Imam Khamenei dalam Silaturahmi Pemerintah: Bergandengan dengan AS Teroris Pembina Teroris dan Pendukung Rezim zionis Yang Merupakan Otak Terorisme? Itu Tidak Mungkin!

Wali faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Senin (12/6) sore, dalam acara silaturahmi pejabat-pejabat tinggi dari tiga badan legislatif, eksekutif dan yudikatif serta para direktur senior negara, menyebut kepercayaan seluruh suara yang tertuang ke dalam kotak pemilu pada Sistem Pemerintahan Islam sebagai fenomena paling penting dalam Pilpres 29 Urdibehesyt (19 Mei 2017).

Beliau menekankan pentingnya pengadaan suasana baru untuk kerjasama dan kerja keras demi kemajuan Iran dan kehormatan Sistem Pemerintahan Islam. Beliau mengatakan, “Untuk mengelola negara secara benar dan memanaje peluang serta ancaman, selain harus menggunakan pengalaman-pengalaman penting seperti ‘persatuan nasional’ dan ‘ketidakpercayaan kepada AS’, harus pula tetap bersandar kepada standar-standar yang benar dalam pengambilan keputusan. Dimana salah satu standar yang paling utama adalah ‘menjamin kepentingan nasional yang sejati’; artinya, kepentingan-kepentingan yang tidak bertentangan dengan Identitas Nasional dan Revolusioner Bangsa.”

Ayatullah Uzma Imam Khamenei pada awal pidatonya mengingatkan bahwa Bulan Suci Ramadan adalah kesempatan emas yang sangat berharga untuk menundukkan diri bermunajat kepada Allah Swt dan mencahayakan hati. Beliau mengatakan, “Mencapai tujuan dan cita-cita mulia adalah sesuatu yang tergantung kepada hubungan dengan Allah Swt dan usaha yang sungguh-sungguh serta dibarengi dengan iman. Ketika masyarakat Islam dan revolusioner lalai dari zikir dan munajat kepada Allah Swt, maka pasti akan kena serang.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei kemudian berbicara tentang isu-isu kontemporer, khususnya Pilpres 29 Urdibehesyt (19 Mei 17). Beliau mengatakan, “Pemilu adalah kerja besar yang menunjukkan kekuatan Revolusi dan kedalaman pengaruh Sistem Pemerintahan Islam di hati rakyat. Walau pun, media-media massa global tidak menyentuh masalah penting ini di dalam pemberitaannya yang luas.”

Seraya menyebut tindakan berharga seluruh partisipan pilpres sebagai ekspresi kepercayaan mereka terhadap Sistem Pemerintahan Islam, Imam Khamenei mengatakan, “Terlepas kepada siapa mereka menjatuhkan pilihan, tindakan bersama mereka adalah mempercayai kotak suara Republik Islam dan melakukan gerakan besar sesuai ketetapan di dalam Undang-Undang Dasar; yaitu pemilu.”

Beliau mengkritik pihak-pihak yang berusaha mengotak-ngotakkan masyarakat dengan berbagai penafsiran miring. Beliau mengatakan, “Jangan sampai perdebatan dan pengotak-ngotakan masyarakat merusak dan menyia-nyiakan kerja besar mereka dalam pemilu.”

Beliau menyinggung langkah-langkah keji AS pasca pilpres Republik Islam Iran seperti menambah embargo dan menabuh genderang permusuhan lebih kencang dari sebelumnya. Beliau mengatakan, “Menghadapi permusuhan-permusuhan ini, perlu tercipta suasana baru untuk kerjasama dan kerja keras demi mencapai tujuan bersama; yaitu kemajuan negara dan kehormatan Republik Islam. Semua pihak harus berpartisipasi dalam suasana itu.”

Pemimpin Revolusi Islam menjelaskan bahwa konsekuensi pencapaian tujuan dan penundukan musuh adalah kerja keras dan Muqawama. Beliau mengatakan, “Semua pihak harus membantu pemerintah, dan pemerintah juga harus memperhatikan keadaan rakyat. Mereka mesti bekerjasama di berbagai bidang.”

Beliau menegaskan bahwa, “Kebijakan saya selama ini dan sekarang adalah mendukung setiap pemerintah yang terpilih. Setelah ini pun kebijakan saya akan tetap demikian.”

Kemudian beliau memasuki inti pembicaraan tentang bagaimana cara mengelola negara secara benar dan mengidentifikasi jalan yang lurus dari penyimpangan. Beliau mengatakan, “Pengelolaan negara secara benar mula-mula butuh penentuan standar-standar dalam menggodok kebijakan dan mengambil keputusan. Baru setelah itu perlu menggunakan pengalaman selama 38 tahun terakhir.”

Ayatullah Uzma Imam Khamenei ketika menjelaskan standar-standar pengambilan keputusan yang benar, mengisyaratkan pada ‘Kepentingan Nasional’ sebagai standar utama. Beliau mengatakan, “Tentunya, Kepentingan Nasional betul-betul bisa dikatakan sebagai Kepentingan Nasional ketika tidak bertentangan dengan Identitas Nasional dan Revolusioner Bangsa Iran.”

Beliau melanjutkan, “Kepentingan Nasional harus disesuaikan dengan Identitas Nasional. Bukan malah Identitas Nasional diposisikan menganut isu-isu tertentu atas nama Kepentingan Nasional. Karena ketika diposisikan seperti itu maka sebetulnya itu adalah Kepentingan Imajinasional, bukan Kepentingan Nasional.”

Setelah itu, beliau menjelaskan pengertian dari Identitas Nasional dan mengatakan, “Identitas Nasional Iran terdiri dari tiga komponen keislaman, kerevolusioneran, dan kedalaman historis. Tiga unsur ini harus diperhatikan dan terpatri dalam definisi Identitas Nasional.”

Beliau mengatakan, “Para pejabat negara, baik pemerintah (Badan Eksekutif), maupun Badan Yudikatif, Badan Legislatif dan seluruh pihak yang mengambil keputusan-keputusan makro harus menghindari segala bentuk keputusan yang terkesan asing dari Islam, revolusi, dan sejarah Bangsa Iran. Apalagi bertentangan.”

Pemimpin Revolusi Islam menekankan bahwa definisi Kepentingan Nasional ini sama sekali tidak berarti mengabaikan berbagai kemajuan umat manusia dan menjauhkan diri dari kemajuan-kemajuan itu. Beliau mengatakan, “Sayangnya akhir-akhir ini, sering terjadi interpretasi dan penakwilan secara luas terhadap pernyataan pejabat negara. Jangan sampai definisi Kepentingan Nasional dalam kerangka identitas Islam, revolusioner dan historis ditafsirkan seabagai tertutupnya pintu untuk memanfaatkan berbagai kemajuan.”

Imam Khamenei mengingatkan satu poin penting lagi mengenai Kepentingan Nasional dan menekankan bahwa, “Jangan sampai Kepentingan Nasional berada di bawah tekanan asing (lawan).”

Beliau menjelaskan bahwa kekuatan-kekuatan arogansi menggunakan banyak cara untuk memaksakanan kehendaknya. Beliau mengatakan, “Salah satu cara kekuatan-kekuatan arogan adalah menjamin kepentingan mereka dengan mengarang norma-norma internasional lalu menuduh negara-negara yang independen dan anti kezaliman dengan tuduhan melanggar norma-norma tersebut.”

Beliau melanjutkan, “Baru-baru ini, AS dalam pernyataannya mengenai Iran mencetuskan tema ‘Instabilisasi Kawasan’ di bawah tema besar norma-norma internasional. Dalam hal ini, harus ditegaskan kepada mereka, pertama bahwa apa hubungannya kawasan ini dengan kalian?! Dan kedua, yang menyebabkan instabilitas di kawasan ini adalah kalian dan antek-antek kalian!”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menyinggung peran AS dalam menciptakan kelompok ISIS dan memberikan dukungan militer serta logistik kepada mereka. Beliau mengatakan, “Klaim pembentukan koalisi anti ISIS hanya dusta belaka. Iya, tentunya AS menolak ISIS yang tidak terkendali. Tapi, tentu pula AS melawan siapa pun yang betul-betul ingin menghancurkan ISIS.”

Beliau menjelaskan bahwa tuduhan presiden AS baru-baru ini kepada Iran tentang dukungan terhadap terorisme dan pelanggaran HAM adalah tuduhan-tuduhan yang disetting dalam kerangka dan pola “Buat norma lalu tuduhkan pelanggaran kepada yang lain”. Tujuannya jelas menjamin kepentingan arogansi. Beliau mengatakan, “Fakta bahwa AS berbicara tentang HAM pada saat bergandengan dengan penguasa abad pertengahan dan kepala kabilah Saudi, begitu pula fakta bahwa AS memfitnah Republik Islam yang merupakan manivestasi kerakyatan pada saat ia hadir di tempat yang tidak pernah mencium bau demokrasi, betul-betul konyol dan menggelikan. Ini menjadi stigma historis yang akan selalu menempel di dahi mereka.”

Pada bagian lain dari pidatonya, Imam Khamenei menjelaskan bagaimana menggunakan pengalaman untuk mengelola negara secara benar dan memanaje peluang serta ancaman.

Beliau mengisyaratkan pada “pengaruh besar keharmonisan dan persatuan nasional” dalam meraih berbagai keberhasilan selama empat dasawarsa terakhir. Lalu beliau mengatakan, “Pengalaman sukses manajemen negara ini harus dimanfaatkan. Tentu saja persatuan tidaklah bertentangan dengan ekspresi pandangan yang berbeda soal kebijakan setiap instansi pemerintah. Tapi, jangan sampai terjadi konflik dan kontroversi dalam persoalan-persoalan makro di negeri ini.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei mengingatkan bahwa ‘polarisasi dalam negeri’ dan ‘polarisasi masyarakat’ adalah pengalaman yang sangat berbahaya. Beliau mengatakan, “Pada tahun 59 Hs (80-81 M), presiden yang menjabat ketika itu membagi masyarakat ke dua poros yang berlawanan, dia membaginya menjadi dua kubu pro dan kontra. Pengalaman ini jangan sampai terulang kembali.”

Beliau menyebut “penentuan jarak yang jelas dengan musuh” sebagai faktor pendukung persatuan nasional. Lalu beliau mengatakan, “Aparat pemerintah dan negara harus secara serius menentukan jarak dengan musuh-musuh luar dan agen-agen mereka di dalam.”

Beliau mengingatkan pahitnya pengalaman peristiwa tahun 88 Hs (2009 M) lalu mengatakan, “Pada peristiwa itu, segerombolan orang turun ke jalan dan secara terang-terangan menyorakkan yel-yel anti asas revolusi dan pokok-pokok keyakinan agama. Lantas, karena sebagian pihak yang bertanggungjawab di dalam negeri ini tidak menentukan jarak dan batasan dengan mereka, maka muncullah berbagai masalah dan kendala.”

Poin berikut yang ditekankan oleh Imam Khamenei tentang pengelolaan negara secara benar adalah bertumpu kepada kapasitas-kapasitas dalam negeri dan pemrioritasan produksi nasional.

Beliau mengatakan, “Negara punya SDM muda yang sangat baik, efisien, dan telah membuktikan kapasitas serta kapabilitas mereka dalam berbagai kemajuan ilmu pengetahuan. Seperti dalam hal energi nuklir. Pengalaman dalam menggunakan SDM muda untuk memajukan berbagai bidang di negara ini juga harus dimanfaatkan.”

Selanjutnya, Imam Khamenei menyebut hal “ketidakpercayaan kepada musuh” sebagai pengalaman asasi lain yang sangat berharga dan harus digunakan secara sempurna dalam mengelola negara.

Beliau mengatakan, “Kita bisa tidak percaya kepada musuh, tapi pada kasus-kasus tertentu dan karena alasan-alasan tertentu seperti ingin mengambil dalih dari AS, mungkin saja kita mengalah. Tapi sayang, dalih itu tidak berhasil diambil, malah kita kena pukul.”

Beliau menekankan bahwa, “Dalam setiap kancah kerja dengan pihak-pihak asing (lawan) harus sangat teliti, waswas dan ekstra hati-hati. Dalam ekspresi dan pernyataan juga harus berbicara sekiranya musuh tidak merasa sedang dipercaya. Karena, itu berdampak negatif; baik di dalam maupun terhadap pihak-pihak asing tersebut.”

Beliau menyinggung masalah kesepakatan nuklir (JCPOA) dan mengatakan, “Baik dulu maupun sekarang kita percaya kepada pejabat-pejabat kita yang menindaklanjuti masalah ini, karena mereka orang-orang kita dan mukmin. Tapi dalam hal ini, karena percaya pada perkataan lawan, maka dalam beberapa kasus kita menghiraukan sejumlah persoalan, atau setidaknya kita kurang serius dalam memperhatikan persoalan-persoalan itu. Akibatnya, terjadilah beberapa kekosongan dan kekurangan yang sekarang sedang dimanfaatkan oleh musuh.”

Imam Khamenei mengisyaratkan pada surat Menlu Zarif kepada pejabat-pejabat Eropa tentang kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan AS terhadap JCPOA. Beliau mengatakan, “Menlu kan bukan orang yang menentang negosiasi. Tapi karena dia orang yang beragama, berhati nurani, dan punya rasa tanggungjawab, maka dalam surat itu dia menjabarkan berbagai kasus pelanggaran terhadap ruh maupun kerangka JCPOA.”

Beliau menegaskan kepada Dewan Pengawas JCPOA untuk menjalankan tugas-tugasnya secara teliti dan sempurna. Beliau mengatakan, “Soal penerimaan JCPOA, kami telah menentukan syarat-syarat yang jelas dan secara tertulis. Dewan Pengawas JCPOA harus waspada mengawasi agar syarat-syarat ini diperhatikan secara teliti.”

Beliau menekankan bahwa, “Ketika musuh secara keji dan lancang berdiri di hadapan kalian, maka dia akan memahami setiap langkah mundur dan mengalah kalian sebagai titik lemah dan keterdesakan. Sehingga mereka pun semakin lancang. Karena itu, harus ekstra hati-hati dan waspada.”

Poin berikutnya yang disebutkan oleh Imam Khamenei dalam menjelaskan apa saja yang harus dan tidak dalam mengelola negara serta memanaje peluang dan ancaman adalah “dukungan terhadap kekuataan militer dan keamanan”. Beliau mengatakan, “Jelas sekali bahwa AS ingin menghancurkan elemen-elemen kekuatan Iran. Karena itu, AS tidak senang pada Sepah Pasdaran (Pasukan Penjaga Revolusi Islam) dan Brigade Kuds. Karena itu pula AS menetapkan persyaratan-persyaratan seperti jangan ada Sepah, Basiji jangan ikut campur, kalian harus berbuat ini dan itu dalam persoalan-persoalan regional, dan begitulah seterusnya. Semua pejabat negara harus berbuat sebaliknya dari yang diinginkan musuh. Semua harus mendukung dan meningkatkan unsur-unsur kekuatan serta martabat Iran; yaitu angkatan bersenjata, Sepah Pasdaran, Basiji, dan seluruh elemen mukmin serta revolusioner.”

Setelah itu, Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menjelaskan poin-poin penting mengenai ekonomi dalam mengelola negara secara benar.

Beliau mengatakan, “Tadi, presiden dalam pidatonya telah menyampaikan beberapa hal yang ‘harus terjadi’. Tapi sebenarnya, sasaran dan pelaksana utama hal-hal itu adalah dia sendiri berikut tim kerja pemerintah.”

Sembari menyinggung pengaruh menarik investasi dari dalam dan luar negeri terhadap manajemen ekonomi negara, beliau menyebut “perhatian yang sesungguhnya terhadap desa-desa” seperti pengadaan industri desa sebagai solusi atas berbagai kendala; termasuk kendala marjinalisasi dan kerusakan yang diakibatkannya. Beliau mengatakan, “Pengadaan fasilitas transportasi dan pemudahan transfer produk-produk desa bagi orang-orang desa adalah hal yang penting sekali.”

“Manajemen yang benar terhadap impor barang, seperti pencegahan ketat terhadap impor barang yang dapat mencederai produk serupa di dalam negeri”, “konsumsi produk-produk dalam negeri oleh rakyat sebagai landasan yang harus dipersiapkan untuk meningkatkan kualitas produk-produk tersebut”, “memerangi penyelundupan”, “pelaksanaan yang seyogianya terhadap asas 44 UUD”, dan “keamanan investasi” adalah poin-poin penting lain yang disampaikan oleh Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei terkait ekonomi negara.

Lalu beliau mengatakan, “Kita pejabat pemerintahan, berapa tahun terakhir ini sudah sering sekali berbicara tentang masalah-masalah ekonomi. Tapi sekarang sudah harus beraksi. Karena itu, salah satu pekerjaan pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah menyampaikan “peta jalan yang jelas dan komprehensif”.

Setelah itu, Imam Khamenei menyebut “Cyber Space” sebagai salah satu hal yang penting sekali dalam mengelola negara secara benar.

Beliau mengatakan, “Memang dalam ruang cyber ini terdapat hal-hal yang anti nilai dan bertentangan dengan Kepentingan Nasional, terdapat hal-hal yang benar dan salah, informasi yang tepat dan keliru, bahkan meta-informasi yang menghujani benak publik. Semua itu perlu dikontrol, tapi jangan sampai masyarakat dihalangi dan dipisahkan dari ruang cyber.”

Seraya mengkritik berbagai keteledoran yang terjadi dalam membuat jaringan informasi nasional, Imam Khamenei mengatakan, “Sebagian negara di dunia dengan membuat jaringan informasi nasional senantiasa menggunakan internet untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Di samping itu, mereka tetap menjaga garis merah masing-masing dan mengontrol ruang cyber secara teratur.”

Beliau menambahkan, “Semua orang harus tetap bisa memanfaatkan ruang cyber. Kecepatan internet harus ditingkatkan, begitu pula hal-hal lain yang diperlukan harus dilakukan selama itu tidak membahayakan negara, opini publik, dan terutama anak-anak muda.”

Kemudian Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei berbicara tentang AS. Beliau mengatakan, “Banyak sekali persoalan yang pada prinsipnya tidak bisa diselesaikan dengan AS. Karena, persoalan AS dengan kita tidak muncul dari hal-hal seperti energi nuklir atau HAM. Masalah utama mereka adalah Asas Republik Islam.”

Beliau menegaskan bahwa faktor utama permusuhan AS terhadap Republik Islam Iran adalah lahirnya Sistem Pemerintahan Islam di sebuah kawasan yang penting dan di negeri yang kaya raya seperti Iran serta diambilnya kebijakan-kebijakan yang independen. Beliau mengatakan, “Mereka bermasalah dengan kemerdekaan negara. Bahkan, seandainya pemerintahan yang muncul di negeri ini bukan pemerintahan agama dan revolusioner, tapi pemerintahan yang merdeka dan mandiri, maka tetap akan mendapatkan perlawanan dan penentangan dari mereka.”

Beliau menunjukkan berbagai kekayaan yang berlimpah di Republik Islam Iran lalu mengatakan, “Negara-negara adidaya yang pekerjaannya adalah mengganggu negara-negara lain tidak mungkin melewatkan sasaran berharga ini. Tapi, Revolusi Islam tidak mengizinkan mereka untuk menyantap sasaran ini.”

Imam Khamenei menyebut isu-isu seperti HAM, terorisme, dan klaim instabilisasi kawasan oleh Iran sebagai dalih yang sengaja dibuat oleh AS untuk melawan Sistem Pemerintahan Islam. Beliau mengatakan, “AS itu sendiri teroris, pembina teroris, dan pendukung rezim zionis yang merupakan otak terorisme dan sejak awal lahir dengan cara teror serta kezaliman. Karena itu, tidak mungkin bergandengan dengan AS.”

Beliau menekankan bahwa, “Jangan mengutarakan sesuatu yang ambigu dan multi interpretasi sehingga menyebabkan penyalahgunaan. Pandangan dan sikap harus dinyatakan secara tegas dan jelas.”

Wali Faqih Zaman Imam Khamenei menegaskan, “AS perlu sadar bahwa Republik Islam Iran tidak mungkin meninggalkan sikap-sikap seperti anti kezaliman dan pembelaan terhadap Palestina. Begitu pula tidak mungkin mundur dalam menegakkan hak-hak Bangsa.”

Pemimpin Revolusi Islam ini menyebut Bangsa Iran sebagai bangsa yang hidup dan Revolusi Islam sebagai revolusi yang progresif dan muda. Beliau mengatakan, “Kondisi ini menjanjikan masa depan yang baik bagi bangsa. Mudah-mudah kondisi masyarakat semakin hari semakin membaik dan mampu menepis berbagai ancaman dengan sebaik mungkin.” (WF)

Hits: 60

Berita, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat