Pidato Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Panitia Kongres Syuhada dan Veteran Ruhaniawan Provinsi Qom

Pidato Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan panitia Kongres Syuhada dan Veteran Ruhaniawan Provinsi Qom yang berlangsung pada tanggal 22 Aban 1396 Hs (13 November 2017), dibacakan Sabtu (30/12) malam di tempat diselenggarakannya kongres tersebut di Qom.

Pidato lengkap beliau sebagai berikut:

Bismillahirrohmanirrohim

Pembahasan mengenai kesyahidan ulama, santri, dan ruhaniawan Hauzah-Hauzah Ilmiah dari berbagai sisi merupakan pembahasan yang penting dan sangat berbobot. Antara lain, ini menjadi sebuah simbol; bahwa Hauzah Ilmiah telah mempersembahkan para syuhada, itu pun dalam kuantitas yang besar. Baik itu Qom maupun Hauzah-Hauzah Ilmiah lainnya di seluruh penjuru negeri. Karena itu, gerakan ini adalah gerakan simbolik. Punya makna tersendiri. Dan makna itu sangatlah penting. Makna itu adalah bahwa seseorang menjadi syahid apabila dia berada di medan perjuangan! Karena kalau tidak, orang yang tidak hadir dalam perjuangan, tidak hadir dalam medan perjuangan melawan musuh –musuh agama, musuh kemerdekaan, musuh negara-, maka seandainya dia berada di sudut rumahnya, lalu katakan maling datang dan membunuhnya karena tamak harta, tentu saja orang ini tidak punya kedudukan syahid. Kesyahidan adalah bagian dari konsekuensi perjuangan. Orang yang berjuang dan terbunuh di jalan perjuangan, dialah orang yang syahid!

Baiklah. Itu artinya lembaga ruhaniawan secara luas dan serius hadir di medan perjuangan. Ini hal yang sangat penting. Salah satu wabah yang pada periode tertentu dialami oleh sebagian lembaga ruhaniawan adalah jaraknya yang jauh dari perjuangan melawan musuh-musuh agama, musuh-musuh kemerdekaan, musuh-musuh asing, penguasa-penguasa diktator dan para penjajah. Kita dalam periode-periode tertentu secara serius mengalami masalah ini. Dan ini merugikan kita. Merugikan lembaga keruhaniawan. Setiap kali lembaga keruhaniawanan terjun ke medan perjuangan, berdiri tegak, dan menghadapi permusuhan musuh-musuh agama serta musuh-musuh Islam, dan sungguh-sungguh berjuang di jalan ini, bekerja keras, cedera, dan terbunuh, maka ketika itu ia bangga dan mulia. Pada beberapa periode kita punya ruhaniawan-ruhaniawan seperti ini. Tapi sekarang, di periode terakhir, yakni periode kita, zaman kita, era Revolusi, Alhamdulillah ruang lingkup medan ini ruang lingkup yang luas. Banyak sekali yang terjun ke medan ini. Berkat gerakan agung yang dilakukan oleh Imam Besar kita dengan taufik Ilahi, dengan petunjuk Ilahi, dan dengan dukungan Bangsa ini, lembaga keruhaniawanan betul-betul terjun dalam medan perjuangan.

Hal ini harus kita yakini pasti bahwa sekiranya dalam perjuangan-perjuangan terakhir, yakni perjuangan-perjuangan yang berujung pada pembentukan Sistem Republik Islam dan Revolusi, lembaga keruhaniawanan tidak terjun, sudah barang tentu peristiwa ini tidak akan terjadi. Artinya, tidak ada satu pun partai, tidak ada satu pun himpunan, tidak ada satu pun kelompok dari kelompok cendikiawan sampai kelompok politik dan kelompok gerilya yang mampu menggulung tikar pemerintahan diktator dan kerajaan di negeri. Menggulingkannya, dan menumpasnya. Menyingkirkan dominasi lama penjajah terhadap negeri ini dan membuang latarnya. Seandainya lembaga keruhaniawanan tidak terjun ke medan ini, tidak mungkin peristiwa ini terjadi. Pekerjaan ini dilakukan oleh rakyat. Tapi kehadiran rakyat disebabkan oleh kehadiran para ruhaniawan. Sekiranya para ruhaniawan tidak terjun, maka masyarakat pun tidak akan terjus sebesar ini, sehebat ini, dan seserius ini. Kalau bukan karena lembaga keruhaniawanan, aspek keagamaan perjuangan ini akan tetap tersembunyi dan tidak muncul ke permukaan. Dan apabila aspek keagamaan tidak muncul ke permukaan, maka tidak akan ada semua syahid ini, semua orang yang tulis di jalan Allah Swt ini, semua ibu dan bapak pengorban yang mendidik anak-anak mereka seperti tandan bunga sampai muda lalu dengan penuh kesabaran mereka utus ke medan perang dan syahadah. Semua itu tidak akan ada. Oleh karena itu, kehadiran lembaga keruhaniawan di medan perjuangan adalah sebuah fenomena historis yang sangat penting. Dan kesyahidan ini merupakan bukti kehadiran mereka. Maka itu, kesyahidan itu sendiri nilai. Kebersamaan syahadah dengan keruhaniawanan serta kehadiran intelektual, keagamaan, dan lain sebagainya adalah nilai yang yang berlipat. Keikhlasan yang terdapat pada himpunan santri muda yang berlaga di medan perang, seperti keikhlasan pemuda-pemuda yang lain juga, merupakan sebuah nilai. Semua itu terjaga pada tempatnya. –Namun- yang menjadi keistimewaan kelompok ruhaniawanan dan kesyahidan mereka adalah sisi simboliknya. Yakni melambangkan kehadiran mereka dalam jihad dan perjuangan. Dan kehadiran ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Semoga rahmat Allah Swt senantiasa tercurahkan pada tokoh-tokoh yang menyiapkan jalan ini.

Almarhum Allamah Thabathabai –ridhwanulloh alaihi– termasuk ruhaniawan intelektual yang mempunyai ide-ide sosial. Di dalam kitab tafsir Al-Mizannya, karakteristik ini tampak sekali pada diri beliau. Tapi beliau tidak hadir di medan perjuangan, tidak terjun. Suatu saat terjadi perbincangan dengan beliau, perbincangan privasi berdua, pertemuan khusus-, beliau mengatakan bahwa dulu telah terjadi kekurangan besar –atau mungkin beliau menggunakan kata taqshir atau dosa besar- dari pihak kita para ruhaniawan. Itu tidak diragukan. Saya sekarang tidak ingat persis rincian kata-kata beliau. Tapi itu inti kata-kata beliau, redaksinya saya tidak ingat. Jadi, beliau menerima hal ini dan membenarkan bahwa dulu terdapat masalah seperti ini pada kita. Sementara masalah ini tidak ada pada masa kita. Keruhaniawanan apabila revolusioner, apabila aktif berjuang, apabila dalam keadaan bekerja keras, apabila mengenal musuhnya, apabila mengidentifikasi cara-cara dan trik-trik musuh, apabila mempersiapkan dirinya untuk melawan cara-cara dan trik-trik itu, maka ketika itulah ia betul-betul sudah dekat atau sampai pada posisinya yang asli dan nyata. Tentu saja ini beresiko, berbahaya, ada bahaya-bahaya materialnya. Antara lain seseorang akan terbunuh di jalan ini, darahnya akan tertumpah, dan ini sendiri merupakan kedudukan paling besar di sisi Allah Swt. Allah Swt tidak memberikan syahadah kepada setiap orang. Bagaimana pun juga, nilai kesyahidah orang-orang tercinta ini sangatlah tinggi. Peringatan atas mereka adalah peringatan yang tepat dan bagus sekali.

Pun demikian, usahakan jangan sampai syuhada ruhaniawan dipisahkan dari syuhada lain. Pada akhirnya, syuhada semuanya adalah syahid di jalan Allah Swt. Baik mereka santri, bersurban, maupun tidak. Mereka semua syahid di jalan Allah Swt dan hidup di sisi Allah Swt; “Ahya’un ‘inda Robbihim yurzaqun.” (Artinya: “Hidup di sisi Tuhan mereka seraya dikaruniai rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169) Dan kita sudah seyogianya melihat keudukan tinggi syuhada dengan hasrat dan gibtah serta mencita-citakannya. Nilai mereka jauh lebih tinggi dari kata-kata ini. Namun bagaimana pun juga, syuhada rihaniawan adalah sekelompok orang yang patut dilakukan sesuatu untuk mereka.

Alhamdulillah ide perjuangan dan jihad ini dan berkembang dan tersebar dengan kesyahidan-kesyahidan serta pengorbanan-pengorbanan ini. Baik di dalam negeri kita sendiri, maupun di antara Muslimin yang lain. Sekarang kalian bisa perhatikan, ruh perjuangan, ruh jihad, ruh kesiapan untuk mati syahid, tersebar luas di seluruh Dunia Islam. Di sebagian tempat tampak lebih kuat. Di sebagian yang lain kelihatan sedikit. Salah satu contoh konkritnya adalah pawai agung Arbain. Ini betul-betul sebuah fenomena. Sebuah fenomena Ilahi. Sebuah fenomena spiritual. Sunguh tidak bisa dideskripsikan. Seperti kebanyakan fenomena penting Ilahi, tidak bisa ditafsirkan secara benar. Artinya, peristiwa ini tidak bisa dianalisis. Sedemikian rupa kumpulan agung dan jutaan orang bergerak jalan kaki. Bahwa ini terjadi hanya dalam kurun waktu berapa tahun, dan terbentuk! Iya memang dulu juga ada pawai, tapi tidak seperti ini. Kita tahu bahwa di berbagai hari, entah itu Arbain atau selain Arbani, -terutama Arbain atau hari-hari yang lain-, para santri dari Najaf dan berbagai daerah di Irak bergerak, jalan, dan jumlahnya pun besar. Tapi, ini kumpulan agung dan jutaan dari berbagai penjuru dunia, -berapa juta dari Iran, berapa juta dari Irak itu sendiri, dan begitu pula dari negara-negara lain,- membentuk sebuah gerakan yang agung, padahal selalu ada ancaman-acaman teroris, termasuk sekarang juga, ini merupakan fenomena yang luar biasa agung. Sangat penting sekali. Ini menunjukkan pemuncakan ide perjuangan di jalan Allah Swt, di jalan Islam, dan kesipanan umum serta menyeluruh di jalan ini. Semoga Allah Swt memberkati gerakan-gerakan ini dan melimpahkan berhaknya kepada masyarakat.

Tentunya di sini, berhubung kita sekarang mengingat pawai Arbain, selain berdoa semoga gerakan ini dikabulkan, kami ucapkan terimakasih kepada semua orang yang pada tahun ini berpartisipasi dalam pawai tersebut. Perlu kami kami sampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah Irak yang telah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk terealisasinya hal ini. Perlu kami sampaikan terimakasih yang sesungguhnya dan dari lubuk hati yang dalam kepada bangsa tercinta Irak yang pada hari-hari ini, pada satu pekan ini atau lebih-, memandang diri mereka bertugas untuk menyambut para pejalan kaki dan peziarah Abu Abdillah as dengan begitu istimewa, tulus dan riang gembira. Semoga Allah Swt memberikan balasan yang terbaik kepada mereka. Perlu kami sampaikan terimakasih kepada pemuda-pemuda pejuang Irak, mulai dari Hasyad Syakbi dan orang-orang lain yang berpartisipasi dalam menjamin keamanan acara ini dan sukses menjaga keamanan para zuarah. Perlu kami sampaikan ucapan terimakasih kepada para pengurus Atabat Najaf dan Hadirat Abu Abdillah as di Karbala serta Hadirat Abul Fadhl di karbala yang telah menyiapkan sarana dan prasarana bagi masyarkat. Semoga Allah Swt memberi berkah, kelembutan dan dukungannya kepada mereka dan kepada gerakan agung ini serta kepada semua orang yang terlibat di dalamnya, sehingga mereka dapat melakukannya insyaallah dengan sebaik mungkin.

Mudah-mudahan juga pertemuan kalian ini menjadi pertemuan yang berbobot, bermanfaat, dan penuh berkah. Semoga Allah Swt memberkati pertemuan kalian ini.

Wassalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

(WF)

Hits: 45

Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat