Pidato Sayidah Fathimah Zahra As di Masjid Nabi Saw (Khutbah Fadakiyah 3)

َبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، صَادِعاً بِالنِّذَارَةِ، مَائِلًا عَنْ مَدْرَجَةِ الْمُشْرِكِينَ، ضَارِباً ثَبَجَهُمْ، آخِذاً بِأَكْظَامِهِمْ، دَاعِياً إِلَى سَبِيلِ رَبِّهِ‏ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، يَكْسِرُ الْأَصْنَامَ، وَ يَنْكُثُ الْهَامَ، حَتَّى انْهَزَمَ الْجَمْعُ وَ وَلَّوُا الدُّبُرَ، حَتَّى تَفَرَّى اللَّيْلُ عَنْ صُبْحِهِ، وَ أَسْفَرَ الْحَقُّ عَنْ مَحْضِهِ، وَ نَطَقَ زَعِيمُ الدِّينِ، وَ خَرِسَتْ شَقَاشِقُ الشَّيَاطِينِ، وَ طَاحَ وَشِيظُ النِّفَاقِ، وَ انْحَلَّتْ عُقَدُ الْكُفْرِ وَ الشِّقَاقِ

Maka beliau sampaikan misi –pelantikan Amirul Mukminin Ali as sebagai khalifah dan wasinya-, beliau memulainya dengan peringatan, memalingkan dari cara orang-orang musyrik, meletakkan pedang di bahu mereka (berjuang melawan mereka), menahan tenggorokan mereka, mengajak mereka ke jalan Tuhan-nya “dengan hikmah dan nasihat yang baik”, memecahkan berhala-berhala, meruntuhkan kepala-kepala (menggulingkan para penindas), sehingga hancur gerombolan itu dan kabur. Sampai membelah dada malam dan terbitlah fajar, muncullah hakikat dari kemurniannya, berbicaralah pemimpin agama, bungkamlah mulut-mulut setan, binasalah kemunafikan yang hina, dan terurailah simpul-simpul kekafiran dan permusuhan.

وَ فُهْتُمْ بِكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ فِي نَفَرٍ مِنَ الْبِيضِ الْخِمَاصِ، وَ كُنْتُمْ عَلى‏ شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ، مُذْقَةَ الشَّارِبِ، وَ نُهْزَةَ الطَّامِعِ، وَ قَبْسَةَ الْعَجْلَانِ، وَ مَوْطِئَ الْأَقْدَامِ، تَشْرَبُونَ الطَّرْقَ، وَ تَقْتَاتُونَ الْوَرَقَ‏، أَذِلَّةً خَاسِئِينَ، تَخافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ‏ مِنْ حَوْلِكُمْ، فَأَنْقَذَكُمُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ بَعْدَ اللَّتَيَّا وَ الَّتِي، وَ بَعْدَ أَنْ مُنِيَ بِبُهَمِ الرِّجَالِ، وَ ذُؤْبَانِ الْعَرَبِ، وَ مَرَدَةِ أَهْلِ الْكِتَابِ‏

Dan –pada akhirnya, berkat perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad Saw- kalian sejalan dan seirama dengan sekelompok kecil orang yang berparas putih dan berperut keroncongan (para pejihad yang bangun malam dan jaga diri) menyuarakan Kalimat Ikhlas (tiada Tuhan kecuali Allah). “Padahal –ketika itu- kalian berada di tepi jurang dari neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 103), -menjadi- tegukan bagi setiap peminum, buruan bagi setiap orang serakah, sambaran bagi setiap orang yang tergesa-gesa, dan injakan kaki-kaki. Kalian minum air keruh, kalian santap bangkai dan kulit binatang, senantiasa dalam keadaan hina dan terusir, “takut orang-orang lain menyambar kalian” (QS. Al-Anfal [8]: 26) dari semua arah, maka Allah –tabaroka wa taala– menyelamatkan kalian melalui Nabi Muhammad –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau- dari semua kenistaan ini, -tapi semua itu- setelah menanggung kesulitan ini dan itu, dan setelah bergelut dengan pahlawan-pahlawan pemberani, serigala-serigala Arab, dan pembangkang-pembangkang Ahli Kitab,

كُلَّما أَوْقَدُوا ناراً لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ‏، أَوْ نَجَمَ قَرْنٌ لِلشَّيْطَانِ‏، وَ فَغَرَتْ فَاغِرَةٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، قَذَفَ أَخَاهُ فِي لَهَوَاتِهَا، فَلَا يَنْكَفِئُ حَتَّى يَطَأَ صِمَاخَهَا بِأَخْمَصِهِ، وَ يُخْمِدَ لَهَبَهَا بِسَيْفِهِ، مَكْدُوداً فِي ذَاتِ اللَّهِ، وَ مُجْتَهِداً فِي أَمْرِ اللَّهِ، قَرِيباً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، سَيِّدَ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ‏، مُشَمِّراً نَاصِحاً، مُجِدّاً كَادِحاً، وَ أَنْتُمْ‏ فِي رَفَاهِيَةٍ مِنَ الْعَيْشِ، وَادِعُونَ فَاكِهُونَ آمِنُونَ، تَتَرَبَّصُونَ بِنَا الدَّوَائِرَ، وَ تَتَوَكَّفُونَ الْأَخْبَارَ، وَ تَنْكِصُونَ عِنْدَ النِّزَالِ، وَ تَفِرُّونَ عِنْدَ الْقِتَالِ

“Setiap mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah [5]: 64), atau setiap nongol tanduk setan (pengikut kesesatan), dan terbuka lebar mulut Musyrikin –untuk menelan kalian-, beliau (ayahku) lontarkan saudaranya (Amirul Mukminin Ali as) ke tengah mereka, maka dia pun (Ali as) tidak angkat tangan sampai berhasil menginjak kaki-tangan musuh dengan langkah-langkah kokohnya, dan memadamkan jilatan-jilatan api mereka dengan pedangnya, sementara dia memayahkan diri dalam Dzat Allah, berusaha keras dalam menjalankan firman Allah, dekat dari utusan Allah, penghulu wali-wali Allah, menyingsingkan lengan siaga gerak menginginkan sekali kebaikan bagi yang lain, serius dan sungguh-sungguh –sehingga tidak peduli dengan celaan siapa pun di jalan Allah Swt-, sedangkan kalian ketika itu dalam kesejahteraan hidup, nyaman tenang dan aman, kalian menantikan terjadi petaka pada kami, sigap mendengar berita, dan senantiasa mundur dari peperangan, serta kabur dari pertempuran. (WF)

Hits: 93

Headline, Wahyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat