Sayid Hasan Nasrullah: “israel raya” Sudah Berakhir / Perang Berikutnya di Palestina Jajahan

Sekretaris Jenderal Hizbullah Libanon Hujjatul Islam Sayid Hasan Nasrullah dalam pidatonya, Kamis (11/5) memperingati ulang tahun kesyahidan salah satu panglima gerakan menegaskan bahwa perang berikutnya melawan zionis akan berlangsung di Palestina Jajahan.

Dia mengatakan, “Berapa hari yang lalu kita dengar musuh israel berencana membangun tembok beton penghalang yang tinggi dari Naqura dan tepi sampai Jibal Syaikh. Periode kekalahan bangsa-bangsa dan Muqawama telah berakhir.”

Dia melanjutkan, “israel tidak bisa lagi tinggal di Libanon dan Gaza. israel sudah kalah. Dan sekarang berusaha membangun tembok penghalang. “israel raya”, negara menakutkan, berwibawa dan adidaya itu sudah berakhir.”
Sekjen Hizbullah menegaskan bahwa , “israel takut masa depannya sendiri; baik masa depan yang jauh maupun yang dekat. Pada tahun 1948, Libanon selalu takut, khawatir dan gemetar. Sebaliknya, ketika itu israel yang berkuasa dan menang. Tapi sekarang, setelah kemenangan demi kemenangan Muqawama, israel mulai sibuk membangun tembok penghalang. Langkah rezim ini menunjukkan ketakutan militer dan warga di pemukiman-pemukiman zionis.”

Dia menjelaskan bahwa “israel takut berhadap-hadapan lagi di masa mendatang.” Dia mengatakan, “Ciri khas Muqawama adalah ancaman-ancamannya bukan omong kosong. Kata-katanya bukan karena ucapan lawan. Pihak israel sendiri tahu persis bahwa perang masa depan akan berlangsung di dalam tanah Palestina jajahannya.”
Sayid Hasan Nasrullah berkata kepada zionis, “Kenapa kalian menakut-nakuti rakyat? Saya katakan kepada rakyat Libanon dan semua orang yang hidup di negeri ini, ‘Hiduplah seperti biasa. Karena ancaman-ancaman ini bukan hal yang baru. Musuh sedang melancarkan psywar. Bertawakallah kepada Allah Swt yang telah memenangkan kalian di banyak kesempatan. Ada banyak hal serius yang membuat israel takut memulai perang kembali. Perang tahun 2006 menaruh dampak yang sangat dalam pada mereka.”

Dia kemudian menyinggung pernyataan akhir Muhammad bin Salman, anak mahkota Saudi, mengenai Imam Mahdi af yang mengatakan bahwa, “Iran sedang menyebarkan ide-ide sektariannya di dunia Islam dan berusaha mempersiapkan kemunculannya.” Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Keyakinan tentang Imam Mahdi af bukan keyakinan khusus Syiah. Semua kelompok Muslim sepakat tentang masalah ini. Imam Mahdi af adalah dari keturunan Ahli Bait as dan pasti akan muncul di Mekkah.”

Sayid Hasan Nasrullah menegaskan bahwa pernyataan dan aksi-aksi itu sama sekali tidak mampu mempengaruhi Qadha dan Qadar. Lalu dia mengatakan, “Muhammad bin Salman dalam wawancara terakhirnya melakukan banyak kesalahan. Dan sehubungan dengan Iran, masalah dia dengan Iran adalah karena negeri menantikan Imam Mahdi af.”

Dia melanjutkan, “Saya ingin katakan kepadak putra Salman bahwa keyakinan mengenai kemunculan Imam Mahdi af yang telah dijanjikan oleh Allah Swt adalah berdasarkan keyakinan Muslimin seluruhnya. Dan beliau pasti akan memulai kemunculannya dari Mekkah, bukan dari Teheran, Damaskus, atau Beirut.”

Pemimpin Muqawama Hizbullah mengkritik ketidaktahuan Muhammad bin Salman tentang keyakinan Umat Islam seraya mengatakan, “Orang ini harus diberi pelajaran agama. Keyakinan tentang Imam Mahdi af adalah keyakinan semua Muslimin, bukan khusus Syiah.”

Dia menambahkan, “Putra Salman ini mengklaim bahwa masalah dia dengan Iran adalah politis. Padahal tidak demikian yang sebenarnya. Melainkan dia sedang berperang ideologi dan mazhab melawan Iran.”

Sayid Hasan Nasrullah menekankan bahwa, “Ketika Imam Mahdi af muncul, tidak akan ada lagi raja zalim yang tersisa, tidak ada pula pemimpin yang bejat. Bumi akan beliau penuhi dengan keadilan. Siapa pun; kamu, bapak-bapakmu, maupun nenek moyangmu, tidak akan mampu mengubah kenyataan ini.”

Setelah itu, Sekjen Hizbullah Libanon berbicara tentang Muqawama tawanan Palestina dan mogok makan mereka di penjaran-penjara rezim zionis. Dia mengatakan, “Kami menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terhadap Muqawama dan perlawanan mereka. Kami juga mengutuk sikap diam Liga Arab dan kekuatan-kekuatan militer Arab, masyarakat dunia, dan seluruh organisasi yang bisu menyaksikan bangsa tertindas ini. Bangsa yang senantiasa mengorbankan jiwa dan raganya.”

Dia menyinggung pertemuan mendatang yang dikenal sebagai “Pertemuan Islam-AS” yang rencananya akan digelar pada tanggal 21 Mei mendatang di Riyadh. Dia mengatakan, “Kita akan lihat pertemuan yang akan digelar di Arabia nanti, apa hasilnya? Apakah tahanan Palestina akan punya posisi yang diperhatikan di sana atau tidak? Apakah para pemimpin dan raja negara-negara Arab punya nyali dan keberanian untuk mendesak Donald Trump yang membela israel ini untuk menekan israel agar memenuhi tuntutan manusiawi dan natural tahanan Palestina atau mereka masih akan tetap diam saja? Apakah negara-negara Arab akan tetap membuktikan diri tetap hidup dalam budaya kesengsaraan atau akan memilih jalur lain?”

Kemudian Sayid Hasan Nasrullah berbicara tentang kondisi Libanon dan berkata, “Perkembangan terakhir di perbatasan timur antara Libanon dan Suriah positif. Perbatasan ini sudah cukup aman. Dan kita dalam Muqawama telah memasuki kawasan ini, para mujahid dan pejuang kita siang-malam bersusah payah di sana serta mempersembahkan syuhada. Sekarang, tidak ada lagi orang-orang yang bermaksud melawan kita di sana. Kita sudah mencapai target di perbatasan itu, dan kita akan segera membereskan pangkalan-pangkalan militer kita dari perbatasan. Tanggungjawab penjagaan perbatasan dari sekarang kita serahkan kepada pemerintah. Kita bukan alternatif pengganti bagi pemerintah Libanon. Dari sekarang, segala urusan di wilayah-wilayah timur sepenuhnya di tangan pemerintah.”

Adapun mengenai Syahid Badrudin yang mana acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun kesyahidannya, Sekjen Hizbullah Libanon memuji pengorbanan, kepahlawanan, dan langkah-langkah syahid ini dalam rangka melawan musuh-musuh takfiri dan zionis.

Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Meskipun setahun telah berlalu dari kesyahidan Musthafa Badrudin, tapi Syahid Badrudin tidak hilang dari ingatan, dan berkat keutamaan serta kepahlawanan dia kita akan terus melanjutkan jalannya.”

Pemimpin Muqawama Hizbullah menambahkan, “Syahid Musthafa Badrudin pada tahun 1996 adalah panglima Hizbullah di perang yang dikenal dengan “Cluster-cluster Murka”. Dia selama bertahun-tahun memimpin operasi Muqawama Libanon. Itulah kenapa musuh-musuh zionis ingin sekali membalas dendam kepadanya.”

Syahid Musthafa Badrudin tahun lalu gugur akibat serangan roket takfiri di dekat bandara militer di sekitar Damaskus. (WF)

Hits: 345

Berita, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat