Sayid Hasan Nasrullah: Bagi zionis, Mengulang Agresi Berarti Mengulang Kekalahan dan Kehinaan

Sekjen Hizbullah Libanon Hujjatul Islam wal Muslimin Sayid Hasan Nasrullah dalam pidato Ulang Tahun ke-11 Kemenangan Muqawama Islam di Perang 33 Hari, Minggu (13/8), menegaskan kalau saja zionis menginjakkan kaki lagi ke Libanon maka mereka akan merasakan kekalahan yang lebih besar dari sebelumnya.

Di awal pidatonya, Sayid Muqawama Islam Libanon mengucapkan selamat atas kemenangan ini kepada Bangsa Libanon, keluarga Syuhada, dan para veteran. Dia menyebut hari ini sebagai hari besar para pahlawan.

Setelah memuliakan Syuhada, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan bahwa Syuhada kalian sekarang bahagia menyaksikan kebahagiaan kalian.

Mengenai kemenangan Hizbullah Libanon melawan musuh zionis di bulan Agustus 2006, dia menggambarkan, “Di Perang 33 Hari, kekuatan Muqawama menang melawan seluruh kekuatan musuh zionis dan seluruh fasilitas yang dimilikinya.”

Sekjen Hizbullah Libanon menjelaskan bahwa tempat diselenggarakannya acara ini (Alkhayam) adalah bagian dari prestasi lapangan Muqawama pada tahun 2006. Dia mengatakan, “Alkhayam, seperti distrik-distrik perbatasan dalam negeri Libanon, melakukan perlawanan selama 33 hari. Padahal, musuh mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menguasai daerah ini. Karena memang secara geografis, daerah ini punya posisi penting.”

Dia melanjutkan, “Rakyat sebagiannya tetap tinggal di Alkhayam. Padahal, musuh zionis ribuan kali melancarkan serangan artileri dan serangan udara ke sini. Inilah fakta orang-orang yang kami sebut dengan insaln-insan Ilahi.”

Sayid Hasan Nasrullah menerangkan bahwa titik persoalanya bukanlah jumlah atau peralatan dan tank. Melainkan inti persoalannya adalah Muqawama. Perang Juli adalah model Muqawama para pahlawan Libanon yang bertahan di tanah airnya melawan serangan militer musuh sampai musuh terpaksa lari.

Dia mengatakan, “Kekalahan dan kehinaan adalah dua hal yang didapatkan musuh israel pada tahun 2006, dan akan mereka peroleh kembali jika mereka mengulang perang.”

Dia mengungkapkan bahwa setelah 11 tahun, musuh israel mengakui kekalahannya pada Perang 33 Hari melawan pertahanan Muqawama. Setiap kali pejabat israel bicara tentang perkembangan kekuatan kami, itu berarti mereka sedang mengakui kekalahan di Perang Juli 2006. Karena, target mereka dalam perang itu adalah kehancuran Hizbullah.

Seraya memuji Muqawama Islam, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Muqawama tidak mengejar prestasi politik, partai, atau sekte sebagaimana umumnya di Libanon. Target-target Muqawama bersifat nasional. Dan ini merepotkan bagi musuh. Karena itu, urgensinya harus disadari dengan baik. Siapa pun yang berusaha mencederai poros Muqawama pasti kalah. Dulu, sekarang, atau akan datang.”

Sayid Muqawama Libanon menyatakan bahwa israel menghindari jangan sampai terjerumus lagi dalam perang melawan Libanon. Karena mereka tahu betapa besar biaya yang harus mereka keluarkan.

Dia menjelaskan, “Zaman israel mengancam dan menyerang sudah berlalu. Sekarang, israel bahkan terhadap pohon yang ditanam di perbatasan saja protes. Itu karena mereka takut pada Muqawama. Saya harap rakyat bergerak untuk menanam pohon di sana. Pekerjaan ini satu bentuk Muqawama dan melindungi negara. Sebelumnya, israel sama sekali tidak menganggap Libanon. Tapi sekarang, satu pohon saja mereka pandang penting dan protes.”

Sekjen Hizbullah Libanon menandaskan bahwa selain gudang amonia di Heifa, fasilitas nuklir Demona juga lebih berbahaya. Dan musuh harus mempelajari serta memperhatikannya.

Dia menjelaskan bahwa keputusan israel untuk mengosongkan gudang amonia di Heifa adalah karena takut pada kekuatan Muqawama. Dan musuh harus juga sudah mulai memikirkan reaktor Demona. Karena tragedi Demona akan lebih berbahaya daripada amonia.

Seraya menyatakan bahwa Hizbullah memerangi terorisme dan ISIS di kawasan, Sayid Muqawama Islam Libanon mengatakan, “Hizbullah punya kekuatan untuk menghancurkan skenario-skenario rezim zionis. Salah satunya, skenario israel pada tahun 2006.”

israel, terang Sayid Hasan Nasrullah, bersandar kepada pemerintah Trump untuk menekan Libanon dan Hizbullah serta sekutu dan pendukungnya. Tapi perlu diketahui bahwa Washington tidak akan bisa mencederai kekuatan dan tekad bulat Muqawama dengan ancaman dan tekanan-tekanan itu.

Dia menambahkan, “Trump mengatakan bahwa negaranya bersekutu dengan Libanon dalam memerangi terorisme. Ini menunjukkan kebodohan politiknya. Karena, Hizbullah dan pemerintah Libanon senantiasa bersekutu dan bekerjasama.”

Dia mengatakan, “Trump tidak tahu bahwa pemerintah Libanon sampai saat ini belum masuk dalam peperangan melawan ISIS. AS sendiri yang menciptakan terorisme. Dan ini dikatakannya pada waktu kampanye. AS sendiri mendukung penjajahan israel dan terorisme di Palestina, Suriah, dan Irak.”

Setelah itu, Sayid Hasan Nasrullah menyinggung kemenangan Hizbullah dalam mengusir teroris dari Jarud Arsal dan menyatakan bahwa sejak musim panas 2006 sampai musim panas 2017, ini adalah kemenangan yang diperoleh dengan cara seperti perang melawan israel. Dan israel lebih khawatir daripada yang lain soal kemenangan Hizbullah di Jarud Arsal dan Flayth. Dia mengatakan, “Berapa hari lagi, kelompok-kelompok bersenjata akan keluar dari Jarud Arsal, dan akan pindah ke Suriah, tentu dengan kerjasama dan bantuan Damaskus.”

Sekjen Hizbullah Libanon menegaskan bahwa setelah menyebarnya tentara Libanon di berbagai daerah Jarud Arsal, Muqawama pasti akan mundur dari sana. Tentara Libanonlah yang akan tinggal berjaga di berbagai daerah Jarud Arsal setelah kelompok-kelompok bersenjata Saraya Ahlus Syam keluar dari sana.

Sayid Hasan Nasrullah melanjutkan, “Kelompok-kelompok teroris yang menjadi tumpuan israel di Suriah sekarang sudah kalah. israel dan AS telah berusaha keras agar ISIS jangan sampai kalah di Suriah.”

Dia meyakinkan bahwa baik di Suriah maupun di Irak, ISIS pasti kalah. Kelompok-kelompok teroris sedang tumbang. Dan AS sendiri mengakui kekalahan kelompok-kelompok teroris itu.

Di akhir pidatonya, Sayid Hasan Nasrullah menyinggung perkembangan terakhir Yaman dan kejahatan yang terus dilakukan Saudi. Lalu dia mengatakan, “Apa yang sedang terjadi di Yaman adalah tragedi kemanusiaan. Jutaan orang terancam kelaparan dan mati.”

Sembari menekankan solusi politik atas krisis Yaman, Sayid Muaqama Libanon menyatakan bahwa Dunia harus berhenti diam, mereka harus menuntut AS dan Saudi untuk menghentikan perang dan blokade terhadap Yaman. (WF)

e-mail: walifaqih@yahoo.com

Hits: 49

Berita, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat