Fatwa Imam Khamenei Seputar Hari Duka Fathimiah

Fatwa Imam Khamenei Seputar Hari Duka Fathimiah

Kidungan Wanita

Soal:

Apakah boleh wanita mengidung di acara-acara duka padahal dia tahu orang-orang laki non-muhrim mendengar suaranya?

Jawab:

Apabila ditakutkan terjadi mafsadah maka itu harus dihindari.

Ikut Acara Duka dan Tinggalkan Kewajiban

Soal:

Apabila sebagian hal-hal wajib terlewatkan oleh mukallaf karena mengikuti acara-acara duka -sebagai contoh, shalat subuhnya jadi kada-, apakah sebaiknya dia tidak mengikuti acara-acara itu?

Jawab:

Jelas sekali bahwa shalat wajib lebih didahulukan atas keutamaan ikut serta dalam acara-acara duka Ahli Bait as. Tidak boleh meninggalkan shalat dan melewatkannya dengan alasan ikut acara duka Ahli Bait as. Namun, boleh dan termasuk hal sunnah yang ditekankan mengikuti acara duka tersebut sekiranya tidak sampai mengganggu shalat.

Pembacaan Musibah

Soal:

Sebagian Kelompok Religi membacakan musibah-musibah yang tidak bersandar pada –referensi- Maqtal yang otentik, dan tidak pernah terdengar dari seorang ulama atau marjik taklid pun. Dan ketika si pembaca musibah ditanya tentang sumbernya, dia menjawab bahwa Ahli Bait as memahamkannya demikian, atau memberinya petunjuk demikian, -atau mengatakan bahwa- kejadian-kejadian tidak terbatas pada –referensi- Maqtal saja, sumbernya juga bukan hanya ucapan para ulama, melainkan terkadang ada hal-hal yang didapatkan oleh pengidung atau penceramah melalui ilham dan singkapan.

Pertanyaan saya adalah apakah penukilan peristiwa dengan cara seperti ini benar atau tidak? Apabila itu tidak benar, maka apa taklif (tugas) orang-orang yang mendengarnya?

Jawab:

Penukilan hal-hal dengan cara tersebut tanpa didasarkan kepada hadis atau sejarah yang tercatat adalah perbuatan yang tidak berlasan menurut syariat. Kecuali apabila penukilan itu hanya sebagai ekspresi kondisi sesuai pemahaman pembicara, dan dia tidak yakin akan hal yang sebaliknya.

Tugas orang-orang yang mendengarnya adalah mencegah kemungkaran (hal yang tidak sesuai syariat), dengan syarat subjek dan syarat-syarat mencegah kemungkaran itu telah terbukti bagi mereka.

Penyiaran Suara Melalui Speaker

Soal:

Suara bacaan Al-Qur’an dan acara-acara duka disiarkan dari bangunan-bangunan Husainiah dengan sangat keras, dan ini menganggu kenyamanan tetangga. Sementara itu, aparat dan para penceramah bersikeras untuk dilanjutkan.

Apakah hukum perbuatan ini?

Jawab:

Meskipun penyelenggaraan acara dan syiar agama pada waktu yang tepat di Husainaih adalah termasuk perbuatan yang paling baik dan sunnah yang ditekankan, akan tetapi para penyelenggara dan peserta acara duka sebisa mungkin menghindari gangguan terhadap tetangga, walau pun itu dengan cara mengecilkan suara speaker dan mengarahkan pengeras suara ke dalam Husainiah.

Penggunaan Alat Musik dalam Berduka

Soal:

Apa hukumnya penggunaan alat musik seperti urg (semacam piano), simbal dan lain sebagainya di dalam acara-acara duka?

Jawab:

Penggunaan alat-alat musik tidaklah sesuai dengan acara duka –Ahli Bait as-. Seyogianya acara-acara duka –itu- diselenggarakan sesuai cara yang umum dan populer sejak dulu kala.

Melukai Badan

Soal:

Apabila seseorang di tempat-tempat perziarahan para Imam as menjatuhkan dirinya ke tanah (atau lantai), dan berbuat seperti yang dilakukan oleh sebagian orang; menggosokkan wajah dan dada ke tanah sampai mengucurkan darah lalu masuk ke dalam Haram (pemakaman suci). Apa hukumnya?

Jawab:

Perbuatan-perbuatan ini tidak termasuk ungkapan kesedihan, upacara duka yang tradisional, dan kecintaan terhadap para Imam as. Dari kaca mata syariat itu tidak beralasan. Bahkan, apabila sampai menyebabkan bahaya fisik yang patut diperhatikan atau menyebabkan kenistaan mazhab, maka itu tidak boleh.

Sisa Kekayaan Acara

Soal:

Sisa kekayaan yang terkumpul atas nama biaya acara duka seharusnya digunakan untuk apa?

Jawab:

Sisa kekayaan itu bisa digunakan untuk hal-hal khairiah dengan meminta izin dari donatur. Atau bisa juga digunakan untuk biaya acara-acara duka yang akan datang.

Pemindahan Barang Nazar

Soal:

Bolehkah menggunakan “Sisa Belanja” acara Fathimiah untuk acara Muharram?

Jawab:

Apbila itu bukan termasuk nazar khusus yang harus digunakan hanya pada acara Fathimiah, dan tidak bertentangan dengan pandangan donatur, maka itu tidak masalah.

Pernikahan di Hari-Hari Duka Fathimiah

Soal:

Bolehkah menyelenggarakan acara walimah pernikahan di hari-hari Fathimiah?

Jawab:

Sekiranya itu tidak sampai terhitung sebagai penistaan terhadap kehormatan Ahli Bait as, maka itu boleh.

Busana Hitam

Soal:

Apakah hukum memakai busana hitam di hari-hari Fathimiah adalah makruh atau tidak?

Jawab:

Memakai busana hitam pada hari-hari duka Keluarga Suci Nabi Saw demi mengagungkan syiar-syiar Ilahi dan mengungkapkan kesedihan adalah sebab perolehan pahala Ilahi. (WF)

 

Referensi Farsi: Leader.ir & Khamenei.ir

Hits: 189

Fatwa, Headline, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat