Istiftaat Imam Khamenei – Bab Taklid (2)

Istiftaat Baru

Soal:
Apa yang dimaksud dengan usia tamyiz pada pembahasan taklif anak laki? Apakah ketika dia punya syahwat, ataukah ketika syahwatnya terangsang?

Jawab:
Tamyiz berarti mengenal baik dan buruk. Ketika anak belia sampai pada tahap dimana pandangan dia terhadap selain muhrim atau pandangan non-muhrim kepada dia membuat syahwatnya terangsang, maka wajib menjaga hijab di hadapannya.

Soal:
Kenapa kita mesti ber-Marjik Taklid?

Jawab:
Karena hukum akal agar orang yang tidak ahli merujuk kepada orang yang ahli.

 

Syarat-Syarat Taklid

Soal 9:
Bolehkah bertaklid kepada mujtahid yang tidak berjabatan sebagai Marjik Taklid dan tidak punya Risalah Amaliyah?

Jawab:
Berjabatan sebagai Marjik Taklid atau punya Risalah Amaliyah tidak termasuk syarat sahnya taklid kepada mujtahid yang memenuhi syarat. Karena itu, apabila terbukti bagi mukallaf yang hendak bertaklid kepadanya bahwa dia adalah mujtahid yang memenuhi syarat maka boleh bagi dia untuk bertaklid kepadanya.

Soal 10:
Bolehkah taklid kepada orang yang sampai tingkat ijtihad dalam salah satu dari bab fikih seperti shalat dan puasa?

Jawab:
Fatwa Mujtahid Bagian yang hanya punya fatwa dan pandangan ijtihadi di sebagian bab fikih adalah hujjah (bukti yang mengikat). Tapi, masih bermasalah untuk dikatakan bahwa orang lain boleh taklid kepadanya. Walau pun tidak jauh kemungkinannya bahwa itu diperbolehkan.

Soal 11:
Bolehkah bertaklid kepada ulama negara-negara lain yang tidak bisa diakses?

Jawab:
Di dalam taklid kepada mujtahid yang memenuhi syarat, tidak ada syarat bahwa mujtahid itu mesti senegara dengan mukallaf atau berdomisili di daerah tempat tinggalnya.

Soal 12:
Apakah sifat adil yang disyaratkan pada mujtahid dan Marjik Taklid berbeda secara kualitatif dengan sifat adil yang disyaratkan pada imam shalat jamaah?

Jawab:
Mengingat sensitivitas dan urgensi jabatan Marjik Taklid dalam fatwa, maka berdasarkan ihtiyath wajib, mujtahid yang merupakan Marjik Taklid hendaknya selain bersifat adil, juga mampu menguasai hawa nafsu yang memberontak dan tidak gemar pada dunia.

Soal 13:
Sebagaimana disebutkan bahwa harus taklid kepada mujtahid yang adil, siapakah orang yang dimaksud dengan adil?

Jawab:
Adil adalah orang yang ketakwaannya mencapai tingkat dimana dia tidak akan berbuat dosa secara sengaja.

Soal 14:
Apakah wawasan tentang situasi waktu dan tempat termasuk syarat ijtihad?

Jawab:
Bisa jadi syarat ini berpengaruh di sejumlah persoalan.

Soal 15:
Menurut pandangan Imam Khumaini ra, Marjik Taklid selain harus berilmu tentang hukum ibadah dan muamalah, hendaknya dia berwawasan mengenai semua hal politik, ekonomi, militer, sosial dan kepemimpinan.
Dulu, kami bertaklid kepada Imam Khumaini ra. Sepeninggal beliau, atas bimbingan berapa ulama dan identifikasi kami sendiri kami pandang seyogianya untuk merujuk dan bertaklid kepada Anda, sehingga dengan cara itu kami satukan antara kepemimpinan dan kemarjiktaklidan. Bagaimana menurut Anda tentang hal ini?

Jawab:
Syarat-syarat kelayakan Marjik Taklid telah disebutkan secara terperinci di dalam buku Tahrir al-Wasilah dan Risalah Amaliyah-Risalah Amaliyah lainnya. Adapun identifikasi orang yang layak untuk ditaklidi, tergantung pada pandangan mukallaf sendiri.

Soal 16:
Apakah di dalam taklid disyaratkan hendaknya Marjik Taklid itu paling alim ataukah tidak? Apa tolok ukur seseorang paling alim?

Jawab:
Pada persoalan yang di dalamnya terdapat perbedaan fatwa antara Marjik Taklid paling alim dan Marjik Taklid selain yang paling alim, ihtiyathnya adalah bertaklid kepada Marjik Taklid yang paling alim.
Tolok ukur Marjik Taklid Paling Alim adalah hendaknya Marjik Taklid itu punya kemampuan lebih daripada Marjik Taklid-Marjik Taklid lain dalam mengetahui hukum Ilahi dan lebih unggul dalam menyimpulkan hukum syariat dari dalil-dalilnya. Begitu pula lebih berwawasan tentang situasi zaman sekiranya hal itu berpengaruh dalam mengidentifikasi subjek hukum dan mengutarakan pandangan fikih.

Soal 17:
Apakah taklid seseorang kepada mujtahid yang bukan paling alim, karena dia mengira mujtahid yang paling alim tidak memenuhi syarat, adalah dihukumi tidak sah?

Jawab:
Berdasarkan ihtiyath, tidak boleh bertaklid kepada mujtahid yang bukan paling alim dalam persoalan-persoalan yang diperselisihkan, hanya karena perkiraan bahwa mujtahid yang paling alim tidak memenuhi syarat.

Soal 18:
Jika terbukti bahwa sebagian ulama adalah paling alim dalam beberapa persoalan. Yakni, masing-masing dari mereka paling alim dalam persoalan tertentu. Maka bolehkah bertaklid kepada setiap dari mereka?

Jawab:
Boleh saja pilah-pilih dalam bertaklid. Dan apabila bagi mukallaf telah nyata bahwa dalam persoalan-persoalan yang hendak dia taklidi, masing-masing dari mereka adalah paling alim, maka berdasarkan ihtiyath, wajib pilah-pilih taklid ketika terjadi perbedaan fatwa dalam persoalan-persoalan yang dihadapi mukallaf.

Soal 19:
Bolehkah bertaklid kepada mujtahid yang bukan paling alim padahal ada mujtahid yang paling alim?

Jawab:
Pada persoalan yang di dalamnya fatwa mujtahid bukan paling alim berbeda dengan fatwa mujtahid yang paling alim, merujuk kepada mujtahid yang bukan paling alim adalah tindakan yang bermasalah.

Soal 20:
Apa pendapat Anda mengenai syarat paling alim bagi Marjik Taklid, dan apa dalilnya?

Jawab:
Ketika terdapat berapa mujtahid yang memenuhi syarat dan terjadi perselisihan fatwa di antara mereka, maka berdasarkan ihtiyath wajib seorang mukallaf harus bertaklid kepada mujtahid yang paling alim. Kecuali apabila nyata bahwa fatwa dia bertentangan dengan ihtiyath (sikap hati-hati), sedangkan fatwa mujtahid yang bukan paling alim sesuai dengan ihtiyath.
Dalil keharusan taklid kepada mujtahid yang paling alim adalah prinsip masyarakat yang berakal dan hukum rasional. Hal itu karena nilai fatwa mujtahid yang paling alim bagi mukallaf adalah keyakinan, sedangkan nilai fatwa mujtahid yang bukan paling alim hanya sebatas kemungkinan.

Soal 21:
Kepada siapa kami harus bertaklid?

Jawab:
Kepada mujtahid yang memenuhi syarat pengeluaran fatwa dan kemarjiktaklidan. Dan berdasarkan ihtiyath, harus yang paling alim juga.

Soal 22:
Bolehkah taklid permulaan (pertama kali) kepada mujtahid yang mati?

Jawab:
Di permulaan, hendaknya ihtiyath dalam bertaklid kepada mujtahid yang hidup dan paling alim tidak ditinggalkan.

Soal 23:
Apakah taklid permulaan kepada mujtahid yang mati tergantung pada taklid kepada mujtahid yang hidup?

Jawab:
Taklid permulaan kepada mujtahid yang mati atau meneruskan taklid kepada dia harus berdasarkan taklid kepada (pendapat) mujtahid yang hidup dan paling alim. (WF)

e-mail: walifaqih@yahoo.com

 

Hits: 76

Fatwa, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat