Sayid Hasan Nasrullah dalam Pidato Hari Dunia Quds: Kemenangan Muqawama Membawa Pesan Resistensi dan Optimisme bagi Bangsa Palestina

Sekjen Hizbullah Libanon Hujjatul Islam Wal Muslimin Sayid Hasan Nasrullah, Jumat (23/6), berpidato dalam Acara Peringatan Hari Dunia Quds ke-38 seraya menyinggung pernyataan anak mahkota baru Saudi Arabia tentang perang melawan Iran lalu mengatakan, “Rezim Saudi terlalu pengecut dan lemah untuk berperang melawan Iran.”

Pada awal pidatonya, Sekjen Hizbullah menjelaskan bahwa pasca kemenangan Revolusi Islam berkat pengorbanan Bangsa Iran dan setelah berdirinya Sistem Pemerintahan Republik Islam, Imam Khumaini ra mendeklarasikan hari Jumat terakhir Bulan Suci Ramadan sebagai Hari Dunia Quds.

Dia melanjutkan, “Hari Jumat terakhir Bulan Suci Ramadan adalah sebaik-baik hari yang dipilih oleh Imam Khumaini sebagai Hari Dunia Quds. Quds adalah persoalan yang sekarang menjadi tanggungjawab seluruh umat manusia dan Umat Islam.”

Sayid Hasan Nasrullah menambahkan, “Sejak hari pertama Imam Khumaini ra mendeklarasikan Hari Dunia Quds, hari ini senantiasa diperingati dan dihidupkan dengan pawai, acara dan macam-macam kegiatan. Semua itu untuk menyuarakan pesan itu setiap tahun kepada semua orang di dunia.”

Dia menambahkan, “Pasca kepergian Imam Khumaini ra, Imam Khamenei melanjutkan tanggungjawab ini sampai sekarang. Itulah kenapa setelah kemenangan Revolusi Islam Iran sampai sekarang, Hari Dunia Quds setiap tahun diperingati, dan terus berkembangi dari benua ke benua yang lain. Sikap Pemimpin Revolusi Islam Iran tentang cita-cita Palestina adalah sikap yang dieologis. Iran selamanya akan membela kebangkitan-kebangkitan Muqawama di kawasan.”

Sekjen Hizbullah mengatakan, “Salah satu target utama dari peristiwa-peristiwa besar dan perang-perang yang sedang terjadi di Suriah, Irak, Yaman, dan Libiya adalah mempersiapkan suasana politik dan sosial demi kepentingan musuh zionis serta merugikan Bangsa palestina. Poros Muqawama dari dulu berusaha untuk menggagalkan target ini dan akan terus bekerja keras untuk itu.”

Dia menyatakan bahwa Suriah berada di posisi sentral Muqawama, termasuk pendukung utama gerakan-egerakan Muqawama, dan selalu melawan segala bentuk langkah yang hendak melenyapkan cita-cita Palestina. Dia juga menjelaskan bahwa tujuan dari perang Yaman adalah dominasi atas negeri ini.

Sekjen Muqawama Libanon menegaskan bahwa Iran adalah pendukung sejati Palestina dan gerakan-gerakan Muqawama di kawasan. Dukungan itu dilakukan pada saat negeri ini dikenai embargo-embargo ekonomi, tekanan-tekanan politik, dan berbagai konspirasi untuk mengisolir serta mengubahnya menjadi musuh utama menggantikan israel, begitu pula untuk membawa peperangan ke dalam Iran melalu kelompok-kelompok teroris.

Sayid Hasan Nasrullah menambahkan bahwa anak mahkota baru Saudi Arabia mengancam akan membawa perang ke dalam Iran, dan itu akan dia lakukan dengan cara mengerahkan teroris-teroris takfiri. Tapi, Rezim Saudi terlalu pengecut dan lemah untuk berperang melawan Iran.

Dia juga mengatakan bahwa kesulitan, blokade, kalaparan, pemutusan listrik, penangkapan, dan pembantaian dengan alasan-alasan palsu, pemutusan hubungan dengan tepi barat, pendudukan, yahudisasi Quds, penghancuran rumah, dan perampasan tanah, semua itu dilakukan guna membuat Bangsa Palestina dan para pemimpinnya putus asa, menyesatkan mereka dari cita-cita utama (kemerdekaan Palestina), dan dan memuaskan mereka hanya dengan hal-hal yang remeh.

Seraya menyinggung perang yang dipaksakan Saudi Arabia kepada Yaman, Sekjen Hizbullah mengatakan, “Perang Yaman punya berapa alasan. Tapi alasan yang paling penting dari kelanjutan perang ini adalah karena pihak-pihak yang ada sekarang di dalam Yaman tidak ingin Saudi menguasai negeri ini. Mereka menghendaki pemerintah kesatuan nasional dan partisipasi semua pihak. Sementara itu, Saudi dan sekutu-sekutunya tidak menginginkan adanya gerakan-gerakan Islam Yaman dan Kebangsaan Nasional di sana. Yaman punya posisi strategis yang sangat penting. Di antaranya yang paling penting adalah Babul Mandeb. Bangsa Yaman berdiri di sebelah Bangsa Palestina. Dan karena itu mereka diperangi.”

Sayid Hasan Nasrullah melanjutkan, “Tahun lalu, Trump dalam kampanyenya mengatakan bahwa Barack Obama dan Hillary Clintol lah yang mendirikan ISIS. Saudi ditunjuk oleh AS untuk mengucurkan dukungan finansialnya, dan Turki ditugaskan untuk memudahkan jalan mereka.”

Dia menyinggung pernyataan sebagian pihak mengenai keterisoliran Iran di dunia lalu mengatakan, “Iran tidak terisolir. Melainkan berdiri tegak melawan embargo, mengembangkan kekuatan dan industrinya, serta terus aktif di kawasan dengan kuat. Iran tidak akan menolerir terorisme, dan akan melawannya dengan keras. Perang teroris melawan Iran pasti kalah dan menghasilkan sebalik yang mereka inginkan. Iran berhasil menembakkan rudal-rudalnya tepat sasaran ke pos-pos teroris di Dairu Zur Suriah.”

Dia juga mengatakan, “Muqawama Iranlah yang mengejutkan pusat-pusat pengambilan keputusan di dunia. Poros ini senantiasa resisten melawan musuh-musuhnya, menantang mereka, dan membela cita-cita sejati Muqawama.”

Sayid Hasan Nasrullah melanjutkan, “AS mengira bahwa secara natural, poros Muqawama akan runtuh menghadapi Perang Dunia yang disetting dengan cara-cara, peralatan, bahasa, dan tema-tema yang paling keji. Tapi, poros Muqawama dari Palestina sampai Libanon, Suriah, Irak, Iran dan Bahrain semakin getol menunjukkan perlawanan.”

Dia mengatakan, “Ada dua poros mengenai Palestina. Poros pertama adalah AS dan israel yang berusaha menaklukkan Muqawama. Poros kedua adalah Muqawama yang senantiasa membela cita-cita Palestina. Ada juga pihak ketiga yang netral.”

Dia menambahkan, “Pada periode sekarang, israel menolak segala bentuk negosiasi dengan pihak Palestina. Karena dia punya harapan besar kepada negara-negara Arab. Dan memang inilah skenario serta rencana mereka.”

Sekjen Hizbullah Libanon mengatakan, “Barat dan para pendukungnya gagal memahami posisi Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei dan Bangsa Iran serta Sistem Pemerintahan Republik Islam. Karena itu selama 40 tahun ini mereka selalu kalah. Bangsa Iran, Pemimpin Revolusi Islam, dan seluruh Iran ketika merasa kedaultan dan kehormatannya terancam pasti akan melawan dan menghadapinya.”

Sembari menyinggung konferensi keamanan Herzliya dan pertemuan pejabat-pejabat tinggi israel, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan bahwa target utama mereka adalah Bangsa Palestina. Dia mengatakan, “Mereka mempercayai Quds sebagai ibukota israel, sedangkan Palestina dibatasi hanya sampai Gaza, tidak ada satu orang pengungsi pun yang berhak pulang, dan perbatasan dengan Jordan harus dikuasai oleh israel.”

Dia melanjutkan dengan krisis yang melanda Dunia Islam lalu mengatakan, “Di Libiya, perang internal berkobar. Di Bahrain, kelompok-kelompok oposisi diberantas. Di Saudi Arabia, khususnya di kota Awamiyah, konflik dan represi terus dilakukan oleh pemerintah. Semua itu dilakukan agar rakyat-rakyat dan pemerintah-pemerintah di kawasan lelah merasakan krisis dan mengeluarkan masalah Palestina dan skala prioritas.”

Dia mengapresiasi kegigihan angkatan-angkatan bersenjata Irak dalam memerangi ISIS lalu menegaskan bahwa rakyat terus waspada dan menjaga iman yang kuat. Masalah ISIS hanya menunggu waktu. Sebetulnya, pondasi ISIS di negeri ini sudah hancur. Dan ini berita buruk bagi israel.

Pemimpin Muqawama Libanon melanjutkan, “Dengan memperhatikan resistensi dan Muqawama di Suriah, bahaya perubahan rezim pemerintah sudah terlewati, dan setelah ini bahaya separatisme juga akan terlewati dengan Muqawama.”

Dia menegaskan bahwa, “Masalah Quds dan Palestina sama sekali tidak terlupakan, bahkan perhatian untuk itu bertambah. Target utama musuh untuk menghapus cita-cita Palestina dari perhitungan sudah gagal. Dan poros Muqawama semakin hari semakin kuat.”

Sekjen Hizbullah Libanon mengatakan, “Lieberman sendiri yang mengatakan bahwa israel tidak punya rencana perang, baik pada musim semi, musim panas, maupun musim dingin. Ini pernyataan menteri peperangan israel. Dia tahu betul bahwa perang melawan Gaza dan Libanon tidak akan membawa kemenangan bagi israel.”

Dia melanjutkan, “Menteri peperangan israel mengakui kekalahannya terhadap kelompok-kelmpok Muqawama dan mengatakan bahwa sejak tahun 1967, israel tidak pernah menang perang. Itulah kenapa kemarin mereka terpikir untuk menjauhkan Mesir dari poros Muqawama. Dan sekarang mereka berusaha menghancurkan Suriah. Semua itu agar israel bisa menang.”

Dia menjelaskan bahwa secara politik, nasional, dan militer Muqawama di Yaman sekarang kuat. Dan kita di Libanon bangga rakyat Yaman termasuk dalam poros Muqawama. Selama tiga tahun mereka membuktikan kepahlawanan dalam Muqawama. Meskipun negara ini diblokade dari semua arah, dan fasilitas yang dimilikinya sangat terbatas, tapi mereka tetap bertahan dan melawan. Dengan segala keterbatasan ini, rakyat Yaman terus berpartisipasi dalam peperangan melawan himpunan militer, termasuk israel.

Sayid Hasan Nasrullah menyebutkan bahwa Hari Dunia Quds dan kemenangan-kemenangan Muqawama di medan perang membawa pesan resistensi dan optimisme bagi Bangsa Palestina. Dia menegaskan bahwa, “Bangsa Palestina dan semua orang yang peduli terhadap masalah Palestina jangan pernah putus asa. Mereka harus percaya bahwa dengan keteguhan dan resistensi mereka pasti menang. Mereka harus yakin bahwa Muqawama tidak akan meninggalkan medan.”

Dia menekankan bahwa pergolakan apa pun yang terjadi di kawasan, AS dan israel perlu tahu bahwa Bangsa Palestina dan bangsa-bangsa Islam lainnya tidak akan pernah mengakui israel. Itu artinya, Tel Aviv akan selalu dipandang sebagai pemerintah penjajah dan teroris di kawasan.

Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa perjuangan melawan terorisme harus dimulai dari Saudi Arabia. Pendidikan teroris takfiri di negeri ini harus dihentikan. Saudi jangan sampai membuka pintu normalisasi hubungan dengan israel di kawasan.

Kepada musuh-musuh Muqawama dia menekankan bahwa kalian tidak akan menang. Dia mengatakan, “Rezim Saudi yang sekarang, baik dalam kancah politik maupun militer, ekonomi dan media menunjukkan permusuhan kepada Muqawama, sedang berusaha untuk memberi jaminan bantuan kepada israel dan membiasakan hubungan ekonomi serta politik dengannya.”

Sayid Muqawama ini melanjutkan, “Dalam peperangan ini, kita membela Libanon dan mempertahankan keamanannya, baik melawan israel maupun takfiri. Kita akan selalu membela tanah air dan kawasan.”

Dia juga menjelaskan bahwa rezim Saudi menjadi rezim yang dibenci di kawasan dan dunia. Karena mereka sumber Wahabisme dan pendukungnya, mereka juga yang mendidik kelompok-kelmpok teroris dan takfiri.

Setelah itu, Sayid Hasan Nasrullah menyerukan agar bangsa-bangsa Islam menuntut rezim Saudi untuk menghentikan agresinya ke Yaman dan intervensinya ke negara-negara lain seperti Bahrain, Suriah dan Iran. (WF)

Hits: 84

Berita, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat