Syahid Imad Anak Imam

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Minggu (17/2/2008), dalam pidatonya di hadapan warga Tabriz mengatakan:

“Kalian (Bangsa Mukmin Republik Islam) adalah masyarakat yang waspada. Baik orang seperti saya mengakuinya ataupun tidak. Baik kami mengungkapkannya maupun tidak. Sejarah kita, Revolusi [Islam] kita, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama 29 tahun ini telah membuktikan hal tersebut. Bukan hanya –membuktikan- kepada diri kita sendiri, bahkan kepada dunia. Karena itu, mereka berbangga dengan nama kalian, bangsa kalian, rakyat kalian, dan Imam [Khumaini ra] kalian.

Syuhada terkemuka Dunia Islam, syahid tercinta yang berapa hari lalu diteror oleh zionis, mereka semua bangga menjadi anak-anak Imam [Khumaini ra]. Mereka sendiri yang memandang diri sebagai anak Imam. Syahid Haji Imad ini juga memandang dirinya sebagai anak Imam. Artinya, apabila dibandingkan dengan anak muda kita sendiri, betul-betul dia tidak yakin bahwa anak muda Iran ini lebih dekat kepada Imam daripada dirinya. Dia yakin bahwa dirinya juga seperti anak muda Iran merupakan anak Imam dan dekat dengan Imam.

Kenapa?

Karena Imam [Khumaini ra] memberinya nyawa. Imam telah menghidupkannya.

Pemuda-pemuda seperti ini dari dulu sudah ada di Libanon, di Palestina, di Gaza, dan di semua tempat. Tapi dulu mereka tidak bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar seperti ini. Siapa yang mengira bahwa anak-anak muda Libanon dengan modal senjata biasa mampu memukul mundur dan mempermalukan tentara yang mengaku sebagai salah satu tentara terbesar dunia? Hari-hari pertama setelah berakhirnya Perang 33 Hari, zionis mengatakan tidak; kita tidak kalah! Sekarang, laporan Komite Wenigrad telah mengungkap fakta yang sebenarnya. Mereka (zionis) berlagak tidak kalah supaya tidak terlalu malu. Tapi faktanya gamblang. Tentara dengan perlengkapan lengkap. Bahkan AS juga secara langsung ikut dalam pertempuran. Kalian perlu tahu bahwa pada Perang 33 Hari Libanon, AS juga ikut turun secara langsung. Selain membackup, diam-diam mereka juga ikut terjun dalam pertempuran secara langsung. Tapi mereka semua kalah. Kalah dari siapa? Kalah dari sekelompok anak muda yang sarana mereka adalah kepercayaan diri, tawakal kepada Allah Swt, tidak takut mati, dan bertahan di medan. Dengan sarana itu mereka kalahkan. Legenda ketidakterkalahkannya kekuatan-kekuatan ini dipatahkan sedemikian rupa.

Kita bersyukur kepada Allah Swt; kita bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat Revolusi [Islam], kita bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat Imam [Khumaini ra], kita bersyukur kepada Allah Swt atas keagungan yang ditunjukkan oleh Bangsa Iran, kita bersyukur kepada Allah Swt atas taufik yang Dia berikan kepada bangsa ini. Satu persatu kalian anak-anak muda adalah nikmat besar Allah Swt yang harus disyukuri.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ

(Artinya: “Dan jika kalian hitung nikmat Allah –niscaya- kalian tidak akan mampu membilangnya, sungguh Allah betul-betul Maha Pengampun Maha Pengasih.” (QS. An-Nahl [16]: 18). (WF)

Hits: 49

Headline, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat