Pidato Sayidah Fathimah Zahra As di Masjid Nabi Saw (Khutbah Fadakiyah 1)

Di saat dua sahabat pemegang kekuasaan kompak untuk merampas tanah Fadak dari cucu suci Nabi Muhammad Saw Sayidah Fathimah Zahra as, dan berita itu sampai kepada beliau, beliau segera mengenakan tutup kepala dan pakaiannya lalu berjalan bersama sejumlah wanita dari kerabat dan sahabatnya untuk protes dan unjuk rasa. Ketika jalan, pakaian beliau terseret di atas tanah sampai ujungnya terinjak kaki. Cara jalan beliau mirip sekali dengan cara jalan Nabi Muhammad Saw.

Ketika itu penguasa sedang duduk bersama sekelompok orang dari sahabat Muhajirin, Anshar dan yang lain. Begitu Sayidah Zahra as tiba, dibentangkanlah tirai pemisah di antara mereka. Beliau duduk lalu mengerang sehingga membuat massa menangis dan majelis berguncang. Sejenak beliau diam sehingga tangisan histeris massa berhenti dan kondisi tenang. Kemudian beliau memulai pembicaraan dengan bertahmid dan memuji Allah Swt serta bershalawat kepada Rasulullah Saw. Mendengar hamdalah dan nama Nabi Muhamamd Saw dari mulut suci Sayidah Zahra as, massa kembali menangis tersedu-sedu. Dan untuk kedua kalinya beliau menahan bicara sampai mereka tenang. Begitu tenang, beliau membuka kembali pembicaraan seraya bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى مَا أَنْعَمَ، وَ لَهُ الشُّكْرُ عَلَى مَا أَلْهَمَ، وَ الثَّنَاءُ بِمَا قَدَّمَ مِنْ عُمُومِ نِعَمٍ ابْتَدَأَهَا، وَ سُبُوغِ آلَاءٍ أَسْدَاهَا، وَ تَمَامِ مِنَنٍ وَالاهَا، جَمَّ عَنِ الْإِحْصَاءِ عَدَدُهَا، وَ نَأَى عَنِ الْجَزَاءِ أَمَدُهَا، وَ تَفَاوَتَ عَنِ الْإِدْرَاكِ أَبَدُهَا، وَ نَدَبَهُمْ لِاسْتِزَادَتِهَا بِالشُّكْرِ لِاتِّصَالِهَا، وَ اسْتَحْمَدَ إِلَى الْخَلَائِقِ بِإِجْزَالِهَا، وَ ثَنَّى بِالنَّدْبِ إِلَى أَمْثَالِهَا

Segala puja dan puji kehadirat Allah atas nikmat yang diberikan, dan syukur kepada-Nya atas apa yang diilhmkan, begitu pula sanjungan atas apa yang dikaruniakan; berupa kenikmatan-kenikmatan umum yang Dia mulai, kesenangan-kesenangan berlimpah yang Dia serahkan, dan anugerah-anuegerah lengkap yang berturut-turut Dia kucurkan. Karunia-karunia yang penghitungan tak mampu membilangnya, pengganjaran tak kuasa membalasnya, dan pengetahuan tak sanggup menjangkaunya. Dia menyeru mereka untuk menambah dan melestarikan karunia itu dengan syukur, mengajak mereka untuk menderaskannya dengan bertahmid, dan menjadikan permohonan gigih sebagai faktor pelipatgandaan karunia-Nya.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، كَلِمَةٌ جُعِلَ الْإِخْلَاصُ تَأْوِيلَهَا، وَ ضُمِّنَ الْقُلُوبُ مَوْصُولَهَا، وَ أَنَارَ فِي الْفِكْرَةِ، مَعْقُولُهَا، الْمُمْتَنِعُ مِنَ الْأَبْصَارِ رُؤْيَتُهُ، وَ مِنَ الْأَلْسُنِ صِفَتُهُ، وَ مِنَ الْأَوْهَامِ كَيْفِيَّتُهُ

Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya; Sebuah kalimat dimana ikhlas menjadi takwil hakikatnya, gelora sambunnya terpatri di dalam hati, dan ide tauhidnya mencerahkan akal budi. Tuhan yang mata tidak mungkin melihat-Nya, lidah tidak sanggup menyifati-Nya, dan benak tidak mampu menalar Dzat-Nya.

ابْتَدَعَ الْأَشْيَاءَ لَا مِنْ شَيْ‏ءٍ كَانَ قَبْلَهَا، وَ أَنْشَأَهَا بِلَا احْتِذَاءِ أَمْثِلَةٍ امْتَثَلَهَا، كَوَّنَهَا بِقُدْرَتِهِ، وَ ذَرَأَهَا بِمَشِيَّتِهِ، مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ مِنْهُ إِلَى تَكْوِينِهَا، وَ لَا فَائِدَةٍ لَهُ فِي تَصْوِيرِهَا، إِلَّا تَثْبِيتاً لِحِكْمَتِهِ، وَ تَنْبِيهاً عَلَى طَاعَتِهِ، وَ إِظْهَاراً لِقُدْرَتِهِ، وَ تَعَبُّداً لِبَرِيَّتِهِ، وَ إِعْزَازاً لِدَعْوَتِهِ

Dia mulai-ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu yang ada sebelumnya. Dia membuatnya tanpa meniru contoh apa pun. Dia jadikan dengan kekuasaan-Nya. Dia adakan dengan kehendak-Nya. Tanpa perlu dari-Nya terhadap penjadian itu, dan tanpa keuntungan bagi-Nya dari penggambaran itu, melainkan hanya merupakan pembuktian atas kebijaksanaan-Nya, penyadaran terhadap ketataan-Nya, pengungkapan untuk kekuasaan-Nya, pengabdian bagi makhluk-makhluk-Nya, dan penghargaan untuk seruan-Nya.

ثُمَّ جَعَلَ الثَّوَابَ عَلَى طَاعَتِهِ، وَ وَضَعَ الْعِقَابَ عَلَى مَعْصِيَتِهِ، زِيَادَةً لِعِبَادِهِ عَنْ‏ نَقِمَتِهِ وَ حِيَاشَةً مِنْهُ‏ إِلَى جَنَّتِهِ

Kemudian Dia tetapkan pahala atas ketaatan pada-Nya, dan letakkan siksa atas kedurhakaan pada-Nya, demi menghindarkan hamba-hamba-Nya dari murka-Nya dan menarik mereka ke surga-Nya.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ أَبِي مُحَمَّداً (ص) عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ، اخْتَارَهُ وَ انْتَجَبَهُ‏ قَبْلَ أَنْ أَرْسَلَهُ، وَ سَمَّاهُ قَبْلَ أَنِ اجْتَبَلَهُ‏، وَ اصْطَفَاهُ قَبْلَ أَنِ ابْتَعَثَهُ

Dan aku bersaksi bahwa ayahku Muhammad Saw adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Dia memilih dan memuliakannya sebelum mengutusnya, memberinya nama (meninggikannya) sebelum mencalonkannya, memurnikannya (memilihnya) sebelum mengutusnya.

إِذِ الْخَلَائِقُ بِالْغَيْبِ مَكْنُونَةٌ، وَ بِسَتْرِ الْأَهَاوِيلِ مَصُونَةٌ، وَ بِنِهَايَةِ الْعَدَمِ مَقْرُونَةٌ، عِلْماً مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِمَآيِلِ الْأُمُورِ، وَ إِحَاطَةً بِحَوَادِثِ الدُّهُورِ، وَ مَعْرِفَةً بِمَوَاقِعِ الْمَقْدُورِ

Di saat khlayak masih tersembunyi di kegaiban, masih ditahan di tabir kegelapan, masih berdampingan erat dengan batas ketiadaan. Dan itu karena ilmu Allah Taala atas akhir dari segala hal, dan liputan-Nya terhadap semua peristiwa masa, serta kesadaran-Nya akan posisi kadar-ukuran.

ابْتَعَثَهُ اللَّهُ تَعَالَى‏ إِتْمَاماً لِأَمْرِهِ، وَ عَزِيمَةً عَلَى إِمْضَاءِ حُكْمِهِ، وَ إِنْفَاذاً لِمَقَادِيرِ حَتْمِهِ‏

Allah Taala mengutusnya sebagai pelengkapan untuk urusan-Nya, tekad bulat untuk menjalankan firman-Nya, dan pemberlakuan atas takdir-takdir pasti-Nya.

فَرَأَى الْأُمَمَ فِرَقاً فِي أَدْيَانِهَا، عُكَّفاً عَلَى نِيرَانِهَا، عَابِدَةً لِأَوْثَانِهَا، مُنْكِرَةً لِلَّهِ مَعَ عِرْفَانِهَا

Lalu dia melihat bangsa-bangsa terpecah dalam agama-agama, bertapa di candi-candi api, menyembah berhala-berhala, dan mengingkari Allah padahal mengenal-Nya.

فَأَنَارَ اللَّهُ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ ظُلَمَهَا، وَ كَشَفَ عَنِ الْقُلُوبِ بُهَمَهَا، وَ جَلَى عَنِ الْأَبْصَارِ غُمَمَهَا، وَ قَامَ فِي النَّاسِ بِالْهِدَايَةِ، وَ أَنْقَذَهُمْ‏ مِنَ الْغَوَايَةِ، وَ بَصَّرَهُمْ مِنَ الْعَمَايَةِ، وَ هَدَاهُمْ إِلَى الدِّينِ الْقَوِيمِ، وَ دَعَاهُمْ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ

Maka Allah menerangi kegelapan-kegelapan mereka dengan Muhammad –Shalawat Allah atas dia dan keluarganya-, menyingkap keburaman-keburaman dari hati mereka, dan kebingungan-kebingungan dari pandangan mereka. Dia bangkit untuk memberi petunjuk kepada massa, mengentas mereka dari kesesatan, menyelamatkan mereka dari kebutaan, menuntun mereka kepada agama yang kokoh, dan mengajak mereka ke jalan yang lurus. (WF)

Hits: 100

Wahyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat