Istiftaat Imam Khamenei – Bab Taklid (3)

Cara Membuktikan Kemujtahidan dan Kepalingaliman Seseorang serta Memperoleh Fatwa

Soal 24:

Setelah membuktikan kelayakan seorang mujtahid untuk posisi Marjik Taklid melalui kesaksian dua orang adil, masih perlukah saya untuk meneliti hal ini melalui orang lain?

Jawab:

Kesaksian dua orang adil dan ahli atas kelayakan seorang mujtahid dan statusnya sebagai yang memenuhi syarat adalah cukup untuk membuktikan boleh taklid kepadanya. Tidak perlu menelitinya lagi melalui orang lain.

Soal 25:

Apa saja cara untuk memilih Marjik Taklid dan memperoleh fatwanya?

Jawab:

Kemujtahidan seorang Marjik Taklid dan statusnya sebagai yang paling alim dapat dibuktikan melalui ujian, keyakinan yang diperoleh walaupun melalui popularitas yang menghasilkan kepastian atau kemantapan, atau melalui kesaksian dua orang adil dari kalangan ahli.
Adapun cara untuk memperoleh fatwa mujtahid adalah sebagai berikut:

1. Mendengar dari mujtahid itu sendiri.
2. Mendengar dari dua atau satu orang yang adil.
3. Mendengar dari satu orang yang dipercaya.
4. Melihat di dalam Risalah Amaliyahnya, dengan catatan Risalah itu bebas dari kekeliruan.

Soal 26:

Sahkah perwakilan dalam memilih Marjik Taklid, seperti perwakilan bapak untuk anaknya dan guru untuk muridnya?

Jawab:

Jika yang dimaksud dengan perwakilan adalah menyerahkan tugas penelitian dan pencarian untuk menemukan mujtahid yang memenuhi syarat kepada bapak, guru, pelatih, atau yang lain, maka itu tidak masalah.
Pandangan mereka dalam hal ini, apabila menghasilkan kepastian atau kemantapan atau memenuhi syarat-syarat Bayinah (bukti) dan kesaksian, secara syari adalah berlaku dan mengikat.

Soal 27:

Sejumlah ulama yang mujtahid ditanya tentang siapa yang paling alim. Mereka pun menjawab bahwa merujuk kepada si fulan mujtahid –semoga Allah melestarikan karuninya- akan membebaskan tanggungjawab seorang mukallaf.

Bolehkah saya bersandar kepada perkataan mereka dan bertaklid kepada mujtahid tersebut, padahal secara pribadi saya tidak tahu tentang status dia sebagai mujtahid yang paling alim, atau saya ragu tentang hal itu, atau saya mantap bahwa bukan dia yang paling alim; karena berdasarkan dalil dan Bayinah yang serupa terbukti orang lain yang paling alim?

Jawab:

Apabila Bayinah Syari atas status paling alim telah diajukan bagi seorang mujtahid yang memenuhi syarat, maka selama tidak muncul Bayinah Syari lain yang menentangnya niscaya Bayinah Syari tersebut tetap terhitung sebagai bukti syari dan dapat dijadikan sandaran. Walau pun hal itu tidak menghasilkan kepastian atau kemantapan.
Dalam kondisi seperti ini, tidak perlu mencari Bayinah yang menentang atau memastikannya tidak ada.

Soal 28:

Bolehkah orang yang tidak punya ijazah dari mujtahid, dan kadang-kadang salah dalam mengutip fatwa serta hukum syari, untuk berperan menukil fatwa mujtahid dan menjelaskan hukum-hukum syari?

Jawab:

Tidak ada syarat punya ijazah untuk berperan menukil fatwa mujtahid dan menjelaskan hukum-hukum syari. Akan tetapi, orang yang salah atau keliru tidak boleh melakukan peranan ini. Dan apabila dalam kasus tertentu dia keliru, ketika dia sadar akan kekeliruan itu maka wajib baginya untuk menginformasikan kekeliruan itu kepada orang yang mendengar darinya.
Dalam kondisi apa pun, si pendengar tidak boleh berbuat sesuai kutipan seseorang selama dia belum mantap akan kebenaran kata-katanya.

Istiftaat Baru

Soal:

Ada dua orang yang balig dan adil mengutip kepada saya tentang orang yang saya mantap padanya. Mereka mengutip bahwa orang itu telah melakukan penelitian tentang si fulan mujtahid adalah yang paling alim dan kamu bisa bertaklid kepadanya. Sahkah taklid yang seperti ini?

Jawab:

Apabila mereka adil dan ahli, maka taklid seperti itu tidak masalah.

Soal:

Berapa tahun yang lalu, saya memilih Marjik Taklid dengan cara bertanya kepada satu orang yang adil. Akan tetapi, mengingat bahwa seharusnya saya bertanya kepada dua orang yang ahli dalam mengenal mujtahid, maka dalam kondisi seperti ini apakah tugas saya dan apakah hukum perbuatan saya yang sebelumnya?

Jawab:

Apabila mujtahid yang Anda taklidi juga merupakan mujtahid yang direkomendasikan oleh dua orang yang ahli, atau fatwa dia sesuai dengan fatwa mujtahid yang direkomendasikan oleh dua orang yang ahli, maka perbuatan Anda sah.

Sedangkan apabila fatwa dia berbeda dengan fatwa mujtahid yang seharusnya Anda taklidi, maka perbuatan-perbuatan itu harus dikada (dilakukan setelah waktunya berlalu). (WF)

e-mail: walifaqih@yahoo.com

 

Hits: 72

Fatwa, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat