Pidato Sayidah Fathimah Zahra As di Masjid Nabi Saw (Khutbah Fadakiyah 2)

ثُمَّ قَبَضَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ قَبْضَ رَأْفَةٍ وَ اخْتِيَارٍ، وَ رَغْبَةٍ وَ إِيْثَارٍ بمحمد [فَمُحَمَّدٌ] صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ عَنْ‏ تَعَبِ هَذِهِ الدَّارِ فِي رَاحَةٍ، قَدْ حُفَّ بِالْمَلَائِكَةِ الْأَبْرَارِ، وَ رِضْوَانِ الرَّبِّ الْغَفَّارِ، وَ مُجَاوَرَةِ الْمَلِكِ الْجَبَّارِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَى أَبِي نَبِيِّهِ وَ أَمِينِهِ عَلَى الْوَحْيِ وَ صَفِيِّهِ‏ وَ خِيَرَتِهِ مِنَ الْخَلْقِ وَ رَضِيِّهِ‏، وَ السَّلَامُ عَلَيْهِ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Kemudian Allah menggenggam –Nabi- Muhammad Saw kepada-Nya dengan kasih, pilih, rindu, dan pengutamaan –akhirat atas dunia-. Maka sekarang beliau rihat dari keletihan dunia ini, diliputi malaikat-malaikat yang bajik, keridaan Rabbi Maha Pengampun, dan perdampingan Maha Raja Maha Perkasa. Bershalawatlah Allah atas ayahku nabi-Nya, manusia kepercayaan-Nya atas wahyu, pilihan-Nya dan orang yang diridai-Nya di antara khalayak. Salam sejahtera atas beliau dan rahmat Allah serta berkah-Nya.

ثُمَّ الْتَفَتَتْ‏ إِلَى أَهْلِ الْمَجْلِسِ، وَ قَالَتْ
أَنْتُمْ عِبَادَ اللَّهِ نُصْبُ أَمْرِهِ وَ نَهْيِهِ، وَ حَمَلَةُ دِينِهِ وَ وَحْيِهِ، وَ أُمَنَاءُ اللَّهِ عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَ بُلَغَاؤُهُ إِلَى الْأُمَمِ، وَ زَعَمْتُمْ حَقٌّ لَكُمْ لِلَّهِ‏ فِيكُمْ عَهْدٌ قَدَّمَهُ إِلَيْكُمْ، وَ بَقِيَّةٌ اسْتَخْلَفَهَا عَلَيْكُمْ، كِتَابُ اللَّهِ النَّاطِقُ، وَ الْقُرْآنُ الصَّادِقُ، وَ النُّورُ السَّاطِعُ، وَ الضِّيَاءُ اللَّامِعُ، بَيِّنَةٌ بَصَائِرُهُ، مُنْكَشِفَةٌ سَرَائِرُهُ، مُتَجَلِّيَةٌ ظَوَاهِرُهُ، مُغْتَبِطَةٌ بِهِ أَشْيَاعُهُ، قَائِدٌ إِلَى الرِّضْوَانِ اتِّبَاعُهُ، مُؤَدٍّ إِلَى النَّجَاةِ إِسْمَاعُهُ‏، بِهِ تُنَالُ حُجَجُ اللَّهِ الْمُنَوَّرَةُ، وَ عَزَائِمُهُ الْمُفَسَّرَةُ، وَ مَحَارِمُهُ الْمُحَذَّرَةُ، وَ بَيِّنَاتُهُ الْجَالِيَةُ، وَ بَرَاهِينُهُ الْكَافِيَةُ، وَ فَضَائِلُهُ الْمَنْدُوبَةُ، وَ رُخَصُهُ الْمَوْهُوبَةُ، وَ شَرَائِعُهُ الْمَكْتُوبَةُ،

Kemudian Sayidah Zahra as mengalihkan pandangan ke arah peserta majelis seraya bersabda:

Kalian wahai hamba-hamba Allah! adalah komunikan perintah dan larangan beliau, pengusung agama dan wahyu beliau, orang-orang diamanati Allah atas diri kalian satu sama yang lain, dan utusan tablig beliau ke bangsa-bangsa lain. Kalian tahu Allah telah meletakkan jaminan hak di tengah kalian, dan janji yang Dia kirimkan –melalui beliau- kepada kalian, serta pusaka yang ditinggalkan pada kalian; -yaitu- Kitab Allah yang bertutur, Al-Qur’an yang jujur, cahaya yang memancar, dan sinar yang berkilau, terang pandangan-pandangannya, terbuka kandungan-kandungannya, terjelma lahir-lahirnya, diiri pengikut-pengikutnya; penganutan padanya mengantar kepada keridaan, penyimakan terhadapnya membawa kepada keselamatan; dengannya diperoleh hujjah-hujjah Allah yang terang, kewajiban-kewajiban-Nya yang jelas, larangan-larangan haram-Nya yang diperingatkan, bukti-bukti-Nya yang gamblang, tanda-tanda burhan-Nya yang cukup, kebaikan-kebaikan utama-Nya yang indah (sunnah), rukhsah-rukhsah kemudahan-Nya yang diberikan (mubah), dan undang-undang-Nya yang dituliskan.

فَجَعَلَ اللَّهُ الْإِيمَانَ تَطْهِيراً لَكُمْ مِنَ الشِّرْكِ، وَ الصَّلَاةَ تَنْزِيهاً لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ، وَ الزَّكَاةَ تَزْكِيَةً لِلنَّفْسِ، وَ نَمَاءً فِي الرِّزْقِ، وَ الصِّيَامَ تَثْبِيتاً لِلْإِخْلَاصِ، وَ الْحَجَّ تَشْيِيداً لِلدِّينِ، وَ الْعَدْلَ تَنْسِيقاً لِلْقُلُوبِ، وَ طَاعَتَنَا نِظَاماً لِلْمِلَّةِ، وَ إِمَامَتَنَا أَمَاناً مِنَ الْفُرْقَةِ، وَ الْجِهَادَ عِزّاً لِلْإِسْلَامِ، وَ الصَّبْرَ مَعُونَةً عَلَى اسْتِيجَابِ الْأَجْرِ، وَ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ مَصْلَحَةً لِلْعَامَّةِ، وَ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ وِقَايَةً مِنَ السَّخَطِ، وَ صِلَةَ الْأَرْحَامِ مَنْمَاةً لِلْعَدَدِ، وَ الْقِصَاصَ حَقْناً لِلدِّمَاءِ، وَ الْوَفَاءَ بِالنَّذْرِ تَعْرِيضاً لِلْمَغْفِرَةِ، وَ تَوْفِيَةَ الْمَكَايِيلِ وَ الْمَوَازِينِ تَغْيِيراً لِلْبَخْسِ، وَ النَّهْيَ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ تَنْزِيهاً عَنِ الرِّجْسِ، وَ اجْتِنَابَ الْقَذْفِ حِجَاباً عَنِ اللَّعْنَةِ، وَ تَرْكَ السَّرِقَةِ إِيجَاباً لِلْعِفَّةِ، وَ حَرَّمَ اللَّهُ الشِّرْكَ إِخْلَاصاً لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ

Maka Allah menetapkan iman sebagai penyuci bagi kalian dari kesyirikan, shalat sebagai pemisah bagi kalian dari kesombongan, zakat sebagai pengembang bagi jiwa dan penumbuh bagi rezeki, puasa sebagai pengukuh bagi keikhlasan, haji sebagai pengangkat bagi agama, keadilan sebagai perekat bagi hati, ketaatan pada kami sebagai sistem bagi bangsa, kepemimpinan kami sebagai jaminan keamanan dari perpecahan, jihad sebagai kemuliaan bagi Islam, kesabaran sebagai bantuan untuk menarik pahala, amar makruf sebagai maslahat bagi publik, bakti kepada kedua orangtua sebagai pencegah dari murka –Allah Swt-, silaturahmi sebagai penambah bilangan –orang dan umur-, kisas sebagai penjagaan bagi darah, kesetiaan pada nazar sebagai pembuka lahan untuk ampunan, pemenuhan takaran dan timbangan sebagai pengubah (pemberantas) bagi kecurangan, larangan minum khamar sebagai pembersih dari noda, penghindaran tuduhan sebagai tabir dari kutukan –Ilahi-, pelepasan pencurian sebagai pemasti bagi kesucian, dan Allah mengharamkan kesyirikan sebagai penulus ke-Rabi-an bagi-Nya.

فَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَ لا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ‏، وَ أَطِيعُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَ نَهَاكُمْ عَنْهُ فَإِنَّهُ‏ إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ

Maka “bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah mati kecuali kalian dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102) dan taatilah Allah dalam apa yang Dia perintahkan kalian kepadanya serta larang kalian darinya, maka sungguh “yang takut Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fatir [35]: 28).

ثُمَّ قَالَتْ
أَيُّهَا النَّاسُ! اعْلَمُوا أَنِّي فَاطِمَةُ وَ أَبِي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ، أَقُولُ عَوْداً وَ بَدْءاً، وَ لَا أَقُولُ مَا أَقُولُ غَلَطاً، وَ لَا أَفْعَلُ مَا أَفْعَلُ شَطَطاً لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ‏، فَإِنْ تَعْزُوهُ وَ تَعْرِفُوهُ تَجِدُوهُ أَبِي دُونَ نِسَائِكُمْ، وَ أَخَا ابْنِ عَمِّي دُونَ رِجَالِكُمْ، وَ لَنِعْمَ الْمَعْزِيُّ إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ

Kemudian Sayidah Zahra as bersabda:

Wahai massa! Ketahuilah bahwa aku adalah Fathimah, dan ayahku adalah Muhammad –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau-. Aku katakan bukan sekali bahkan berulangkali, aku tidak mengatakan sesuatu secara salah, dan aku tidak melakukan tindakan secara menyimpang. “Sungguh telah datang kepada kalian utusan dari diri-diri kalian, berat sekali baginya apa yang kalian derita, ingin sekali –keimanan dan keselamatan- bagi kalian, sangat santun dan sangat penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 128). Maka sekiranya kalian menyelidiki nasab beliau dan mengenalinya, niscaya kalian akan mendapati beliau adalah ayahku bukan ayah perempuan-perempuan kalian, beliau adalah saudara anak pamanku bukan saudara laki-laki kalian! Alangkah baiknya hubungan nasab dengan beliau –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau serta bersalam-. (WF)

Hits: 61

Headline, Wahyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat