Sebut Salman Muhammadi, Jangan Farisi

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Senin (22/1), dalam Daras Kharijnya menukil sebuah hadis dari Imam Suci Abu Abdillah Jakfar Shadiq as tentang kriteria Salman Muhammadi; sahabat Nabi Muhammad Saw dan Amirul Mukminin Ali as yang bisa menjadi teladan akhlak dan perilaku bagi orang-orang yang beriman dan revolusioner.

Pengajian beliau sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام علی سيدنا محمد و آله الطاهرين و لعنة الله علی أعدائهم أجمعين

Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Segala puja dan puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Sayidina Muhammad serta keluarga suci beliau, dan laknat Allah Swt atas musuh-musuh mereka seluruhnya.

عن منصور بن بزرج، قال: قلت لأبی عبد الله الصادق (ع): ما أکثر ما أسمع منک يا سيدي ذکر سلمان الفارسی

Diriwayatkan dari Mansur bin Bazraj mengatakan, “Aku sampaikan kepada Abu Abdillah Imam Jakfar Shadiq as, “Betapa seringnya aku mendengar darimu wahai tuanku menyebut dan mengenang Salman Farisi.”

Dari sini dapat diketahui bahwa beliau berulang-kali bicara tentang Salman. Dan orang ini (Mansur) heran dan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat yang mulia begitu perhatian terhadap Salman dan atau menyukainya. Maka Imam Shadiq as bersabda:

فقال: لا تقل «الفارسی» و لکن قل سلمان المحمدي

Artinya, relasi Salman lebih tinggi dari sekedar ikatan bangsa dan tanah air. Melainkan hubungan keagamaan. Tentunya hal ini sama sekali bukan berarti sindiran bagi Kaum Persia. Nabi Muhammad Saw dan para Imam Suci as memuji Bangsa Persia. Itu tidak diragukan. Tapi di sini Imam Shadiq as ingin menjelaskan bahwa kedudukan sosok ini (Salman) lebih mulia dan lebih tinggi daripada dikenal atau diperkenalkan dari sisi nisbah kebangsaannya. Nisbah dia adalah ideologi dan agama serta Nabi Muhammad Saw. Dia seolah-olah seperti anak Nabi Muhammad Saw.

أتدري ما کثرة ذکري له؟

Beliau bersabda, “Tahukah kamu kenapa aku sering menyebutnya?”

قلت: لا. قال: ثلاث خصال

Perawi menjawab, “Tidak.” Maka Imam Shadiq as bersabda, “Karena tiga kriteria.” Ada tiga kriteria pada diri Salman yang membuat aku sering mengingat dan menyebut namanya, memuliakannya, dan atau menyukainya.

أحدها: إيثاره هوی أمير المؤمنين علی هوی نفسه

Apa saja tiga kriteria itu?

“Yang pertama:,” sabda beliau as, “Dia lebih mendahulukan keinginan Amirul Mukminin as daripada kehendak dirinya sendiri.”

Dari sini dapat diketahui bahwa bukan hanya sekali terjadi Amirul Mukminin as menginginkan sesuatu, sementara itu Salman di dalam hati dan benaknya menginginkan sesuatu yang lain. Namun, dia mendahulukan keinginan Amirul Mukminin as daripada keiginan dirinya sendiri. Kata “Hawa” berarti keinginan.

Perhatikan dengan baik kedudukan Amirul Mukminin as. Iya, tentunya ini hanya satu sisi dari keagungan dan kebesaran Ilahi, malakuti, dan jabaruti beliau. Masing-masing dari semua ini merupakan bukti dan tanda.

و الثانية: حبه للفقراء و اختياره إياهم علی أهل الثروة و العدد

“Keriteria yang kedua adalah:”, lanjut Imam Shadiq as, “Kecintaannya terhadap orang-orang fakir dan miskin. Dia lebih memilih mereka daripada orang-orang yang kaya dan berbilang.”

Salman mencintai orang-orang fakir dan miskin. Sebagian orang sama sekali tidak menyukai lapisan masyarakat yang lemah. Mereka tidak bersedia untuk mendatangi orang fakir dan miskin, tidak sudi melihatnya! Mereka merasa lebih utama daripada orang-orang fakir dan miskin. Tapi Salman tidak demikian. Dia mencintai orang-orang fakir dan miskin. Dia lebih mengutamakan mereka daripada orang-orang kaya. Anggap saja dalam sebuah kasus, persoalannya berputar antara seorang pemodal terhormat yang kaya raya dan orang miskin, atau ambil contoh lain dia harus memilih untuk pergi ke rumah orang ini atau orang itu, atau harus memilih untuk mengucapkan salam ke orang ini atau orang itu. Dalam kasus seperti ini, Salman lebih mengutamakan orang miskin daripada orang kaya. Ini tentu pelajaran. Kita para santri, kita komunitas ruhaniawan dan intelektual, sejak awal salah satu kriteria kita adalah dekat dengan Mustadafin dan orang-orang yang lemah. Ini keistimewaan yang besar.

Iya memang, adakalanya dan mungkin saja orang-orang kaya datang ke seorang ulama, dia pun menghormatinya. Tapi, pergaulan dan kemasyarakat para ruhaniawan kita, ulama kita, marjik taklid-marjik taklid ktia, imam-imam Jumat dan jamaat kita pada umumnya dengan orang-orang yang fakir dan miskin serta di bawah lapisan menengah masyarakat. Ini hal yang penting sekali. Ini harus kita jaga. Sekarang, dimana ulama dan ruhaniawan mendapatkan posisi tertentu di dunia politik, jangan sampai kita kehilangan latar belakang sejarah dan tradisi kuno tersebut.

Bahwa, contohnya, di sebuah kota ada seorang ulama yang di tengah masyarakat dikenal sebagai orang yang akrab dengan para pedagang, orang-orang kaya, pemilik kebun-kebun, dan sebagainya; pergi ke jamuan rumah ini, pergi ke jamuan di kebun itu, tapi tidak demikian dengan orang-orang miskin. Tidak akrab dengan mereka. Tentu ini bukan hal yang baik. Tidak seperti karakter yang dimiliki oleh Salman; mencintai orang-orang fakir dan miskin serta mendahulukan mereka daripada orang-orang yang kaya dan berbilang.

و الثالثة: حبه للعلم و العلماء

“Keriteria yang ketiga adalah:”, lanjut Imam Shadiq as, “Kecintaannya kepada ilmu dan ulama.”

Salman mencintai ilmu. Mencintai ulama.

Tiga kriteria sahabat mulia ini membuat Imam Shadiq as –dengan segala kebesaran dan keagungan beliau- menyukainya, memperingati, dan memuliakannya.

إن سلمان کان عبدا صالحا حنيفا مسلما و ما کان من المشرکين

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Salman adalah hamba yang saleh, hanif, dan muslim. Sungguh dia bukan termasuk orang-orang yang syirik.” (WF)

Hits: 104

Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat