Sayid Hasan Nasrullah: Kita Sekarang Hidup di Dunia Serigala; Tidak Ada Undang-Undang Internasional; Negara Kuat Memakan Yang Lemah

Sekretaris Jenderal Gerakan Hizbullah Libanon Hujjatul Islam Sayid Hasan Nasrullah memulai pidatonya, Selasa (2/5), dengan mengucapkan selamat kepada semua orang Muslim di dunia atas momen-momen mulia Bulan Syakban dan menyampaikan penghargaan tinggi atas kesabaran para veteran Muqawama.

Dia mengatakan, “Banyak veteran yang kembali ke medan jihad sampai gugur sebagai syahid. Kita juga harus meneruskan jalan mereka dan memikul tanggungjawab berat mereka.”

“Pengorbanan para veteran tidak akan sia-sia” terang Sayid Hasan Nasrullah, “bahkan memberi banyak hasil bagi tanah air dan umat. Berkat pengorbanan mereka, perbatasan-perbatasan Libanon dan Suriah mengalami perubahan yang sangat signifikan dan sangat penting.”

“Sekarang ini,” lanjutnya, “perbatasan-perbatasan Libanon selain wilayah Jarud Arsal terhitung aman setelah kelompok-kelompok bersenjata Suriah terusir. Jarud Arsal sendiri juga nantinya akan berubah menjadi daerah yang aman.”

Sekjen Hizbullah Libanon menandaskan bahwa keamanan perbatasan Libanon adalah hasil kerjasama tentara, rakyat, dan Muqawama.

Kemudian dia mengucapkan selamat Hari Buruh kepada Kaum Buruh seraya menekankan bahwa masalah pengangguran merupakan persoalan negara yang paling penting dan paling mengkhawatirkan. Dia minta kepada pemerintah Libanon untuk serius menangani masalah ini.

Setelah itu, Sayid Hasan Nasrullah berbicara tentang pemilu Libanon. Dia mengatakan, “Undang-undang pemilu merupakan masalah yang sangat sensitif. Banyak sekali pihak yang menyikapi undang-undang ini sebagai masalah hidup dan mati.”

Dia menegaskan bahwa, “Tuduhan yang dialamatkan kepada Hizbullah mengenai penentangan terhadap pemilihan wakil-wakil Kristen dan suara mereka, sama sekali tidak berdasar. Kami sepakat dengan undang-undang ortodoks yang membuka peluang bagi wakil-wakil Kristen untuk menduduki sepertiga kursi Parlemen.”

Sekjen Hizbullah menambahkan, “Kita melihat undang-undang pemilu dari sudut pandang nasional. Hizbullah dan Gerakan Amal sama sekali tidak punya masalah dengan undang-undang pemilu.”

Dia mengatakan, “Kami berharap kepada partai-partai politik Libanon untuk menyepakati bersama hasil yang ideal tentang undang-undang pemilu. Bahkan kalau perlu tawarkan poin kepada pihak lawan agar undang-undang itu tercapai.”

Sayid Hasan Nasrullah mengingatkan bahwa, “Negara Libanon sedang berada di tepi jurang. Apabila kita tidak mencapai undang-undang baru, akan terjadi celah politik di dalam negeri. Dan akibatnya, segala macam opsi buruk sangat mungkin terjadi. Negara aman kita ada di tangan kita sendiri. Jangan sampai kita menggiringnya ke tepi jurang.”

Setelah itu, pemimpin Muqawama Islami Libanon ini membicarakan masalah Palestina dan tahanan-tahanan Palestina. Dia mengatakan, “Dengan kuat kita mendukung Muqawama para tahanan Palestina di penjara rezim zionis, dan kita menyatakan solidaritas bersama mereka.”

Dia menambahkan, “Ketakutan israelĀ  dari mogok makan para tahanan Palestina adalah suatu yang wajar. Yang aneh adalah diamnya Dunia Arab terhadap peristiwa ini. Seandainya para tahanan negara-negara sekutu Amerika yang mogok makan seperti tahanan-tahanan Palestina, dunia tidak mungkin tinggal diam.”

“Mana lembaga-lembaga hak asasi manusia, bangsa-bangsa Arab, Liga Arab, OKI, dan media-media Arab?!” gugat Sekjen Hizbullah, “Mereka semua diam seribu bahasa menyaksikan tahanan-tahanan Palestina mogok makan.”

Dia mengatakan, “Satelit dan kanal-kanal Arablah yang sekarang membantu ISIS melawan pasukan-pasukan Irak. Tujuannya adalah menundukkan Irak di hadapan AS.”

Kemudian Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah berbicara tentang perkembangan terakhir Yaman dan kejahatan Saudi di sana. Dia mengatakan, “Sekarang, paceklik sedang mengancam jutaan warga Yaman. Tapi tak seorang pun yang berani menyuarakan kata-kata yang benar.”

Sayid Hasan juga menyinggung masalah perkembangan Suriah dan ledakan di daerah Rasyidin, antara Foa dan Kufria. Dia mengatakan, “Pembantaian yang terjadi di Rasyidin walau pun sangat mengerikan dan sadis, tapi tetap saja tidak membuat hati masyarakat dunia terbangun.”

Dia menjelaskan serangan kimia di daerah Khan Syaikhon, Selatan Idlib dan berkata, “Washington menolak pembentukan komite pengungkap kebenaran tentang peristiwa ini.”

Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, “Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah yang saling memerangi satu sama yang lain adalah model-model yang ingin dijadikan sebagai ganti oleh Saudi, Turki dan AS atas pemerintah Suriah saat ini. Kelompok-kelompok takfiri adalah bahaya yang nyata bagi orang-orang Ahlussunnah dan pengikut mazhab-mazhab lain. Seandainya kelompok-kelompok teroris berhasil menggulingkan pemerintah Suriah, bayangkan apa yang akan terjadi pada rakyat Suriah?!”

Dia menekankan bahwa seandainya teroris-teroris takfiri berhasil menguasai seluruh wilayah Suriah, akan terjadi perang dalam negeri yang sangat luas di seluruh daerah negeri ini.

Sekjen Hizbullah Libanon menjelaskan bahwa, “Kita sekarang hidup di dunia serigala. Tidak ada undang-undang internasional. Negara kuat memakan negara yang lemah. Kita harus kuat agar dunia menghormati kita. Kalau tidak, mereka pasti memakan kita. Jangan berharap hak dan keadilan dari masyarakat dunia sekarang.”

Kemudian Sayid Hasan Nasrullah berbicara tentang Bahrain dan kezaliman Alu Khalifah terhadap para penentangnya. Dia mengatakan, “Ribuan orang turun ke jalan menyatakan dukungan terhadap Syekh Isa Qasim pemimpin Muslimin Syiah Bahrain. Tapi, daerah Diraz (tempat lahir Syaikh Isa Qasim) telah berbulan-bulan diblokade oleh aparat keamanan Bahrain. Dan lagi-lagi, tidak ada satu pun yang perhatian dengan masalah ini.” (WF)