Ayatullah Jawadi Amuli: Jangan Ringkas Duka Para Imam Hanya dalam Air Mata

Marjik Taklid Ayatullah Uzma Abdullah Jawadi Amuli dalam pengajian tafsirnya, Rabu (31/1) pagi di Masjid Adzam kota Qom, menyampaikan belasungkawa dalam rangka memperingati hari-hari kesyahidan Hadirat Shiddiqah Kubra Fathimah Zahra as dan mengisyaratkan pada keagungan intelektual beliau seraya mengatakan, “Almarhum Kulaini –ridhwanulloh ta’ala ‘alaih- meriwayatkan pidato Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as ketika kedua kalinya beliau kembali untuk mempersiapkan pasukan Perang Shiffin.”

Ulama terkemuka ini melanjutkan, “Almarhum Kulaini ra mengatakan, “Sekiranya jin dan manusia berkumpul dan tidak ada nabi di antara mereka, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menyampaikan pidato seperti ini (pidato Amirul Mukminin Ali as tersebut).” Kalian tahu bahwa Kulaini bukan tipe orang yang berlebihan. Lalu dia mengatakan, “Sumpah demi bapak dan ibuku! Demikian kenyataannya.” Kemudian dia menyebutkan alasannya, “Siapa coba orang yang mampu menjawab syubhat kaum materialis yang ada sejak berapa abad lalu? Mereka mengatakan –ma’adzalloh- bahwa Tuhan dan kiamat itu tidak ada. Mereka lontarkan syubhat tentang keazalian materi. Mereka mengajukan pertanyaan, “Hai kalian yang percaya ada Tuhan! Apakah Tuhan menciptakan alam ini “dari sesuatu” atau “dari bukan-sesuatu”?!”

Guru Besar Hauzah Ilmiah Qom ini menjelaskan, “Tidak keluar dari dua hal ini. Entah Tuhan menciptakan “dari sesuatu” (min syai’), atau “dari bukan-sesuatu”. Seandainya Tuhan menciptakan alam “dari sesuatu” berarti sebelumnya sudah ada atom-atom, Tuhan tidak mempunyainya, dan Tuhan menciptakan alam darinya. Berarti, bisa saja ada sesuatu tanpa Tuhan! Adapun apabila kalian katakan bahwa alam ini Dia ciptakan “dari bukan-sesuatu” (min la syai’), maka –kami katakan bahwa- “bukan-sesuatu” itu ketiadaan, sementara sesuatu tidak bisa dibuat dari ketiadaan. Keberangkatan dua hal kontradiktif sebagaimana perkumpulannya, adalah mustahil. Dari mana Tuhan menciptakan alam? Ini adalah syubhat keazalian alam yang sudah ada sejak berapa abad yang lalu, sejak berapa ribu tahun yang lalu, dan sudah ada di berbagai akademi. Almarhum Kulaini mengatakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as menjawab syubhat ini. Pidato Amirul Mukminin Ali as ini jawaban atas syubhat tersebut. Sementara itu, kata-kata Amirul Mukminin Ali as sama persis 25 tahun sebelumnya pernah diutarakan oleh Sayidah Fathimah Zahra as dalam Khutbah Fadakiyah. Dari sini kalian bisa perhatikan siapa sebenarnya Sayidah Zahra as?! Karena beliau masuk masjid dan menyampaikan Khutbah Fadakiyah itu 25 tahun sebelum terjadinya Perang Shiffin.”

Ayatullah Jawadi Amuli menjelaskan, “Wujud Yang Diberkati, Sayidah Fathimah Zahra as pada permulaan Khutbah Fadakiyahnya bersabda, “Alhamdulillahil ladzi kholaqol asyya’a la min syai’.” Ini apa maksudnya? Maksudnya, kalian yang sedang mengkritik harusnya mengerti bahwa kontradiksi “dari sesuatu” (min syai’) bukanlah “dari bukan-sesuatu”, karena apabila demikian maka dua-duanya akan termasuk hal yang eksistensial. Kontradiksi “dari sesuatu” adalah “bukan dari sesuatu”, bukan “dari bukan-sesuatu”. Poin ini perlu Sayidah Zahra as untuk memahaminya. Kalian bisa coba lontarkan syubhat ini kepada banyak orang, niscaya akan banyak yang tidak sanggup menjawab, karena memang banyak ulama yang tidak sanggup. Sayidah Zahra as bersabda, “Kholaqol asyya’a la min syai’.”, tidak bersabda, “min la syai'”. Memang, seandainya Tuhan menciptakan “dari sesuatu” maka syubhatnya tepat dan mengena, berarti sebelumnya ada atom-atom, lalu Tuhan mengumpulkannya guna membuat alam ini. Begitu pula seandainya dikatakan bahwa Tuhan menciptakan “dari bukan-sesuatu”. Syubhatnya mengena. Karena, ketiadaan bukanlah sesuatu sehingga seseorang mengumpulkan dan merapikannya guna membuat langit. Namun, perlu diketahui teliti bahwa kontradiksi “dari sesuatu” bukanlah “dari bukan-sesuatu”, sebab kedua-duanya afirmatif. Kontradiksi segala sesuatu adalah peniadaannya. Negasinya. Kontradiksi “dari sesuatu” adalah “bukan dari sesuatu”, bukan “dari bukan-sesuatu”. Poin ini terdapat dalam khutbah penuh cahaya Sayidah Zahra as. Dan beliau menyampaikannya 25 tahun sebelum Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.”

Lalu, Marjik Taklid ini menekankan, “Jangan sampai kita ringkas duka para Imam as hanya dalam air mata. Memahami tidak kurang pahalanya daripada menangis. Hari-hari Duka Fathimiyah bisa diambil manfaatnya dua macam; yang pertama adalah mempelajari Khutbah Fadakiyah beliau dan memahaminya lalu menangis. Dan yang kedua hanya menangis.” (WF)

Hits: 84

Berita, Headline, Ulama & Marajik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat