Bi’sah Nabi Muhammad Saw Menurut Imam Khamenei

Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei, Rabu 9 Murdad 1387 Hs (30 Juli 2008 M), dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara memperingati Hari Bi’sah Nabi Muhammad Saw mengatakan, “Memperingati Bi’sah bukan berarti sekedar memperingati satu peristiwa sejarah. Ini poin yang mesti kita perhatikan dalam menyikapi peristiwa megabesar dan memori luar biasa kemanusiaan Bi’sah. Bahkan, bersandar kepada memori agung ini pada hakikatnya merupakan pengajian ulang terhadap pelajaran yang tak terlupakan. Pada tahap awal bagi umat Islam itu sendiri; baik satu persatu dari individu umat maupun tokoh dan orang-orang pilihan, politikus, ilmuan, atau cendikiawan. Dan pada tahap berikutnya bagi setiap orang dari umat manusia. Ini pengajian ulang atas sebuah pelajaran, peneladanan ulang, dan peringatan terhadap sebuah peristiwa yang senantiasa memberi pelajaran.”

 

Beliau dalam pertemuan dengan para pejabat negara memeperingati Hari Bi’sah Nabi Saw, Jumat 11 Syahriwar 1384 Hs (2 September 2005 M), mengatakan, “Kita, Muslimin, tentu harus betul-betul menghargai Bi’sah; kita harus memikirkan fenomena ini; kita harus mengaji dan mengambil pelajaran darinya; masa lalu yang terang-benderang ini mesti kita jadikan lentera untuk perjalanan masa depan kita yang sulit.”

 

Dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara memperingati Hari Bi’sah, Rabu 2 Mihr 1382 Hs (24 September 2003 M), Imam Ali Khamenei menjelaskan, “Bi’sah Nabi Muhammad Saw, pada tahap awal merupakan seruan kepada Tauhid. Tauhid bukan sekedar teori filsafat dan pemikiran; melainkan sebuah pola hidup bagi umat manusia. Yakni, menjadikan Allah Swt sebagai penguasa dalam kehidupan diri kita dan memenggal semua tangan kekuasaan yang lain. La Ilaha Illalloh (Tiada Tuhan kecuali Allah) yang merupakan pesan pokok Nabi kita Saw dan semua nabi yang lain berarti bahwa di dalam kehidupan dan perjalanan hidup manusia, serta di dalam memilih cara hidup, jangan sampai kekuasaan taghut dan setan ikut campur sehingga menodainya dengan tarikan-tarikan hawa nafsu.

Sekiranya Tauhid, dengan makna sesungguhnya yang diterangkan oleh Islam dan yang dibawakan oleh semua nabi, terealisasi dalam kehidupan umat Muslim dan masyarakat manusia, pasti mereka akan sampai kepada kebahagiaan yang hakiki, baik dunia maupun akhirat. Dunia mereka juga pasti makmur. Dunia yang berkhidmat untuk kesempurnaan hakiki manusia. Dunia dalam perspektif Islam adalah pengantar dan jembatan akhirat. Islam tidak menegasikan dunia dan tidak membenci kenikmatan-kenikmatan duniawi. Islam menginginkan manusia aktif dengan seluruh potensi dan instingnya dalam kancah kehidupan. Tapi, semua itu harus dalam garis khidmat dan menunjang peningkatan ruh serta kegemilangan spiritual manusia. Sehingga, kehidupan di alam dunia ini juga menjadi manis. Dalam dunia seperti ini, tidak ada lagi kezaliman, kebodohan dan kebrutalan. Tentu ini pekerjaan yang sulit, butuh perjuangan. Dan Nabi Muhammad Saw sejak awal telah memulai perjuangan ini.”

 

Beliau dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara memperingati Hari Bi’sah Nabi Saw, Sabtu 13 Mihr 1381 Hs (5 Oktober 2002 M), mengatakan, “Bi’sah atau pengutusan Nabi Muhammad Saw bagi umat manusia adalah awal perjalanan baru. Dunia lingkungan dan tempat munculnya pesan ini ketika itu adalah dunia yang sangat buruk dan tidak bisa ditahan; dunia keterpikatan pada hal-hal yang material, dunia perangai kebinatangan, dunia tidak terkendalinya para penguasa dan tiran, dunia nepotisme, korupsi, kezaliman, pelampiasan hawa nafsu, dan ketidakteraturan. Kondisi dan situasi ini bukan hanya dominan di Hijaz. Dua negara besar yang pada zaman itu mengelilingi kawasan Arabia –yakni Sasania Persia dan Kekaisaran Romawi- juga menderita kendala yang sama.”

 

Pemimpin Revolusi Islam ini dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara Republik Islam Iran memperingati Hari Bi’sah Nabi Saw, Senin 23 Mihr 1380 Hs (15 Oktober 2001 M), menuturkan, “Hari Bi’sah Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya adalah hari pengibaran panji risalah yang mempunyai karakteristik istimewa dan tiada tandingannya bagi umat manusia. Bi’sah sesunggunya telah mengibarkan bendera ilmu dan makrifat. Bi’sah dimulai dengan “Iqro'” (Bacalah!): Iqro’ bismi Robbi-kal ladzi kholaq (Bacalah dengan nama Tuhan-mu Yang Menciptakan!) dan dilanjutkan dengan “Ud’u ila sabili robbika bil hikmati wal mau’idzotil hasanah! (Serukanlah ke jalan Tuhan-Mu dengan hikmat dan nasihat yang baik!); itu artinya dakwah dengan hikmah. Dakwah Islamiyah sejatinya adalah penyebaran hikmah ke seluruh penjuru alam dan di sepanjang sejarah. Sebagaimana Bi’sah adalah pengibaran panji keadilan; yakni menegakkan keadilan di tengah umat Mukmin, hamba-hamba Allah Swt dan umat manusia seluruhnya, Bi’sah juga merupakan kibar panji akhlak mulia manusia; “Bu’itstu li utammima makarimal akhlak”; Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.

Allah Swt berfirman kepada Nabi Muhammad Saw, “Wa ma arsalnaka illa rohmatan lil ‘alamin”; Dan tiada Ku-utus kamu kecuali rahmat bagi alam semesta. Itu artinya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia – di semua zaman, di setiap kondisi, dan di titik manapun dari alam semesta ini – telah diliputkan dalam Bi’sah Nabi Saw. Yakni ilmu, makrifat, hikmah, rahmat, keadilan, persaudaraan, kesetaraan; dan segala sesuatu asasi lainnya yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup selamat manusia. Termasuk ajaran Jihad yang diajarkan di dalam Islam. Jihad artinya perjuangan melawan kezaliman. Tapi meskipun begitu, ada saja orang-orang berniat buruk yang memperkenalkan Islam sebagai Agama Pedang dengan dalih ajaran Jihadnya. Padahal, Islam yang mengajarkan Jihad ini telah menegaskan, “Wa in janahu lis silmi fajnah laha wa tawakkal ‘alalloh!”; Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah!”

 

Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara memperingati Hari Bi’sah Nabi Saw, Senin 26 Aban 1377 Hs (17 November 1998 M), menerangkan, “Hari Bi’sah Nabi Muhammad Saw, tanpa diragukan lagi, adalah hari paling besar dalam sejarah manusia. Dari satu sisi, karena orang yang dipilih oleh Allah Swt untuk membawakan misi –yaitu sosok Nabi Muhammad Saw- adalah manusia yang paling besar dalam sejarah, fenomena paling agung di alam keberadaan, dan manifestasi Nama Agung Dzat Mahasuci Ilahi. Atau dengan kata lain, Nama Agung Ilahi itu adalah wujud suci beliau itu sendiri. Dari sisi lain, karena misi yang dibebankan kepada manusia agung ini adalah tugas yang agung dan sangat besar; yaitu menghidayahi umat manusia menuju cahaya, menyingkirkan beban-beban berat dari punggung mereka, mempersiapkan dunia yang pantas bagi mereka, dan berbagai tugas yang tidak terbatas dari pengutusan para nabi-. Dengan demikian, baik orang yang dipilih adalah yang paling besar maupun tugas yang dibebankan adalah yang paling besar pula. Itulah kenapa hari ini merupakan hari yang paling besar dan paling mulia dalam sejarah.

Kalau orang ingin membatasi kandungan Bi’sah ini dalam kerangka akal yang biasa digunakan manusia untuk memahami sesuatu, pasti hakikat Bi’sah dan hakikat Risalah Nabi Saw akan terzalimi dengan itu. Tidak mungkin Bi’sah Nabi Saw dibatasi dalam pemahaman dan persepsi kurang kita. Tapi sekiranya kita ingin secara global menjelaskan Bi’sah Nabi Saw berikut jangkauannya yang tak terbatas dalam satu kalimat, kita mesti katakan bahwa Bi’sah Nabi Saw berhubungan dengan manusia dan untuk manusia. Manusia itu sendiri tidak terbatas, punya banyak dimensi agung, tidak terbatas pada tubuh, materi, atau kehidupan berapa hari di dunia ini. Tidak pula terbatas pada hal-hal spiritual. Tidak juga terbatas pada periode tertentu dari sejarah. Manusia, ada selalu dan dalam kondisi apa pun. Dimensi-dimensi keberadaannya tidak terbatas dan tak dikenal. Sampai saat ini juga manusia masih merupakan wujud yang tak dikenal. Bi’sah Nabi Saw adalah untuk manusia ini, untuk nasib manusia ini, dan untuk memberi hidayah kepada manusia ini.”

 

Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Imam Sayid Ali Khamenei dalam pertemuannya dengan pejabat-pejabat negara memperingati Hari Bi’sah Nabi Saw, Jumat 7 Azar 1376 Hs (28 November 1997 M), menjelaskan, “Sekiranya kita menyadari bahwa di antara seluruh peristiwa yang terjadi dalam sejarah manusia pengutusan para nabi adalah yang paling penting dan paling berpengaruh dalam menentukan nasib manusia –sebagaimana memang demikianlah yang sebenarnya-, perlu kita sadari bahwa Bi’sah Nabi Muhammad Saw dari sisi urgensinya berada di puncak semua peristiwa besar dan kecil sejarah manusia.

Peristiwa apa pun, seperti revolusi-revolusi besar, hidup dan matinya bangsa-bangsa, lahirnya sosok-sosok besar, matinya tokoh-tokoh terkemuka, munculnya aliran macam-macam, dan lain sebagainya tidak ada yang urgensinya bagi umat manusia sebanding dengan pengutusan para nabi. Sebagaimana kalian saksikan sekarang, pola pikir satu persatu manusia yang paling langgeng adalah pola pikir-pola pikir yang diwariskan oleh agama-agama (Ilahi), dan selama-lamanya juga akan demikian. Meskipun sekarang banyak orang di alam ini yang secara langsung tidak membuka diri di hadapan sinar Bi’sah Nabi Muhammad Saw, yakni orang-orang non-Muslim, tapi mereka sebenarnya sampai sekarang terus mendapat keuntungan dari Bi’sah ini.

Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, akhlak mulia yang ada di antara mereka, tradisi baik dan hal-hal lain yang semacam ini kalau pun sekilas tampak tidak berhubungan dengan agama, tapi pada akar yang sesungguhnya itu semua ramuan dari agama dan ajaran Ilahi yang puncaknya adalah Bi’sah Nabi Muhammad Saw. Tentu pada saat yang sama, umat manusia di zaman yang akan datang akan lebih banyak mendapat berkah dan keuntungan dari Bi’sah ini. Karena itu, peristiwa yang paling besar, paling penting dan paling menonjol dalam sejarah manusia adalah Bi’sah.

Allah Swt menyelamatkan kita dari berbagai derita berkat Islam, perhatian terhadap spiritualitas Islam, dan juga perhatian terhadap pesan politik Islam. Artinya, Bi’sah tidak datang hanya dalam rangka agar sebagian orang punya akidah tertentu di dalam benaknya dan menjalankan pekerjaan-pekerjaan personal tertentu pula, sementara sistem sosial tetap berada di bawah kekuasaan musuh-musuh Allah Swt dan tandinga-tandingan-Nya! Melainkan Bi’sah datang untuk membentuk kehidupan masyarakat. Alhamdulillah hal ini terlaksana dalam sistem sosial Islam –kita-; bangsa kita juga telah menyaksikan pengaruhnya dan merasakan hasil-hasil manisnya.

Saya merasa bahwa kita perlu sekali untuk bekerja lebih keras di bidang akhlak, penyucian dan pengembangan diri, baik terhadap diri kita sendiri maupun diri orang lain. Pembaharuan spiritualitas sistem Islam dan bangsa muslim Iran membutuhkan perjuangan besar ini. Dan ini juga salah satu dari pesan penting Bi’sah.” (WF)

Hits: 130

Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat