10 Hal dari Kehidupan Sayidah Zahra as dalam Keterangan Imam Khamenei

Walau pun singkat, kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as penuh berkah dan sarat dengan berbagai peristiwa serta kesulitan yang luar biasa dalam sejarah Islam. Era tablig Islam dan kedengkian Musyrikin, perang-perang awal histori Islam, kepergian Nabi Muhammad Saw dan suksesi sepeninggal beliau adalah sebagian kecil dari masa berat kehidupan putri suci ini.

Pun demikian, begitu agung dan istimewanya sosok Sayidah Zahra as sehingga bukan hanya bagi masyarakat Syiah, bahkan bagi para Imam suci Ahli Bait as pun beliau menjadi teladan dan tempat rujukan.

Berikut ini, kami akan kutipkan 10 hal tentang kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as dari pidato dan keterangan Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei:

1. Punya tapi Tidak Foya-Foya (Zuhud)

Meskipun gerbang kemenangan dan ganimah terbuka, tapi putri suci Nabi Muhammad Saw sedikit pun tidak membuka celah untuk kesenangan duniawi, formalitas, foya-foya, dan hal-hal yang biasanya menarik hati anak-anak muda perempuan dan wanita-wanita lainnya. Ibadah Sayidah Fathimah Zahra as merupakan ibadah teladan. (16 Desember 1992).

2. Mujahid Sejati

Dalam kehidupan sederhana insan yang mulia ini, terdapat sebuah poin penting. Yaitu, penyatuan antara kehidupan seorang wanita muslim dalam perilakunya terhadap suami, anak-anak, dan tugas-tugasnya di dalam rumah. Ini dari satu sisi. Dan tugas-tugasnya sebagai seorang pejuang pemberani yang tidak kenal lelah dalam menghadapi peristiwa-peristiwa politik penting pasca wafatnya Rasulullah Saw; dimana beliau datang ke masjid lalu berpidato di sana, menyampaikan sikap, membela, dan berbicara lantang. Seorang mujahid sejati yang tidak kenal letih, teruji, dan tahan susah. (13 Desember 1989).

3. Infak padahal Butuh

Ketika Nabi Muhammad Saw mengirim kakek tua miskin ke pintu rumah Amirul Mukminin Ali as untuk “mintalah dari mereka apa yang kau butuhkan!”, Sayidah Zahra as memberinya alas kulit yang biasanya Hasan dan Husain tidur di atas itu serta tempat duduk mereka di rumah, padahal beliau tidak punya alas lagi selain itu. Beliau berkata kepadanya, “Bawa, jual dan gunakan uangnya!”. Sosok yang sempurna dari semua sisi ini adalah Sayidah Fathimah Zahra as. (16 Desember 1992)

4. Bela Kebenaran Sebatang Kara

Bukankah kita mengucapkan, “hatta tawarroma qodamaaha”?! Begitu hebatnya beliau berdiri di mihrab ibadah kepada Allah Swt! Kita juga harus berdiri di mihrab ibadah. Kita juga harus berzikir dan mengingat Allah Swt. Kita juga setiap hari harus meningkatkan cinta Ilahi dalam hati. Bukankah kita mengucapkan bahwa beliau pergi ke masjid dalam keadaan lemas tak berdaya demi menegakkan hak dan kebenaran? Kita juga di setiap keadaan harus berusaha keras untuk menegakkan hak dan kebenaran. Kita juga jangan pernah takut kepada siapa pun. Bukankah kita mengucapkan bahwa beliau bertahan sebatang kara di hadapan masyarakat besar pada zamannya?! Kita juga harus seperti yang disabdakan oleh suami beliau yang mulia, “La tastawhisyu fi thoriqil huda li qillati ahlih!” (artinya, “Jangan kalian takut di jalan hidayah karena sedikit ahlinya!”); kita harus terus berusaha keras dan tidak boleh takut pada sedikitnya jumlah kita di hadapan dunia kezaliman dan arogansi. (26 Desember 1991).

5. Putri, Istri, dan Ibu Teladan

Kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as dari semua sisi merupakan kehidupan yang disertai dengan kerja, usaha, kesempurnaan dan ketinggian ruh manusia. Suami muda beliau senantiasa hadir di front dan medan perang. Dan kendati banyak sekali kendala lingkungan sekitar dan kehidupan, beliau tetap menjadi pusat rujukan masyarakat dan umat Islam. Beliau adalah putri penyelesai masalah bagi Nabi Muhammad Saw. Dan dalam kondisi seperti ini, beliau tetap mengembangkan kehidupan dengan kemuliaan yang sempurna: Beliau didik anak-anak seperti Hasan, Husain dan Zainab; menjaga suami seperti Ali, dan menarik perhatian serta keridaan ayah seperti Nabi Saw! (16 Desember 1992).

6. Sadar Tanggungjawab Penting di hadapan Masyarakat Islam

Coba perhatikan bagaimana Sayidah Fathimah Zahra as berperan sebagai istri terhadap suami. Selama sepuluh tahun Nabi Muhammad Saw tinggal di Madinah, sekitar sembilan tahun Sayidah Zahra as dan Amirul Mukminin Ali as hidup sebagai pasangan suami dan istri. Dalam kurun waktu sembilan tahun ini, terjadi sekitar enam puluh peperangan … coba kalian perhatikan! Sayidah Zahra as adalah orang yang tinggal di dalam rumah sementara suaminya terus menerus pergi perang. Sebab apabila suami beliau tidak hadir dalam peperangan, maka kubu Islam akan mengalami masalah. Kubu Islam sangat tergantung kepada beliau as. Selain itu, dari sisi pendapatan hidup pun mereka bukan dalam kondisi yang mapan … Artinya, kehidupan mereka betul-betul kehidupan yang fakir murni. Di saat Sayidah Zahra as adalah putri pemimpin dan putri Nabi Saw, maka beliau juga semacam merasakan tanggungjawab. (27 April 1998).

7. Istri Teladan

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersabda tentang Sayidah Fathimah Zahra as, “Dia tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah keluar dari perintahku.”

Dengan segala keagungan dan kebesarannya, Sayidah Zahra as di lingkungan rumah tangga merupakan istri dan wanita sebagaimana yang diinginkan oleh Islam. (16 Desember 1992).

8. Penghambaan Tulus kepada Allah Swt

Kalau bukan karena penghambaan kepada Allah Swt pada diri Sayidah Zahra as, niscaya beliau tidak akan menjadi Shiddiqah Kubra.

Apa maksudnya Shiddiqah? Maksudnya adalah orang yang secara jujur, benar dan tulus mengamalkan apa yang dia pikirkan dan katakan. Semakin kejujuran, kebenaran dan ketulusan itu besar, semakin besar pula nilai seseorang. … Sayidah Zahra as, insan mulia ini adalah Shiddiqah Kubra; yakni wanita shiddiqah yang paing utama. (27 Juli 2005).

9. Peduli Fakir & Miskin

Sayidah Zahra as, insan mulia ini menahan roti dari tenggorokannya dan dari tenggorokan orang-orang tercintanya –seperti Hasan dan Husain as serta ayah mereka- demi orang-orang yang kelaparan. Beliau memberikannya kepada orang yang fakir dan membutuhkan; bukan hanya sehari, bukan pula hanya dua hari; bahkan tiga hari secara berturut-turut!

Kita mengaku sebagai pengikut manusia seperti ini. Tapi, kita bukan saja tidak menahan roti dari tenggorokan diri sendiri untuk diberikan kepada fakir dan miskin, bahkan kalau bisa kita tahan roti dari tenggorokan orang-orang fakir dan miskin! (26 Desember 1991).

10. Perjuangan di Jalan Islam

Sayidah Zahra as dinamai “Umu Abiha” karena jasa, kerja, usaha keras dan perjuangan beliau.

Baik pada periode Mekkah, maupun pada periode Syiib Abi Thalib, begitu pula ketika ibunya Sayidah Khadijah as meninggal dunia sehingga Nabi Muhammad Saw sendiri, Sayidah Zahra as senantiasa berada di sisi ayah dan melipur lara beliau … Sejak saat-saat itu beliau sudah siaga aktif membersihkan debu-debu cobaan dari wajah Rasulullah Saw dengan tangan mungilnya. (24 November 1994). (WF)

Hits: 48

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat