Sayid Hasan Nasrullah: Muqawama Bakal Terus Mengibarkan Bendera Dan Tidak Akan Gugur Sampai Menyempurnakan Kemenangannya

Sekjen Hizbullah Libanon Sayid Hasan Nasrullah pada hari kamis (25/5), di Hermel, berpidato dalam rangka memperingati Hari Raya Muqawama dan Pembebasan yang ke-17. Hari Raya yang digelar setiap tahun sejak pengusiran militer rezim zionis dari Libanon selatan pada tahun 2000.

Sayid Hasan Nasrullah, sebagaimana dirilis elnashra dan alahednews, menyebut Hermel sebagai Kota Syuhada. Sembari menyampaikan penghargaan dan mengirimkan salam kepada seluruh arwah syuhada, dia menuturkan bahwa lebaran ini setiap tahun harus dirayakan.

Dia mengatakan, “Siapa pun yang mengimani Muqawama tidak akan menunggu orang lain di dunia, dia akan beraksi tanpa menanti konsensus internal maupun eksternal.”

Hanya Iran dan Suriah Yang Berdiri Membela Bangsa Libanon

Mengenai pendudukan Libanon, Sekjen Hizbullah mengatakan, “AS dan Barat membantu israel untuk menduduki Libanon. Hanya dua negara yang berdiri membela Bangsa Libanon. Hanya Iran dan Suriah. Negara-negara Arab dan Barat sama sekali tidak membantu Bangsa Libanon. Dan masyoritas hampir mutlak dunia ketika itu bersama israel.

Dia melanjutkan, “Kemenangan besar ini (pengusiran zionis dari Libanon) tiada lain hasil pengorbanan tentara, Bangsa Libanon, dan Muqawama; mulai dari Gerakan Amal sampai kelompok-kelompok Muqawama Libanon lainnya. Kita harus senantiasa mengenang dan mengulang nama orang-orang yang punya andil dalam kemenangan ini. Orang-orang seperti Sayid Musa Shadr –semoga Allah Swt mengembalikannya-, Sayid Abbas Musawi, Syaikh Raghib, dan Imad Mughniyah.”

Sayid Hasan Nasrullah menyebut “Kehendak Bangsa” sangat efektif untuk melawan penjajah. Dia mengatakan, “Masalah Muqawama melawan penjajahan tergantung pada kebijakan, kehendak, tekad, dan iman kalian; rakyat. Orang yang punya mental kalah, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sekarang ini, nasib bangsa-bangsa dan negara-negara kawasan tergantung pada rakyatnya. Di Suriah, Iran, Bahrain, dan negara-negara lainnya seperti Palestina tergantung pada rakyat dan generasi baru mereka.”

Sekjen Hizbullah juga berbicara mengenai pemilu Libanon dan mengatakan, “Hendaknya semua partai berusaha mencapai undang-undang baru pemilu.”

Setelah itu, dia menyinggung KTT Riyadh dan mengatakan bahwa deklarasi konferensi ini tidak akan mempengaruhi kondisi dalam negeri Libanon. Dia mengatakan, “Deklarasi KTT ini sama sekali tidak diberitahukan sebelumnya kepada peserta. Mereka sama sekali tidak diikutsertakan dalam menyusun kontennya.”

Krisis Akhir Bahrain Termasuk Dampak KTT Riyadh

Sehubungan dengan masalah Bahrain, Sekjen Hizbullah mengatakan, “Sikap Ayatullah Isa Qasim selalu damai dan stabil. Tapi pemerintah Dinasti Khalifah bukannya membangun dialog dan mendengarkan tuntutan rakyat Bahrain, malah memperlakukan mereka dengan pembunuhan, hukuman mati, penjara, penghancuran masjid, perataan rumah dengan tanah, dan lain sebagainya. Sampai kemudian mereka memutuskan untuk mencabut kewarganegaraan Syaikh Isa Qasim pemimpin revolusi negeri ini dan mengasingkannya.”

Dia menambahkan, “Syaikh Isa hampir setahun tinggal di dalam rumahnya, dan rakyat berkumpul di sekitar rumahnya demi melindungi simbol dan pemimpin mereka.”

“Boleh jadi masalah Bahrain ini salah satu dampak KTT Riyadh dan berkah! kunjungan Trump ke kawasan. Serangan brutal –aparat keamanan Bahrain- ke bundaran Al-Fida’ yang melukai dan menghilangkan banyak orang adalah hasil pertemuan Riyadh.”

Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Sekarang ini mereka terus menghubungi –pemerintah- untuk mengasingkan Syaikh Qasim. Dan saya minta kepada pemerintah Libanon untuk menentang pengasingan Syaikh Qasim ke Libanon dan menyatakan hal itu kepada pemerintah Bahrain.”

KTT Riyadh Tidak Lebih dari Pertemuan Trump dan Salman

Sekjen Hizbullah Libanon kemudian berbicara tentang KTT Riyadh dan mengatakan, “Ini tidak lebih dari pertemuan dua pihak antara Donald Trump presiden AS dan Salman bin Abdulaziz raja Saudi. Deklarasi Riyadh juga tidak lebih dari pernyataan Saudi-AS.”

Dia menegaskan bahwa, “Sebagaimana sebelumnya juga pernah terjadi, koalisi Arab-Islami! dibentuk tanpa sepengetahuan beberapa negara. Apa yang dilakukan Saudi ini tiada lain untuk: Pertama-tama, penghargaan untuk Trump. Kedua, upaya untuk memberikan posisi sentral kepada Saudi. Ketiga, perkumpulan untuk menakut-nakuti Iran dan poros Muqawama. Dan target keempat adalah memotivasi AS serta meyakinkannya untuk intervensi ke negeri ini.”

Dia melanjutkan, “Penghargaan dan penghormatan terhadap Trump ini diberikan pada saat dia sejak awal telah mengambil sikap paling keras terhadap Muslimin dan melarang mereka masuk ke Amerika. Trump adalah presiden AS yang paling rasis.”

Sayid Hasan Nasrullah menegaskan bahwa, “Saudi melakukan semua ini untuk pertama-tama, melindungi diri dan pemerintahnya di hadapan dunia; karena, bukan hal yang samar lagi bagi semua orang bahwa aktor di balik tabir semua kelompok takfiri adalah Saudi. Saudilah yang membuat Al Qaeda. Negera ini sentral Takfirisme. Riyadh menyuap Trump agar dia menjauhkan tuduhan dukungan terhadap terorisme dari dirinya. Upayanya adalah memperkenalkan Iran sebagai pusat terorisme.”

Iran Selalu Mendukung Muqawama Sedangkan Saudi Senantiasa Membina Terorisme

Sekjen Hizbullah mengatakan, “Memangnya Iran pusat terorisme?! Memangnya Iran yang mengorganisir pasukan-pasukan Wahabi?! Iya, Iranlah yang mendukung Muqawama di Libanon dan Palestina, Iranlah yang membela Bangsa Irak pada saat ISIS ingin memasuki kota Najaf dan Karbala.”

Dia melanjutkan, “Siapa yang mentakfir orang-orang Syiah? Iran atau mufti-mufti Saudi?! Sepanjang sejarah Saudi, dapat disaksikan takfir terhadap Muslimin. Sementara Iran senantiasa memperjuangkan taqrib (pendekatan) di antara mazhab-mazhab Islam. Saudi tidak berhasil menempelkan tuduhan kepada Iran. Saudi melakukan ini karena butuh kepada presiden AS agar memainkan peran di kawasan.

Saudi menghadapi kendala bernama Iran. Dulu, Saudi mendukung raja Iran yang dilindungi israel. Tapi sekarang, problem utama Riyadh adalah Iran. Demi melawan Iran, Saudi rela mempersembahkan segala sesuatu kepada Trump.”

Dia melanjutkan, “Saudi percaya bahwa tidak ada solusi lain untuk masalah ini (Iran) selain mendekatkan diri kepada Trump. Kontrak yang ditandatangani Riyadh dan AS lebih dari 480 miliar dolar.”

Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Mengenai sikap terhadap Palestina juga mereka menyatakan kesiapan diri, dan Trump menyampaikan pesan ini kepada Benyamin Netanyahu perdana menteri rezim zionis. Tidak ada satu kata pun tentang Palestina yang terucap dan membuat Trump khawatir.”

Setelah itu, Sekjen Hizbullah berbicara tentang perang Yaman. Dia mengatakan, “Sudah dua tahun setengah perang di Yaman berlangsung, dan tidak ada satu pun di dunia yang berani angkat suara tentang fakta yang sebenarnya mengenai perang ini. Karena mereka takut bantuan finansial Saudi terputus. Rakyat Yaman bertekad untuk melanjutkan perlawanan (Muqawama), dan agresi Saudi tidak akan membuahkan hasil selain pertumpahan darah yang lebih banyak lagi dan pada akhirnya, kalianlah yang pasti kalah dan merugi. “

Rakyat Iran Memperbarui Janji pada Revolusi Islam dengan Partisipasi Besar dalam Pemilu

Sayid Hasan Nasrullah melanjutkan, “Ketika para pejabat negara-negara Islam dan AS berkumpul di Arab Saudi, rakyat Iran memperbarui janji pada Revolusi Islamnya dengan berpartisipasi dalam pemilu.”

Dia menyinggung penyelenggaraan besar-besaran pilpres dan pemilihan umum dewan kota serta desa seraya menjelaskan bahwa selama penyelenggaraan pemilu ini, tidak ada satu peluru pun yang melesat dan sama sekali tidak ada kegaduhan. Inilah Iran dan republik sesungguhnya yang oleh negara-negara yang sedikit pun tidak kenal kotak suara diserukan agar diperangi bersama dan rakyatnya ditundukkan secara paksa.

Arab Saudilah yang dulu menggerakkan Saddam Husain untuk mengagresi Iran dan memeranginya. Dia sendiri mengaku telah mengirimkan bantuan finansial kepadanya.”

Riyadh Mesti Meninggalkan Kedengkian kepada Iran dan Menempuh Negosiasi

Sayid Hasan Nasrullah menegaskan bahwa, “Saudi tidak pernah melewatkan langkah apa pun yang dipikir dapat melemahkan Iran. Tapi kenyataannya, Iran semakin kuat dan terus menguat. Saya imbau Saudi untuk meninggalkan kedengkian terhadap Iran dan menjadikan “Negosiasi dengan Iran” sebagai satu-satunya upaya. Jalan yang sedang ditempuh Saudi sekarang adalah kekalahan dan Iran pasti akan memenangkan perhelatan ini.”

Dia melanjutkan, “Rakyat Irak juga sedang memegang kendali nasib mereka sendiri, perjalanan mereka terus maju ke arah finalisasi perang di Mousul, dan ada kesepakatan nasional untuk menghancurkan ISIS. Di Suriah juga kita menyaksikan berbagai kemenangan –Muqawama- di medan perang dan kekalahan ISIS.

Sekjen Hizbullah menyinggung kembali deklarasi KTT Riyadh dan menjelaskan, “Meskipun tema utama deklarasi ini adalah Iran, tapi nama Iran tidak disebutkan. Selain Indonesia, pejabat-pejabat negara Mesir, Jordania, dan Kuwait dalam pidatonya tidak menyebutkan Iran.”

Insyaallah Tahun 2018 Tidak Ada ISIS Lagi di Irak dan Suriah

Sayid Hasan Nasrullah menekankan, “Di Irak dan Suriah, ISIS sedang mengalami kekalahan total. Dan insyallah, tahun 2018 tidak akan ada lagi ISIS di Irak dan Suriah. Tapi kalian malah membentuk koalisi untuk itu.”

Dia melanjutkan, “Peserta KTT Syarmus Syaikh Mesir pada tahun 1996 lebih besar dari KTT akhir Riyadh. Pada KTT itu mereka memutuskan untuk menghakhiri Hizbullah. Ketika itu, dari sisi kekuatan kita masih lemah sekali, senjata kita yang paling canggih pada waktu itu cuma Katyusha, dan Iran tidak ikut campur dalam peperangan.”

Sekjen Hizbullah melanjutkan, “Muqawama akan meneruskan aktivitasnya. Dan kita sekarang pada kerangka poros Muqawama sedang dalam posisi lebih kuat dari masa-masa sebelumnya. Kita punya punya pasukan lebih banyak dan tekad yang lebih kuat.”

Muqawama Pemenang Akhir Medan Perang

Sayid Hasan Nasrullah kembali menyinggung deklarasi KTT Riyadh dan mengatakan, “Trump memuji Saudi dan menyatakan diri akan melawan terorisme. Tapi, baru-baru ini salah satu pejabat Hizbullah dimasukkan ke dalam daftar terorisme. Kita, anggota Muqawama, kenal jalan. Dan nama kita sejak tahun delapan puluhan sudah dimasukkan ke dalam daftar terorisme. Kita akan tetap tinggal di tanah air kita, membela diri dan anak-anak kita.”

Sembari menekankan penghentian perang di Yaman, Sekjen Hizbullah di penghujung pidatonya mengatakan, “Pasca KTT Riyadh, Muqawama bakal terus mengibarkan bendera dan tidak akan gugur sampai menyempurnakan kemenangannya.” (WF)

Hits: 213

Berita, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat