Istiftaat Imam Khamenei – Bab Taklid (1)

Istiftaat Imam Khamenei – Bab Taklid (1)

Soal 1:
Apakah masalah taklid murni persoalan rasional atau ada dalil syari (tekstual) yang membuktikannya?

Jawab:
Taklid, ada dalil syarinya. Di samping itu, akal juga menghukumi bahwa orang yang tidak mengetahui hukum agama harus merujuk kepada mujtahid yang memenuhi syarat.

Soal 2:
Menurut Anda, lebih baik berbuat atas dasar ihtiyath atau taklid?

Jawab:
Karena perbuatan atas dasar ihtiyath menuntut identifikasi kasus dan cara serta menyita waktu lebih banyak, maka dalam hukum agama lebih baik mukallaf bertaklid kepada mujtahid yang memenuhi syarat.

Soal 3:
Sejauh manakah jangkauan ihtiyath dalam hukum agama di antara fatwa-fatwa fukaha? Apa harus juga memperhatikan pendapat fukaha terdahulu?

Jawab:
Yang dimaksud dengan ihtiyath dalam kasus-kasusnya adalah memperhatikan seluruh kemungkinan fikhiyah; sehingga mukallaf yakin telah menjalankan tugasnya.

Soal 4:
Sebentar lagi putri saya mencapai usia taklif dan harus memilih Marjik Taklidnya. Tapi, bagi dia masih sulit untuk memahami persoalan taklid. Apa tugas kami terhadap dia?

Jawab:
Jika dalam hal ini dia sendiri tidak mampu untuk mengidentifikasi tugasnya, maka tugas Anda adalah mencerahkan dan membimbingnya.

Soal 5:
Populer di antara fukaha bahwa identifikasi subjek hukum merupakan tanggungjawab mukallaf, sedangkan tugas mujtahid adalah identifikasi hukum. Namun, pada saat yang sama para mujtahid sering mengungkapkan pendapat dalam identifikasi subjek hukum. Maka apakah wajib juga untuk mengikuti pendapat mujtahid mengenai subjek hukum?

Jawab:
Identifikasi subjek diserahkan kepada pendapat mukallaf sendiri. Tidak wajib hukumnya mengikuti mujtahid dalam identifikasi subjek. Kecuali apabila dia yakin dengan identifikasi mujtahid itu, atau subjeknya termasuk subjek yang identifikasinya perlu kesimpulan fikih (istinbath).

Soal 6:
Apakah orang yang enggan mempelajari hukum agama yang dibutuhkan tergolong berdosa?

Jawab:
Apabila tidak belajar hukum itu berdampak pada tertinggalkannya kewajiban atau terlakukannya hal yang haram, maka dia berdosa.

Soal 7:
Kadang-kadang sebagian orang yang kurang tahu persoalan agama ketika ditanya tentang Marjik Taklidnya mereka menjawab, ‘Kami tidak tahu.’ Atau mengatakan bahwa, ‘Kami bertaklid kepada si fulan mujtahid.’ Tapi pada praktiknya mereka tidak komitmen, baik untuk membaca Risalah Amaliyah mujtahid tersebut maupun untuk mengamalkannya. Apa hukum perbuatan mereka?

Jawab:
Apabila perbuatan mereka sesuai ihtiyath, atau sesuai dengan hukum yang sebenarnya, atau sesuai pandangan mujtahid yang harus ditaklidinya, maka perbuatan itu dihukumi sah.

Soal 8:
Mengingat bahwa di dalam persoalan-persoalan yang mana mujtahid paling alim berpendapat wajib ihtiyath kita dapat merujuk kepada mujtahid yang paling alim setelahnya, maka seandainya mujtahid yang paling alim setelahnya itu juga berpendapat wajib ihtiyath dalam persoalan tersebut apakah boleh untuk merujuk ke mujtahid paling alim yang berikutnya? Dan seandainya fatwa mujtahid yang ketiga itu juga demikian (sama), apa boleh merujuk ke mujtahid yang paling alim setelah mereka? Dan begitulah seterusnya. Mohon penjelasan tentang masalah ini.

Jawab:
Di dalam persoalan yang mana mujtahid paling alim tidak punya fatwa, maka selama tetap memperhatikan urutan mujtahid yang paling alim tidak apa-apa merujuk kepada mujtahid yang dalam persoalan itu tidak berihtiyath, melainkan punya fatwa yang jelas. (WF)

 

e-mail: walifaqih@yahoo.com

Hits: 73

Fatwa, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat