Dua Karakteristik Penting Hadirat Abul Fadhl Abbas as Menurut Sayid Ali

Wali Faqih Zaman Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei dalam khutbah Jumatnya di Teheran, 26 Farwardin 1379 Hs (14 April 2000 M), menjelaskan bahwa di dalam doa-doa ziarah dan sabda-sabda para imam suci as mengenai Hadirat Abul Fadhl Abbas terdapat dua hal yang lebih ditekankan; yaitu basirah dan kesetiaan.

Beliau mengatakan, “Di mana basirah Abul Fadhl Abbas? Semua sahabat pembela Imam Husain as punya basirah; tapi Abul Fadhl menunjukkan basirah yang lebih . Pada Hari Tasu’a (9 Muharram), seperti siang hari ini, ketika beliau berpeluang untuk menyelamatkan diri dari bala; tepatnya ketika musuh datang menawarkan kesempatan menyerah dengan surat jaminan keamanan untuknya, beliau menunjukkan sikap kepahlawanan yang luar biasa, sampai-sampai musuh menyesal atas penawaran itu. Beliau menegaskan, “Aku pisah dari Husain?! Celaka kalian! Celaka kalian dan surat jaminan keamanan kalian!”

Contoh lain basirah beliau adalah ketika beliau perintahkan tiga saudaranya yang menyertai beliau saat itu untuk berlaga dan berjihad sebelum dirinya; sampai kemudian mereka semua gugur syahid. Kalian tahu bahwa empat bersaudara ini dari satu ibu: Abul Fadhl Abbas –kakak tertua-, Ja’far, Abdullah dan Usman. Bayangkan bagaimana seseorang mengorbankan adik-adiknya di depan matanya sendiri demi Imam Husain as, beliau tidak kepikiran sang ibunya yang berduka, beliau tidak mengatakan satu saja dulu adiknya yang pergi berlaga supaya ibu tidak begitu menderita, beliau juga tidak terjerat pikiran tentang pengasuhan anak-anaknya yang masih kecil di Madinah. Inilah basirah.”

Imam Khamenei melanjutkan, “Adapun kesetiaan Hadirat Abul Fadhl Abbas, yang paling menonjol adalah ketika beliau sampai ke tepi sungai Furat tapi tidak meminum seteguk air pun. Kisah yang populer mengatakan bahwa Imam Husain as mengutus Abul Fadhl untuk mengambil air. Tapi apa yang saya dapatkan dalam riwayat-riwayat otentik seperti kitab Irsyadnya Syaikh Mufid dan kitab Luhufnya Sayid Ibnu Thawus sedikit berbeda dengan itu. Bahkan lebih menunjukkan betapa pentingnya peristiwa itu. Dalam kitab-kitab yang otentik diriwayatkan bahwa pada detik-detik terakhir, kehausan sudah sangat mencekik tenggorokan anak-anak kecil, putri-putri mungil dan Ahli Haram. Sehingga Imam Husain as dan Abul Fadhl Abbas bersama-sama berangkat mencari air. Abul Fadhl tidak pergi sendirian. Imam Husain as juga pergi bersamanya menuju tepi sungai Furat; cabang aliran sungai Furat yang ada di sekitar tempat kejadian.

Mereka berdua sama-sama berangkat untuk mendapatkan air. Dua bersaudara pemberani dan perkasa ini bahu-membahu satu di balik yang lain berlaga di medan perang. Yang satu Imam Husain as dengan usia hampir 60 tahun, tapi dari sisi keperkasaan dan keberanian termasuk pemuka yang tiada tandingan. Yang satu lagi adalah adik muda beliau yang berusia tiga puluhan tahun, yaitu Abul Fadhl Abbas yang kehebatannya dikenal oleh semua orang. Dua bersaudara ini bahu membahu, dan kadang-kadang kedua punggung mereka saling membelakangi di tengah lautan musuh, mereka belah barisan musuh agar bisa sampai ke tepi sungai Furat dan mengambil air.

Di tengah berkecamuknya peperangan yang sangat berat itu, tiba-tiba Imam Husain as merasa pasukan musuh telah memisahkan diri beliau dari adiknya, Abbas. Di tengah keributan itu, Abul Fadhl Abbas sudah sangat dekat dengan air, bahkan berhasil sampai ke tepi sungai Furat. Di dalam riwayat disebutkan bahwa beliau sempat mengisi penuh girbah airnya untuk dibawa ke tenda. Dalam kondisi seperti itu, setiap orang akan merasa dirinya pantas untuk mengantarkan seteguk air ke bibir kering kerontangnya yang kehausan. Tapi, bahkan dalam kondisi seperti itu pun beliau menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa. Ketika mengambil air, begitu mata beliau mentap air fadzakaro athosyal Husain; seketika itu juga beliau ingat kehausan Imam Husain as, ketika itu juga beliau ingat bibir kering dan haus Imam Husain as. Mungkin juga ketika itu beliau ingat jeritan “Haus!” anak-anak balita dan putri-putri kecil di tenda, mungkin ketika itu beliau juga ingat tangisan haus Ali Ashgar. Yang pasti beliau tidak sampai hati untuk minum. Beliau kembalikan air dari tangannya ke sungai dan bergegas hendak kembali ke tenda. Tapi kemudian terjadilah apa yang telah terjadi. Imam Husain as tiba-tiba mendengar suara saudaranya berteriak di tengah kerumunan musuh, “Ya Akho! Adrik akhok!”; Oh abangku! Gapailah adikmu!. (WF)

Hits: 80

Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat