Imam Khamenei: Republik Islam Iran adalah Daulat Muqawama dan Intizar adalah Siaga Setiap Waktu

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei pagi hari ini, Rabu (10/5), menghadiri upcara wisuda teruna Pasdar di Universtias Imam Husain as.

Hal pertama yang beliau lakukan begitu memasuki lapangan adalah menziarahi makam Syuhada Tak Dikenal dan membacakan surat Al-Fatihah untuk mereka. Beliau juga memperingati Syuhada Perang Pertahanan Suci dan berdoa kepada Allah Swt untuk meninggikan derajat mereka di sisi-Nya.

Setelah itu, beliau menyaksikan dari dekat satuan-satuan yang hadir di lapangan San. Beliau juga menyapa para veteran dan anak-anak Syuhada Pembela Haram yang turut hadir di lapangan.

Dalam upcara ini, Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Khamenei menyebutkan faktor-faktor kekuatan negara dan bangsa Iran serta alasan kenapa pihak-pihak musuh yang jahat  menentang keras faktor-faktor itu. Beliau menjelaskan tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang musuh-musuh Sistem Pemerintahan Islam serta menekankan bahwa keamanan dan stabilitas yang ada di dalam negeri saat ini, itu pun di tengah kawasan yang bergejolak, merupakan salah satu prestasi dan kebanggaan Republik Islam yang ingin dihantam oleh kekuatan-kekuatan hegemoni.

Beliau mengingatkan beberapa hal penting kepada para kandidat pilpres. Antara lain mereka harus menyatakan secara jelas dan tegas bahwa prioritas mereka saat ini adalah masalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat. Beliau mengatakan, “Keamanan nasional dan stabilitas negara sangatlah penting. Kandidat-kandidat yang terhormat harus waspada jangan sampai salah perhitungan sehingga membuat keretakan-keretakan kepercayaan, geografi, bahasa, dan ras jadi terprovokasi, dan dengan begitu mereka berada di jalur agenda musuh yang belum selesai. Hal itu karena siapa pun yang ingin mengambil langkah bertentangan dengan keamanan negara pasti akan kena tamparan keras.

Seraya mengucapkan selamat atas ulang tahun hari kelahiran Baqiyatullah Imam Mahdi af, Ayatullah Uzma Khamenei menyebutkan faktor-faktor kekuatan negara dan menekankan bahwa musuh tidak pernah berhenti mendengki terhadap variabel kekuatan Republik Islam. Beliau mengatakan, “Sepah Pasdaran (Pasukan Garda) Revolusi Islam adalah salah satu faktor kekuatan negara yang mana tanda-tanda kemarahan musuh kepadanya nampak jelas baik dalam proganda-propaganda internasional maupun dalam pernyataaan para pejabat politik negara-negara adidaya.”

Ilmu pengetahuan dan kemajuan sains, terang beliau selanjutnya, adalah faktor lain dari kekuatan negara. Beliau mengatakan, “Itulah kenapa mereka mengerahkan orang-orang bayaran untuk meneror para ilmuan nuklir kita. Mereka marah dan dengki terhadap kemajuan sains Iran.”

Kemudian beliau menekankan ekonomi yang kuat dan mandiri sebagai salah satu faktor kekuatan negara. Beliau mengatakan, “Inilah sebab kenapa Iran diembargo dan berbagai keputusan diambil untuk melumpuhkan ekonomi negeri ini. Alangkah baiknya apabila para ekonom mukmin negeri ini menjelaskan kepada rakyat apa saja langkah musuh untuk melumpuhkan ekonomi negeri ini.”

Setelah itu, Imam Khamenei menyebut kekuatan militer sebagai salah satu faktor kekuatan negara seraya berkata, “Keributan panjang yang sengaja dibuat mengenai kemampuan rudal Republik Islam juga tiada lain karena kemarahan dan kedengkian mereka terhadap faktor kekuatan ini.”

Panglima seluruh kekuatan bersenjata Republik Islam Iran Imam Khamenei menekankan, “Kita punya rudal, dan rudal-rudal kita sangat akurat. Mampu menembak sasaran dari jarak ribuan kilometer dengan akurasi tinggi. Kemampuan ini akan kita jaga dengan sekuat tenaga. Dan dengan sekuat tenaga pula kita akan meningkatkannya.”
Beliau menyebut “Elemen-elemen Militer Yang Berkorban” seperti Syahid Shayyad Syirazi dan Syahid Syustari sebagai faktor lain dari kekuatan negara. Beliau mengatakan, “Iman, malu dan akhlak pemuda, begitu pula mental Jihad dan Muqawama Bangsa, termasuk faktor kekuatan negara. Itulah kenapa mereka menyerang mental muqawama dan jihad serta menuduhnya sebagai kekerasan dan ekstremisme. Sayang sekali sebagian orang dalam negeri menggunakan gaya bahasa imperial ini.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei kemudian menyebut “Himpunan Garda Keamanan” termasuk angkatan-angkatan bersenjata sebagai salah satu faktor kekuatan negara. Beliau menegaskan, “Konteks keamanan bagi setiap negara adalah sesuatu yang paling lazim dan paling penting daripada apa pun. Karena jika tidak ada keamanan, maka kemajuan sains dan ekonomi juga tidak akan ada.”

Setelah menyebutkan variabel kekuatan negara, Imam Khamenei menjelaskan masalah “Pemerintah Muqawama” dan mengatakan, “Sekarang ini Republik Islam Iran adalah Daulat Muqawama. Dan Daulat Muqawama artinya tidak tunduk pada penindasan dan bertahan di posisi yang kuat.”

Beliau menekankan bahwa Daulat Muqawama tidak bisa dibandingkan dengan elemen atau organisasi Muqawama di negara tertentu. Beliau mengatakan, “Daulat Muqawama memiliki politik, ekonomi, angkatan bersenjata, mobilitas internasional, dan jangkauan pengaruh yang sangat luas.”

Beliau juga menekankan bahwa Daulat Muqawama selalui menjadi sasaran permusuhan oleh adidaya dan budak-budaknya. Beliau mengatakan, “Daulat Muqawama bukan ahli hegemoni atau mengganggu negara-negara lain, bukan pula ahli menempatkan diri pada posisi bertahan atau reaksioner.”

Ayatullah Uzma Imam Khamenei menambahkan, “Sebagian orang mengira bahwa untuk menjauhkan diri dari stigma hegemonisme internasional dan regional, mau tidak mau kita harus mendekam defensif. Padahal, ini pikiran yang keliru.”

Sembari mengingatkan kepada ayat-ayat suci Al-Qur’an, beliau mengatakan, “Sikap Daulat Muqawama adalah kekuatan perventif dan kemampuan untuk mencegah. Republik Islam Iran tetap seperti dulu, akan terus menempuh jalan kekuataan preventif dengan bersandar kepada semangat, kerja keras, inovasi, dan potensi dalam negeri.”
Beliau menjelaskan bahwa target kebijakan “Kekuatan Preventif Sistem Pemerintahan Islam” adalah mencegah jangan sampai ada kekuatan-kekuatan adidaya internasional yang punya pikiran untuk melanggar kedaulatan Iran. Beliau menekankan, “Musuh harus sadar apabila mereka berpikir untuk melakukan agresi ke Iran, pasti akan menghadapi respon yang sangat kuat. Karena telah dikatakan sebelumnya bahwa era “Pukul Lari” sudah berlalu. Mungkin saja mereka yang memulai bertindak, tapi akhir tindakan itu tidak lagi di tangan mereka.”

Pemimpin Revolusi Islam menjelaskan target-target musuh melawan Republik Islam seraya menandaskan, “Musuh, dalam agendanya punya tiga tujuan jangka pendek, menengah dan panjang. Tujuan jangka pendek mereka adalah mengganggu keamanan negara dan membuat keributan serta fitnah.”

Beliau menegaskan bahwa salah satu prestasi dan kebanggaan Republik Islam adalah menciptakan lingkungan yang aman di tengah kawasan yang bergejolak dan dunia yang penuh ketegangan. Beliau mengatakan, “Keamanan ini diciptakan oleh rakyat dan para pejabat negara yang perhatian melalui kesadaran, kewaspadaan, dan ke-up to date-an.”

Beliau menyebut masalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat sebagai tujuan jangka menengah musuh. Lalu beliau mengatakan, “Dalam agenda musuh, ekonomi negara jangan sampai dinamis, mata pencaharian rakyat harus tersumbat, pekerjaan dan produksi jangan sampai berkembang, dan pengangguran harus menjadi bencana publik, sehingga pada akhirnya rakyat putus asa terhadap Republik Islam.”

Imam Khamenei menyebutkan satu-satunya cara untuk menghadapi tujuan musuh ini adalah “Menjalankan syiar tahun ini”, “Melaksanakan kebijakan-kebijakan Ekonomi Muqawama”, dan “Mengembangkan produksi dalam negeri” serta “Menciptakan lapangan kerja”. Beliau menekankan, “Apabila jalan ini diikuti, musuh pasti gagal mencapai target.”

Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menjelaskan bahwa tujuan jangka panjang musuh adalah “Menghancurkan Asas Sistem Islam”. Tapi tidak seperti pada tahun-tahun pertama Revolusi Islam, mereka sekarang tidak mengungkapkan tujuan itu secara tegas. Beliau mengatakan, “Sekarang, agenda mereka adalah permusuhan terhadap Asas Sistem Islam melalui “Perubahan Perilaku”. Dan perubahan perilaku maksudnya adalah membuat penyimpangan dari jalur Islam, revolusi dan garis Imam Khumaini ra. Sehingga pada akhirnya perilaku itu bergerak di jalur yang bertentangan dengan Revolusi Islam.”

Pemimpin Revolusi Islam kemudian menyinggung masalah pilpres 29 Urdibehesyt (19 Mei) dan mengatakan, “Pemilu termasuk landasan yang bisa menjadi faktor kekuatan dan martabat negara, bisa juga menjadi faktor kelemahan dan kendala.”

Beliau menekankan, “Apabila rakyat menghadiri pemilu, dan partisipasi ini dibarengi dengan kedisiplinan, akhlak yang mulia, dan perhatian terhadap rambu-rambu Islam serta undang-undang, pasti pemilu ini akan menjadi faktor kemuliaan dan kekuatan Sistem Republik Islam. Tapi apabila terjadi pelanggaran terhadap undang-undang dan muncul akhlak yang buruk, begitu pula apabila kita melontarkan kata-kata yang membuat musuh optimis, pasti pemilu ini akan berbahaya bagi kita.”

Beliau menegaskan bahwa Sistem Islam bukan pelaku baru dalam menyelenggarakan pemilu. Sistem Islam telah menyelenggarakan berbagai pemilu selama 38 tahun terakhir dan kenal betul kantung-kantung pemikiran serta konspirasi. Beliau mengatakan, “Saya punya berapa nasihat untuk bapak-bapak kandidat yang terhormat. Pertama, hendaknya mereka dalam program-program dan pernyataan-pernyataannya secara tegas menyampaikan bahwa masalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat adalah prioritas mereka, dan mereka akan bekerja keras untuk menanggulangi berbagai kendala ekonomi.”

Beliau melanjutkan, “Nasihat kedua adalah hendaknya mereka dalam program-program dan pernyataan-pernyataannya menampilkan serta menonjolkan masalah kemandirian nasional, kebesaran dan kehormatan Bangsa Iran.”

Imam Khamenei menambahkan, “Bangsa Iran adalah bangsa revolusioner yang bermartabat. Jangan sampai bangsa ini dipaksa takluk di hadapan kekuatan-kekuatan adidaya atau dilemahkan dan dibuat putus asa. Karena Bangsa Iran tetap hidup dengan kuat. Kalau bukan karena kekuatan ini, musuh sudah menguasai negara ini sebagaimana negara-negara budak dan bayaran di kawasan.”

Beliau mengatakan, “Bapak-bapak kandidat hendaknya secara tegas menyatakan diri akan bertahan melawan keserakahan AS dan kebusukan zionis.”

Nasihat ketiga Pemimpin Revolusi Islam kepada para kandidat pilpres adalah “Menjaga keamanan nasional dan stabilitas negara”.

Imam Khamenei mengataktan, “Bapak-bapak kandidat harus waspada jangan sampai memprovokasi keretakan-kertakan kepercayaan, geografi, bahasa dan ras.”

Beliau menambahkan, “Musuh selama bertahun-tahun mengejar target ini. Tapi rakyat mukmin Kurdi, rakyat pemberani Azarbaijan, rakyat Arab Khuzestan, rakyat Balujestan dan Turkaman dalam kapasitas mereka sebagai pemilik Revolusi telah meninju mulut musuh dan berdiri kuat melawannya.”

Beliau menekankan bahwa keamanan adalah masalah yang sangat penting. Beliau mengatakan, “Para kandidat harus berhati-hati jangan sampai salah perhitungan sehingga mereka menyempurnakan agenda musuh yang setengah jalan.”

Pemimpin Revolusi Islam menasihati dengan serius aparat keamanan dan ketenangan negara, khususnya Badan Yudikatif, polisi, dan departemen dalam negeri untuk waspada menjaga keamanan sepenuhnya. Beliau mengatakan, “Siapa pun yang ingin mengambil langkah bertentangan dengan keamanan negara pasti akan menghadapi respon kuat dan kena tamparan yang keras.”

Beliau menekankan bahwa pada tahun 1388 Hs (2009 M), musuh telah berbuat konyol dan salah perhitungan mengira negara besar Iran juga seperti negara-negara tangan sekian yang sebelumnya berhasil mereka kacaukan dan mereka buat tidak aman hanya dengan berapa puluh juta $. Beliau mengatakan, “Akibat kedunguan ini, mereka berhadapan dengan tembok kokoh kehendak dan tekad bulat nasional.”

Beliau kembali menekankan bahwa, “Keamanan sangat penting sekali bagi negara, rakyat dan karena itu pula bagi saya. Keamanan harus sepenuhnya terjaga dalam pemilu.”

Di bagian lain dari pidatonya, Pemimpin Revolusi Islam mengingatkan para mahasiswa calon perwira Universitas Militer Imam Husain as untuk menghargai kesempatan kuliah di universitas ini. Beliau mengatakan, “Universitas ini bisa mengantarkan orang-orang yang berpotensi sampai pada titik dimana orang yang bermakrifat, bijaksana dan alim pun iri! (ghibthah) terhadap posisi mereka.”

Beliau menjelaskan bahwa Bulan Syakban adalah bulan curah rahmat Ilahi. Beliau anjurkan semua orang, khususnya anak-anak muda untuk mengambil berkah sebanyak-banyaknya dari bulan ini, khususnya dengan amalan Malam Pertengahan Syakban. Beliau mengatakan, “Bulan Syakban dipenuhi dengan karunia Ilahi dan kebahagiaan. Tapi sayang sekali tahun ini kita mengalami peristiwa tambang di provinsi Gulestan dan peristiwa gugurnya sejumlah penjaga perbatasan di provinsi Sistan dan Balujestan. Tapi bagaimana pun juga, bulan ini adalah bulan cinta dan kerinduan terhadap Ahli Bait as.”

Imam Khamenei menyebut tawasul kepada Imam Zaman af sebagai sarana untuk mengungkapkan cinta dan penghambaan diri di hadapan Allah Swt. Beliau menegaskan bahwa, “Orang-orang yang meyakini kemunculan Imam Mahdi af tidak akan pernah putus asas. Mereka yakin bahwa setelah gelap, matahari pasti akan terbit. Dan ini merupakan janji pasti Allah Swt.”

Wali Faqih Zaman menekankan bahwa kita diperintahkan untuk menanti. Beliau mengatakan, “Penantian (Intizar) bukan berarti ketidaksabaran. Bahkan penantian adalah Kesiagaan Setiap Waktu, dan seorang penanti harus bertindak dan memperbaiki diri sekiranya hati Yang Mulia (Imam Mahdi Af) bahagia.”

Beliau menekankan bahwa, “Kekuatan dan hati semuanya milik Allah Swt. Bangsa Iran dengan bersandar kepada karunia Ilahi akan terus melanjutkan perjalanannya dengan kuat. Dan di jalur ini, anak-anak muda mempunyai peran yang menonjol.” (WF)

Hits: 166

Berita, Imam Khamenei, Muqawama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat