Sayid Ali Khumaini: Tak Seorang Pun Bisa Menempati Posisi Imam Khumaini Selain Ayatullah Khamenei

Hujjatul Islam Sayid Ali Khumaini putra Sayid Ahmad dan cucu Imam Khumaini, Kamis (1/2) pagi dalam acara peringatan tahun kedatangan historis Pemimpin Revolusi Islam ke-39 ke Iran yang diselenggarakan di Makam Imam Khumaini, menjelaskan pentingnya posisi Wali Faqih dan peran Ayatullah Uzma Imam Khamenei seraya berkata, “Kita bangga terhadap beliau, dan dari lubuk hati yang paling dalam kita yakin bahwa pasca Revolusi Islam tak seorang pun bisa menempati posisi Imam Khumaini selain beliau.”

Dalam acara yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, angkatan bersenjata, dan perwakilan kelompok-kelompok minoritas ini Sayid Ali Khumaini menyebut Sepuluh Hari Fajar sebagai momen untuk mempelajari kembali cita-cita Revolusi Islam. Dia mengatakan, “Peringatan Sepuluh Hari Fajar berarti peringatan cita-cita utama Bangsa Iran. Dalam peringatan ini, kita mesti membandingkan kondisi real dengan kondisi ideal dan memperhatikan kembali apa saja cita-cita kita sebelumnya? Revolusi ini hidup. Buktinya adalah sampai saat ini, cita-cita awal revolusi masih menjadi cita-cita rakyat. Sekarang pun rakyat mencita-citakannya.”

Dia, setelah menjelaskan kemerdekaan dan kebebasan sebagai cita-cita Revolusi Islam yang senantiasa hidup sampai sekarang, menegaskan pentingnya posisi Wali Faqih dan peran Ayatullah Uzma Imam Khamenei seraya berkata, “Kita bangga terhadap beliau, dan dari lubuk hati yang paling dalam kita yakin bahwa pasca Revolusi Islam tak seorang pun bisa menempati posisi Imam Khumaini selain beliau.”

Dia menambahkan, “Betapa mereka ingin sekali merusak citra Pemimpin Revolusi Islam (Imam Khamenei). Padahal, kemuliaan adalah milik Allah Swt. Kita bangga sekali bahwa sosok yang sekarang berada di pucuk pemerintahan adalah orang sungguh-sungguh dan tidak basa-basi menolak kekuasaan saat Majelis Ahli Kepemimpinan hendak menyerahkan wilayah (otoritas atas) masyarakat kepadanya.”

Kemudian, Sayid Ali Khumaini menyebutkan salah satu dari nilai-nilai Revolusi Islam adalah kesederhanaan hidup dan anti kebangsawanan. Dia mengatakan, “Tak seorang pun baik kawan maupun lawan bebuyutan beliau yang meragukan bahwa kehidupan dan mental beliau tidak berubah sebelum, saat, dan setelah revolusi. Beliau mencukupkan diri hanya dengan dua potong pakaian.”

Setelah itu, dia mengungkapkan kezuhudan Pemimpin Revolusi Islam (Imam Khamenei) dengan mengutip memori dari bapaknya, Almarhum Sayid Ahmad Khumaini. Dia mengatakan, “Kehidupan Pemimpin Revolusi Islam (Imam Khamenei) juga sederhana sekali. Ayah saya mengatakan, “Kadang-kadang waktu aku berkunjung ke rumah Bapak Khamenei, kondisi permadani sederhana rumahnya –terlampau sederhana- sehingga aku harus berlindung ke karpet alas di bawahnya.”

Dia menjelaskan bahwa salah satu hal terpenting adalah cara menyikapi Hari 22 Bahman (Hari Kedatangan Imam Khumaini ra ke Iran). Dia mengatakan, “Musuh punya banyak sekali rencana untuk membuat kita putus asa. Tapi setiap tahun tanggal 22 Bahman, masyarakat di seluruh negeri merayakan hari ini di bundaran-bundaran, membuat musuh asing putus asa dan kawan-kawan dalam serta luar negeri bersemangat.” (WF)

Hits: 66

Berita, Headline, Imam Khamenei, Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat