salam-salam shalat, apakah seandainya sumber keraguan itu bukan waswas dia boleh mengulang salam demi hati-hati (ihtiyath)?

Jawab:

Apabila dia ragu akan sahnya salam yang mana pun dari shalat, tidak perlu dia mengulanginya. Namun, kalau pun dia mengulanginya maka itu tidak masalah.

Shalat Sunnah Sebagai Ganti bagi Orang Hidup

Soal:

Apakah melakukan shalat-shalat sunnah sebagai ganti dari orang yang masih hidup adalah sah?

Jawab:

Iya, boleh (sah). Walau pun sebaiknya dia melakukan shalat sunnah itu tanpa niat ganti dari orang lain, lalu dia hadiahkan pahalanya kepada orang hidup yang dia inginkan.

Penghitungan Sepertiga Harta

Soal:

Seseorang berwasiat agar dibayarkan dari hartanya –biaya- lima tahun shalat dan puasa, lima ratus hari kafarah, dan satu juta pelunasan harta atau hak yang secara zalim direbut dari orang lain (roddul madzolim). Seandainya sepertiga harta dia adalah tiga juta, bagaimana caranya membagi tiga juta ini untuk hal-hal tersebut?

Jawab:

Kafarah dan pelunasan harta atau hak yang secara zalim direbut dari orang lain (roddul madzolim) hendaknya diambil dari pokok peninggalannnya. Sedangkan –biaya- shalat dan puasa dihitung dari sepertiga harta, dan apabila biayanya lebih dari sepertiga harta padahal ahli waris tidak rela untuk dibayarkan dari sisa peninggalan maka hendaknya shalat dan puasanya yang dikurangi secara proporsional. Dalam kondisi seperti ini, seberapa pun sisa shalat dan puasanya maka wajib dilakukan oleh anak laki paling besar.

Syarat Terkandung dalam Akad Nikah

Soal:

Ada orang laki dan perempuan yang ingin menikah. Mereka tahu bahwa berdasarkan akad nikah maka nafkah perempuan itu menjadi tanggungjawab lelaki tersebut. Namun demikian, mengingat pendapatan lelaki yang minim dan status perempuan yang pekerja, maka mereka mensyaratkan agar si lelaki tidak –harus- memberi nafkah dan si perempuan menanggung sendiri biaya pengeluarannya, hanya dalam kondisi darurat atau seandainya (kadang-kadang) si perempuan kehilangan pekerjaan maka si lelaki harus menanggung biaya pengeluarannya. Apakah akad seperti ini sah? Apakah syarat ini harus dilaksanakan atau tidak?

Jawab:

Syarat seperti ini dalam akad hukumnya boleh (sah), dan pelaksanaan syarat itu hukumnya harus.

Istigfar dan Bayar Kafarah

Soal:

Di dalam kafarah tidak sengaja, fidyah atau kafarah keterlambatan, apabila seseorang sekarang dalam keadaan fakir dan beristigfar, dan setelah itu dia menjadi kaya, maka apakah hukumnya seperti kafarah sengaja dimana tanggungan dia menjadi bebas atau tidak (melainkan dia masih bertanggungjawab untuk membayarnya)?

Jawab:

Mengenai fidyah dan kafarah keterlambatan, selama dia tidak punya kemampuan finansial maka untuk sementara dia tidak punya keharusan apa-apa. Dan kapan pun dia mendapat kemampuan finansial maka dia harus membayarnya.

Sujud Orang Terpaksa

Soal:

Orang yang tidak mampu sujud biasa dan dia bersujud di atas kursi, apa tugasnya terkait titik-titik sujud?

Jawab:

Dahi, berdasarkan ihtiyath, harus diletakkan di atas sesuatu yang sah sujud di atasnya. Adapun mengenai titik-titik sujud yang lain maka tidak harus diletakkan, walau pun sebaiknya berhati-hati (ihtiyath).

Izin Ahli Waris dalam Hal Lebih dari Sepertiga

Soal:

Seseorang berwasiat lebih dari sepertiga hartanya, dan ahli waris pada waktu dia masih hidup mengizinkan kelebihan itu. Anda telah menjelaskan bahwa sepeninggal pewaris ahli waris tidak berhak berpaling dari izin itu. Apakah sebelum meninggalnya pewaris mereka juga tidak berhak untuk itu (berpaling dari izin tersebut)?

Jawab:

Mereka tidak berhak berpaling –dari izin itu-. (WF)

 

Sumber Farsi: http://leader.ir/fa/content/20634

Hits: 63

Fatwa, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat