Malam-Malam Acara Duka Sayidah Zahra as di Husainiyah Imam Khumaini

Acara duka peringatan syahadah Sayidah Fathimah Zahra as, Minggu-Rabu (18-21/2) malam, diselenggarakan sebagaimana malam sebelumnya di Husainiyah Imam Khumaini dan dihadiri oleh Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, pejabat-pejabat negara, dan ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat.

Di Minggu malam, Hujjatul Islam Wal Muslimin Rafii berpidato dan menjelaskan keutamaan-keutamaan Sayidah Zahra as berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, begitu pula dari karya para tokoh terkemuka, baik muslim maupun non muslim.

Keutamaan-keutamaan yang dia jelaskan anata lain penghambaan kepada Allah Swt, keberanian, pengorbanan, adab atau sopan santun, keadilan, dan kerakyatan. Lalu, dia mengisyaratkan pada langkah-langkah Sayidah Zahra as dalam membela Wilayah dan berkata, “Sayidah Shiddiqah Kubra as mempersembahkan jiwa dan raganya demi membela Imamah dan Wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Dan syuhada kita pun berpegang teguh pada sirah puteri suci Nabi Saw ini dalam mengorbankan diri demi membela agama.”

Setelah pidato, Bapak Muhammad Reza Thahiri menzikirkan musibah dan pujian-pujian tentang Sayidah Zahra as.

Pada malam berikutnya, Hujjatul Islam Wal Muslimin Rafii menjelaskan sebab-sebab dekadensi moral masyarakat dan mengatakan, “Menurut Ummul Aimmah Sayidah Zahra as, kemunafikan, kejauhan diri dari Al-Qur’an, penistaan terhadap Rasulullah Saw, kepatuhan pada setan, perselisihan dan perpecahan adalah faktor utama kemerosotan masyarakat dari nilai-nilai agama.”

Setelah itu, dia menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah agar peristiwa-peristiwa pahit tidak terulang kembali.

Usai pidato, Bapak Karimi melantunkan zikir musibah dan pujian-pujian tentang Sayidah Zahra as dan Ahli Bait beliau.

Di malam Rabu, Hujjatul Islam Wal Muslimin yang berpidato. Dia mengisyaratkan pada trik-trik dan tipudaya setan di akhir zaman. Dia mengatakan, “Setan membidik keluarga dan ikatan rumah tangga. Sekiranya hubungan-hubungan ini rusak, maka kemerosotan massa menjadi mudah, dan runtuhlah masyarakat.”

Dia menjelaskan bahwa di dalam budaya agama, rumah tangga dan keluarga adalah tempat ibadah, latihan diri, dan pendidikan. Dia mengatakan, “Rumah tangga Amirul Mukminin Ali as dan Sayidah Zahra as penuh dengan ketulusan, cinta, kasih sayang, dan hormat. Keluarga cahaya ini harus menjadi teladan bagi keluarga-keluarga muslim.”

Setelah itu, Bapak Muthii mengidungkan musibah dan pujian tentang Sayidah Zahra as dan keluarga suci beliau.

Di Rabu malam, Hujjatul Islam Wal Muslimin Ali mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan hal-hal yang sakral. Dia menjelaskan bahwa keluarga dan rumah tanggal adalah hal yang sakral, tempat pendidikan, dan ruang perbaikan. Dia mengatakan, “Pokok pendidikan anak yang paling penting adalah akhlak dan perilaku kedua orangtua.”

Setelah pidato, Bapak Haddadian melantunkan zikir musibah dan pujian tentang Sayidah Zahra as dan Ahli Bait Nabi Saw.

Di malam terakhir, Hujjatul Islam Wal Muslimin Sayid Ahmad Khatami berpidato menjelaskan faktor-faktor internal dan eksternal kekolotan, tanda-tanda dan dampak-dampaknya. Dia mengatakan, “Kolot berarti kembali ke pandangan, nilai, dan perilaku Jahiliyah. Apabila masyarakat terkena penyakit kolot, maka hancurlah seluruh nilai-nilainya.”

Dia menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari Hari-Hari Fathimiah lalu mengatakan, “Sayidah Fathimah Zahra as di dalam Khutbah Fadakiyahnya mengingatkan bahaya kekolotan dan menyebutnya sebagai faktor berbagai malapetaka. Karena itu, bahaya ini harus betul-betul diwaspadai.”

Setelah pidato, Bapak Samawati mengidungkan zikir musibah dan pujian tentang Sayidah Zahra as dan Ahli Bait Nabi Saw. (WF)

Hits: 22

Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat