Lima Bulan Sebelum Kemenangan Revolusi Islam (6)

Saya Katakan Imam Bersama Rakyat

Imam Khamenei:

“Hari-hari pertama datangnya Imam [Khumaini] ra, kita betul-betul sibuk di Madrasah Refah. Setiap saat kita sibuk dengan sepuluh kerjaan. Tidak ada waktu luang sedikit pun. Dari satu ruang ke ruang yang lain. Rapat. Betul-betul setiap menit satu pekerjaan, satu kesibukan, satu kendala. Imam ra tiba. Berita berdatangan; tentara menembaki di satu tempat, massa berdemonstrasi di tempat lain, empat orang gugur, sekelompok orang datang dari pangkalan fulan untuk bertemu Imam, atau dari kantor fulan. Di tempat lain muncul deklarasi solidaritas. Terus-menerus masalah berdatangan. Setiap hari demikian. Itu pada tataran publik.

Pada tataran khusus pun demikian. Dewan Revolusi ketika itu menggelar rapat-rapat tertutup dengan dihadiri Imam. Membicarakan masalah pembentukan pemerintah, masalah pengenalan pemerintah, dan kapan mesti diperkenalkan? Bagaimana harus memperkenalkannya? Bagaimana cara mengumumkannya? Apa yang harus dilakukan pemerintah itu? Ribuan dan ribuan masalah. Betul-betul ribuan dan ribuan masalah.

Di tengah kesibukan dan kepadataan perdetik seperti ini, ada salah seorang tokoh yang mengaku pejuang dan mengklaim pro-rakyat datang memegang pergelangan tangan saya dan mengatakan, “Pak! Saya ada perlu denganmu. Tolonglah! Sepuluh menit saja kawan lama!”

Apa yang dia sampaikan?! Dia mengatakan, “Sampaikan kepada Imam jangan serahkan seluruh dirinya untuk rakyat, pagi sampai siang bersama rakyat, entah itu melambaikan tangan untuk mereka, sejenak istirahat, sorenya kembali bersama rakyat, giliran perempuan-perempuan yang datang, kembali melambaikan tangan.”

Saya katakan kepadanya, “Memangnya kenapa? Apa maksudmu?”

Dia menjawab, “Hmm, banyak tokoh politik, banyak orang pemikir, intelektual, berotak, kenapa tidak mereka saja yang datang dan duduk bersama Imam, bermusyawarah dengan Imam, untuk melihat kira-kira apa yang mesti kita lakukan?”

Saya katakan kepadanya, “Imam tidak begitu percaya dengan otak-otak pemikir yang kamus ebutkan. Imam tidak mengimani mereka.”

Dia pun sebal lalu pergi.” (WF)

Hits: 34

Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat