Tahrirul Wasilah – Ijtihad dan Taklid 5 (Bagian Terakhir)

Lanjutan Bab IJTIHAD & TAKLID

Tahrirul Wasilah (Hal. 13-14)

(Persoalan 27):

Keadilan adalah syarat seorang mufti dan qadhi. Dan itu bisa dibuktikan melalui (1) kesaksian dua orang adil, (2) pergaulan yang menghasilkan pengetahuan dan kepercayaan, serta (3) ketenaran yang menghasilkan pengetahuan. Bahkan, -keadilan- itu bisa diketahui melalui penampilan yang baik; kewaspadaan dalam menjaga hal-hal yang syar’i, ketaatan, partisipasi dalam jamaat-jamaat, dan lain sebagainya.

Dan secara zahir (baca: tampaknya. Atau, menurut pendapat yang lebih menonjol), penampilan yang baik ini merupakan faktor penyingkap yang bersifat ta’abbudi (baca: atas dasar kepatuhan terhadap dalil tekstual), sementara hal itu tidak menghasilkan persangkaan atau pengetahuan.

(Persoalan 28):

Keadilan adalah perangai mengakar yang mendorong komitmen bertakwa; baik itu berupa penghindaran hal-hal yang haram, atau pelaksanaan hal-hal yang wajib.

(Persoalan 29):

Sifat adil –secara hukum dinyatakan- hilang ketika seseorang melakukan dosa besar atau bersikukuh melakukan dosa kecil. Bahkan berdasarkan ihtiyath wajib hukumnya juga demikian apabila seseorang melakukan dosa kecil –walau tanpa bersikukuh untuk itu-.

Sifat adil ini akan kembali dengan cara bertaubat dengan syarat perangai itu masih ada di dalam diri orang tersebut.

(Persoalan 30):

Apabila seseorang keliru menukil fatwa mujtahid, maka wajib hukumnya bagi dia untuk memberitahu orang yang belajar darinya.

(Persoalan 31):

Apabila seseorang di pertengahan shalat menghadapi persoalan yang tidak dia ketahui hukumnya, dan tidak mungkin bagi dia –ketika itu- untuk mencari tahu tentang hal tersebut, maka hendaknya dia menetapkan salah satu dari dua ujung persoalan (baca: dua kemungkinan tentang persoalan); dengan tujuan bahwa usai shalat, dia akan menanyakan hukum persoalan itu; dan akan mengulang shalat jika ternyata apa yang dia tunaikan tidak sesuai hukum yang sebenarnya.

Apabila dia berbuat demikian, lalu terbukti sesuai dengan hukum yang sebenarnya, maka shalatnya sah.

(Persoalan 32):

Wakil orang lain dalam sebuah amal –seperti pelaksanaan akad atau iqa, atau pembayaran khumus, zakat, kafarah atau lain sebagainya- harus berbuat sesuai tuntutan taklid orang lain yang mewakilkan tersebut, bukan sesuai taklid dirinya sendiri, apabila memang mereka berdua beda taklid.

Adapun orang yang disewa oleh wasi atau wali untuk menunaikan shalat atau amal lain dari pihak mayit, menurut pendapat yang lebih kuat dia harus berbuat sesuai taklidnya sendiri, bukan sesuai taklid si mayit, atau sesuai taklid kedua-duanya.

Demikian pula hukumnya apabila wasi menunaikan amal itu secara suka-rela atau sewa; dia harus berbuat sesuai taklidnya sendiri, bukan sesuai taklid si mayit. Begitu pula hukumnya dengan wali.

(Persoalan 33):

Apabila terjalin muamalat antara dua orang, satu di antara mereka bertaklid kepada mujtahid yang menurutnya muamalat itu sah, sementara satunya lagi bertaklid kepada mujtahid yang menurutnya muamalat itu batal, maka wajib hukumnya bagi mereka untuk berbuat sesuai fatwa mujtahidnya masing-masing. Lalu apabila terjadi sengketa di antara mereka, maka hendaknya mereka naik banding ke salah satu dari mujtahid mereka atau ke mujtahid ketiga. Kemudian mujtahid itu akan memutuskan sengketa mereka berdasarkan fatwanya. Dan keputusan beliau berlaku bagi kedua belah pihak.

Demikian pula hukumnya apabila terjadi iqa yang berhubungan dengan dua orang. Iqa itu seperti talak, pembebasan budak, dan lain sebagainya.

(Persoalan 34):

Ihtiyath yang disebutkan secara mutlak dalam fatwa; yaitu ihtiyath yang tidak didahului oleh fatwa yang bertentangan dengannya, atau tidak dilanjutkan dengan fatwa yang bertentangan dengannya. Tidak boleh ditinggalkan. Bahkan wajib hukumnya ihtiyath itu untuk diamalkan, atau kalau tidak diamalkan maka wajib hukumnya untuk merujuk kepada mujtahid yang lain; tentunya dengan menjaga urutan dari mujtahid yang paling alim ke mujtahid yang paling alim setelahnya.

Adapun jika ihtiyath yang disebutkan di dalam Risalah Amaliyah (1) didahului oleh fatwa yang bertentangan dengannya; seperti ketika setelah fatwa tentang persoalan tertentu disebutkan, “Walau pun ihtiyath hukumnya demikian”. Atau (2) dilanjutkan dengan fatwa yang bertentangan dengannya; seperti ketika disebutkan, “Ihtiyathnya demikian, walau pun hukumnya adalah demikian”, atau “Ihtiyathnya demikian, walau pun pendapat (baca: fatwa) yang lebih kuat adalah demikian.” Atau (3) disertai dengan tanda-tanda yang menunjukkan hukum mustahab; seperti ketika disebutkan, “Sebaiknya dan ihtiyathnya demikian.” Maka dalam tiga kasus ini, ihtiyath boleh ditinggalkan. [Bab Ijtihad & Taklid tamat!] (WF)

Hits: 64

Fatwa, Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat