Imam Khamenei di Haul Wafat Imam Khumaini: Berseteru dengan Setan Besar Memang Perlu Biaya Tapi Kompromi Biayanya Jauh Lebih Besar

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Minggu (4/6) sore pukul 18:00 waktu setempat, menghadiri acara Peringatan Ulang Tahun Hari Wafat Imam Khumaini ke-28 di Markad; pemakaman beliau di Tehran, dan berpidato seraya menekankan bahwa, “Semangat, mental dan amal revolusioner adalah pelajaran Imam ra. Bangsa Iran, di bawah naungan cita-cita Imam yang senantiasa menarik, dan dengan terus waspada terhadap setan besar, akan melanjutkan jalan Imam menuju cita-cita Revolusi Islam dalam makna rasionalitas yang sejati.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei di awal pidatonya memperingati ulang tahun hari wafat Imam Khumaini ra yang betul-betul menyedihkan. Beliau menyinggung berbagai fakta dan persoalan yang terjadi pada tahun-tahun lalu mengenai Imam dan Revolusi Islam. Kemudian beliau berkata, “Masih banyak hal tak terungkap mengenai Imam yang perlahan-lahan harus ditransfer ke benak masyarakat. Meskipun demikian, hal-hal yang selama bertahun-tahun ini telah disampaikan mengenai beliau harus senantiasa diulang kembali agar jalan dan prinsip-prinsip beliau terjaga dari distorsi, sehingga semua peluang tertutup bagi orang lain untuk melakukan pemutarbalikan fakta dan citra tentang beliau.”

Ayatullah Uzma Khamenei menekankan pidatonya hari ini untuk generasi muda dan mengatakan, “Mengingat bahwa generasi muda tidak menyaksikan masa kepahlawanan besar, kemenangan Revolusi Islam, perang Pertahanan Suci, dan gerakan hebat melawan kelompok-kelompok separatis, maka saya tujukan pembicaraan saya tentang Imam hari ini secara lebih khusus untuk anak-anak muda. Di samping karena generasi muda lebih sering menjadi target serangan para aktor pelaku distorsi.”

Kepada anak-anak muda beliau katakan bahwa, “Kemenangan Revolusi Islam yang merupakan realisasi kehendak Ilahi dengan perantara Imam Khumaini dan dukungan rakyat bukanlah sekedar transformasi politik murni dan tersingkirnya kelompok tertentu dari kekuasaan diganti kelompok yang lain. Melainkan Revolusi Islam adalah perubahan yang mendasar dan agung pada kancah politik negara sekaligus terhadap masyarakat.”

Sembari mengisyaratkan masalah perubahan fundamental pada kancah politik negara, beliau menambahkan, “Revolusi Islam mengganti pemerintahan diktator yang eksklusif dan bergantung serta patuh kepada asing menjadi pemerintahan yang bersandar kepada rakyat, merdeka, bermartabat, dan punya jati diri.”

Adapun mengenai perubahan mendasar yang dilakukan oleh Revolusi Islam terhadap masyarakat, Imam Khamenei mengatakan, “Masyarakat Iran dengan latar belakang kultur yang luar biasa, para ilmuan yang besar, dan ilmu pengetahuan yang istimewa ketika itu telah berubah menjadi masyarakat yang tidak berjati diri dan mengekor kepada Barat. Tapi kemudian Revolusi Islam datang mengubah masyarakat itu menjadi masyarakat yang berjati diri, mandiri, asli, berinovasi dan punya pandangan baru.”

Beliau menekankan bahwa Imam Khumaini ra adalah sosok yang menciptakan perubahan agung ini berkat kemenangan Revolusi Islam. Beliau mengatakan, “Imam Khumaini dalam pernyataan-pernyataannya menegaskan target-target maksimalis Revolusi Islam. Ketika itu, tokoh-tokoh politik yang matang dan pejuang sekali pun menyatakan itu tidak mungkin terealisasi. Tapi Imam berhasil merealisasikan tujuan-tujuan maksimalis tersebut.”

Ayatullah Uzma Khamenei menyinggung target-target Kebangkitan Konstitusi dan Kebangkitan Nasionalisasi Industri Minyak seraya menjelaskan bahwa itu minimalis dibandingkan dengan target-target revolusi yang disampaikan Imam Khumaini ra. Beliau menerangkan bahwa padahal target-target itu minimalis tapi, “Kebangkitan-kebangkitan tersebut tetap tidak berhasil mencapainya secara sempurna. Sedangkan Imam Khumaini ra, bukan saja sukses mencapai target-target maksimalis Revolusi Islam, bahkan berhasil menjaga dan melestarikan revolusi ini.”

Beliau mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana Imam mampu memimpin gerakan agung ini sampai menang dan menjaga target-target maksimalisnya?” lalu beliau berkata, “Rahasia kesuksesan Imam Khumaini dan seni agung beliau terletak pada kemampuan beliau dalam mengajak rakyat, khususnya anak-anak muda, terjun ke lapangan dan menjaga mereka tetap di sana.”

Beliau menekankan bahwa, “Di setiap negara yang rakyatnya terjun ke lapangan, bertahan dan melawan, tujuan mereka pasti terealisasi.”

Pemimpin Revolusi Islam kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya, “Bagaimana Imam Khumaini ra mendapatkan kemampuan ini sehingga berhasil mengajak rakyat, khususnya anak-anak muda, terjun ke lapangan dan menjaga mereka tetap di sana?”

Menjawab pertanyaan ini, beliau mengisyaratkan pada daya tarik kepribadian dan daya tarik slogan serta prinsip Imam Khumaini ra seraya mengatakan, “Dari sisi kepribadian, Imam Khumaini adalah sosok yang sangat kuat, berdaya tahan tinggi dalam kesulitan, tegas, jujur, beriman dan bertawakal kepada Allah Swt; baik dalam tutur kata maupun tindakan. Daya tarik kepribadian ini membuat anak-anak muda memilih Imam dan jalan, kebangkitan serta revolusi beliau.”

Setelah itu, Imam Khamenei mengisyaratkan pada daya tarik slogan dan prinsip Imam Khumaini ra seraya mengatakan, “Salah satu prinsip yang diutarakan oleh Imam adalah ‘Islam Murni Muhammadi Saw’; Islam yang tidak terperangkap kekolotan dan tidak pula terjebak eklektika (pilah-pilih dan pencampuradukan).”

Beliau menyebut kemerdekaan, kebebasan, keadilan sosial dan keadilan ekonomi termasuk daya tarik prinsip Imam Khumaini ra. Beliau mengatakan, “Salah satu prinsip Imam adalah kebebasan dari cengkraman hegemoni AS. Dan ini sangat menarik bagi anak-anak muda Iran.”

Beliau menekankan, “Sekarang pun, kebebasan dari hegemoni AS juga¬† menarik bagi anak-anak muda di negara-negara seperti Saudi yang selama bertahun-tahun berada di bawah cengkraman kepentingan AS.”

Pemimpin Revolusi Islam menyebut kerakyatan, hak pilih dan kedaulatan rakyat, serta kepercayaan diri bangsa termasuk prinsip Imam Khumaini ra. Beliau mengatakan, “Daya tarik kepribadian dan prinsip Imam Khumaini adalah faktor utama anak-anak muda bergabung dengan kebangkitan dan Revolusi Islam sampai menang dan menyebabkan gempa politik di dunia.”

Beliau menerangkan terbentuknya dua kubu pendukung dan penentang Revolusi Islam di dunia, lalu mengatakan, “Pasca kemenangan Revolusi Islam, kekuatan-kekuatan dunia seperti AS dan Uni Soviet, begitu pula gelombang-gelombang kekuatan seperti zionis dan perusahaan-perusahaan besar menjadi musuh Revolusi Islam; karena mereka merasakan bahaya. Sebaliknya, banyak sekali bangsa-bangsa Muslim, bahkan non-Muslim, yang tertarik pada revolusi ini bahkan mendukungnya secara aktif. Dan arus dukungan ini masih berlanjut sampai saat ini.”

Beliau menyinggung kebingungan negara-negara adidaya pada awal kemenangan Revolusi Islam dan mengatakan, “Selang berapa waktu setelah kemenangan Revolusi Islam, mereka baru sadar. Dan seketika itu pula mereka memulai permusuhan. Selama 38 tahun yang lalu, mereka merancang berbagai rencana, tapi semua itu dikalahkan oleh Bangsa Iran. Dan setelah ini pun akan senantiasa dikalahkan.”

Kemudian Ayatullah Uzma Khamenei mengenang situasi dan kondisi dasawarsa tahun enam puluhan (delapan puluhan Masehi) sebagai dasawarsa kemenangan Revolusi Islam dan masa hidup penuh berkah Imam Khumaini ra. Beliau mengatakan, “Dasawarsa tahun enam puluhan adalah dasawarsa yang terzalimi. Tapi pada saat sama merupakan masa yang sangat penting dan menentukan sekali dalam sejarah Revolusi Islam. Namun, dasawarsan ini sayang sekali masih tak dikenal. Apalagi akhir-akhir ini menjadi sasaran tembak speaker-speaker dan orang-orang yang memegangnya.”

Beliau menyebut dasawarsa tahun enam puluhan sebagai dasawarsa cobaan besar dan dasawarsa aksi teror yang paling kejam di dalam negeri. Beliau mengatakan, “Teroris-teroris binaan adidaya pada tahun enam puluhan telah menggugur-syahidkan ribuan orang, baik dari kalangan rakyat maupun pejabat; mulai dari pegawai biasa, anak muda, dan aktivis politik sampai dengan tokoh-tokoh terkemuka.”

Pemimpin Revolusi Islam menyebutkan dalam dasawarsa tahun enam puluhan ini terjadi perang yang dipaksakan terhadap Iran selama delapan tahun dan macam-macam embargo yang paling berat. Beliau mengatakan, “Meskipun demikian, dasawarsa tahun enam puluhan ini merupakan tahun-tahun kebanggaan besar dan tahun-tahun perlawanan anti separatisme. Pada tahun-tahun inilah bangsa Iran dan khususnya anak-anak muda berhasil mengalahkan seluruh konspirasi musuh berkat resistensi yang tangguh.”

Beliau mengajak para pemikir untuk merenungkan hakikat dan fakta yang terjadi pada tahun enam puluhan. Lalu beliau mengatakan, “Kita harus waspada jangan sampai fakta dasawarsa tahun enam puluhan ini diputarbalikkan sehingga posisi syahid digantikan dengan penjagal. Karena Bangsa Iran pada dasawarsa tahun enam puluhan adalah bangsa yang terzalimi. Dan karena kelompok teroris, munafik, serta pendukung mereka berbuat zalim dan keji terhadap Imam serta rakyat Iran. Tapi rakyat memilih bertahan, dan pada akhirnya menang.”

Setelah itu, Ayatullah Uzma Khemenei berbicara tentang wafatnya Imam Khumain ra dan periode pasca wafat beliau. Beliau mengatakan, “Setelah Imam wafat, sebagian orang optimis bisa mengubah jalan beliau. Tapi berkat karunia Allah Swt mereka tidak mampu melakukannya.”

Beliau menjelaskan bagaimana pasca wafatnya Imam Khumaini ra, sebagian kekuatan asing dan orang-orang dukungan mereka di dalam negeri berharap bisa memukul mundur jalan beliau dan menunggu Revolusi Islam menua serta lumpuh. Beliau mengatakan, “Mereka ingin sekali membentangkan lagi hamparan pra Revolusi Islam, tapi mereka gagal. Sebab, prinsip-prinsip Imam Khumaini bagi Bangsa Iran masih tetap menarik, segar, dan membahagiakan.”

Beliau menekankan bahwa, “Meskipun jasad Imam tidak lagi di tengah kita, tapi nama beliau masih terus menjadi solusi dan jalan. Ruh dan kenangan beliau masih tetap hidup. Prinsip-prinsip tidak akan melawas. Slogan-slogan beliau masih terus menarik dan memberi petunjuk kepada bangsa dan negara. Dan fakta gemilang ini bukti kekuatan mobilisasi Revolusi Islam.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menyinggung keterbelakangan yang masih tersisa dalam merealisasikan beberapa slogan Imam Khumaini ra seperti keadilan sosial dan ekonomi. Beliau mengatakan, “Dengan semangat yang lebih besar, kita akan melanjutkan perjalanan menuju cita-cita Imam yang telah berpulang ke Arasy Ilahi.”

Beliau menyebut kekuatan mobilisasi Revolusi Islam sebagai kenikmatan yang sangat besar. Seraya menunjukkan kebutuhan zaman sekarang dan masa depan negara yang sesungguhnya kepada kekuatan mobilisasi ini, beliau mengatakan, “Tidak ada penggerak sehebat kekuatan revolusi dan slogan-slogan Imam yang sangat menarik. Dengan alasan apapun, para pejabat negara dan aktivis politik jangan sampai lalai terhadap kekuatan yang sangat menentukan ini.”

Beliau menyinggung konspirasi-konspirasi musuh yang kompleks dan berlanjut sampai sekarang seraya mengatakan, “Berkat karunia Ilahi, Revolusi Islam dan cita-cita menarik Imam Khumaini ra akan senantiasa mampu mengajak anak-anak muda dan orang-orang yang punya tekad tinggi untuk terjun ke lapangan, menggerakkan dan mendorong mereka untuk maju. Inilah sebab kenapa plot-plot musuh gagal.”

Setelah itu, Imam Khamenei menjelaskan puncak kekejian musuh dan mengatakan, “Presiden AS menari pedang bersama pemimpin sebuah sistem kabilah yang terbelakang dan merosot lalu dengan biadabnya menggugat pemilu Bangsa Iran yang bebas dan diikutsertai oleh 40 juta orang lebih.”

Seraya menyinggung percumbuan presiden AS dengan para pembantai rakyat tak berdosa dan tak berpelindungan Yaman, beliau mengatakan, “Musuh-musuh kita tanpa sedikit pun rasa malu berbicara di sebelah pelaku pembantaian rakyat Yaman tentang hak asasi manusia dan mengembargo bangsa mulia Iran atas nama HAM. Masih adakah kekejian lebih dari ini?!”

Beliau menekankan, “Di hadapan musuh yang kurang ajar seperti ini, Iran sangat membutuhkan kekuatan mobilisasi Revolusi Islam. Semua pejabat negara dan simpatisan Revolusi Islam harus sungguh-sungguh menghargai nilai dan cita-cita Revolusi. Jangan sampai mereka melupakannya demi target-target jangka pendek atau kepentingan politik sekilas dan sehari-hari.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menjelaskan bahwa kemajuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan budaya memerlukan kepercayaan diri dan keberanian yang bersumber dari Revolusi Islam. Beliau mengatakan, “Sekarang pun kalau sampai pengalaman seperti peristiwa tahun enam puluhan (delapan puluhan Masehi) terulang kembali, maka sudah pasti dan tanpa diragukan lagi jutaan pemuda bersemangat tinggi dan pemberani akan terjun ke lapangan menjaga negara ini dengan kekuatan penuh dan kemuliaan diri.”

Beliau mengkritik sebagian orang yang mengutarakan ‘Rasionalitas’ seolah lawan dari syiar-syiar Revolusi Islam. Beliau mengatakan, “Rasionalitas sejati bahkan terletak pada Revolusionalisme Islam itu sendiri. Pola pandang revolusionalis inilah yang mampu menunjukkan hakikat dan fakta yang sebenarnya.”

Beliau menjelaskan contoh kongkrit masalah penting ini dan mengatakan, “Imam Khumaini ra, tiga puluh sekian tahun yang lalu, dengan cahaya perspektif yang revolusioner dan sesungguhnya rasional, telah memperkenalkan Amerika sebagai ‘setan besar’ dan pihak yang ‘tidak bisa dipercaya’. Dan sekarang, setelah tiga dasawarsa, pemimpin-pemimpin sebagian negara Eropa mengakui kebenaran kata-kata Imam dan menyatakan bahwa AS tidak bisa dipercaya. Hal ini menunjukkan rasionalitas yang muncul dari revolusionerisme Imam Khumaini ra.”

Imam Khamenei menambahkan, “Tentunya, Bangsa Iran juga di semua pengalamannya telah menyadari bahwa AS betul-betul tidak bisa dipercaya.”

Beliau melanjutkan penjelasan tentang makna rasionalitas yang sesungguhnya seraya berkata, “Rasionalitas artinya mengenal hal-hal yang sejati, bertumpu pada rakyat dan potensi-potensi internal, serta bertawakal kepada Allah Swt. Bukan artinya seseorang setelah terbebas dari cengkraman dan hegemoni AS lalu mendekatkan diri kembali kepada setan besar.”

Sembari menyebut semangat, mental dan amal revolusioner sebagai pelajaran Imam Khumaini ra, Ayatullah Uzma Khamenei mengatakan, “Jangan sampai pelajaran yang merupakan solusi dan jaminan kebahagiaan ini terlupakan.”

Setelah itu, beliau mengkritik orang-orang yang memandang Imam Khumaini ra dengan kaca mata ‘warisan budaya’. Beliau mengatakan, “Imam Khumaini bukan warisan budaya, melainkan pemimpin dan imam yang hidup dan hadir. Beliau senantiasa memberi petunjuk kepada bangsa ini dengan tutur kata, pikiran, dan cita-citanya.”

Kemudian beliau mengkritik orang-orang yang atas nama rasionalitas menyatakan bahwa “berseteru melawan adidaya perlu biaya”. Beliau mengatakan, “Iya, berseteru memang perlu biaya, tapi kompromi biayanya jauh lebih besar.”

Beliau mengutarakan langkah Saudi dalam membiayai ratusan miliar dolar dari uang rakyat demi kepentingan AS sebagai contoh biaya kompromi dengan setan besar. Beliau mengatakan, “Sekiranya orang berseteru dengan modal percaya diri dan logika serta rasionalitas revolusioner, maka biayanya jauh lebih sedikit daripada kompromi.”

Imam Khamenei mengatakan, “Insyaallah suatu saat saya akan bicara lebih banyak tentang masalah ini. Bagaimana pun juga yang pasti bahwa kekuatan-kekuatan konspirator dan arogan tidak akan puas dengan apa pun. Sebagaimana kita saksikan bersama dalam interaksi berapa tahun terakhir, setiap langkah mundur di hadapan musuh mendorong mereka untuk mengajukan tuntutan baru, dan mata rantai ‘langkah mundur serta tuntutan baru’ ini tidak akan berhenti pada satu titik.”

Setelah menjelaskan hubungan substansial antara rasionalitas dan revolusionerisme Islam, beliau mengatakan, “Revolusionerisme artinya para pejabat negara hendaknya tidak menargetkan kepuasan kekuatan-kekuatan asing; hendaknya mereka tidak bersikap reaksioner, tidak menyerah, dan tidak tertipu oleh pihak-pihak arogan; hendaknya mereka menyingkirkan kelemahan diri di hadapan setan besar dan memfokuskan ambisi serta sasarannya pada pengaktifan potensi dan komponen internal dalam menanggulangi berbagai persoalan dan dalam memuaskan rakyat.”

Beliau menutup bagian pertama dari pidatonya ini dengan menekankan kembali bahwa negara butuh kepada mental, jalan, dan prinsip-prinsip Revolusi Islam dan Imam Khumaini ra. Beliau menegaskan, “Jangan negasikan ‘Revolusionalisme’ atas nama ‘Radikalisme’; karena ‘Revolusionalisme’ adalah kebutuhan negara dan bangsa yang sesungguhnya.”

Setelah itu, Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei berbicara tentang persoalan dalam negeri.

Beliau menyinggung masalah pilpres dan partisipasi luas rakyat seraya berkata, “Saya ucapkan terimasih dari hati yang paling dalam kepada satu persatu orang yang hadir dalam kancah pemilu ini sehingga lebih dari 41 juta suara tertuang dalam kotak pemilu.”

Beliau menyebut partisipasi luas rakyat dalam pemilu sebagai bukti kepercayaan publik terhadap sistem dan faktor peningkatan kredibilitas negara. Beliau mengatakan, “Mayoritas sekitar tujuh puluh sekian persen rakyat yang punya hak suara telah menyatakan ‘Iya’ terhadap Sistem Republik Islam dengan partisipasi mereka dalam pemilu. Dengan itu mereka mendukung nya. Dan suara ini sejatinya adalah suara untuk Sistem Pemerintahan Islam.”

Imam Khamenei melanjutkan, “Sayangnya ada saja orang yang salah paham atau karena alasan lainnya mengingkari kenyataan ini dan mengatakan bahwa suara rakyat tidak ada hubungannya dengan dukungan terhadap Sistem Pemerintahan Islam. Padahal, bahkan orang yang mungkin dalam hati tidak menyukai sistem ini, ketika dia memberikan suaranya dalam kerangka sistem tertentu berarti dia menerima kerangka tersebut, mempercayainya, dan memandangnya efektif.”

Beliau melanjutkan, “Dewan Garda UUD untungnya telah mengumumkan kesahan pemilu. Tapi diumumkannya juga bahwa telah terjadi beberapa pelanggaran dalam pemilu. Dan laporan mengenai pelanggaran ini juga telah sampai kepada kami.”

Sembari menyinggung bahwa pelanggaran ini memang tidak akan mempengaruhi hasil pemilu, beliau mengatakan, “Pelanggaran dalam pemilu tidaklah pantas bagi Sistem Republik Islam. Para pejabat negara harus menindaknya secara serius dan mengidentifikasi para pelakunya agar tidak terjadi lagi pada pemilu-pemilu Bangsa Iran yang akan datang. Apabila kita menutup mata dan berpaling dari pelanggaran ini, maka akan terulang pada kesempatan berikutnya.”

Beliau mengucapkan terimakasih kepada aparat penyelenggara dan pengawas pemilu serta mengkritik terjadinya hal-hal tidak etis selama kampanye. Beliau mengatakan, “Di kampanye dan debat kandidat telah terlontar kata-kata yang tidak pantas dan sikap-sikap tidak etis; berbagai badan resmi negara menjadi sasaran tuduhan. Dan ini tidak baik.”

Beliau melanjutkan, “Yang lalu, sudah berlalu. Hal-hal tidak etis yang terjadi selama pemilu hendaknya dipandang berlalu. Jangan sampai terulang dan berkelanjutan.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menganjurkan masyarakat seluruhnya untuk bersifat ‘hilm’ atau murah dan besar hati. Beliau mengatakan, “Baik mereka yang kandidatnya meraup suara maupun mereka yang tidak harus sama-sama menunjukkan kapasitas diri dan kebesaran hati, jangan sampai terjebak dalam kapasitas rendah dan kecil hati.”

Beliau melanjutkan, “Untungnya tahun ini mereka yang tidak berhasil meraup suara telah menunjukkan kapasitasnya yang besar, tidak seperti pemilu tahun 1388 H (2009 M); sebagian orang ketika itu membuat masalah bagi negara.”

Poin internal lain yang kemudian disampaikan oleh Pemimpin Revolusi Islam adalah pemrioritasan khusus terhadap produksi dan lapangan kerja. Beliau menganjurkan itu kepada pemerintah dan mengatakan, “Presiden sesuai UUD punya fasilitas luas dalam negara. Hendaknya dia menggunakan fasilitas-fasilitas itu untuk mengaktualkan potensi-potensi yang ada dan sama sekali tidak menunda kerja dalam menjalankan janji-janjinya terhadap rakyat.”

Beliau melanjutkan, “Dalam pemerintah ke-12, hendaknya pejabat yang dipilih adalah orang yang bekerja keras, aktif dan kompeten. Karena, ketidakcakapan di sektor-sektor ekonomi maupun selain ekonomi akan dinilai atas nama ketidakcakapan sistem. Padahal ini tidak tepat. Karena sistem yang ada efektif, efisien dan cakap.”

Imam Khamenei menekankan bahwa resistensi negara ini harus ditingkatkan terhadap embargo-embargo AS. Beliau mengatakan, “AS dengan lancang dan biadabnya setiap hari mendendangkan lagu baru yang merugikan Bangsa Iran. Karena itu, pemerintah harus meningkatkan resistensi negara di hadapan mereka dari semua sisi; politik dan ekonomi.”

Beliau menambahkan, “Mengenai isu-isu global, suara yang terdengar dari para pejabat negara harus satu suara dan kuat.”

Setelah itu, Wali Faqih Zaman Imam Khamenei menyinggung beberapa isu regional. Beliau mengatakan, “Sangat disayangkan bahwa di Bulan Suci Ramadan ini, saudara-saudara kita yang berpuasa di sejumlah negara seperti Yaman, Suriah, Bahrain dan Libia sedang mengalami berbagai masalah yang besar.”

Beliau mengisyaratkan pada bombardir yang dilakukan siang dan malam oleh pemerintah Saudi terhadap rakyat Yaman seraya mengatakan, “Pemerintah Saudi perlu tahu bahwa kalau pun mereka sampai sepuluh atau dua puluh tahun lagi meneruskan cara jahat ini, mereka tetap tidak akan menang terhadap rakyat tak berdosa dan tak berpelindungan Yaman. Apa yang mereka lakukan hanya akan memberatkan dosa dan pidana mereka serta mengundang balas dendam Ilahi yang lebih kuat.”

Beliau menyebut kehadiran pemerintah Saudi di Bahrain sebagai langkah yang tidak logis. Beliau mengatakan, “Masalah Bahrain berhubungan dengan rakyat Bahrain itu sendiri. Rakyat Bahrain yang patut bicara dengan pemerintah mereka sampai menuai hasil.”

Beliau menjelaskan bahwa secara logis, intervensi negara asing dan pengiriman militer dengan maksud mengalahkan kehendak rakyat Bahrain adalah kesalahan, dan secara praktis adalah tidak efektif. Beliau mengatakan, “Langkah-langkah ini hanya akan mencela dan mempermalukan pemerintah Saudi sendiri. Dengan cara menyuap ratusan miliar kepada AS agar menyertai mereka sekali pun, Saudi tetap tidak akan berhasil.”

Beliau juga menyebut campur tangan negara-negara asing di Suriah yang bertentangan dengan keinginan pemerintah dan rakyat negara ini sebagai langkah yang salah. Beliau menekankan bahwa, “Masalah Suriah harus diselesaikan melalui dialog.”

Beliau menyinggung peran musuh dalam menciptakan perang proxy di dunia Islam dan mengadudomba rakyat satu dengan lainnya seraya berkata, “Solusi persoalan ini adalah dialog dan negosiasi, jangan ada suntikan senjata dari negara-negara luar, dan pihak asing jangan intervensi dalam urusan bangsa-bangsa.”

Beliau menyebutkan bahwa Daisy (ISIS) sedang terusir dari tempat pembentukannya di Irak dan Suriah. Lalu beliau mengatakan, “Teroris-teroris ini sekarang ingin pergi ke negara lain seperti Afganistan, Pakistan, bahkan Pilipina dan negara-negara Eropa. Api yang dinyalakan oleh Barat ini sekarang mulai membakar diri mereka sendiri.”

Imam Khamenei pada akhirnya menekankan bahwa, “Bangsa Iran berkat taufik Ilahi telah berhasil maju di semua persoalan itu dengan logika, rasionalitas, dan tekad bulat. Setelah ini pun dengan izin dan hidayah Allah Swt, semua pergolakan politik negeri ini akan berujung pada terealisasinya cita-cita Revolusi Islam dan kemenangan Bangsa.”

Beliau menambahkan, “Dengan taufik Ilahi dan berkat pengalaman 38 tahun yang lalu, masa depan bangsa ini berapa kali lipat akan lebih baik daripada sekarang.” (WF)

Hits: 425

Berita, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat