Sayidah Zahra dalam Tinjauan Imam Khumaini (2)

Imam Khumaini, Senin (21/3/1983), dalam pidatonya di hadapan pejabat-pejabat negara Republik Islam Iran mengatakan:

“Mulai sekarang, apa yang harus kita lakukan? Ada satu hal yang berada di puncak seluruh persoalan, yaitu masalah kemaknawiyan (spiritualitas). Kita harus berusaha untuk menerapkan hal-hal maknawi di antara bangsa tercinta ini dan di antara Muslimin. Kita harus mengajak masyarakat kepada hal-hal maknawi, akhlak Islami, dan sopan santun budaya Islam. Bangsa kita Alhamdulillah sangat siap untuk bergerak menuju hal-hal yang maknawi. Dan sampai saat ini pun mereka telah mengambil banyak langkah untuk itu.

Akan tetapi, perjalanannya sangat panjang. Dan jalan maknawi harus ditempuh-upayakan oleh setiap orang di semua umurnya. Mungkin banyak orang mengira bahwa kesejahteraan material dan kepunyaan di bank-bank, harta, atau kepemilikan tanah, taman, atau lain sebagainya akan membawa kebahagian bagi manusia. Ini kekeliaran manusia.

Orang mengira kebahagiaannya adalah punya berapa kebun, punya berapa kampung, punya modal di bank-bank, punya ini dan itu dalam perdagangan. Mungkin saja orang beranggapan demikian. Namun, ketika kita perhatikan dan bandingkan berbagai kebahagiaan maka kita akan menyaksikan bahwa orang-orang bahagia adalah mereka yang tinggal di gubuk-gubuk. Mereka yang tinggal di istana ternyata bukan orang yang bahagia. Sebegitu banyak berkah yang menyebar dari gubuk ke dunia dan tidak ada yang bisa ditemukan di istana.

Kita punya gubuk empat-lima orang di awal sejarah Islam, yaitu gubuk Sayidah Fathimah Zahra as. Lebih sederhana dari gubuk-gubuk lain. Tapi bagaimana dengan berkahnya? Berkah gubuk segelintir orang ini begitu hebat memenuhi alam semesta dengan cahaya. Panjang sekali jalan manusia untuk sampai kepada berkah-berkah itu. Para penghuni gubuk sederhana ini dari sisi kemaknawiyan bertamabat sangat tinggi sehingga para malakuti pun tidak sanggup mencapainya.

Dari sisi pendidikan, begitu mulianya para penghuni gubuk sederhana ini sehingga ke mana pun orang melihat terdapat berkahnya di negeri-negeri Muslimin, terutama di negeri seperti negeri kita. Semua ini karena berkah mereka.

Rasulullah Saw sendiri yang berada di puncak mereka semua adalah orang yang hidup di gubuk. Jangan dikira bahwa beliau punya ruangan bahkan seperti ruangan menengah masyarakat sekarang. Beliau punya berapa bilik, bilik-bilik yang sangat sederhana. Namun, dari sosok paling mulia di bilik sangat sederhana inilah cahaya memancar ke muluk dan malakut. Jangkauan pendidikannya meluas sampai seluruh alam semesta. Sementara itu, apa yang beliau maksud masih belum terealisasi, dan umat manusia tidak akan secepat ini bisa menggapainya, kecuali insyaallah Khalaf Shaleh beliau (Imam Mahdi af) datang dan di tangan beliau pendidikan mulia akan terealisasi.” (Shahifeh Imam, 17/373-374). (WF)

Hits: 14

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat