Kutipan Pidato Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Komandan dan Staf Angkatan Udara

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Kamis (8/2) pagi, bertemu dengan sejumlah komandan, perwira, dan pilot Homafaran Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran serta Basis Pertahanan Udara Khatamul Anbiya dalam rangka memperingati Hari 19 Bahman; hari bersejarah baiat Angkatan Bersenjata Iran dengan Imam Khumaini ra.

Berikut kutipan-kutipan dari pidato beliau, dan selengkapnya menyusul:

“Beliau berpidato di hadapan mereka dan mengingatkan bahwa target musuh adalah mencegah kelanjutan dan keteguhan Revolusi Islam. Mereka gunakan semua cara untuk mencapai target itu. Mulai dari cendikiawan-cedikiawan bayangan – yang mereka bayar untuk memroduksi ide anti dasar-dasar Revolusi Islam- sampai dengan teorisian-teorisian palsu, penulis-penulis bayaran, fasilitas dunia maya dan badut-badut. Semua mereka kerahkan untuk memperluas jangkauan audien.”

“Semua ini”, terang Pemimpin Revolusi Islam, “dilakukan sejak awal revolusi. Mereka gunakan semuanya. Tiba-tiba datanglah sebuah 22 Bahman. Kalian lihat di semua daerah negeri ini terdapat banjir massa yang meneriakkan satu selogan. Di musim dingin, di atas es, di bawah hujan salju dan air. Atau –ambil contoh lain- tiba-tiba datang 9 Dey yang seperti itu. 9 Dey tahun 1388 Hs (30 Desember 2009 M) atau 9 Dey tahun ini (30 Desember 2017) kalian lihat betapa semangat dan hebatnya massa turun ke jalan. Hal itu karena mereka merasakan kehadiran musuh.”

“Keberadaan yang hidup dan berkembang itu iya ini. Mereka berusaha dan bekerja sedemikian rupa –bukan hanya berusaha di dunia maya, ambil saja contoh mereka mengembargo untuk menekan kehidupan rakyat-, tapi kerinduan terhadap Revolusi Islam membuat reaksi yang sedimikian hebat pada diri masyarakat.”

“Saya nyatakan kepada kalian bahwa dengan daya dan kekuatan Ilahi, 22 Bahman tahun ini (Minggu 11 Februari 2018) akan menjadi salah satu 22 Bahman yang sangat menarik untuk disaksikan. Sebab dengan adanya kata-kata lancang dari sebagian pejabat AS, masyarakat merasakan bahwa musuh sedang mengintai untuk menyergap dan memusuhi. Tahun ini, kehadiran massa akan lebih hebat, dan dengan taufik Ilahi semua akan turun ke jalan.”

“Dalam hal keadilan dan keadilan sosial serta penyingkiran jarak antar berbagai lapisan rakyat, kita masih kurang dan terbelakang. Apa yang semestinya dilakukan dalam hal ini belum terlaksana sebagaimana layak dan mestinya. Kita harus serius dalam menindaklanjutinya. Dan ketahuilah bahwa dengan taufik Ilahi kita akan menindaklanjutinya. Kita tidak mungkin berpaling darinya. Tentu saja caranya adalah perjuangan melawan kezaliman dan kerusakan.”

“Keadilan punya makna luas. Baik di level masyarakat maupun di level internasional. Ada dimensi politik dan ada pula dimensi ekonominya. Di semua ini juga terdapat satu nilai mutlak. Artinya, nilai-nilai lain bersifat relatif. Sedangkan keadilan adalah mutlak.”

“Keadilan itu harus. Kebejatan harus diperangi. Kezaliman harus dilawan. Tentu sangat susah. Kerusakan seperti halnya naga tujuh kepala di dalam dongeng-dongeng. Kamu pukul satu kepalanya dia tetap bergerak dengan enam kepalanya lagi. Membinasakannya tidak mudah. Bersikap tegas terhadap orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari kerusakan itu pekerjaan yang sangat sulit. Tapi itu pekerjaan-pekerjaan yang betul-betul harus dilakukan.”

“Total masa pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as kira-kira berlalu demi kategori yang penting ini. Tentu saja belum selesai. Menindak pegawai-pegawai negara yang zalim dan bejat harus dilakukan secara serius dan lebih tegas.”

“Salah satu keistimewaan terbesar Republik Islam adalah kerakyatan revolusi ini.”

“Revolusi Islam adalah agamis. Militer yang datang pun bersifat agamis dan kerakyatan. Karena itu, kalian menyaksikan anak-anak dan kekasih rakyat pergi ke medan perang, bertempur dan gugur. Pada saat yang sama mereka tidak mengeluh. Karena itu di jalan Allah Swt dan demi Imam Husain as.”

“Revolusi ini merupakan revolusi kerakyatan. Dan di semua programnya juga rakyat harus berada di level pertama.”

“Nama massa selalu diulang-ulang. Memang bagus para pejabat dalam pembicaraan mereka bersandar kepada rakyat. Tapi mereka harus mengenal rakyat. Rakyat adalah orang-orang yang menciptakan gelora 22 Bahman. Jika kalian ingin mengerti suara rakyat maka simak dan perhatikanlah apa yang mereka sampaikan.”

“Rakyat adalah orang-orang yang begitu melihat segerombolan perusuh turun ke jalan, walau pun mereka sendiri punya protes terhadap pemerintah, tapi begitu mereka melihat slogan-slogan para perusuh itu maka mereka langsung memisahkan diri. Dan kemudian pada Hari 9 Dey mereka turun ke jalan dan meneriakkan slogan.”

“Pejabat-pejabat pemerintah harus mengenal rakyat dan bekerja untuk rakyat. Prihal untuk rakyat ini tidak bertentangan dengan prihal untuk Allah Swt. Allah Swt sendiri yang memfirmankan kita harus bekerja untuk rakyat dan menjadi pembantu rakyat.”

“Suara rakyat adalah mengeluhkan kerusakan dan nepotisme. Rakyat sangat tabah menahan berbagai masalah. Tapi, mereka tidak menerima kerusakan dan korupsi. Mereka mengeluhkan nepotisme.”

“Para pejabat tiga badan legislatif, eksekutif dan yudikatif harus menindaklanjuti keluhan ini secara serius.” (WF)

Hits: 51

Berita, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat