Pesan-Pesan Imam Khumaini Tentang Quds dan Dunia Islam

Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Imam Sayid Ruhullah Musawi Khumaini ra, Kamis 16 Azar 1357 Hs (6 Muharram 1399 H / 7 Desember 1978 M), dalam wawancaranya dengan Jurnal Libanon Amal di Paris mengatakan:

“Salah satu faktor yang membuat kami menentang Syah adalah dukungan dia terhadap israel. Dalam ceramah-ceramah sudah saya katakan bahwa sejak awal munculnya israel, Syah selalu bekerjasama dengannya. Dan di saat memuncaknya perang antara israel dan Muslimin, Syah terus-menerus merampas minyak Muslimin dan memberikannya kepada israel.
Ini salah satu alasan saya melawan Syah. Bangsa Muslim Iran tidak pernah mendukung israel dan karena itu pula selalu ditindas oleh pemerintahan Syah.” (Shohifah Imam, jld. 5, hal. 187)

Imam Khumaini ra, Kamis 31 Syahriwar 1362 Hs (14 Dzul Hijjah 1403 H / 22 September 1983 M), dalam pesannya kepadanya rakyat Iran dalam rangka Pekan Perang Pertahanan yang dipaksakan oleh musuh-musuh Republik Islam terhadap Iran, dan mengenai solidaritas kelompok Munafikin dengan Partai Baats Irak serta dukungan negara-negara adidaya terhadap agresor, mengatakan:

“Hal yang sangat disayangkan adalah negara-negara adidaya, khususnya AS, dengan memperdaya Saddam dan menyerang ke negeri kita membuat negara kuat Iran sibuk mempertahankan diri, sehingga israel penjajah dan penjahat secara leluasa menjalankan rencana busuknya; yaitu pembentukan israel raya dari Nil sampai Furat.” (Shahifah Imam, jld. 18, hal. 145).

 

Di saat kekelahan demi kekalahan Arab dalam perang melawan israel khususnya dalam Prang Bulan Ramadan menguatkan gagasan damai dan kompromi, Imam Khumaini ra menekankan perjuangan agar terus dilanjutkan, termasuk dengan menggunakan senjata embargo minyak terhadap israel dan pendukung-pendukungnya. Beliau, Senin 16 Mehr 1352 Hs (10 Ramadan 1393 H / 8 Oktober 1973 M), di Najaf, dalam pesannya untuk para pemimpin negara-negara Islam dan bangsa-bangsa Muslim mengatakan:

“Para pemimpin negara-negara Islam perlu sadar bahwa biang kerusakan yang ditanamkan di jantung negara-negara Islam ini tidak ditujukan hanya untuk menindas Bangsa Arab. Melainkan bahayanya mengancam seluruh Timur Tengah. Rencananya adalah hegemoni zionisme atas Dunia Islam dan menjajah mayoritas tanah air emas dan sumber kekayaan negara-negara Islam.

Hanya dengan pengorbanan, kegigihan, dan persatuan negara-negara Islam bahaya mimpi buruk dan kelam penjajahan ini dapat disingkirkan.

Apabila ada negara yang menolak kerjasama dalam urusan vital dan kritis yang sedang menimpa Islam ini, maka hendaknya negara-negara Islam lain mendesaknya untuk bekerjasama dengan cara menegur, mengancam, dan memutuskan hubungan.

Negara-negara Islam yang kaya minyak hendaknya menggunakan minyak dan fasilitas-fasilitas lain yang dimilikinya sebagai senjata untuk melawan israel serta kolonial, hendaknya pula mereka menolak penjualan minyak kepada negara-negara yang membantu israel.” (Shohifah Imam, jld. 3, hal. 2).

 

Imam Khumaini ra, Sabtu 18 Murdad 1359 Hs (27 Ramadan 1400 H / 9 Agustus 1980 M), dalam pidatonya di pertemuan dengan para peserta Kongres Pembebasan Quds di Husainiah Jamaran, Tehran menjelaskan pondasi kuat yang diperlukan dalam perjuangan dan Muqawama melawan israel. Beliau mengatakan:

“Kita, selama tidak kembali kepada Islam; Islam Rasulullah Saw, maka problem kita akan tetap pada posisinya. Kita tidak akan mampu menanggulangi masalah Palestina, tidak pula masalah Afganistan dan tempat-tempat yang lain. Bangsa-bangsa harus kembali kepada permulaan Islam. Kalau pemerintah juga kembali bersama rakyat, maka itu bagus. Tapi seandainya pemerintah tidak kembali bersama rakyat, maka hendaknya rakyat memisahkan diri dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bangsa Iran terhadap pemerintah. Kalau itu tidak dilakukan maka betapa pun kita memperingati Hari Quds, meneriakkan yel-yel, berkumpul, dan bertutur, tidak akan bisa mencegah mereka (israel dan sekutunya).” (Shohifah Imam, jld. 13, hal. 89).

 

Imam Khumaini ra, Kamis 10 Aban 1358 Hs (10 Dzul Hijjah 1399 H / 1 November 1979 M), dalam pidatonya untuk para duta besar negara-negara Islam, di Qum mengatakan:

“Kenapa negara-negara yang punya segala-galanya dan punya segala macam kekuatan harus tunduk di hadapan israel dan dikuasai oleh mereka yang sedikit?! Kenapa bisa demikian?! Tiada lain karena bangsa-bangsa terpisah satu dari yang lain, pemerintah-pemerintah terpisah satu dari yang lain, satu miliar penduduk Muslim dengan semua peralatan yang dimiliki duduk diam dan menonton israel terus menerus melakukan kejahatan terhadap Libanon serta Palestina.” (Shohifah Imam, jld. 10, hal. 417-418).

Dalam pidatonya di pertemuan dengan kontingen pejabat Suriah, Rabu 24 Murdad 1358 Hs (21 Ramadan 1399 H / 15 Agustus 1979 M), di Qum, Imam Khumaini ra mengatakan:

“Bagi saya, ada satu hal yang masih misteri. Misteri itu adalah semua negara Islam dan bangsa-bangsa Muslim tahu apa deritanya, tahu ada tangan-tangan asing yang memecah-belah mereka, melihat bahwa dari perpecahan ini hanya kelemahan dan kehancuran yang mereka dapatkan, melihat bahwa pemerintah bayangan dan hampa israel sedang berdiri melawan mereka, tapi mereka tunduk terhina di hadapannya. Padahal, apabila Muslimin bersatu padu dan masing-masing dari mereka menuangkan satu ember air ke israel maka israel pasti hanyut terbawa banjir.

Misterinya adalah, sementara mereka mengetahui semua hal ini, kenapa mereka tidak mengambil solusinya yang pasti; yaitu persatuan dan kekompakan?! Kenapa mereka tidak melumpuhkan konspirasi-konspirasi yang dilakukan oleh para penjajah untuk melemahkan mereka?! Kapan misteri ini akan terpecahkan?! Kepada siapa misteri ini harus dibawa untuk dipecahkan?! Siapa yang mesti melumpuhkan konspirasi-konspirasi ini kalau bukan negara-negara Islam dan bangsa-bangsa Muslim?!

Beritahu saya kalau kalian menemukan jawaban dan solusi atas misteri ini.” (Shohifah Imam, jld. 9, hal. 274-275).

 

Imam Khumaini ra, Minggu 15 Khurdad 1362 Hs (23 Syakban 1403 H / 5 Juni 1983 M), dalam pesannya untuk rakyat Iran dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan 15 Khurdad, mengatakan:

“Tidakkah hina bagi Muslimin dan negara-negara Islam ketika urusan mereka dikendalikan dari dunia sana oleh AS; ketika mereka semua diperangkap dan dinistakan oleh AS melalui israel yang kafir dan penjajah?!” (Shohifah Imam, jld. 17, hal. 482).

 

Imam Khumaini ra, Senin 7 Aban 1358 Hs (7 Dzul Hijjah 1399 H / 29 Oktober 1979 M), di Qum, dalam pidatonya untuk kelompok mahasiswa, mengatakan:

“Semua kesengsaraan Timur disebabkan pihak-pihak asing ini. Disebabkan Barat. Disebabkan AS. Sekarang ini, semua kesengsaraan kita karena AS. Semua kesengsaraan Muslimin karena AS. Karena AS yang mendukung dan menguatkan zionisme sedemikian rupa. Mereka bunuh saudara kita berbondong-bondong.” (Shohifah Imam, jld. 10, hal. 392-393).

 

Imam Khumaini ra, Minggu 9 Isfand 1366 Hs (10 Rajab 1408 H / 28 Februari 1988 M) pagi, dalam pidatonya di Husainiah Jamaran kota Tehran untuk Dewan Pusat Hizbullah Libanon mengatakan:

“Kita jangan pernah melupakan pelajaran Muqawama melawan super power-super power.

Sekarang, semua kekuataan dan adidaya kompak untuk tidak membiarkan rakyat Muslim Palestina sampai kepada tujuan. Bahkan, pihak-pihak yang mengaku mencintai rakyat Palestina banyak yang cintanya bukan berarti ingin rakyat Muslim Palestina menang terhadap israel. Sayang sekali banyak dari mereka yang kompak menghalangi kemenangan Muslimin Palestina dengan cara berdiam diri, berkompromi, dan menonton. Hal itu karena kemenangan Muslimin Palestina berarti kemenangan Islam. Mereka takut sebagaimana Islam menang di Iran dan menggulung semua kekuasaan serta kepentingan mereka di sana, di Libanon dan Palestina juga Islam menang melibas seluruh kepentingan dan kekuatan mereka. Itulah kenapa semua setan bersatu untuk mencegah perkembangan Islam. Dan kita harus fokus mempersiapkan seluruh kekuatan kita sampai person yang terakhir untuk berjihad di jalan Allah Swt.

Membela kesucian Muslimin, membela negeri Muslimin, dan membela semua dimensi kehormatan Muslimin adalah kewajiban. Kita harus mempersiapkan diri demi tujuan-tujuan Ilahi dan membela Muslimin. Apalagi di saat anak bangsa Palestina Islami dan Libanon yang sesungguhnya –yakni Hizbullah- serta Muslimin Revolusioner tanah air yang sedang dijajah sedang menumpahkan darah dan mengorbankan nyawa sambil berseru “Wahai Muslimin!”.

Kita harus bertahan melawan israel dan semua agresor dengan segenap kekuatan spiritual dan material, kita harus ber-Muqawama dan tetap teguh melawan pertumpahan darah dan penindasan mereka, kita harus bergegas untuk membela para pejuang Muqawama dan mengidentifikasi para penjilat yang kompromi dengan musuh lalu mengumumkannya kepada masyarakat.

Saya optimis kalian sukses. Yakinlah bahwa kalian akan berhasil. Republik Islam Iran juga akan selalu bersama kalian dan bersama Muslimin, bahkan bersama semua kaum Mustadafin di Dunia.” (Shohifah Imam, jld. 20, hal. 486-487).

 

Imam Khumaini ra dalam Pesan Hajinya, Minggu 4 Syahriwar 1363 Hs (28 Dzul Qa’dah 1404 Hq / 26 Agustus 1984 M), mengatakan:

“Yakinlah bahwa negara seperti Iran yang komitmen terhadap Islam dan tidak melanggar firman-firman Ilahi, apabila kalian jabat erat tangan persaudaraannya niscaya kalian tidak akan rugi.

Alangkah baiknya apabila negara-negara kawasan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melenyapkan israel dari geografi. israel, perusak yang membuat rakyat tertindas Palestina jadi seperti sekarang, dan terus menerus melakukan kezaliman terhadap Libanon Jawara, serta melampaui batas negara-negara lain di kawasan.

Apa coba yang lebih baik dari persatuan negara-negara kawasan untuk menyelamatkan kawasan dari kejahatan israel dan AS yang mendukungnya.

Saya telah berulang kali mengingatkan bahwa israel mengklaim teritorialnya dari Nil sampai Furat dan memandang kalian sebagai penjajah tanah air mereka, walau pun sekarang mereka belum berani mengungkapkan hal itu secara terang-terangan.” (Shohifah Imam, jld. 19, hal. 31-32).

 

Imam Khumaini ra, Minggu 31 Murdad Hs (2 Dzul Qa’dah 1402 H / 22 Agustus 1982 M) pagi, dalam pidatonya di hadapan pejabat dan tenaga musiman haji mengatakan:

“Hak Veto sesuatu yang tidak bisa diterima oleh siapa pun. Majelis –katakan- Umum dunia menerima hak ini. Tidak ada orang balig dan berakal sehat pun yang menerima bahwa kita menginginkan keadilan untuk seluruh dunia, tapi otoritas sepenuhnya dipegang oleh segelintir orang! Sehingga dimana pun terjadi pencaplokan, apabila ada organisasi internasional tertentu ingin mencegahnya maka langsung diveto dan dihardik “Jangan! Jangan macam-macam bicara seperti itu!”.

Yang satu itu mengagresi Afganistan. Lalu, begitu ada yang mempersoalkan “kenapa?” maka langsung dibentak “jangan macam-macam!”. Yang satu lagi –katakan- mencaplok Bairut atau ibukota lainnya. Lalu, begitu ada yang protes maka langsung dimarahi “jangan macam-macam!”.

Sekarang, israel berdiri di hadapan seluruh negara Islam dan mengatakan “kalian jangan macam-macam!” Apa ini tidak disayangkan?! Bukan manusia namanya orang-orang yang berada di pucuk kekuasaan negara tapi diam saja ketika israel berdiri di hadapannya dan mengatakan “jangan ikut campur!”, datang merebut Bairut, melakukan berbagai kejahatan, membubarkan organisasi pembebasan, dan memecah belah rakyat.

Ketahuilah bahwa kalian semua yang diam dan tidak melawan kejahatan-kejahatan ini, kalian yang hanya duduk diam dan terkadang mengatakan sesuatu yang sejalan dengan mereka, giliran kalian juga akan sampai. israel akan sampai juga kepada kalian.” (Shohifah Imam, jld. 16, hal. 431-432)

 

Imam Khumaini ra, Sabtu 20 Tir 1349 Hs (7 Jumadil Awal 1390 H / 11 Juli 1970 M), dalam suratnya saat di Najaf untuk para guru dan santri Hauzah Ilmiah mengenai kesyahidan Sayid Muhammad Reza Saidi, antara lain mengatakan:

“Telah berulang kali saya peringatkan kepada umat ini tentang bahaya pemerintah israel dan agen-agennya. Mereka harus melakukan Muqawama Manfi (Reistensi Negatif) dan menghindari muamalat dengan mereka. (Shohifah Imam, jld. 2, hal. 278).

 

Imam Khumaini ra, Kamis 24 Isfand 1351 Hs (9 Safar 1393 H / 15 Maret 1973 M), dalam pesannya saat di Najaf untuk Perhimpunan Lembaga-Lembaga Islam Mahasiswa di Eropa, Amerika dan Kanada, tentang konspirasi baru rezim Syah untuk menghancurkan Islam, antara lain mengatakan:

“Sebagaimana telah berulang kali saya peringatkan; apabila Umat Islam tidak bangun dan menyadari tugas-tugasnya; apabila para ulama Islam tidak merasakan tanggungjawab dan bangkit; apabila Islam sejati yang merupakan faktor persatuan dan gerakan seluruh kelompok Muslimin melawan musuh, penjamin kemuliaan dan kemerdekaan bangsa-bangsa Muslim serta negara-negara Islam disembunyikan oleh tangan-tangan asing musuh di balik tabir hitam kolonial, sementara api perbedaan dan perpecahan terus berkobar di antara Muslimin, maka hari-hari yang lebih gelap dan malapetaka yang lebih buruk lagi akan menimpa Umat Islam. Di samping itu, asas Islam dan hukum-hukum Al-Qur’an semakin menjadi sasaran bahaya yang sangat besar.” (Shohifah Imam, jld. 2, hal. 488). (WF)

Hits: 100

Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat