Sayidah Zahra dalam Tinjauan Imam Khumaini (3)

Imam Khumaini ra, Rabu (16 Mei 1979) dalam pesan yang disiarkan melalui radio dan televisi mengenai kedudukan hakiki wanita dan menjelang Hari Wanita, mengisyaratkan kepada sosok agung Sayidah Fathimah Zahra as seraya berkata:

“Seluruh dimensi yang tergambarkan tentang wanita dan yang tergambarkan tentang manusia tampak pada diri Sayidah Fathimah Zahra as. Beliau bukan wanita biasa. Beliau seorang wanita ruhani, wanita malakuti, manusia sejati, seluruh naskah kemanusiaan, seluruh hakikat kewanitaan, dan seluruh hakikat keinsanan.

Beliau bukan wanita biasa. Beliau adalah keberadaan malakuti yang muncul dalam bentuk manusia di dunia. Bahkan, beliau adalah keberadaan Ilahi dan Jabaruti yang muncul sebagai seorang wanita. Jadi, besok Hari Wanita. Seluruh identitas kesempurnaan yang tergambarkan tentang manusia dan yang tergambarkan tentang wanita, seluruhnya terdapat pada sosok wanita ini (Sayidah Zahra as).

Hari –seperti- esok, lahir seorang wanita yang mana seluruh keistimewaan para nabi terdapat pada dirinya. Wanita yang seandainya dia laki, maka dia jadi nabi. Wanita yang seandainya dia laki, maka menempati posisi Rasulullah Saw. Jadi, besok Hari Wanita. Seluruh aspek wanita dan seluruh kepribadian wanita menjadi ada. Hal-hal yang maknawi, penampakan-penampakan Malakuti, penampakan-penampakan Ilahi, penampakan-penampakan Jabaruti, penampakan-penampakan Mulki dan Nasuti, seluruhnya terkumpul pada sosok mulia ini. Manusia sejati. Wanita sejati. Wanita punya berbagai dimensi, sebagaimana pria pun demikian. Begitu pula manusia.

Citra natural ini merupakan tingkat paling rendah manusia, tingkat paling rendah wanita, dan tingkat paling rendah lelaki. Namun, berangkat dari tingkat yang paling rendah inilah gerakan menuju kesempurnaan bermula. Manusia adalah makhluk yang bergerak. Mulai dari tingkat natural sampai tingkat gaib, sampai dengan fana pada Ketuhanan.

Bagi Shiddiqah Thahirah Sayidah Fathimah Zahra as, hal-hal itu sudah diraih. Mulai bergerak dari tingkat natural, kemudian gerakan spiritual; menempuh tahapan-tahapannya dengan kekuasaan Ilahi, dengan tangan gaib, dan dengan didikan Rasulullah Saw, sampai beliau ke tingkat dimana semua orang tak dapat menggapainya.” (WF)

Hits: 33

Headline, Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat